"Menyebarluaskan Pengetahuan..."

PENDIDIKAN

Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema pendidikan. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

KELUARGA

Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema keluarga. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

PEMUDA

Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema pemuda. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

KEPEMIMPINAN

Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema kepemimpinan. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

PRIBADI ISLAMI

Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema pribadi Islami. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

PRAMUKA

Berbagai unggahan GiatEdukasi.com dengan tema Pramuka. Silakan kunjungi dan simak setiap video kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

VIDEO

Berbagai unggahan GiatEdukasi.com dalam bentuk video. Silakan kunjungi dan simak setiap video kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

Guru Penggerak: Aksi Nyata Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

Peristiwa (Fact)

Siswa yang memiliki karakter kepemimpinan, mandiri, bertanggungjawab, dan peduli adalah idaman banyak sekolah dan orang tua. Siswa yang memiliki pribadi shalih, cerdas, dan adaptif. Karakter ini penting karena ini menjadi karakter dasar yang harus dimiliki siswa agar mampu menjadi siswa yang sukses dan mampu hidup di tengah masyarakat.

Situasinya saat ini belum ada apresiasi bentuk khusus kepada siswa atas capaian karakternya. Aset yang dimiliki antara lain adanya wali kelas, pendamping kelas, dan pembina Pramuka di masing-masing kelas. Instrumen capaian yang sudah siap. Yang sudah berjalan dengan baik adalah kegiatan pembinaan karakter di kelas dan latihan Pramuka rutin oleh wali kelas, pendamping kelas, dan pembina Pramuka sudah berjalan 4 bulan.

Kebiasaan baik yang sudah dimiliki, antara lain: guru yang rajin melakukan pembinaan dan pengawalan program, siswa yang antusias melakukan kegiatan. Yang masih menjadi tantangan adalah karena ini adalah program baru maka perlu mengkoordinasikan ke beberapa pihak terkait dan mensosialisasikannya. Kebiasaan baru yang perlu dimulai adalah mengawal perkembangan karakter demi karakter siswa setiap harinya.

Oleh sebab itu haruslah ada program khusus yang berpihak kepada murid. Program yang dalam sekali jalan mampu menuntaskan sekian banyak karakter tersebut. Dengan dasar tersebut, kami membuat program Badge Karakter Siswa.

Tujuan utamanya adalah mencapai visi Salih, Cerdas, dan Adaptif, menuntaskan kemandirian siswa, pembiasaan pelaksanaan ibadah siswa, menumbuhkan kepedulian siswa, menjaga kebugaran fisik siswa, dan melatih kepemimpinan dan tanggung jawab siswa. Konsep kegiatan ini penilaian siswa yang diprioritaskan ketuntasan ibadah, tanggung jawab dan kedisiplinan. Data penilaian  bersumber dari wali kelas, guru, pembina pramuka dan tim AlQur’an sesuai dengan indikator yang dicapai.

Kegiatan ini akan mulai diwujudkan pada pada bulan November 2021. Kegiatan ini akan terus berlangsung selama 1 tahun dengan pelaksanaan pada bulan Desember 2021, Februari dan Mei 2022.

Strategi yang saya lakukan dalam pelaksanaan program ini, antara lain, pertama, langkah untuk menyiapkan program ini:

Penanggungjawab program berkoordinasi dengan Bidang Kesiswaan.
Menyusun / ploting pembina Pramuka di masing-masing kelas.
Membuat uraian kriteria program Badge Karakter Siswa.
Sosialisasi ke guru dan siswa.
Menjalankan program, monitoring, dan evaluasi bersama.
Membagikan instrument penilaian karakter ke guru. 
Melakukan pelantikan / seremonial pemberian badge karakter siswa.
Pendokumentasian kegiatan

Kedua, pembinaan dan mengawalan di masing-masing kelas agar tetap terkontrol:
Materi dibuat oleh Koordinator Pramuka.
Penyampaian materi melalui dua tahap. Pertama dari Koordinator Pramuka. Kedua, dari pembina Pramuka.
Membuat instrument calon penerima badge karakter yang dibuat oleh koordinator Pramuka dan diberikan ke wali kelas dan pembina Pramuka setiap kelas.

Ketiga, hal pertama yang saya lakukan untuk mewujudkan program tersebut adalah membuat file pdf yang berisi penjelasan tentang program ini dan diberikan ke siswa.

Sesuatu yang tidak terduga terjadi adalah siswa tidak menyangka bahwa karakter yang menurutnya biasa saja ternyata diapresiasi dengan badge karakter. Sesuatu yang sangat dapat diprediksi terjadi adalah siswa banyak yang terlibat dan orang tua mendukung program ini. Orang tua berharap program ini terus dijalankan.

Yang akan dilibatkan dalam mewujudkan rencana ini, antara lain, pertama, Kepala Sekolah yang bertugas melantik / memberikan badge karakter kepada siswa secara simbolis seremonial. Kedua, wali kelas dan pembina Pramuka yang bertugas mengawal dan memberikan penilaian karakter kepada siswa. Ketiga, Koordinator Pamuka yang bertugas membuat konsep kegiatan, menyiapkan instrument penilaian, menyelenggarakan kegiatan seremonial pembagian bedge karakter. Keempat, orang tua siswa: mengawal dan memastikan program ini juga dilaksanakan di rumah. Orang tua akan memberikan tanda tangan dan foto / video bukti anaknya telah melakukan kegiatan di rumah. Kelima, Satuan Komunitas Pramuka Sekolah Islam Terpadu (Sako PSIT) hadir dalam kegiatan seremonial yang diadakan sekolah. Sebagai bukti bahwa kegiatan ini berjalan dengan baik.

Perasaan (Feeling)

Perasaan yang saya alami ketika menjalankan aksi ini antara lain senang dan haru. Dimana saya diberikan kepercayaan untuk menjalankan semua program yang telah saya rencanakan. Ketika program ini berjalan sukses, maka ini akan menjadi semangat kami dalam menjalankan program-program berikutnya.

Saya merasa sangat terlibat banyak pada tahap pembuatan konsep kegiatan dan materi, instrumen, penilaian siswa, dan penyelenggaraan prosesi penyematan badge.

Pembelajaran (Finding)

Berikut ini beberapa pembelajaran yang saya dapatkan selama menjalankan aksi nyata:

Ketersediaan bedge karakter yang terbatas. Sehingga tidak bisa beli dalam waktu mendadak. Untuk mengatasi keterbatasan bedge maka harus pesan jauh-jauh hari.

- Siswa yang belum menuntaskan karakter, terus dipantau dan dimotivasi.

Semua rincian program dapat diselesaikan di rumah oleh siswa. Dengan dampingan dari orang tua.

Kendala utamanya adalah motivasi dalam menuntaskan karakter tersebut.

Yang harus diperbaiki adalah program ini harusnya disosialisakan di awal tahun ajaran. Sehingga orang tua.

Sebagian besar siswa mampu menjalankan program ini.

Seiring berjalannya kegiatan, kendala mampu diatasi siswa karena semakin banyak siswa yang terlibat.

Kegiatan ini didukung oleh banyak pihak. Sehingga perlu dipersiapkan secara matang.

- Situasi ideal yang diharapkan adalah siswa mampu mencapai karakter yang ditetapkan sesuai jenjangnya. Siswa bangga dengan capiannya karena ada bedge apresiasi. Siswa yang belum tuntas bersemangat dalam menuntaskan karakternya.

Banyak siswa yang memakai badge karakter di baju Pramuka.

Harapannya program ini menginspirasi sekolah lain.

- Konsekuensi logisnya adalah guru harus mengawal betul perkembangan karakter siswa, orang tua secara kolaboratif mengawal karakter ini di rumah, dan siswa bersemangat dalam mencapainya.

