"Menyebarluaskan Pengetahuan..."

PENDIDIKAN

Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema pendidikan. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

KELUARGA

Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema keluarga. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

PEMUDA

Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema pemuda. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

KEPEMIMPINAN

Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema kepemimpinan. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

PRIBADI ISLAMI

Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema pribadi Islami. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

PRAMUKA

Berbagai unggahan GiatEdukasi.com dengan tema Pramuka. Silakan kunjungi dan simak setiap video kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

VIDEO

Berbagai unggahan GiatEdukasi.com dalam bentuk video. Silakan kunjungi dan simak setiap video kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

Mari Mengenal Puasa Sunnah

Standar Kompetensi
1. Mengenal Fiqih Islam

Kompetensi Dasar
1.1 Mengetahui puasa Sunah

Indikator :
1. Siswa dapat menyebutkan makna puasa sunah dengan benar
2. Siswa mampu menyebutkan macam-macam puasa sunah
3. Siswa mampu untuk menyebutkan hal-hal yang membatalkan puasa
4. Siswa mampu menyebutkan hari-hari yang diharamkan puasa

a. Pengertian puasa
Shaum atau puasa secara bahasa bermakna al-imsak atau menahan diri dari sesuatu seperti menahan diri dari makan atau berbicara. Makna shaum seperti ini dipakai dalam ayat ke-26 surat Maryam. “Maka makan dan minumlah kamu, wahai Maryam, dan tenangkanlah hatimu; dan jika kamu bertemu seseorang, maka katakanlah saya sedang berpuasa dan tidak mau berbicara dengan siapapun.”

Sedangkan secara istilah, shaum adalah menahan dari dari dua jalan syahwat, mulut dan kemaluan, dan hal-hal lain yang dapat membatalkan pahala puasa mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

b. Macam-macam puasa sunah 
1. Puasa Syawal
Puasa syawal adalah puasa sunah 6 hari yang dilakukan di bulan Syawal, dimulai pada hari ke-2 (setelah Idul Fitri) sampai hari ke-7. Cara pelaksanaan puasa syawal bisa berturut turut dan boleh juga tidak .

Artinya : "Barang siapa berpuasa dibulan Ramadhan, kemudian diikuti dengan enam hari di bulan syawal maka yang demikian itu seolah-olah berpuasa setahun penuh" (HR. Muslim)

2. Puasa Arafah
Di Arafah seluruh jama’ah haji berkumpul dalam waktu yang bersamaan. Pada saat itulah umat islam yang sedang melakukan haji (wukuf) di Arafah tidak disunahkan untuk berpuasa arafah. Tetapi bagi umat islam yang tidak sedang melakukan haji (wukuf) disunahkan untuk berpuasa arafah.

Puasa arafah adalah puasa sunah yang dikerjakan pada tanggal 9 Dzulhijah bagi umat islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji.

3. Puasa Senin-Kamis
Dinamakan puasa senin kamis karena puasa ini dikerjakan pada hari senin dan kamis di luar puasa wajib. Puasa senin kamis ini merupakan sunah Nabi Muhammad SAW.

4. Puasa Daud
Puasa daud adalah puasa dengan cara satu hari puasa, satu hari tidak, puasa daud bertujuan untuk meneladani puasanya Nabi Daud As.

5. Puasa 3 hari pada pertengahan bulan (menurut kalender islam)(Yaumil Bidh), tanggal 13, 14, dan 15

6. Puasa Sya’ban (Nisfu Sya’ban) pada awal pertengahan bulan Sya’ban

c. Sunah-sunah Ketika Menjalankan Ibadah Puasa
1. Bersahur walaupun sedikit makanan atau minuman
2. Melambatkan bersahur
3. Meninggalkan perkataan atau perbuatan keji
4. Segera berbuka setelah masuknya waktu berbuka
5. Mendahulukan berbuka daripada sembahyang Maghrib 
6. Berbuka dengan buah tamar/kurma, jika tidak ada dengan air
7. Membaca doa berbuka puasa

d. Hal-hal / Perkara Yang Membatalkan Puasa
1. Memasukkan sesuatu ke dalam rongga badan
2. Muntah dengan sengaja 
3. Bersetubuh atau mengeluarkan mani dengan sengaja
4. Kedatangan haid atau nifas
5. Melahirkan anak atau keguguran
6. Gila walaupun sekejap
7. Mabuk ataupun pengsan sepanjang hari
8. Murtad atau keluar daripada agama Islam

e. Perkara-perkara yang Makruh dilakukan saat Berpuasa
1. Selalu berkumur-kumur
2. Merasa makanan dengan lidah
3. Berbekam kecuali perlu
4. Mengulum sesuatu

f. Hikmah / Manfaat Puasa
Hikmah dari ibadah shaum itu sendiri adalah melatih manusia untuk sabar dalam menjalani hidup. Maksud dari sabar yang tertera dalam al-Quran adalah ‘gigih dan ulet’ seperti yang dimaksud dalam QS. Ali ‘Imran : 146

“Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar”

g. Waktu-waktu Di haramkan Puasa
1. Pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha
Di haramkan berpuasa pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, baik itu untuk mengqadha puasa yang ditinggalkan, membayar kafarat, maupun sebagai puasa sunah.

2. Pada Hari Tasyriq
Puasa pada hari-hari tasyriq yaitu puasa pada tanggan 10,11, 12, dan 13 Djulhizah juga diharamkan.

h. Waktu-waktu yang di makruhkan berpuasa
1. Mengkhususkan pada bulan Rajab saja
Berpuasa satu bulan penuh pada bulan rajab merupakan amalan yang dimakruhkan.

2. Puasa dhar
Puasa dhar adalah puasa yang dilakukan secara terus menerus setiap hari.

3. Mengkhususkan pada hari jum’at untuk berpuasa

Sebagai ilustrasi, silakan simak video berikut ini:

Allahu a'lam...




Bagikan:

Mengenal Asmaul Husna: Ar Rahman dan Ar Rahim

A. Standar Kompetensi
Mengerti tentang fakta-fakta yang berhubungan dengan aqidah yang benar yang digali dari Al Qur`an, As Sunah, dalil-dalil naqly dan aqly, menanamkannya dalam jiwa, dan membersihkannya dari bid`ah dan khurofat yang mungkin mengotorinya.

B. Kompetensi Dasar
Memahami pentingnya ma‟rifatullah untuk meningkatkan iman dan taqwa dalam kehidupan manusia melalui ayat-ayat dalam Al Qura‟an.

C. Indikator Pencapaian Hasil
1. Peserta mengetahui arti Ar Rahman & Ar Rahim
2. Peserta mengetahui ayat tentang Ar Rahman & Ar Rahim
3. Peserta memahami makna Ar Rahman & Ar Rahim melalui kisah dan nasihat

D. Uraian Materi
Asy-Syaikh Muhammad Khalil Al-Harras mengatakan, “Keduanya adalah nama yang mulia dari nama-nama Allah. Kedua nama ini menunjukkan bahwa Allah memiliki sifat rahmat, kasih sayang, yang merupakan sifat hakiki bagi Allah dan sesuai dengan kebesaran-Nya.” Kedua nama Allah ini disebutkan dalam banyak ayat dan hadits Nabi, diantaranya:

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Al-Fatihah: 1)

“Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Al-Fatihah: 3)

Maknanya, menurut Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, “Ar-Rahman artinya Yang memiliki rahmat, kasih sayang yang luas, karena wazan (bentuk kata) fa‟lan dalam bahasa Arab menunjukkan makna luas dan penuh. Semisal dengan kata „Seorang lelaki ghadhbaan,‟ artinya penuh kemarahan.

Sementara, Ar-Rahiim adalah nama Allah yang memiliki makna kata kerja dari rahmat (yakni Yang merahmati, Yang mengasihi), karena wazan fa‟iil bermakna faa‟il, sehingga kata tersebut menunjukkan perbuatan (merahmati, mengasihi).

Oleh karena itu, paduan antara nama Ar-Rahman dan Ar-Rahim bermakna rahmat Allah itu luas dan kasih sayang-Nya akan sampai kepada makhluk-Nya.”

Adakah perbedaan antara nama Allah Ar-Rahman dan Ar-Rahim? Tentu ada sisi perbedaannya, karena setiap nama punya makna yang khusus. 

Berikut ini penjelasan sebagian ulama tentang perbedaan diantara keduanya. Al-Arzami mengatakan: “Ar-Rahman artinya Yang Maha Pengasih terhadap seluruh makhluk, sedangkan Ar-Rahim artinya Yang Maha Pengasih terhadap kaum mukminin.” (Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabari, Tafsir Basmalah)

Dengan demikian, dikatakan bahwa yang dimaksud dengan Ar-Rahman adalah yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu di dunia, karena bentuk kata/wazan fa‟lan itu menunjukkan penuh dan banyak. Sedangkan Ar-Rahim, yang rahmat-Nya khusus terhadap kaum mukimin di akhirat.

Akan tetapi, ada pula yang mengatakan sebaliknya. Ibnul Qayyim memandang bahwa Ar-Rahman menunjukkan sifat kasih sayang pada Dzat Allah (yakni Allah memiliki sifat kasih sayang), sedangkan Ar-Rahim menunjukkan bahwa sifat kasih sayang-Nya terkait dengan makhluk yang dikasihi-Nya.

Sehingga seakan-akan nama Ar-Rahman adalah sifat bagi-Nya, sedangkan nama Ar-Rahim mengandung perbuatan-Nya, yakni menunjukkan bahwa Dia memberi kasih sayang kepada makhluk-Nya dengan rahmat-Nya, jadi ini sifat perbuatan bagi-Nya. Apabila Anda hendak memahami hal ini, perhatikanlah firman Allah:

“Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (Al-Ahzab: 43)

“Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.” (At-Taubah: 117)

Allah l tidak menyebutkan dengan nama Ar-Rahman sama sekali. Dengan itu, Anda tahu bahwa makna Ar-Rahman adalah Yang memiliki sifat kasih sayang dan makna Ar-Rahim adalah Yang mengasihi dengan kasih sayang-Nya. (Syarah Nuniyyah, Ahmad Isa) Al-Harras mengatakan, ini adalah pendapat yang terbaik dalam membedakan kedua nama tersebut.

Berikut ini kutipan penjelasan Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa‟di tentang keagungan dua nama Allah l tersebut.

Ar-Rahman dan Ar-Rahim, adalah dua nama yang menunjukkan bahwa Allah memiliki kasih sayang yang luas dan agung. Kedua nama ini meliputi segala sesuatu dan meliputi segala makhluk. Allah telah menetapkan kasih sayang yang sempurna bagi orang-orang bertakwa yang mengikuti para nabi dan rasul-Nya.

Oleh karena itu, mereka mendapatkan kasih sayang sempurna yang bersambung dengan kebahagiaan yang abadi.

Adapun orang-orang yang selain mereka terhalang dari kasih sayang yang sempurna ini, karena mereka sendiri yang menolaknya dengan cara tidak memercayai berita (Ilahi) dan berpaling dari perintah. Oleh karena itu, janganlah mereka mencela siapapun kecuali diri mereka sendiri.

Mereka (yang bertakwa) mengimani bahwa Allah Maha Rahman dan Maha Rahim, memiliki rahmat yang agung, dan rahmat-Nya terkait dengan makhluk-Nya yang dirahmati, sehingga nikmat seluruhnya adalah buah dari rahmat-Nya.

Orang yang memerhatikan nama Allah Ar-Rahman, dan bahwa Allah Maha luas rahmat-Nya, memiliki kasih sayang yang sempurna, dan kasih sayang-Nya telah memenuhi alam semesta baik yang atas maupun yang bawah, serta mengenai seluruh makhluk-Nya, serta mencakup dunia dan akhirat; juga mentadaburi ayat-ayat yang menunjukkan semacam makna ini:

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (Al-A‟raf: 156)

“Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (Al-Hajj: 65)

“Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya (Dzat yang berkuasa seperti) demikian benar-benar (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang telah mati. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Ar-Rum: 50)

“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin.” (Luqman: 20)

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (An-Nahl: 53)

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nahl: 18)

Juga ayat-ayat setelahnya yang menunjukkan pokok-pokok nikmat, dan cabangnya yang mengandung salah satu dari sekian banyak buah rahmat Allah.

Oleh karenanya, Allah berfirman di akhirnya: “Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya).” (An-Nahl: 81)

Lalu mentadaburi surat Ar-Rahman dari awal hingga akhirnya, karena surat itu adalah ungkapan dari penjabaran rahmat Allah l; maka semua ragam makna dan corak nikmat yang ada padanya adalah rahmat dan kasih sayang-Nya. 

Oleh karena itu, Allah mengakhiri surat itu dengan menyebutkan apa yang Allah siapkan untuk orang-orang yang taat di dalam surga, berupa kenikmatan abadi yang sempurna, yang merupakan buah dari rahmat-Nya. Oleh karenanya, Allah menamai surga dengan rahmat, sebagaimana dalam ayat-Nya:

“Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya.” (Ali „Imran: 107)

Dalam hadits shahih disebutkan: “Allah lebih penyayang terhadap hamba-Nya daripada seorang ibu terhadap anaknya.”

Dalam hadits lain disebutkan: “Sesungguhnya Allah telah menuliskan sebuah tulisan di sisi-Nya, di atas Arsy-Nya „Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului kemurkaan-Ku‟.” 

Ringkas kata, Allah telah menciptakan makhluk dengan rahmat-Nya dan mengutus para rasul kepada mereka karena rahmat-Nya pula. Allah l memerintah dan melarang mereka serta menetapkan syariat untuk mereka karena rahmat-Nya. 

Allah melingkupi mereka dengan kenikmatan lahir dan batin karen rahmat-Nya. Dia mengatur mereka dengan berbagai aturan dan melindungi mereka dengan berbagai perlindungan karena rahmat-Nya, serta memenuhi dunia dan akhirat dengan rahmat-Nya.

Oleh karena itu, urusan ini tidak akan menjadi baik dan mudah, begitu pula tujuan dan berbagai tuntutan tidak akan terwujud melainkan karena rahmat-Nya.

Bahkan, kasih sayang-Nya melebihi semua itu, lebih agung dan lebih tinggi. Apatah lagi, orang-orang baik dan bertakwa akan mendapatkan bagian terbesar dan kebaikan terbanyak dari rahmat-Nya.

“Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Al-A‟raf: 56)

Mengimani nama Allah tersebut akan menambah rasa syukur kita kepada Allah, karena berbagai nikmat yang dikaruniakan Allah kepada kita, baik yang ada dalam organ tubuh, kebutuhan keseharian, alam sekitar kita, maupun alam semesta ini semuanya, adalah semata-mata buah dari kasih sayang-Nya, yang mengharuskan kita untuk tunduk dan bersyukur kepada-Nya, serta membalasnya dengan ketaatan, bukan dengan kemaksiatan dan kerusakan.

Contoh Kisah

Kisah Ali dan Orang Miskin
Saat Ali sedang pergi ke masjid, datanglah seorang miskin yang meminta uang untuk membeli nasi sarapan pagi. Ali memberinya uang sejumlah yang diminta orang miskin tersebut. 

Keesokan harinya, peristiwa tersebut kembali terjadi dengan orang miskin yang sama. Esoknya lagi dan seterusnya orang miskin tersebut selalu datang meminta uang kepada orang kaya ini dan setiap kali datang selalu diberinya uang tanpa pamrih.

Sampai suatu saat, orang kaya ini berjalan-jalan ke pasar dan melihat orang miskin tersebut. Ali terkejut melihat apa yang dilakukan orang miskin tersebut di sudut pasar.

Ternyata orang miskin tersebut sedang berjudi bersama banyak orang. Betapa kecewa hatinya karena orang miskin tersebut rutin diberikan uang untuk sarapan tiap paginya.

Ingin ditegurnya tetapi berat hati pula. Ali sengaja mendekat dan orang miskin itu sebenarnya mengetahui kedatangannya namun pura-pura tidak mengenalnya.

Keesokan harinya, sebagaimana biasa orang kaya ini didatangi kembali orang miskin itu meminta uang untuk sarapan pagi. Tahukah apa yang terjadi? Apakah orang kaya ini rela memberikan uangnya kepada orang miskin itu sebagaimana hari-hari sebelumnya?

Kemungkinan besar bahkan hampir pasti orang kaya dermawan tidak lagi memberikan uangnya kepada orang miskin tersebut karena sudah mengetahui keburukan dan kedustaannya.

Maha Suci Allah dari segala sifat atau kelemahan manusia, karena itulah manusia dengan segala keterbatasannya. Berbeda dengan Allah, Yang Maha Pengasih. Disaat hamba-Nya datang kepada-Nya memohon diberikan harta, maka Allah berikan. Hamba-Nya tidak meminta pun tetap Allah berikan harta.

Sebagai ilustrasi silakan simak video berikut ini:

Allahu a'lam.



Bagikan: