Pada masa kekafirannya sebenarnya hati Umar bin Khatab tersentuh dengan
ayat-ayat yang dibaca oleh Nabi Muhammad Saw. Yaitu ketika Umar keluar
mengintai Rasulullah dia mendapati Rasulullah Saw sedang membaca Al
Qur’an.
Umar ta’jub dengan keindahan bahasa Al Qur’an. Yang dibaca Rasulullah
Saw adalah beberapa ayat dari surat al Haaqoh:
اِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍ * وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَاعِرٍ
قَلِيْلًَ مَا تُؤْمِنُوْنَ
Artinya: “Sesungguhnya Al Quran itu adalah benar-benar wahyu (Allah
yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia,dan Al Quran itu bukanlah
perkataan seorang penyair. sedikit sekali kamu beriman kepadanya.”
Umar berbisik dalam hati jangan-jangan perkataan dukun. Rasulullah
melanjutkan bacaannya:
وَلَا بِقَوْلِ كَاهِنٍ قَلِيْلًَ مَا تَذَكَّرُوْنَ * تَنْزِيْلٌ مِنْ رَ
بِ الْعَالَمِيْنَ
Artinya: “dan bukan pula perkataan tukang tenun. sedikit sekali kamu
mengambil pelajaran daripadanya. ia adalah wahyu yang diturunkan dari
Tuhan semesta alam.”
Sejak itulah sebenarnya hati Umar tertarik dengan Islam, hanya saja
masih belum ditampakkan.
Menyaksikan pertengkaran yang marak antara pengikut Rasulullah Saw
dengan kaum Quraisy. Pertengkaran antara anak dengan bapak, anak dengan
paman, dengan saudara dan kerabat karena sebagian masuk Islam dan
sebagian yang lain tetap kafir.
Umar marah dan ingin membunuh Rasulullah Saw, dia beranggapan Muhammad
pemicu dari pertengkaran tersebut. Umar bin Khatab keluar sambil
menghunuskan pedang, bergegas mencari Rasulullah Saw.
Pada saat bersemangat mencari Rasul dia berjalan menuju baitul Arqom
dia berjumpa seorang sahabat bernama Nu’aim bin Abdullah. Karena Nu’aim
mengetahui Umar marah dan hendak membunuh Rasulullah Saw maka dia
berkata: “Bagaimana engkau hendak membunuh Muhammad sedangkan adikmu
sediri telah masuk Islam."
Umar bin Khatab berbalik arah dan menuju rumah saudaranya Fatimah binti
Khatab. Saat itu Khabab bin Al Art sedang mengajarkan Al Qur’an kepada
Fatimah dan suaminya Said bin Zaid.
Mendengar suara Umar di luar rumah mereka semua ketakutan, Fatimah
menyembunyikan lembaran Al Qur’an. Umar masuk marah-marah dan menghajar
adik iparnya.
Fatimah mencoba membela suaminya kemudian Umar menamparnya
hingga keluar darah dari mulutnya. Terjatuhlah lembaran yang disembunyikan
Fatimah. Saat melihat adiknya berdarah Umar menyesal, dia hendak
mengambil lembaran Al Qur’an. Fatimah melarangnya dan memintanya untuk
mandi dan bersuci terlebih dahulu.
Setelah mandi Umar mengambil lembaran yang bertuliskan Al Qur’an
surat Thoha ayat 1 sampai 14. Hatinya bergetar tersentuh dengan
ayat-ayat Allah Swt. Kemudian dia meminta untuk diantar bertemu
Rasulullah Saw.
Diantarlah Umar menuju Rasulullah yang berada di rumah Arqam bin Abil
Arqam sedang mengajarkan Islam. Para sahabat terkejut dengan datangnya
Umar.
Kemudian Hamzah meminta izin untuk menghadapi Umar jikalau dia datang
untuk membuat kekacauan. Rasulullah Saw meminta sahabat tetap tenang
kemudian berdiri dan menyambut Umar bertanya: “Apa yang membawamu
datang kemari wahai putra Khattab?” Umar kemudian bersyahadat dan
menyatakan keIslamannya. Rasulullah bertakbir dan diikuti oleh seluruh
sahabat yang menyaksikan.
Kaum muslimin bersyukur dan bergembira, karena masuknya Umar bin
Khatab ke dalam agama Islam. Mereka lebih merasa nyaman dan bebas
beribadah, karena orang kafir Quraisy tidak lagi berani berbuat aniaya
kepada mereka dengan semena-mena. Kaum muslimin merasa bangga (izzah)
atas keislamannya setelah masuk islam Hamzah dan Umar bin
Khatab.