Penerapan ke depan (Future)

Agar kegiatan ini terus berlangsung meskipun ganti kepemimpinan, yang harus dilakukan adalah menjadikan kegiatan ini sebagai program ungulan sekolah. Antusiasme siswa dalam menjalani kegaiatan ini mampu menjadikan citra sekolah meningkat.

Untuk memastikan program ini berjalan dengan baik, maka Koordinator Pramuka melakukan koordinasi dengan Bidang Kesiswaan, menyusun / ploting pembina Pramuka di masing-masing kelas, membuat uraian program Badge Karakter, dan sosialisasi kepada guru dan siswa.

Yang dilibatkan dalam mewujudkan rencana ini: kepala sekolah, wali kelas dan pembina Pramuka, orang tua siswa, Satuan Komunitas Pramuka Sekolah Islam Terpadu (Sako PSIT). Peran pengawalan dan pendampingan wali kelas, Pembina Pramuka dan orang tua memegang peran penting akan suksesnya kegiatan ini.

Video Aksi Nyata Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid berupa Penyematan Badge Karakter Siswa



Badge Karakter Siswa


Program pengawalan di kelas 6 agar siswa mendapatkan Badge Karakter Siswa

Siswa melakukan keterampilan karakter yang ditentukan (1)

Siswa melakukan keterampilan karakter yang ditentukan (2)

Flyer pengumuman kepada siswa

Berkolaborasi dengan Tim Pembina Pramuka mengadakan penyematan Badge Karakter Siswa secara simbolis (1)

Berkolaborasi dengan Tim Pembina Pramuka mengadakan penyematan Badge Karakter Siswa secara simbolis (2)

Kepala Sekolah menyematkan Badge Karakter Siswa secara simbolis ke perwakilan siswa (1)

Kepala Sekolah menyematkan Badge Karakter Siswa secara simbolis ke perwakilan siswa (2)

Penyerahan Badge Karakter Siswa kepada siswa yang lain (1)

Penyerahan Badge Karakter Siswa kepada siswa yang lain (2)

Demikianlah Aksi Nyata Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid yang bisa kami uraikan. Semoga bermanfaat.








Bagikan:

Lambang Gerakan Pramuka

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
SALAM PRAMUKA

Adik-adik, hari ini kita akan belajar tentang Lambang Gerakan Pramuka. Adakah yang tahu Lambang Gerakan Pramuka?

Ya, Lambang Gerakan Pramuka berbentuk Silluete (bayangan) Tunas Kelapa. Lambang Gerakan Pramuka adalah tanda pengenal organisasi Gerakan Pramuka yang bersifat tetap. Lambang ini diciptakan oleh Soenardjo Atmodipuro, seorang pegawai tinggi Departemen Pertanian yang juga tokoh pramuka.

Lambang Tunas Kelapa pertama kali digunakan pada tanggal 14 Agustus 1961, ketika Presiden Republik Indonesia Pertama (Ir. Soekarno)  menganugrahkan Panji Gerakan Pendidikan KepanduanNasional Indonesia kepada organisasi Gerakan Pramuka melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 448 tahun 1961.

Lambang Gerakan Pramuka memiliki beberapa arti kiasan / makna:

1. Buah kepala (nyiur) dalam keadaan tumbuh dinamakan cikal  atau tunas.  Keadaan ini melambangkan bahwa Anggota Gerakan Pramuka adalah generasi yang terus tumbuh, generasi cikal bakal yang akan tumbuh menjadi generasi baru bangsa Indonesia yang lebih baik dan maju, generasi yang mampu meneruskan cita-cita para pendiri bangsa dan mampu menjaga kelangsungan bangsa dan negara Indonesia ke depan.

2. Buah dan pohon kelapa mampu bertahan lama dalam berbagai keadaan. Ini mengandung arti Pramuka adalah orang yang jasmani dan rohani, kuat dan ulet, berdedikasi, setia bertekad, serta  mampu bertahan dalam menghadapi berbagai cobaan, tantangan dan kesukaran untuk menyempurnakan pengabdiannya kepada tanah air dan bangsa Indonesia.

3. Pohon Kelapa dapat tumbuh di berbagai jenis tanah. Ini mengandung arti Pramuka adalah pribadi pribadi yang yang mampu beradaptasi dalam berbagai lingkungan dengan kondisi apapun.  Para Pramuka adalah individu yang mampu menyesuaikan diri dengan kondisi sosial budaya masyarakat serta sekaligus mampu ikut serta membangun masyarakat di mana ia berada.

4. Pohon Kelapa tumbuh menjulang tinggi dan lurus ke atas serta merupakan salah satu jenis pohon tinggi di Indonesia.  Ini mengandung arti, setiap Pramuka harus  cita-cita yang tinggi, mulia,  luhur dan lurus serta memiliki motivasi yang kuat yang untuk mencapai cita-cita itu, tidak mudah patah semangat dan tidak mudah terombang-ambing oleh berbagai perubahan zaman.

5. Pohon kelapa memiliki akar kuat. Mengandung arti, bahwa Pramuka adalah pribadi-pribadi yang berpegang kuat dan penuh keyakinan akan nilai-nilai dasar agama, norma sosial dan budaya dan nilai-nilai yang terkandung dalam Kode Kehormatan Pramuka.  Kesemua nilai itu dihayati dan diamalkan untuk meningkatkan kualitas diri pribadinya serta mencapai cita-cita terbaik dalam kehidupannya.

6. Pohon Kelapa merupakan pohon yang serbaguna dari ujung atas pohon hingga akarnya. Ini mengandung arti bahwa Pramuka adalah pribadi-pribadi yang terus meningkatkan kualitas dirinya agar selalu berguna bagi nusa, bangsa, agama dan umat manusia dimanapun ia berada.

 

Tugas / Proyek / Aksi Nyata: 

1. Membuat Lambang Gerakan Pramuka. Bisa dalam bentuk gambar, video, maupun hasta karya dari berbagai jenis bahan. Lalu kirimkan ke GC.

2. 2. Melakukan AKSI NYATA perbuatan yang mencerminkan pengamalan arti kiasan Tunas dan Pohon Kelapa. Kegiatan bebas sesuai pemahaman masing-masing siswa.

Demikian penjelasan tentang Lambang Gerakan Pramuka. Semoga bermanfaat.
SALAM PRAMUKA
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Bagikan:

Kegiatan Sosial Kemasyarakatan Pramuka Siaga dan Penggalang

Kegiatan Sosial Kemasyarakatan Pramuka Siaga dan Penggalang

TUJUAN JENJANG SIAGA:
  • Mengenal teman, lingkungan dan aturan-aturan sosial yang ada di lingkungannya.
  • Dapat menyebutkan nama, alamat, dan program kegiatan Ketua RT atau tokoh masyarakat di sekitar tempat tinggalnya.
  • Menaati aturan-aturan sosial yang berlaku di lingkungannya dan melaksanakan tugas-tugas yang diberikan dengan penuh tanggungjawab serta mengetahui wawasan kebangsaan.

TUJUAN JENJANG PENGGALANG:

  • Mengetahui peraturan / norma-norma yang ada di lingkungan sekitarnya.
  • Dapat menyebutkan nama, alamat, dan program kegiatan Ketua RW atau tokoh masyarakat di sekitar tempat tinggalnya dan dapat membuat struktur kepengurusannya.
  • Mengikuti kegiatan sosial kemasyarakatan yang ada di lingkungannya.

KEGIATAN :
Semua aktivitas manusia      

SOSIAL : 
Hal-hal berhubungan dengan orang lain (kepentingan umum/orang banyak).

KEMASYARAKATAN :
Terkait dengan masyarakat di daerah tertentu

KEGIATAN SOSIAL KEMASYARAKATAN:
Suatu aktifitas yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok untuk menyalurkan kepeduliannya terhadap individu atau kelompok lainnnya di daerah tertentu.

Coba amati lingkungan tempat tinggal kalian! Pasti ada banyak Kegiatan Sosial Kemasyarakatan yang dilakukan. 

Coba sebutkan apa saja Kegiatan Sosial Kemasyarakatan yang dilakukan di lingkungan tempat tinggal kalian! Kapan Kegiatan Sosial Kemasyarakatan itu dilakukan?

  • Kerja bakti membersihkan lingkungan, selokan, dan jalan.
  • Menyapa tetangga ketika berpapasan di jalan dengan nada yang ramah dan senyuman.
  • Ronda malam / siskamling / jaga di pos untuk bersama-sama menjaga keamanan di lingkungan sekitar.
  • Melakukan penyuluhan / sosialisasi protokol kesehatan.
  • Berpartisipasi dalam menyambut peringatan hari kemerdekaan sekaligus mengikuti lomba 17-an antar warga. 
  • Melayat / takziyah ketika ada tetangga yang meninggal. 
  • Menjenguk tetangga, kerabat, teman dan saudara yang sakit.
  • Memberi bantuan berupa materi (barang) atau uang jika ada orang dari keluarga yang kekurangan.
  • Memberikan santunan kepada anak yatim, piatu, dan duafa.
  • Memberi bantuan / bingkisan untuk keluarga pasien yang terpapar Covid-19.
  • Memberi bingkisan sebagai tanda selamat bagi tetangga yang baru saja melahirkan atau menikah.
  • Membagikan buah tangan atau oleh-oleh seperti makanan atau bingkisan lainnya untuk tetangga.
  • Menggalang dana untuk membantu korban musibah bencana alam atau yang sangat membutuhkan.
  • Gotong royong membangun / membersihkan masjid.
  • Doa bersama ketika di rumah warga.
  • Membantu warga yang sedang ada hajat.

Semua Kegiatan Sosial Kemasyarakatan tidak bisa berjalan begitu saja, biasanya ada yang mengaturnya. Siapa yang mengatur Kegiatan Sosial Kemasyarakatan? Siapa saja yang terlibat?

  • Biasanya yang terlibat adalah tokoh yang ada di tengah masyarakat tempat tinggal kalian. Misalnya, pengurus RT, RW, desa/kelurahan, masjid, PKK, dasawisma, karang taruna.
  • Mereka ini pun tidak bergerak atau menjalankan kegiatan sendirian, tetapi ada yang membantunya. Misalnya, ada sekretaris yang bertugas mencatat / surat menyurat. Ada bendahara yang tugasnya mengelola dana / uang. Ada juga bidang keamanan yang menjaga keamanan warganya. Ada juga PKK atau dasawiswa yang mengelola warga ibu-ibu. 

Apa manfaat orang-orang mengikuti Kegiatan Sosial Kemasyarakatan?

  • Membuat diri Bahagia, membahagiakan orang lain, bisa hidup damai, rukun, saling tolong menolong, dan peduli dengan lingkungan sekitarnya.
  • Mengembangkan hubungan dengan keluarga, teman, orang-orang di sekitarnya, komunikasi yang baik dengan keluarga, teman maupun orang lain.
  • Belajar menghargai orang lain, saling bekerjasama, melatih kepemimpinan (belajar memimpin dan dipimpin orang lain), kemandirian, dan solidaritas.
  • Berperan sebagai warga Negara Indonesia yang patuh.
  • Sebagai sarana belajar untuk mengungkapkan perasaan dan eksistensi diri kepada orang lain dengan cara yang benar dan santun.
  • Menerima dan mematuhi peraturan yang diciptakan masyarakat dengan rasa tanggungjawab.
  • Melaksanakan   norma-norma   / peraturan yang ada di tengah masyarakat tempat kita tinggal.

Apa resiko atau akibatnya jika ada warga yang tidak mengikuti Kegiatan Sosial Kemasyarakatan?

  • Ketinggalan informasi tentang berita di lingkungan tempat tinggalnya. Kita kehilangan kesempatan berbuat kebaikan.
  • Dikucilkan oleh masyarakat. Warga menjadi enggan membantu manakala kita dalam kondisi kesulitan / membutuhkan bantuan.
  • Munculnya rasa tidak enak / sungkan / serba salah terhadap lingkungan sekitarnya.

TUGAS / PROJECT / AKSI NYATA:

SIAGA:

  1. Bersilaturahmi bersama orang tua ke pengurus RT/tokoh masyarakat. Melakukan wawancara tentang susunan pengurus, program kerja, peraturan dan konsekwensi.
  2. Mengikuti 1 saja Kegiatan Sosial Kemasyarakatan (KSK) yang ada di lingkungan tempat tinggalmu.
  3. Laporan berupa foto pertemuan, hasil wawancara (bisa berupa tulisan tangan / video / rekaman suara), dan foto mengikuti Kegaiatan Sosial Kemasyarakatan (KSK). Laporan dikirim ke GC / pembina.

PENGGALANG:

  1. Bersilaturahmi bersama orang tua ke pengurus RW/Lurah/tokoh masyarakat. Melakukan wawancara tentang susunan pengurus, program kerja, peraturan dan konsekwensi.
  2. Mengikuti 1 saja Kegiatan Sosial Kemasyarakatan (KSK) yang ada di lingkungan tempat tinggalmu.
  3. Laporan berupa foto pertemuan, hasil wawancara (bisa berupa tulisan tangan / video / rekaman suara), dan foto mengikuti Kegaiatan Sosial Kemasyarakatan (KSK). Laporan dikirim ke GC / pembina.

Demikian penjelasan tentang Kegiatan Sosial Kemasyarakatan Pramuka Siaga dan Penggalang. Semoga bermanfaat.

Bagikan:

Aksi Nyata Menerapkan Kode Kehormatan Pramuka

SALAM PRAMUKA

Kode Kehormatan Pramuka merupakan serangkaian ketentuan dasar (janji, nilai, dan norma) yang harus dilaksanakan oleh seorang pramuka dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi ukuran atau standar Tingkah laku Pramuka.

Sehingga bisa dikatakan bahwa kode kehormatan merupakan kode etik anggota Gerakan Pramuka baik dalam kehidupan pribadi maupun di dalam masyarakat.

kode Kehormatan Pramuka ini telah diatur dalam Undang-Undang no. 12 tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka pasal 6. pun tercantum dalam Anggaran Dasar (AD) Gerakan Pramuka pasal 12 dan Anggaran Rumah Tangga (ART) Gerakan Pramuka pasal 14.

Kode Kehormatan Pramuka terdiri atas janji (satya pramuka) dan ketentuan moral (darma pramuka).

Satya Pramuka sebagaimana tersebut dalam ART Gerakan Pramuka dinyatakan sebagai:

1. Diucapkan secara sukarela oleh seorang calon anggota atau calon pengurus Gerakan Pramuka pada saat pelantikan menjadi anggota atau pengurus.

2. Dipergunakan sebagai pengikat diri pribadi demi kehormatannya untuk diamalkan.

3. Dipakai sebagai dasar pengembangan spiritual, emosional, sosial, intelektual, dan fisik, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat.

Sedangkan Darma Pramuka, sebagaimana tercantum dalam ART Gerakan Pramuka, merupakan:

1. Nilai dasar untuk membina dan mengembangkan akhlak mulia.

2. Sistem nilai yang harus dihayati, dimiliki, dan diamalkan dalam kehidupan anggota gerakan pramuka di masyarakat.

3. Landasan gerak bagi gp untuk mencapai tujuan pendidikan kepramukaan yang diwujudkan dalam kegiatan untuk mendorong peserta didik manunggal dengan masyarakat, bersikap demokratis, saling menghormati, serta memiliki rasa kebersamaan dan gotong royong.

4. Kode etik bagi organisasi dan anggota gerakan pramuka.

Dalam Gerakan Pramuka, kode kehormatan ditetapkan dan diterapkan sesuai dengan golongan usia dan perkembangan rohani dan jasmani anggota Gerakan Pramuka.

Kode Kehormatan bagi Pramuka Siaga adalah Dwi Satya dan Dwi Darma.

DWI (DUA) – SATYA (JANJI DAN KOMITMEN DIRI)

DWI (DUA) – DARMA (KETENTUAN MORAL)

Kode Kehormatan bagi Pramuka Penggalang adalah Tri Satya dan Dasa Darma.

TRI (TIGA) – SATYA (JANJI DAN KOMITMEN DIRI)

DASA (SEPULUH) -- DARMA (KETENTUAN MORAL)

DWISATYA
Demi kehormatanku aku berjanji akan bersunguh-sungguh:
- Menjalankan kewajibanku terhadap tuhan, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan menurut aturan keluarga.
- Setiap hari berbuat kebaikan.

DWIDARMA
1. Siaga itu patuh pada ayah dan ibundanya
2. Siaga itu berani dan tidak putus asa 

TRISATYA
Demi kehormatanku aku berjanji akan bersunguh-sungguh:
1. Menjalankan kewajibanku terhadap tuhan, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengamalkan Pancasila.
2. Menolong sesama hidup dan memersiapkan diri membangun masyarakat.
3. Menepati Dasa Darma. 

DASADARMA
1. Takwa kepada tuhan yang maha esa
2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia
3. Patriot yang sopan dan ksatria
4. Patuh dan suka bermusyawarah
5. Rela menolong dan tabah
6. Rajin, terampil dan gembira
7. Hemat, cermat, dan bersahaja
8. Disiplin, berani, dan setia
9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya
10. Suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan 

KODE KEHORMATAN TERSEBUT BUKAN SEBUAH HAFALAN YANG CUKUP DIHAFALKAN SAJA NAMUN SEORANG PRAMUKA SEHARUSNYA MENEPATI SATYA PRAMUKA DAN MENGAMALKAN DARMA PRAMUKA.

AKSI  NYATA PENERAPAN DWISATYA
MENJALANKAN KEWAJIBANKU TERHADAP TUHAN
- Menjalankan rukun iman dan Islam
- Melakukan ibadah sunnah
- Mengajak dan melakukan kebaikan kepada teman
- Empati kepada kondisi lingkungan sekitar
- Mengikuti perintah Nabi Muhammad SAW 

NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA
- Belajar dengan sungguh-sungguh
- Mengikuti kegiatan sekolah dengan semangat
- Mengikuti upacara bendera
- Berusaha menjadi anak berprestasi
- Menyanyikan Lagu Kebangsaan 

MENURUT ATURAN KELUARGA
- Taat kepada kedua orang tua
- Menjaga kebersihan dan kerapian rumah dan kamar
- Santun berbicara kepada orang tua dan saudara
- Menjalankan piket yang ada di keluarga
- Saling membantu dan menolong anggota keluarga 

SETIAP HARI BERBUAT KEBAIKAN
- Shalat ke masjid, bersedekah / berinfaq, membantu teman / tetangga, mengaji / menambah hafalan, dll

- Mencuci alat makan sendiri, menyapu / mengepel lantai rumah, menaruh sepatu / sandal dengan rapi, dll

- Merapikan kamar tidur (bantal, selimut, guling, dll), menjemur cucian, melipat jemuran yang sudah kering, dll

- Taat / nurut terhadap perintah orang tua, membantu ibu memasak, berbelanja ke toko, dll

- Menutup aurat ketika keluar rumah, menjenguk saudara / tetangga yang sakit, dll 

AKSI  NYATA PENERAPAN DWIDARMA
1. SIAGA ITU PATUH PADA AYAH DAN IBUNDANYA
- Taat kepada kedua orang tua
- Menjaga kebersihan dan kerapian rumah dan kamar
- Santun berbicara kepada orang tua dan saudara
- Menjalankan piket yang ada di keluarga
- Saling membantu dan menolong anggota keluarga 

2. SIAGA ITU BERANI DAN TIDAK PUTUS ASA
- Percaya diri, tidak malu ketika ditanya orang lain
- Tidak mengeluh, tidak menyerah, selalu bersemangat
- Tidak takut gelap, berani ketika sendirian
- Jujur mengakui kesalahan dan mau meminta maaf
- Rajin dan tekun belajar, terus berlatih sampai bisa 

AKSI  NYATA PENERAPAN TRISATYA
MENJALANKAN KEWAJIBANKU TERHADAP TUHAN
- Menjalankan rukun iman dan Islam
- Melakukan ibadah sunnah
- Mengajak dan melakukan kebaikan kepada teman
- Empati kepada kondisi lingkungan sekitar
- Mengikuti perintah Nabi Muhammad SAW 

NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA
- Belajar dengan sungguh-sungguh
- Mengikuti kegiatan sekolah dengan semangat
- Mengikuti upacara bendera
- Berusaha menjadi anak berprestasi
- Menyanyikan Lagu Kebangsaan 

MENGAMALKAN PANCASILA
- Ketuhanan Yang Maha Esa
- Kemanusiaan yang adil dan beradab
- Persatuan Indonesia
- Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyarawatan / perwalikan
- Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia 

MENOLONG SESAMA HIDUP
- Taat kepada kedua orang tua
- Saling membantu dan menolong anggota keluarga
- Empati kepada kondisi lingkungan sekitar
- Mengajak dan melakukan kebaikan kepada teman
- Memiliki perhatian kepada semua makhluk hidup 

MEMPERSIAPKAN DIRI MEMBANGUN MASYARAKAT
- Ikut kegiatan sosial kemasyarakat di lingkungan sekolah
- Ikut program baksti soaial / berbagi dengan semasa
- Jujur mengakui kesalahan dan mau meminta maaf
- Rajin dan tekun belajar, terus berlatih sampai bisa
- Tidak mengeluh, tidak menyerah, selalu bersemangat 

MENEPATI DASADARMA
- Menjalankan Dasa Darma dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab

AKSI  NYATA PENERAPAN DASADARMA
1. TAKWA KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA
Menjalankan perintah, menjauhi larangan, berdoa saat memulai dan mengakhiri kegiatan, selalu memperbaiki niat, patuh dan berbakti kepada orang tua, sayang kepada semua makhluk Allah, menghormati agama orang lain (toleransi).

2. CINTA ALAM DAN KASIH SAYANG SESAMA MANUSIA
Selalu menjaga kebersihan lingkungan (baik di rumah / sekolah), menjaga kelestarian alam (flora/fauna), membantu faqir miskin, yatim piatu, duafa dengan uang kita sendiri.

3. PATRIOT YANG SOPAN DAN KSATRIA
Belajar di sekolah dengan baik, gunakan fasilitas yang ada untuk menambah ilmu, menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, membiasakan diri mengakui kesalahan dan membenarkan yang benar, peran serta dalam bela negara (memasang bendera, upacara, berdoa, menghormati lambang negara, memahami nilai luhur bangsa).

4. PATUH DAN SUKA BERMUSYAWARAH
Taat kepada orang tua, guru, dan pembina, menerima segala keputusan yang sudah disepakati, tidak mengambil keputusan dengan tergesa-gesa, selalu menepati janji, mematuhi peraturan, menghargai pendapat orang lain.

5. RELA MENOLONG DAN TABAH
Selalu menolong orang yang terkena musibah, tidak mengeluh, menolong tanpa diminta, empati terhadap lingkungan, pantang mundur menghadapi tantangan.

6. RAJIN, TERAMPIL DAN GEMBIRA
Membiasakan menyusun jadwal dalam kegiatan sehari-hari, mampu membuat kerajinan/hasta karya, selalu riang gembira dalam melakukan kegiatan/pekerjaan, membaca buku bermanfaat, tidak terlalu cepat menegur/menyalahkan, tidak menunda-nunda pekerjaan sampai besuk.

7. HEMAT, CERMAT, DAN BERSAHAJA
Tidak boros, hemat, sikap sederhana, tidak berlebihan, tepat waktu dalam hal shalat, tidak ceroboh, hemat air dan listrik, mengatur uang sendiri (menabung, menahan tidak menghabiskan).

8. DISIPLIN, BERANI, DAN SETIA
Mendahulukan kewajiban, berani mengambil keputusan, menjalani ibadah, belajar menilai keadaan, menaati peraturan, patuh dan membela.

9. BERTANGGUNG JAWAB DAN DAPAT DIPERCAYA
Tidak mengelakan amanat, jujur tidak mengada-ada, mengerjakan semua yang diperintahkan dengan tanggung jawab penuh, bertanggung jawab atas semua tindakan yang dilakukan, apa yang dikatakan bukan suatu karangan yang dibuat-buat.

10. SUCI DALAM PIKIRAN, PERKATAAN, DAN PERBUATAN
Selalu berfikir positif menghargai sikap dan pendapat orang lain, bisa menyumbangkan saran yang baik, berhati-hati mengendalikan diri mengucapkan kata/kalimat yang tidak pantas/perbuatan yang tidak baik, berupaya tidak melanggar norma agama/hukum, melihat dan memikirkan sesuatu dari sisi baiknya (hikmah).

Demikianlah penjelasan tentang Aksi Nyata Menerapkan Kode Kehormatan Pramuka. Semoga Bermanfaat. SALAM PRAMUKA. 

Bagikan:

Guru Penggerak: Eksplorasi Konsep - Budaya Positif Sekolah

URGENSI BUDAYA POSITIF DI SEKOLAH 
Bapak dan Ibu calon guru penggerak, sebagai pamong untuk menuntun murid dalam belajar, Anda diharapkan dapat menjadi inisiator dalam mewujudkan budaya positif di sekolah yang berpihak pada murid. Mengapa budaya positif di sekolah perlu diwujudkan? Anda tentunya perlu menjawab pertanyaan ini sebagai awalan dalam memahami konsep budaya positif di sekolah. Untuk memahami urgensi dari budaya positif di sekolah, mari kita awali dengan menyimak video mengenai potret budaya sekolah.

(Sumber Video asli: https://youtu.be/jgDySWfE6Aw)

Setelah menyimak video mengenai potret budaya sekolah, jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

  1. Apa perbedaan yang Anda lihat pada kedua cara guru tersebut dalam melibatkan murid?
  2. Menurut Anda, bagaimana perasaan murid dalam kelas pertama?
  3. Menurut Anda, bagaimana perasaan murid dalam kelas kedua?
  4. Dari kedua kelas tersebut, kelas manakah yang menciptakan budaya positif? Mengapa?

UMPAN BALIK
Dari video mengenai potret budaya sekolah, kita dapat mempelajari budaya sekolah yang berdampak baik pada pengembangan karakter murid. Aktivitas guru mengajak murid berkeliling sekolah untuk mengamati lingkungan sekolah dapat membuat murid menganalisis permasalahan yang terjadi di sekolah dan mendiskusikan solusinya. 

Aktivitas tersebut menumbuhkan karakter bernilai kritis pada murid. Nah, dengan demikian kita memahami bahwa sekolah merupakan institusi pembentukan karakter. Oleh karena itu, budaya positif perlu diciptakan agar dapat mendukung pembentukan karakter murid yang diharapkan.

1. PERAN SEKOLAH SEBAGAI INSTITUSI PEMBENTUKAN KARAKTER
Bapak dan Ibu calon guru penggerak, Agar lebih memahami urgensi budaya positif di sekolah, kita perlu memahami peran sekolah sebagai institusi pembentukan karakter. 

Ketika kita berbicara sekolah sebagai institusi pembentukan karakter. Mari kita ingat kembali makna pendidikan sendiri dari Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara: 

“Adapun maksud pendidikan yaitu: menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya”

(dikutip dari buku Ki Hajar Dewantara seri 1 pendidikan halaman 20)

Kutipan tersebut mengisyaratkan kita sebagai guru untuk membangun komunitas di sekolah untuk menyiapkan murid di masa depan agar menjadi manusia berdaya tidak hanya untuk pribadi tapi berdampak pada masyarakat.

Pertanyaannya sekarang adalah karakter seperti apa yang bisa menyiapkan murid menjadi manusia dan anggota masyarakat untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan seperti tujuan pendidikan sendiri.

Jika kita mengacu pada Profil Pelajar Pancasila, “Pelajar Indonesia merupakan pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila.”

Pelajar yang memiliki profil yang demikian itu adalah pelajar yang terbangun utuh keenam dimensi pembentuknya, yaitu:
1) beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia,
2) mandiri,
3) bergotong-royong,
4) berkebinekaan global,
5) bernalar kritis,
6) kreatif.

2. PELAJAR INDONESIA
Pelajar Indonesia adalah pelajar yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Keimanan dan ketakwaannya termanifestasi dalam akhlak yang mulia terhadap diri sendiri, sesama manusia, alam, dan negaranya. 

Ia berpikir dan bersikap sesuai dengan nilai-nilai ketuhanan sebagai panduan untuk memilah dan memilih yang baik dan benar, bersikap welas asih pada ciptaan-Nya, serta menjaga integritas dan menegakkan keadilan.

Pelajar Indonesia senantiasa berpikir dan bersikap terbuka terhadap kemajemukan dan perbedaan, serta secara aktif berkontribusi pada peningkatan kualitas kehidupan manusia sebagai bagian dari warga Indonesia dan dunia. Sebagai bagian dari bangsa Indonesia.  

Pelajar Indonesia memiliki identitas diri merepresentasikan budaya luhur bangsanya. Ia menghargai dan melestarikan budayanya sembari berinteraksi dengan berbagai budaya lainnya. Ia peduli pada lingkungannya dan menjadikan kemajemukan yang ada sebagai kekuatan untuk hidup bergotong royong.

Pelajar Indonesia merupakan pelajar yang mandiri. Ia berinisiatif dan siap mempelajari hal-hal baru, serta gigih dalam mencapai tujuannya. Pelajar Indonesia gemar dan mampu bernalar secara kritis dan kreatif. 

Ia menganalisis masalah menggunakan kaidah berpikir saintifik dan mengaplikasikan alternatif solusi secara inovatif. Ia aktif mencari cara untuk senantiasa meningkatkan kapasitas diri dan bersikap reflektif agar dapat terus mengembangkan diri dan berkontribusi kepada bangsa, negara, dan dunia.

Tujuan utama dari pendidikan karakter juga bukan hanya mendorong murid untuk sukses secara moral maupun akademik di lingkungan sekolah, tetapi juga untuk menumbuhkan moral yang baik pada diri murid ketika sudah terlibat di dalam masyarakat.

3. PANDUAN DALAM PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH 
Apa yang bisa Anda lakukan sebagai guru penggerak untuk membangun sekolah sebagai institusi pembentukan karakter? Menurut Character Education Partnership (2010) ada beberapa panduan dalam pelaksanaan program pendidikan karakter di sekolah agar program yang dibentuk dapat berjalan dengan efektif :

(Download file pdf-nya DI SINI) 

Membangun karakteristik seseorang bukanlah hal yang mudah, bahkan sangat sulit. Akan tetapi, sebagai pendidik, kita diberikan tugas untuk dapat membentuk calon-calon penerus bangsa yang memiliki karakter jujur, berkeadilan, bertanggung jawab, peduli dan saling menghormati.

4. LANDASAN BUDAYA POSITIF YANG BERPIHAK PADA MURID 
Bapak dan Ibu calon guru penggerak, Setelah memahami urgensi dari budaya positif di sekolah, sekarang Anda akan mempelajari lebih mendalam mengenai budaya positif di sekolah yang berpihak pada murid. Untuk membahas konsep budaya positif, kita perlu mengetahui definisi budaya sekolah.

Budaya sekolah menurut Fullan (2007) adalah keyakinan-keyakinan dan nilai-nilai yang terlihat dari bagaimana sekolah menjalankan aktivitas sehari-hari. Sedangkan Deal dan Peterson (1999) mendefinisikan budaya sekolah sebagai berbagai tradisi dan kebiasaan keseharian yang dibangun dalam jangka waktu yang lama oleh guru, murid, orang tua, dan staf administrasi yang bekerjasama dalam menghadapi berbagai krisis dan pencapaian.

Dari kedua pengertian tersebut kita melihat bahwa budaya sekolah merupakan nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan yang dibangun dalam jangka waktu lama yang tercermin pada sikap keseharian seluruh komponen sekolah. Dalam kebanyakan sekolah di Indonesia, contoh budaya sekolah yang sudah berjalan dengan baik adalah budaya senyum, salam, dan sapa. Tentunya, budaya sekolah tersebut masih perlu dilaksanakan mengingat perannya yang dapat membuat sekolah menjadi lingkungan yang nyaman.

Dalam modul ini, yang dimaksud dengan budaya positif di sekolah ialah  nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang berpihak pada murid agar murid dapat berkembang menjadi pribadi yang kritis, penuh hormat dan bertanggung jawab. Dalam mewujudkan budaya positif ini, guru memegang peranan sentral. Guru perlu memahami posisi apa yang tepat untuk dapat mewujudkan budaya positif baik lingkup kelas maupun sekolah. Selain itu, pemahaman akan disiplin positif juga diperlukan karena sebagai pamong, guru diharapkan dapat menuntun murid untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Oleh karena itu, selanjutnya, Anda akan mempelajari dua konsep yaitu posisi kontrol guru dan disiplin positif yang menjadi landasan dari budaya positif.

5. POSISI KONTROL GURU
Penting bagi guru untuk memahami bagaimana guru harus memposisikan diri saat berhadapan dengan murid. Oleh karena itu, dalam sesi ini Anda akan mempelajari lebih dalam dengan melakukan refleksi “Guru seperti apakah kita selama ini?”. Dalam komponen kelas, posisi guru dapat dikatakan sebagai penggerak utama. Hal ini mewujudkan juga adanya kontrol guru dalam proses belajar mengajar.

Renungkanlah pertanyaan berikut ini: Posisi kontrol guru seperti apa yang dapat mewujudkan budaya positif di sekolah? Selama menjadi guru, sudahkah kita memposisikan diri kita secara tepat? Mari simak video berikut ini untuk lebih memahami Posisi Kontrol Guru.

(Sumber video asli: https://youtu.be/FLBh8ZEFRbU)

Setelah menyimak video mengenai posisi kontrol guru, jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

1. Bagaimana perasaan Anda setelah menonton video?
2. Manakah kejadian yang menggambarkan Anda ketika berinteraksi dengan murid di kelas?

Bapak dan Ibu calon guru penggerak, dalam hal ini kita tidak sedang menyalahkan salah satu situasi. Coba kita ingat ketika kita menjadi murid dulu. Pernahkah kita merasakan perasaan yang sama seperti Anton? Merasa kesal karena dihukum, merasa malu karena dipermalukan di depan kelas, merasa diawasi terus. Bedakan dengan guru pada kejadian 5. Apa yang dirasakan Anton? Betul! Merasa didengarkan.

Untuk mengetahui lebih jelas hubungan guru dan murid berikut penjelasan posisi kontrol guru dalam video yang kita tonton sebelumnya.


Setelah mempelajari konsep mengenai posisi kontrol guru, silakan melakukan refleksi dengan pertanyaan-pertanyaan berikut:

1. Sebagai guru, posisi apa yang akan Anda perankan? Mengapa?
2. Rencana apa saja yang akan Anda lakukan untuk memerankan posisi tersebut?

6. POSISI KONTROL MANAJER
Bapak dan Ibu calon guru penggerak, dalam menumbuhkan disiplin pada diri murid secara intrinstik, guru perlu berperan pada posisi kontrol manajer yang bertanya dan membuat kesepakatan kelas bila murid melakukan kesalahan atau pelanggaran, bukan menuduh, memberi hukuman atau sebagai teman yang membiarkan murid melakukan kesalahan atau pelanggaran. 

Hal ini dilakukan karena pendidik sebagai pamong yaitu “menuntun” atau memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar. Anak diberi kebebasan, namun perlu  diberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. 

Oleh karena itu, pada kesehariannya, pamong juga berperan sebagai pengontrol untuk mengingatkan murid jika berada dalam bahaya. Pada kesempatan lain, guru juga dapat berperan sebagai teman ketika berinteraksi agar dapat memahami murid dan membangun kedekatan.

7. DISIPLIN POSITIF SEBAGAI LANDASAN UNTUK MEMBANGUN BUDAYA POSITIF DI SEKOLAH 
Bapak dan Ibu calon guru penggerak, setelah mempelajari dan melakukan refleksi mengenai posisi kontrol guru, pada bagian ini Anda akan mempelajari konsep disiplin positif yang merupakan landasan untuk membangun budaya positif di sekolah. Sebelum konsep ini dikupas tuntas, kita perlu mengetahui perbedaan antara disiplin dan hukuman.

7.1. DISIPLIN DAN HUKUMAN
Masih ingatkah  dengan video pada sesi Posisi Kontrol Guru? Ingatkah Anda terhadap guru Anton pada situasi pertama? Apa yang dilakukan guru tersebut ketika mengetahui Anton tidak mengerjakan tugas? Betul! Guru tersebut menghukum Anton.

Kita seringkali memandang bahwa hukuman adalah bentuk yang sama dengan proses pen-disiplin-an dan memberikan hukuman sebagai salah satu langkah dalam proses disiplin murid. Padahal, disiplin dan hukuman memiliki arti yang berbeda dan memberikan efek yang sangat berbeda dalam pembentukan diri murid.

Bapak dan Ibu calon guru penggerak, Pada umumnya orang sering melihat 'disiplin' sebagai hal yang sama dengan 'hukuman', namun disiplin dan hukuman adalah dua hal yang berbeda. 

Disiplin merujuk pada praktik mengajar atau melatih seseorang untuk mematuhi peraturan atau perilaku dalam jangka pendek dan jangka panjang. Sementara hukuman dimaksudkan untuk mengendalikan perilaku  murid. 

Disiplin dimaksudkan untuk mengembangkan perilaku para murid tersebut serta mengajarkan murid tentang kontrol dan kepercayaan diri dengan berfokus pada apa yang mampu mereka pelajari.

Tujuan akhir dari disiplin adalah agar murid memahami perilaku mereka sendiri, mengambil inisiatif, menjadi bertanggung jawab atas pilihan mereka, dan menghargai diri mereka sendiri dan orang lain.

Untuk lebih memahami perbedaan hukuman dan disiplin, perhatikanlah tabel berikut ini: 

 

Tabel 2 Perbedaan Disiplin dan Hukuman  (CJCP, 2012)
(Download file pdf-nya DI SINI)
 

7.2. HUKUMAN DAN KONSEKUENSI 
Anda mungkin menyimpan pertanyaan,  “jika tidak ada hukuman, maka  bagaimana menghadapi murid yang melakukan pelanggaran atau kesalahan?”  Mari kita menyamakan persepsi bahwa pelanggaran atau kesalahan adalah kesempatan anak untuk belajar. 

Jika ditangani dengan tepat, kesalahan dapat menjadi momen yang baik agar anak mengetahui hal tersebut sebaiknya tidak dilakukan lagi di masa mendatang. Anak juga akan lebih bertanggung jawab serta mengetahui bagaimana memperbaiki situasi yang dihadapinya. 

Menurut Nelsen (2021), berikut adalah cara kita merespon kesalahan agar menjadi pembelajaran yang baik bagi anak.

  • Merespon kesalahan dengan kasih sayang dan kebaikan dibanding menyalahkan, menuduh dan menceramahi.
  • Berikan pertanyaan yang bisa menimbulkan diskusi tentang konsekuensi yang mungkin terjadi dari tindakannya.
  • Melihat kesempatan terjadinya kesalahan untuk didiskusikan bersama anak atau dengan teman-teman lain.

Jika diperhatikan dengan seksama, ketiga cara diatas lebih mengedepankan konsekuensi daripada hukuman. Mengapa konsekuensi lebih dipilih untuk mewujudkan budaya positif dibanding hukuman? 

Hukuman bersifat satu arah dari guru ke murid dan seringkali tidak berhubungan dengan kesalahan murid. Sedangkan menurut Nelsen (2021), prinsip konsekuensi fokus pada masalah dan solusi sehingga konsekuensi berhubungan dengan perilaku, penuh hormat kepada murid, bersifat masuk akal dan bertujuan untuk membantu murid belajar.

8. DISIPLIN POSITIF 
Disiplin positif adalah sebuah model disiplin yang difokuskan pada perilaku positif murid agar menjadi pribadi yang penuh hormat dan bertanggung (Nelsen, Lott & Glenn, 2000). 

Disiplin positif mengajarkan keterampilan sosial dan emosional dan keterampilan kehidupan yang penting dengan cara penuh hormat  dan membesarkan hati tidak hanya bagi murid tetapi juga bagi orang dewasa (termasuk orangtua, guru, staf administrasi dan lainnya). 

Kebalikan dari disiplin positif adalah disiplin negatif yang berfokus pada hukuman. Disiplin negatif cenderung menghambat perkembangan sosial, emosional dan keterampilan hidup murid. Dengan disiplin positif, guru diharapkan dapat mewujudkan budaya positif baik di kelas maupun sekolah.

8. 1. KRITERIA UTAMA DISIPLIN POSITIF
Untuk melakukan pendekatan disiplin positif, Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak perlu menjadikan kriteria disiplin positif yang dikembangkan oleh Nelsen (2021) ini sebagai panduan dalam membangun hubungan dengan murid.

1.  Bersikap baik dan tegas di saat yang bersamaan (menunjukkan sikap hormat dan memberi semangat).

2. Membantu murid merasa dihargai dan memiliki keterikatan antara dirinya dengan guru dan teman di kelasnya, sehingga ia merasa menjadi bagian dari kelas.

3. Memiliki komitmen untuk mempertimbangkan efektivitas dan dampak jangka panjang bagi proses belajar murid dari tindakan yang diambil (misalnya; pemberian hukuman bersifat dapat menyelesaikan masalah dalam jangka pendek, tetapi berpotensi memberikan dampak negatif dalam proses belajar pada anak yang bersifat jangka panjang). Dengan begitu, pendidik fokus pada perubahan dan peningkatan perilaku yang menetap, bukan hanya pada perilaku yang berhasil ditampakkan pada saat itu.

4. Menerapkan disiplin positif berarti membekali murid dengan keterampilan sosial dan mendukung pertumbuhan karakter yang baik seperti rasa hormat, kepedulian terhadap orang lain, komunikasi yang efektif, pemecahan masalah, tanggung jawab kontribusi, kerja sama.

5.  Mengajak murid untuk menemukan bagaimana mereka mampu dan dapat menggunakan kekuatan diri mereka dengan cara yang membangun.

8.2. PENERAPAN DISIPLIN POSITIF DI SEKOLAH DENGAN PENDEKATAN HOLISTIK 
Menerapkan pendekatan disiplin positif dapat membantu sekolah memainkan peran penting dalam menciptakan masyarakat yang lebih adil dan manusiawi. Murid cenderung menjadikan orang dewasa sebagai model; jika  murid melihat orang dewasa menggunakan kekerasan fisik atau psikologis, mereka akan belajar bahwa kekerasan dapat diterima sehingga ada kemungkinan mereka akan menggunakan kekerasan terhadap orang lain. 

Sekolah memiliki peran penting dalam membimbing, memperbaiki, dan mensosialisasikan kepada  murid mengenai perilaku yang sesuai. Agar perubahan berhasil, diperlukan pendekatan terkoordinasi yang melibatkan semua peran di komunitas sekolah. 

Sekolah perlu bekerja dengan orangtua untuk memastikan konsistensi antara rumah dan sekolah, serta membekali mereka dengan informasi dan alat untuk mempraktekkan disiplin positif di rumah.

Dengan pemahaman yang komprehensif akan konsep budaya positif berikut konsep mengenai posisi kontrol guru dan disiplin positif yang merupakan landasan dalam membangun budaya positif di sekolah, Anda sudah memiliki bekal yang memadai dalam menjalankan peran anda untuk membangun budaya positif di sekolah.

8.3. UPAYA MEMBANGUN BUDAYA POSITIF YANG BERPIHAK PADA MURID 
Bapak dan Ibu calon guru penggerak, setelah mempelajari urgensi budaya positif di sekolah dan konsep budaya positif beserta hal-hal yang melandasinya, Anda diharapkan dapat membangun budaya positif di sekolah Anda. 

Nah, pertanyaannya, “Apakah dalam membangun budaya positif hanya Anda, sebagai guru, yang berperan mewujudkannya?” Tentunya semua komponen sekolah berperan penting dalam membangun budaya positif di sekolah. Pada bagian ini, Anda akan mendalami bagaimana semua komponen sekolah berperan dalam membangun budaya positif di sekolah. 

8.3.1 Membuat Kesepakatan Kelas sebagai Langkah Awal dalam Membangun Budaya Positif yang Berpihak pada Murid
Upaya dalam membangun budaya positif di sekolah yang berpihak pada murid diawali dengan membentuk lingkungan kelas yang mendukung terciptanya budaya positif, yaitu dengan menyusun kesepakatan kelas. 

Kesepakatan kelas yang efektif dapat membantu dalam pembentukan budaya disiplin positif  di kelas. Hal ini juga dapat membantu proses belajar mengajar yang lebih mudah dan tidak menekan. 

Seringkali permasalahan dengan murid berkaitan dengan komunikasi antara murid dengan guru, terutama ketika murid melanggar suatu aturan dengan alasan tidak mengetahui adanya aturan tersebut. Kurang adanya komunikasi ini menyebabkan relasi murid dan guru menjadi kurang baik.

Sebelum Anda mempelajari lebih mendalam mengenai kesepakatan kelas, renungkanlah dua pertanyaan berikut ini: Apakah selama ini Anda sudah menerapkan pemberian kesepakatan kelas di sekolah Anda? Siapa saja yang turut berperan dalam menentukan kesepakatan kelas? 

Kesepakatan kelas berisi beberapa aturan untuk membantu guru dan murid bekerja bersama membentuk kegiatan belajar mengajar yang efektif. Kesepakatan kelas tidak hanya berisi harapan guru terhadap murid, tapi juga harapan murid terhadap guru. Kesepakatan disusun dan dikembangkan bersama-sama antara guru dan murid.

Dalam menyusun kesepakatan kelas, guru perlu mempertimbangkan hal yang penting dan hal yang bisa dikesampingkan. Murid dapat mengalami kesulitan dalam mengingat banyak informasi, jadi susunlah 4 - 8 aturan untuk setiap kelas. Jika berlebihan, murid akan merasa kesulitan dan tidak mendapatkan makna dari kesepakatan kelas tersebut. Kesepakatan harus disusun dengan jelas sehingga murid dapat memahami perilaku apa yang diharapkan dari mereka.

Kesepakatan yang disusun sebaiknya mudah dipahami dan dapat langsung dilakukan. Oleh karena itu, dalam kesepakatan kelas gunakan kalimat positif seperti, “Saling menghormati” ,“Berjalan jika berada di lorong kelas”. Kalimat positif lebih mudah dipahami murid dibandingkan kalimat negatif yang mengandung kata seperti, “dilarang” atau “tidak”.

Kesepakatan perlu dapat diperbaiki dan dikembangkan secara berkala, seperti setiap awal semester. Untuk mempermudah pemahaman murid, kesepakatan dapat ditulis, digambar, atau disusun sedemikian rupa sehingga dapat dipahami dan disadari oleh murid. 

Strategi lain adalah dengan mencetaknya di setiap buku laporan kegiatan murid. Hal ini menjadi strategi yang baik untuk meningkatkan komunikasi antara orang tua dan pihak sekolah.

Untuk memahami kesepakatan kelas secara lebih mendalam, mari kita saksikan video berikut ini :

(Sumber video asli: https://youtu.be/Pyp0xfaAgh4)

Setelah menyimak video mengenai kesepakatan kelas ini, Anda diharapkan dapat menerapkan hal-hal tersebut dalam kelas Anda.

8.3.2 Menciptakan Visi Sekolah untuk Membangun Budaya Positif yang Berpihak pada Murid
Upaya berikutnya dalam membangun budaya positif yang berpihak pada murid adalah mengembangkan visi bersama tentang apa yang ingin dicapai sekolah. 

Daripada berfokus pada masalah dan perilaku buruk, ada baiknya Anda mulai dengan melihat hal-hal positif yang sudah berhasil di sekolah. Ini memberikan landasan untuk membangun visi bersama bagi komunitas sekolah yang berpusat pada diri murid dan pemberdayaannya.

Langkah untuk mendukung pemikiran dasar ini adalah memutuskan pihak yang dapat Anda ajak diskusi mengenai cara bagaimana sekolah dapat membawa visi tersebut menjadi kenyataan. 

Ingatlah kembali visi mengenai sekolah impian yang Anda ceritakan pada tahap Mulai dari Diri dalam modul 1.3. Di sana Anda sudah memiliki cita-cita mengenai kondisi sekolah ideal. 

Visi yang dikembangkan harus mendukung hal-hal berikut ini:

  1. Penciptaan lingkungan belajar yang ramah murid yaitu tempat yang di dalamnya baik murid, pendidik, maupun orang tua merasa dihargai dan didukung; serta tempat yang dapat membuat murid merasa bebas untuk mengekspresikan pandangan mereka dan didorong penuh untuk mencapai potensi yang mereka miliki.
  2. Pengajaran dan penguatan positif yang bertujuan untuk membangun hubungan yang saling peduli dan menghormati.
  3. Kebijakan dan strategi untuk mengurangi perilaku yang tidak dapat diterima yang melibatkan semua pemangku kepentingan yaitu, pendidik, orang tua, murid dan manajemen sekolah.

Hal-hal di atas jelas memperlihatkan bahwa untuk membangun budaya positif, keterlibatan guru, murid, manajemen sekolah dan orang tua sangat diperlukan. Semuanya harus bahu membahu dalam membangun budaya positif di sekolah.

PENUTUP
Demikianlah upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam membangun budaya positif di sekolah. Tentunya, untuk mewujudkan hal ini membutuhkan proses yang yang tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Selain itu, proses ini juga membutuhkan keterlibatan semua pemangku kepentingan di sekolah.

Terima kasih sudah dengan antusias mengikuti perjalanan berproses menuju pendidikan Indonesia yang lebih baik. Membentuk budaya sekolah dengan berfokus pada kebutuhan murid dan pertumbuhan karakter positif bukanlah hal yang mudah, tetapi Anda berhasil melaluinya dan merencanakan yang terbaik untuk murid dan sekolah. 

Buah dari kerja keras ini dapat terlihat ketika kita menyadari bahwa murid kita telah bertumbuh menjadi seorang dewasa yang sukses di pekerjaan, kehidupan, dan relasinya dengan orang lain dengan karakter yang memiliki integritas tinggi, bertanggung jawab, dapat diandalkan, berbudi pekerti luhur, dan bermanfaat bagi lingkungan dan negara.

Materi terkait budaya positif adalah akhir dari paket modul satu, akan tetapi perjalanan Anda menjadi Guru Penggerak baru dimulai. Setelah memahami dan mendalami pondasi yang diperlukan dalam menyusun budaya di sekolah, Anda akan bertemu dengan paket modul lain yang dapat diterapkan secara teknis dalam proses belajar mengajar. Anda akan belajar dan mencoba banyak hal baru yang menarik dan menjadi bekal dalam mengembangkan pendidikan Indonesia yang semakin baik lagi. Selamat berproses!

Salam semangat dan salam Guru Penggerak!

*****

DAFTAR PUSTAKA

Learning Management System (LMS) Guru Penggerak

Center for Curriculum Redesign. (2015). Character Education for the 21st Century: What Should Students Learn?. Boston, Massachusetts.

 

Centre for Justice and Crime Prevention and the Department of Basic Education. (2012). Positive Discipline and Classroom Management-Course Reader. Cape Town.

 

Deal, T. E. & Peterson, K. D. (1999). Shaping school culture: The heart of leadership. San Francisco, CA: Jossey-Bass

 

Durrant, Joan,. (2010). Positive Discipline in Everyday Teaching: A guide for educators. Save the Children, Sweden. 

 

Fullan, M., (2007) The new meaning of educational change, Routledge, New York.

 

Gossen, D. (2004). It's All About We: Rethinking Discipline Using Restitution. Diakses dari https://www.summiteducation.ca/five-positions-of-control/

Gossen, D. (1997). It’s Okay To Make Mistakes. Diakses dari https://www.esd.ca/Programs/Restitution/Documents/It's%20Okay%20to%20Make%20Mistakes%20Article.pdf

Graff, C. E. (2012). The effectiveness of Character Education Programs in Middle and High Schools. Counselor Education Master’s Theses, 127.

Lickona Ph.D, Tom; Schapsa, Eric; Lewis, Catherine. (2002). Eleven Principles of Effective Character Education. Character Education Partnership (www.character.org

 

Nelsen, J, Lott, L., and Glennn, H.S. (2000). Positive discipline in the classroom: Developing Mutual Respect, Cooperation, and Responsibility in Your Classroom. New York: Three Rivers Press.


Nelsen, J.  (2021). Mistakes  Are Wonderful Opportunities To Learn. Diakses dari   https://www.positivediscipline.com/articles/mistakes-are-wonderful-opportunities-learn

 

Nelsen, J. (2021).  Focus On Solutions. Diakses dari https://www.positivediscipline.com/articles/focus-solutions

 

Nofijantie, Lilik. (2012). Peran Lembaga Pendidikan Formal Sebagai Modal Utama Membangun Karakter Siswa. Conference Proceedings: Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS XII). 2947 - 2970

Positive Discipline. (2020). Positive Discipline: Creating respectful relationships in homes and schools. www.positivediscipline.com/what-is-positive-discipline.html. ;

RAPCAN. (2008). An Educator’s Guide to Positive Discipline. Diakses dari www.rapcan.org.za/File_uploads/Resources/teaching%20positive%20discipline%20screen.pdf

Stolp, Stephen, and Stuart C. Smith. (1994). School Culture and Climate: The Role of the Leader. OSSC Bulletin. Eugene: Oregon School Study Council, January 1994.







Bagikan: