"Menyebarluaskan Pengetahuan..."

PENDIDIKAN

Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema pendidikan. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

KELUARGA

Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema keluarga. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

PEMUDA

Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema pemuda. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

KEPEMIMPINAN

Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema kepemimpinan. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

PRIBADI ISLAMI

Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema pribadi Islami. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

PRAMUKA

Berbagai unggahan GiatEdukasi.com dengan tema Pramuka. Silakan kunjungi dan simak setiap video kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

VIDEO

Berbagai unggahan GiatEdukasi.com dalam bentuk video. Silakan kunjungi dan simak setiap video kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

Makna yang Terkandung dalam Kalimat Laa Ilaha Illallah (2)

Melanjutkan materi sebelumnya yaitu pesan-pesan atau makna yang ada dalam kalimat syahadat kita, “La ilaha illallah” atau yang artinya Tiada tuhan selain Allah.

Sekurang-kurangnya masih ada 6 makna lagi yang terkandung dalam kalimat La ilaha illallah. Makna-maknanya adalah sebagai berikut:

10. La Nafia’a Dharra Illallah (Tidak Ada Yang Memberi Manfaat atau Madharat Kecuali Allah)

Ini adalah cerita sahabat Abdullah bin Abbas yang diriwayatkan oleh Tirmidzi. Silahkahkan dibaca. Suatu hari saya pernah dibonceng oleh Rasullah saw, naik unta. Kemudian beliau bersabda. “Hai anak muda, aku akan ajarkan engkau beberapa kalimat. Jagalah (agama) Allah, niscaya Allah bersamamu. Jika engkau minta, mintalah kepada Allah. Jika engkau minta, mintalah kepada Allah. Jika engkau minta tolong, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya jika umat manusia manusia bersatu untuk memberikan manfaat kepadamu dengan sesuatu maka tiadalah mereka dapat melakukanya kecuali dengan sesuatu maka tidaklah mereka dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu. Dan jika mereka berkumpul untuk memberikan madharat kepadamu, mereka tidak akan bisa memberikan madharat kepadamu, mereka tidak akan bisa memberikan madharat itu, kecuali yang telah ditetapkan Allah kepadamu. Pena telah diangkat dan lembarannya telah kering.”

Dari hadist tadi jelas bahwa segala sesuatu itu sangat tergantung dari kehendak Allah. Jika ada sekelompok orang yang ingin mecelakakan kita tapi Allah tidak berkendak memberikan kecelakaan buat kita, pasti niat mereka tidak akan terlaksana. 

Sebaliknya juga begitu, Jika ada orang yang ingin memberikan manfaat untuk kita, apa itu bantuan keuangan, bantuan sosial dan yang lainnya, kalau Allah tidak menghendaki itu semua, pasti niat baik ini tidak terlaksana, jadi, yang dapat memberi manfaat maupun madharat atau keburukan itu hanyalah Allah. Tidak ada satu mahluk pun yang punya kekuatan untuk mengahalangi kehendak Allah. 

Seorang muslim akan memiiiki sikap tenang dengan ketetapan Allah. Itulah kenapa tugas seorang muslim cuma 3 yaitu ikhtiar (usaha), doa, dan selanjutnya kalau sudah kejadian bertawakkal alias bersarah diri pada ketentuan Allah. 

Misalnya, kalau kalian sedang ujian, tugas kalian yaitu belajar yang giat dan doa. Apa pun hasilnya nanti, kalian harus menerimanya dengan ikhlas. Jika nilainya memuaskan maka harus bersyukur dengan mengucapkan alhamdulillah lalu meningkatkan ibadah, sedangkan jika nilainya kurang memuaskan maka beristighfar dan bersabar. 

Bisa jadi saat itu Allah ingin melihat seberapa ikhlas kamu dengan ketetapan yang Allah berikan. Tentu saja hal ini menjadi bahan intropeksi alias evaluasi bagi kita untuk meningkatkan belajar dan coba lagi, biar selanjutnya Allah memberi nilai yang memuaskan. Begitu.

Jadi, Laa Ilaha Illalah mengandung makna bahwa tidak ada yang bisa memberi manfaat maupun madharat kecuali Allah.

11. La Muhyiya Wala Mumita Illallah (Tidak Ada yang Dapat Menghidupkan dan Mematikan Kecuali Allah)

Tidak orang yang mengaku mampu menghidupkan dan mematikan seseorang. Namun Sadar atau tidak sadar, masih banyak orang yang meyakini ada yang bisa meghidupkan dan mematikan seseorang selain Allah. Kita sering mendengar komentator seperti ini, “ Orang hidup butuh uang. Jika tidak ada uang mau makan apa dia? Bisa mati kelaparan!” 

Atau komentar seperti ini, “Hei, jangan duduk-duduk dibawah pohon besar itu, berbahaya! Kalau salah ngomong dikit saja, bisa-bisa enggak menghirup udara lagi kamu!”

Komentar-komentar semacam itu menunjukkan bahwa mereka itu meyakini jika ada yang berkuasa menghidupkan dan mematikan seseorang selain Allah. Orang pertama meyakini kalau uanglah yang dapat menghidupkan dan mematikan seseorang, sedangkan orang yang kedua meyakini kalau jin di pohon besar berkuasa untuk mematikan seseorang.

Kita mungkin dapat mengingat pesan Nabi saw, kepada Ibnu Abbas. Jika Allah hendak menimpakan kemudharatan kepada seseorang, walaupun seluruh makhluk berkumpul untuk mencegahnya, pasti tidak ada yang dapat mencegah kehendak Allah. Sebaliknya, jika Allah menghendaki kebaikan, walaupun seluruh mahluk berhimpun untuk mecelakakan kita, pasti tidak ada yang dapat melakukan itu.

Contohnya, saat kalian dihadang perampok. Jika Allah menghendaki kamu masih hidup, pasti ada saja skenario Allah yang membuat kamu hidup. Misalnya, kalian bisa mengalahkan para perampok itu, atau tiba-tiba ada polisi datang dan kamu selamat. Tapi, jika Allah menghendaki kamu meninggal besok pagi, walaupun sekarang kamu segar-bugar sampai nanti malam, pasti besok pagi kamu bakalan dijemput sama malaikat maut.

Kita mungkin pernah mendengar kisah di zaman Nabi Sulaiman?. Pada suatu hari, malaikat maut datang kepada Nabi Sulaiman untuk menyampaikan bahwa salah satu pejabat kerajaannya sesaat lagi akan meninggal di tempat yang jauh sekali dari Palestina. 

Saat itu, pejabat yang dimaksudkan ada di ruangan tersebut dan malaikat maut masih bingung. Karena orang tersebut masih berada di kerajaan tersebut mesti ditempuh dengan perjalanan berhari-hari.

Setelah malaikat maut pamit, sang pejabat menghadap Nabi Sulaiman dan bertanya, “Wahai Nabiyullah, siapakah orang yang baru saja datang? Kenapa dia melihatku dengat tatapan yang sanagat aneh?” Nabi Sulaiman kemudian menjawab, “ketahulah, sesungguhnya dia adalah malaikat maut yang sebentar lagi hendak mencabut nyawamu”.

Mendengar jawaban itu, gemetarlah sekujur tubuh sang pejabat. Dengan serta merta, sang pejabat memohon kepada Nabi Sulaiman untuk membawanya pergi jauh dari negeri Palestina

“Wahai Nabiyullah, aku mohon, bawa aku pergi jauh dari negeri ini. Aku belum siap untuk menghadap Allah sekarang”

Karena dibujuk terus oleh sang pejabat, akhirnya Nabi Sulaiman memerintahkan prajuritnya (yang berupa angin) untuk membawa sang pejabat pergi. Dengan sekali hembusan, akhirnya sang pejabat tiba di tempat yang jauh dari negeri Palestina. 

Tapi apa yang terjadi? Ternyata disana sudah menunggu malaikat maut yang siap mencabut nyawa sang pejabat tersebut akhirnya, berakhirlah usia sang pejabat itu di tempat yang tidak seorang pun menduganya. 

Pertanyaan sang malaikat pun terjawab sudah. Sang pejabat yang inginnya menghindari maut, ternyata malah mendatangi maut.

Nah, dengan kisah ini kalian sudah faham kan bahwa menghidupkan dan mematikan itu mutlak kekuasaan Allah, tidak ada satu mahluk yang bisa mematikan apalagi menghidupkan. 

Kalau ada Sun Go Kong dan Dragon Ball yang bisa menghidupkan manusia. Ah itu kan Cuma di film. Mau-maunya kamu dibohongin. He..he.. Peace

12. La Mujiba Illalah (Tidak Ada Yang Dapat Mengabulkan Permohonan Kecuali Allah)

Sudah menjadi fitrah jika manusia itu membutuhkan orang lain. Mengapa seperti itu? Karena tidak ada manusia yang sempurna. Sehingga, manusia satu dengan yang lainnya itu saling membutuhkan.

Dengan keterbatasan itu maka wajar kalau manusia saling membutuhkan satu dengan yang lainnya atau pertolongan untuk menyelesaikan apa yang tidak dapat diselesaikan orang lain. Tapi tentu saja perlu diingat, bahwa pertolong dalam hal ini adalah terkait dengan hal-hal yang bersifat positif.

Namun terlalu sering meminta pertolongan kepada manusia juga ada kekurangannya. Sangat mungkin terjadi orang yang kita mintai tolong mengalami kebosanan. 

Mari kita pikirkan seandainya ada orang yang selalu meminta tolong kepada kita. Apa reaksi kita? Mungkin yang akan terucap adalah “Huh, dikit-dikit minta tolong, dikit-dikit minta tolong, emangnya gue apaan?”.

Ada satu hal yang harus kita ketahui apabila kita mencari pertolongan. Bahwa setiap manusia pasti cenderung memiliki kebosanan jika dimintai pertolongan secara terus menerus tetapi tidak dengan Allah karena Allah justru sebaliknya.

Allah akan semakin senang jika manusia diminta tolong secara terus-menerus, karena artinya, manusia itu benar-benar menggantungkan hidupnya kepada Allah.

Itulah kenapa ada yang namanya doa, dan doa dalam Islam memiliki kedudukan yang tinggi. Dalam surah Al-Baqarah ayat 186 Allah swt berfirman, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Doa juga menunjukkan bahwa manusia itu benar-benar butuh Allah dan meyakini kalau hanya Allah-lah yang bisa mengabulkan permohonannya. Jika sudah seperti itu, bagaimana Allah tidak senang? Lagi pula, Allah adalah tempat sangat tepat jika dimintai bantuan. Allah jika melihat manusia berdoa itu pasti senang. 

Oleh karena itu, Dia hanya akan memberi kebaikan untuk orang yang berdoa. Dan, kita harus ketahui bahwa tidak setiap yang kita anggap buruk itu buruk di mata Allah. Jadi, kita harus yakin, jika kita sudah berdoa, maka hal selanjutnya yang kita lakukan adalah tawakal kepada Allah. Yakinlah, pasti yang terbaik yang diberikan Allah pada kita.

13. La Mustajara Bihi Illallah (Tidak Ada yang Dapat Dimintai Perlindungan Kecuali Allah)

Dengan semangat membara, pemuda Quraisy it melaju kencang di atas kudanya. Dialah Suraqah, pemuda yang berambisi untuk mendapatkan 100 unta dari pemuka kafir quraisy. Tujuannya saat itu hanya satu: menangkap Nabi Muhammad dan Abu Bakar. 

Namun ketika sampai di dekat Rasulullah kudanya tersungkur dan diapun jatuh terpelanting. Kemudian dia bangun dan mengejar kembali. Berkali-kali Abu Bakar menoleh ke belakang sedangkan Rasullah berjalan terus dengan tenang. Tiba-tiba Suraqah terjatuh untuk yang kedua kalinya. Ia bangun lagi dari punggung kudanya dan jatuh terpelating. Ia bangun lagi dan berlumuran tanah kemudian berteriak memanggil-manggil minta diselamatkan.

Saat Rasullah dan Abu Bakar menghampirinya, ia minta maaf dan memohon agar dimaafkan. Ia menawarkan bekal perjalanan, namun Nabi menolaknya dan hanya meminta agar Suraqah tidak menyebarkan informasi jalur yang dilewati Rasulullah. Sejak saat itu, setiap kali bertemu dengan orang-orang yang ingin membunuh Nabi saw, dia selalu menyarankan untuk kembali saja.

Dari kisah diatas, kita semua jadi tahu bahwa Allah yang berkuasa melindungi hamba-Nya, ketika Allah berkehendak menyelamatkan hamba-Nya, tidak ada satu pun mahluk yang bisa mencelakakannya. 

Kalau kita kenang kisah hijrah Rasulullah (yang salah satunya adalah kisah di atas), akan kita jumpai kisah perjalanan yang penuh dengan keajaiban. Mulai dari lolosnya Nabi saw dari kepungan kafir Quraisy di rumahnya. Selamatnya Ali bin Abi Thalib saat menggantikan Rasullah di tempat tidurnya, peristiwa di Gua Tsur, dan juga kisah di atas sekali lagi, ini jadi bukti kalau tempat yang paling tepat adalah berlindung hanyalah Allah SWT. 

Tidak ada yang lain! Kalau ada yang mencari perlindungan pada jin, itu hanya akan menambah dosa dan peluang masuk neraka saja!

Tinggalkanlah para-tidak-normal, dukun, jampi-jampi, jimat, dan berbagai macam benda pelindung dari setan. Beralihlah kepada perlindungan yang sejati, Allah Swt.

14. La Wakila Illallah (Tidak ada Tempat Untuk Berserah Diri Kecuali Kepada Allah)

Syahadatain juga bermakna la wakila illallah, artinya tidak ada tempat untuk bertawakal selain kepada Allah swt. Apa itu tawakal?. Tawakal adalah berserah diri kepada Allah setelah kita melakukan ikhtiar atau usaha. 

Jadi, jika kita sudah berusaha dengan belajar mati-matian, kemudian sudah berdoa meminta kebaikan kepada Allah, langkah selanjutnya adalah bertawakal. Kita serahkan semua urusan kepada Allah. Kita tunggu hasil dari apa yang telah kita amalkan. Dari apa pun yang bakalan Allah berikan, kita terima dengan lapang dada. 

Jika ternyata hasil belajar kita mendapat nilai B. Maka kita harus menerima itu dengan lapang dada. Jika hasilnya A, kita juga harus menerimanya. Begitu juga jika ternyata nilainya C, kita mesti legowo. Sering kita menganggap kalau hasil yang jelek dari usaha kita itu pasti buruk. Padahal belum tentu. Bahkan bisa jadi hasil yang buruk itu justru yang baik bagi kita, karena mungkin bisa menimbulkan efek alias akibat yang baik untuk masa yang akan datang.

Allah swt, berfirman pada surat Al-Baqarah ayat ke 216, “Kamu diwajibkan berperang (untuk menentang pencerobohan), sedang peperangan itu ialah perkara yang kamu benci dan boleh jadi kamu benci kepada sesuatu padahal ia baik bagi kamu, dan boleh jadi kamu suka kepada sesuatu padahal ia buruk bagi kamu. Dan (ingatlah), Allah jualah Yang Mengetahui (semuanya itu), sedang kamu tidak mengetahuinya” (Al-Baqarah: 216)

Setelah sekian lama Nabi saw, di madinah, beliau ingin menunaikan umrah ke Baitullah. Agar diketahui kalau tujuan Nabi saw, ke Mekah bukan untuk berperang, Nabi membawa binatang-binatang kurban. Sampai di daerah Hudaibiyah, ternyata orag-orang Quraisy sudah mengerahkan bala tentaranya untuk menyerang kaum muslimin. Ketika utusan quraisy datang menghadap Nabi saw. 

Rasulllah bersabda, “Kami datang hanya menunaikan umrah. Sekalipun orang-orang Quraisy telah memutuskan berperang, tetapi jika mereka suka, aku minta untuk menagguhinya (menunda). Jika mereka enggan, demi Allah, aku siap memerangi mereka sampai orang-orang di belakangku tinggal sendirian. Dan Allah pasti akan meyelesaikan urusan-Nya.”

Mendengar pernyataan Nabi saw, utusan itu pun meyampaikan kepada para pemimpin mereka. Akhirnya terjadilah perjanjian yang dikenal dengan nama Perjanjian Hudaibiyah. Dalam perjanjian itu, ada butir perjanjian yang dirasa tidak adil terhadap kaum muslimin. 

Salah satu butir perjanjian itu menyebutkan kalau ada orang muslimin di mekah yang lari atau meninggalkan Mekah menuju Madinah maka kaum muslimin harus mengembalikan orang tersebut ke Mekah. Sedangkan jika ada orang kafir yang lari dari Madinah menuju Mekah, orang-orang Quraisy tidak wajib mengembalikannya. 

Kaum muslimin yang mendengar perjanjian itu merasa tidak puas, termasuk Umar bin Khatab. Bahkan, ia sampai gusar dan menghadap Rasullah. Namun ternyata, dengan adanya Perjanjian Hudaibiyah tersebut, Allah kemudian memberikan kemenangan yang gemilang dengan peristiwa Fathu Makkah.

Nah, dari peristiwa ini, kita bisa mengambil ibrah alias pelajarannya bahwa tidak setiap yang kita anggap buruk itu buruk di mata Allah. Ataupun sebaliknya. Lagi juga, Allah tidak menilai seseorang itu dari hasil usahanya kok, tetapi yang Allah lihat adalah amal usaha kita. 

Itulah kenapa ada yang bilang juga kalau sukses itu sama dengan proses. Selama proses tetap kita jalani, berarti kita terus menuju puncak kesuksesan. Allah berfirman, ”Berusahalah maka Allah akan melihat usahamu. Begitu juga denga Rasul dan orang-orang yang beriman.”

15. La Musta’ana Bihi Illallah (Tidak Ada Yang Dapat Dimintai Pertolongan Kecuali Allah)

Karena Allah Maha Kuat, Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha segalanya maka sangat  pantas jika kita hanya meminta pertolongan pada Allah saja. La musta’ana bihi illallah. Tidak ada yang dapat dimintai pertolongan selain Allah.

Gimana kita mau minta pertolongan kepada mahluk kalau sama-sama memiliki keterbatasan? Boleh saja sih minta pertolongan orang lain utnuk membantu kita. Tetapi jika sampai menggantungkan segalanya pada mahluk, sampai dia menganggap hanya makhluk itulah yang bisa memberinya pertolongan. Sikap ini jelas menyimpang dari syahadat.

Masih banyak orang yang minta pertolongan jin untuk mengatasi masalahnya. Coba saja lihat tempat-tempat yang dianggap keramat. Bahkan, ziarah-ziarah yang disitu bukannya mendoakan malah meminta berkah sama kuburan. Jelas itu sudah sebuah kesalahan, bahkan masuk ke dalam perbuatan syirik. 

Soalnya, saya pernah lihat juga, orang-orang yang ziarah ke makam para wali mash banyak yang malah kesana untuk mengambil tanahlah, batulah, atau benda apa saja yang ada di kuburan. Lalu benda-benda itu dibawa pulang yang nantinya digunakan sebagai jimat. 

Islam tidak melarang ziarah kubur. Justru islam menganjurkan untuk ziarah kubur. Tapi, tujuannya bukan untuk mencari berkah, melainkan mendoakan si mayit dan mengingat mati atau dzikrul maut. Jika kita dapat mengingat mati saat ziarah kubur, insya Allah pahala kebaikan akan mengalir ke kita.

Di dalam shalat kita selalu mengucapkan, “Hanya kepada Mulah kami menyembah dan hanya kepadaMu-lah kami memohon pertolongan" (Al-Fatihah: 5).

Jadi mintalah pertolongan kepada Allah, niscaya Dia akan memeberikan pertolongan-Nya. Semua itu adalah makna sekaligus contoh sikap dala kehidupan sehari-hari. 

Jadi, ternyata syahadat yang kita ucapkan itu memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan kita sebagai muslim. Ternyata banyak arti yang harus kita amalkan. Dengan memahami makna syahadat dan mengamalkannya, Tauhid kita akan semakin baik. Dan tentu saja, Allah akan lebih mencintai kita apabila kita berusaha mencintai dan mendekat kepada-Nya.

Allahu a'lam...









Bagikan:

Makna yang Terkandung dalam Kalimat Laa Ilaha Illallah (1)

Sewaktu Malik bin Dinar pergi haji, ia melihat seekor burung gagak yang sedang terbang sambil membawa sepotong roti di paruhnya. Melihat pemandangan ganjil itu, akhirnya ia mengamati dan mengikuti kemana arah burung itu terbang. 

Sampailah Malik bin Dinar di sebuah gua yang ternyata di dalamnya terdapat seorang laki-laki yang terikat dalam keadaan lemah. Melihat hal itu, Malik bin Dinar kemudian bertanya, “Siapakah engkau? Dari manakah kamu berasal?” Laki-laki itu pun menjawab bahwa dirinya adalah salah seorang jamaah haji yang dirampok di tengah jalan. 

Semua bekal yang ia bawa dirampas dan ia diikat serta disembunyikan ke dalam gua tersebut untuk menghilangkan jejak. Selama berhari-hari, ia mengalami kelaparan dan nyaris meninggal. 

Dalam keadaan sangat sengsara dan hampir putus asa, ia memasrahkan segalanya kepada Allah sambil berdoa, “Ya Allah, yang berfirman dalam kitab-Nya, ‘Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya (QS. An-Naml: 62).’ Hamba sedang mengalami kesulitan tanpa daya maka berilah hamba karunia rahmat-Mu.” 

Kemudian, dengan kekuasaan dan kehendak-Nya, Allah mengirimi makanan untuknya melalui burung gagak itu.

Akhirnya, Malik bin Dinar dan laki-laki tersebut keluar meninggalkan gua dengan perasaan mengharu biru, mengingat kekuasaan Allah dalam menolong hamba-Nya.

Ya. Apa yang dilihat Malik bin Dinar semakin membuatnya mantap dan yakin kalau hanya Allah-lah yang Maha Pemberi Rezeki. Tiada satu makhluk pun yang sanggup menghalangi jika Allah berkehendak memberikan rezeki untuk makhluk-Nya.

***

Dalam materi sebelumnya, kita sudah membahas tentang makna Ilah. Sekarang kita akan membahas makna kalimat Laa ilaha illallah. Tujuannya agar kita makin mengerti dan mantap menjalankan Islam, agama yang kita yakini.

1. La Khaliqa Illallah (Tiada Pencipta yang Sebenarnya Kecuali Allah)

Laa ilaha illallah itu maknanya tiada pencipta selain Allah. Ini artinya, seseorang yang sudah bersyahadat, ia harus yakin betul bahwa manusia, tumbuhan, bumi, bintang, galaksi, dan alam semesta ini ada karena diciptakan, dan pencipta semua itu tidak lain hanyalah Allah. 

Bila sewaktu-waktu ada yang berkata bahwa alam semesta ini terjadi begitu saja dan secara tiba-tiba. Bagaimana mungkin kehidupan yang sangat kompleks dan luar biasa rumit ini ada tanpa ada yang menciptakannya?

Jangan pula kita seperti bani Israil yang kisahnya Allah abadikan dalam Al-Quran: “Hai Musa, kami takkan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang!” (QS. Al-Baqarah: 55)

Cukuplah kita melihat kuasa-Nya yang menciptakan segalanya ini tanpa cacat. Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-A’raf: 54)

Setelah kita mengetahui dan yakin bahwa Allah lah yang menciptakan alam semesta dan seluruh isinya, sebagai orang mukmin kita tentu saja tidak boleh mencela ciptaan-Nya. Apa pun itu! Sebab, ketika kita mencela ciptaan Allah, sama saja kita mencela Allah.

2. La Raziqa Illallah (Tiada Pemberi Rezeki Yang Sesungguhnya Kecuali Allah)

Saat syahadat benar terucap di lisan, itu merupakan tanda bahwa kita sudah yakin Allah lah yang memberi rezeki kepada kita. Bahkan bukan hanya kita semua, melainkan Allah pemberi rezeki kepada semua makhluk di bumi dan juga di langit.

Jadi tidak salah bila Allah marah ketika orang-orang kafir Quraisy menyembah patung agar rezekinya dapat bertambah. Demikian pula Allah pun juga marah ketika ada orang yang pergi ke dukun agar dagangannya tambah laris maupun bisnisnya sukses lancar. Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki, Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 58)

Dapat kita lihat pula, cicak yang tidak dapat terbang akan kesulitan mencari makanannya yaitu nyamuk dan serangga yang memiliki keahlian terbang. Namun kita pun juga tidak pernah menemukan bayi cicak yang mati kelaparan?

Jadi tentang rezeki ini kita tidak usah khawatir apalagi sampai berusaha dengan cara yang tidak halal. Karena yang terpenting kita berikhiar alias berusaha optimal dan berdoa untuk mendapatkannya saja. Insya Allah, Allah akan memberi kita yang terbaik. Dengan sikap ini, insya Allah jiwa kita akan tenang.

3. La Malika Illallah (Tiada Pemilik yang sebenarnya Kecuali Allah)

Ada sebuah kisah dari seorang yang sangat sabar. Sebelum Allah mengambil seluruh harta bahkan keluarganya, Allah memberinya harta yang berlimpah serta kecerdasan. Namun demikian, tidak ada sifat sombong yang diperlihatkannya. Bahkan, ia sangat dermawan dan rendah hati. Sampai akhirnya Allah menguji dengan menghilangkan harta bendanya lewat berbagai musibah. Binatang ternak yang ia miliki mati seketika. Lumbung gandumnya terbakar dan perkebunannya yang luas mengering, hingga ia harus memberhentikan para pekerjanya.

“Innalillahi wa inna ilayhi raji’un”. Semua dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. “Aku minta maaf tidak dapat lagi mempekerjakan kalian. Aku hanya bisa memberi bekal seadanya”.

Ia dengan tabah menghadapi cobaan Allah. Tapi cobaan tidak sampai di situ. Setelah harta kekayaannya ludes, dua putrinya pun juga dibunuh oleh iblis. Bahkan, tubuhnya digerogoti oleh penyakit yang sulit diobati. Namun, dengan musibah yang demikian besar, ia tetap sabar dan menerima dengan ikhlas ujian yang diberikan Allah. Sampai akhirnya, Allah memberi kesembuhan penyakitnya dan mengembalikan harta kekayaannya. Luar biasa.

Ada yang tahu siapakah orang yang diceritakan di atas? Beliau adalah nabi Ayyub as. Beliau adalah manusia yang paham betul kalau harta yang beliau punya adalah milik Allah dan Allah berkuasa penuh atas semuanya, sehingga ketika Allah mengambilnya, tiada kesedihan yang terpancar di wajahnya. Kenapa bisa begitu ya?

Yang jelas sikap yang indah itu lahir dari keyakinan bahwa Allah lah Pemilik sebenarnya seluruh materi bahkan Pemilik seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini. Allah Swt berfirman, “Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji. Dan kepunyaan Allahlah apa yang di langit dan apa yang di bumi. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.” (QS.An-Nisa: 131-132)

4. La Hakima Illallah (Tiada yang berhak Membuat Hukum Kecuali Allah)

Soichiro Honda adalah orang yang membuat motor dan mobil Honda. Beliau pula yang membuat buku petunjuk penggunaan motor dan mobil Honda. 

Demikian pula dunia dan manusia. Allah lah yang menciptakan keduanya bahkan semua yang ada di alam semesta. Allah pun memudahkan manusia dalam menggunakan dan mendayagunakan bumi dengan diutusnya Rasul-Rasul dan Kitab-Kitab-Nya. Rasul dan Kitab-Nya ibarat “manual book” atau “user guide” yaitu buku petunjuk penggunaan yang benar dan tepat dari Allah swt untuk manusia. Dengan petunjuk tersebut manusia dapat hidup nikmat di dunia dan sukses menuju surga di akhiratnya. 

Allah Swt berfirman, “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)

5. La Amira Illallah (Tiada yang Berhak Memerintah Kecuali Allah)

Ketika kita mengucapkan syahadat, berarti kita meyakini bahwa tiada yang berhak memerintah dan dituruti perintahnya kecuali Allah swt saja. Menempatkan Allah sebagai pemerintah nomor satu di atas yang lainnya. Bila ada perbedaan perintah antara Allah dan orang lain, maka perintah Allah lah yang kita laksanakan.

Misalnya ada teman yang meminta contekan dari kita, maka kita tidak memberikan contekan tersebut dikarenakan Allah swt memerintah kita untuk berlaku jujur. Jujur yang dimaksud bukan hanya jujur perkataan, melainkan jujurnya perbuatan atau amalan yang dilakukan.

Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-A’raf: 54)

6. La Waliyya Illallah (Tiada yang Berhak Memimpin dan dapat Memberi Perlindungan Kecuali Allah) 

Suatu ketika ada seorang pemuda saleh yang mendengar berita bahwa di suatu daerah ada sekelompok masyarakat yang menyembah sebuah pohon besar yang ada di pinggir sebuah jalan dengan memberikan sesaji dan persembahan. Konon sesaji dan persembahan tersebut agar orang yang melewati jalan itu tidak diganggu oleh jin yang berada di pohon tersebut.

Mendengar berita itu, marahlah sang pemuda. Dengan serta merta dia menyarungkan kapak untuk menebang pohon kesyirikan tersebut dan berangkat menuju lokasi. Di tengah perjalanan, ternyata jin yang menghuni pohon mencegat sang pemuda dengan menjelma jadi seorang kakek tua.

Si kakek bertanya pada sang pemuda, “Mau apa kau pergi dengan membawa kapak itu, anak muda?” 

“Saya akan menghancurkan kesyirikan dengan menebang pohon besar di pinggir jalan sana, kek,” jawab sang pemuda.

“Apa urusanmu dengan mereka? Bukankah mereka tidak mengganggumu?” tanya kakek tua lagi.

“Mereka memang tidak menggangguku, Kek. Tapi pohon itulah yang menjadi sebab kemungkaran Allah.”

“Kalau begitu, aku akan menghalangimu untuk menebang pohon itu,” kata Kakek tua.

Akhirnya, terjadilah perkelahian sang pemuda dengan jin. Namun dengan mudah sang pemuda mampu melumpuhkan jin tersebut. Hingga beberapa kali perkelihan, sang pemuda mampu memenangkannya. 

Merasa tidak bisa dikalahkan, sang kakek menawarkan sesuatu. “Wahai ana muda, aku tahu bahwa engkau adalah pemuda yang tidak memiliki harta. Jika engkau mau, aku akan memberimu tiga dinar setiap kali engkau bangun tidur. Dengan uang itu, engkau akan bisa bersedekah dan membeli apa yang engkau mau. Asalkan engkau tidak menebang pohon itu.”

Karena tuntutan hawa nafsu, akhirnya sang pemuda tadi menerima tawaran sang Kakek. Hari pertama, sebangun tidur, sang pemuda menemukan uang tiga dinar di bawah bantalnya. Hari kedua dan ketiga, sang pemuda masih mendapatkan uang tersebut. Namun hari ke empat, sang pemuda tidak menemukan uang sepeser pun. 

Akhirnya, dengan marah, sang pemuda menyarungkan kapaknya kembali dan berangkat ingin menebang pohon besar kembali. Namun di tengah jalan, seperti terdahulu, jin yang menyamar menjadi seorang kakek tua mencegatnya. 

Singkat cerita, akhirnya terjadilah perkelahian antara sang kakek dengan sang pemuda. Namun kali ini ternyata sang pemuda dapat dikalahkan oleh sang kakek. Meskipun sang pemuda berusaha dengan sekuat tenaga, dia tidak dapat mengalahkan sang kakek. 

Sang pemuda pun bertanya kepada kakek tua, “Wahai kakek tua, dahulu aku dengan mudah mengalahkanmu. Tapi kenapa kali ini engkau yang selalu menang?”

Kemudian kakek jelmaan jin itu menjawab, “Wahai anak muda, dahulu engkau akan menebang pohon besar itu untuk menghancurkan kesyirikan. Niatmu hanyalah karena Allah. Karenanya, Allah menolongmu. Tapi kali ini, niatmu menebang pohon bukan karena Allah, tapi karena kemarahanmu tidak mendapatkan uang yang telah aku janjikan. Itulah kenapa Allah tidak menolongmu.”

Dari kisah di atas dapat diambil pelajaran, bahwa kalau kita berjuang menegakkan agama Allah, pasti Allah akan menolong kita. Dia akan menjadi pelindung kita dari segala kejahatan makhluknya.

Allah Swt berfirman, “Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 257)

Jadi, yakini bahwa tiada pelindung kita kecuali Allah, seperti yang selalu kita ucapkan dalam kalimat syahadat setiap shalat. Dengan begitu, insya Allah tiada yang perlu kita takutkan kecuali Allah semata.

7. La Mahbuba Illallah (Tiada yang Berhak Dicintai Kecuali Allah)

“Tiga hal yang membuat seseorang merasakan nikmatnya iman,” kata Rasulullah Saw. “ Pertama, Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari apapun. Kedua, dia mencintai dan membenci seseorang karena Allah. Dan yang ketiga, dia benci untuk berbuat maksiat sebagaimana dia benci kembali kepada kekufuran.”

Jadi, dengan menempatkan cinta kepada Allah dan Rasul melebihi yang lain, niscaya seseorang akan merasakan nikmatnya iman. 

Pernah suatu ketika sahabat Umar berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasul, aku mencintaimu sebagaimana aku mencintai diriku sendiri.” 

Lalu Rasulullah saw menjawab, “Sesungguhnya engkau belum mencintaiku (dengan benar)”

Kemudian Umar segera memperbaiki ucapan dan kesungguh-sungguhannya terhadap Rasulullah saw, “Kalau begitu, engkau kucintai melebihi diriku sendiri.”

“Engkau benar-benar mencintaiku,” jawab Rasulullah saw.

Allah Swt berfirman, “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (QS. Al-Baqarah: 165)

8. La Marhuba Illallah (Tiada yang Berhak Ditakuti Kecuali Allah)

Rasulullah saw pernah bersabda bahwa ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan di sisi Allah di hari di mana tidak ada naungan selain naungan-Nya. Salah satu dari ketujuh golongan itu adalah pemuda yang diajak berzina oleh seorang wanita cantik dan berkedudukan, tapi kemudian dia berkata, “Aku takut kepada Allah.”

Betapa nikmatnya dan istimewanya manusia yang hanya takut kepada Allah. Allah akan menjadi pelindung maupun penolongnya di saat tidak ada lagi pertolongan.

Di zaman kemaksiatan tersebar, manusia seringkali merasa mudah saja bermaksiat seakan-akan tidak ada hukuman atau azab dari keburukannya. Perasaan takut kepada Allah juga merupakan takut akan azab Allah, baik di dunia maupun di akhirat. 

Orang-orang yang korupsi, ahli maksiat, dan berbuat keburukan kepada orang lain sebenarnya karena mereka tidak punya rasa takut kepada Allah sehingga mereka melanggar larangan-larangan Allah. Tidak takutkah kita akan azab Allah yang amat pedih?

Allah Swt berfirman, “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (QS. Al-Isra: 57)

9. La Marghuba Illallah (Tiada yang Diharapkan Kecuali Allah)

Di tengah malam, tepatnya pada malam Jumat tanggal 17 Ramadhan, malam di mana pagi harinya kaum muslimin yang berjumlah 314 orang akan menghadapi 1000 pasukan kaum kafir Quraisy dengan perlengkapan perangnya yang lengkap, Rasulullah saw mengangkat tangannya, menengadah berdoa khusyuk merendahkan diri ke hadirat Allah. Di antara doanya adalah, “ Ya Allah, inilah kaum Quraisy yang datang dengan segala kecongkakan dan kesombongannya untuk memerangi-Mu dan mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, tunaikanlah janji kemenangan yang telah engkau berikan kepadaku. Ya Allah, kalahkan mereka esok hari...”

Beliau terus memanjatkan doa kepada Allah dengan merendahkan diri sampai-sampai beliau tidak terasa dan sadar bahwa selendangnya jatuh. Melihat hal itu, sahabat Abu Bakar merasa iba dan berkata kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah, demi diriku yang berada di tangan-Nya, bergembiralah. Sesungguhnya Allah pasti akan memenuhi janji yang telah diberikan-Nya kepadamu.”

Di pagi yang cerah, di saat perang mulai berkecamuk, Allah mendatangkan bala bantuannya berupa malaikat-malaikat yang membinasakan orang kafir. Akhirnya, kemenangan yang sangat gemilang pun diraih oleh pasukan umat Islam.

Harapan dan impian adalah satu hal yang menjadi penyemangat orang untuk melakukan suatu pekerjaan. Dan sudah semestinya harapan dan impian kita serahkan kepada sang Pemberi yang dalam berkehendak hanya tinggal berkata, “Kun fayakun: Terjadilah, maka terjadilah ia.” Tiada kekuatan yang melebihi kekuatan-Nya. Maha Kuasa Allah atas segala sesuatu.

Demikian 9 makna dari kalimat La ilaha illallah. Masih ada cukup banyak lagi makna yang terkandung di dalamnya, namun akan dilanjutkan di materi berikutnya.











Bagikan:

Makna Kata Illah dalam La ilaha illallah (2)

Selain makna “Aliha”, ada kandungan lain lagi dari “Al-ilah”. Kata “Al-ilah” dalam La ilaha illallah memiliki empat makna sebagai berikut:

1. Al-Marghub (Yang Diharapkan)

Ketika kita mengucapkan kalimat “Laa ilaaha illallah” maka kita sedang berikrar bahwa tiada yang sangat diharapkan kasih sayangnya, pertolongannya, dan perlindungannya kecuali Allah semata. Kenapa hanya Allah? Karena Allah-lah yang menguasai bumi beserta isinya. Allah-lah yang menciptakan seluruh makhluk di alam semesta dan Dia-lah yang Maha Kuasa. Kalau kita bergantung dan berharap kepada makhluk ya jelas Allah akan marah.

Allah Swt berfirman, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)

2. Al-Marhub (Yang Sangat Ditakuti)

Mengucapkan kalimat “Laa ilaaha illallah” berarti kita telah berikrar bahwa tiada yang sangat ditakuti kecuali Allah swt. Orang yang menuhankan selain Allah akan mendapatkan siksa yang sangat pedih. 

Sudah begitu banyak azab Allah yang ditimpakan kepada kaum-kaum yang ingkar kepada-Nya. Kaum nabi Luth as dijungkirbalikkan buminya; kaum nabi Nuh As disapu banjir; penduduk Madyan (kaum nabi Syu’aib) dan kaum Tsamud mati bergelimpangan dengan satu suara yang mengguntur; kaum ‘Ad diazab Allah lewat awan dan angin yang menghancurkan seluruhnya.

Allah Swt berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina." (QS. Al-Mu’min: 60)

3. Al-Matbu’ (Yang Diikuti Dan Ditaati)

Menuhankan Allah swt, berarti bersungguh-sungguh dalam mengikuti dan menaati segala perintah-Nya. Setiap perintah-Nya akan dijalankan dengan segera. Demikian pula bila ada yang melanggar syariat-Nya, maka akan sekuat tenaga dicegahnya.

Nabi Muhammad saw pernah mewanti-wanti umatnya yang perlahan-lahan melanggar syariat Allah swt, “Di akhir zaman kelak, umat Islam akan setapak demi setapak, sehasta demi sehasta mengikuti mereka. Bahkan, saat mereka masuk ke lubang biawak pun, kalian akan mengikutinya.” Kemudian salah seorang sahabat bertanya, “Ya Rasul, apakah mereka Yahudi dan Nasrani?” Nabi saw menjawab, “Siapa lagi?”.

Allah Swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusak (pahala) amal-amalmu (dengan membangkang)” (QS. Muhammad: 33)

4. Al-Mahbub (Yang Dicintai)

Kalau kita mengucapkan kalimat “Laa ilaaha illallah” artinya kita bersaksi bahwa tiada yang paling dicintai kecuali Allah swt. Oleh karena itu kita harus menomorsatukan kepentingan Allah ketika ada kepentingan-kepentingan lain yang sama waktunya.

Allah Swt berfirman, “Katakanlah: "jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, sanak keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24)

Memahami syahadat sebagaimana makna-makna di atas, insya Allah membuat kita sudah bersyahadat dengan ilmu, alias pemahaman yang benar. Tidak sekadar ucapan saja. Dan tentunya yang lebih utama lagi kita berusaha mengamalkannya sebagaimana pemahaman yang benar, yaitu hanya Allah yang paling diharapkan, hanya Allah yang paling dinantikan pertolongannya, hanya Allah yang diikuti dan ditaati, serta hanya Allah yang dicintai dengan kecintaan tertinggi.

Kalau kita sudah mengaku berada dalam kekuasaan Allah maka seyogyanya kita juga turut memberikan ketaatan dan pengabdian yang sempurna alias hanya kepada-Nya saja. Segala hukum dan aturan yang diberikan Allah lewat kitab-Nya (Al-Quran) dan Rasul-Nya (Al-Hadits) juga kita pegang teguh. 

Jangan sampai seperti orang-orang Yahudi yang ketika Allah dan Rasul-Nya memberi perintah, mereka mengatakan, “sami’na wa ‘ashayna” : kami mendengar dan kami abaikan perintah-Mu. Na’udzubiLlah min dzalika. 

Jadi, seorang mukmin itu ya ketika Allah dan Rasul-Nya memberi perintah, mereka akan berkata, “sami’na wa atha’na” : kami dengar dan kami taat. Dengan begitu, niscaya ampunan Allah akan diberikan kepada kita. Aamiin... 

Allahu A'lam.












Bagikan:

Makna Kata Illah dalam La ilaha illallah (1)

Dalam syahadat asyhadu an la ilaha illaLlah yang biasa diartikan “aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah”, ada kata “Ilah” yang diucapkan. 

Kata “Ilah” dalam bahasa Arab berasal dari kata aliha - ya'lahu – ilaahan.

Jadi setidaknya ada empat makna kata Illah dalam La ilaha illallah:

1. Sakana ilaihi (Merasa Tenang Kepada-Nya)

Artinya, tuhan itu yang memberikan ketenangan kepada hamba-Nya.

Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenang dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami.” (QS. Yunus: 7)

2. Istajara bihi (Merasa Dilindungi Oleh-Nya)

Allah Swt berfirman, “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al-Jin: 6)

3. Wuli’a bihi (Cenderung Kepadanya Atau Mencintai-Nya)

Tuhan adalah Dia yang paling dicintai. Artinya, kalau ada sesuatu yang benar-benar kita cintai melebihi segalanya, sama halnya kita menjadikan sesuatu itu sebagai tuhan. Cinta kepada manusia atau makhluk Allah itu boleh, namun kecintaan terbesar tetap kepada sang Pencipta.

Allah Swt berfirman, “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (QS. Al-Baqarah: 165)

4. Isytaqa ilaih (Merasa Rindu Kepada-Nya)

Allah Swt berfirman, “Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: "Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)." Musa menjawab: "Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)." (QS. Al-A’raf:138)

Bani Israil sebelum menjadi pengikut nabi Musa As merupakan kaum bodoh penyembah Fir’aun. Setelah Allah swt selamatkan lewat perantara nabi Musa As dari kekejaman Fir’aun, mereka melihat sekelompok orang penyembah berhala.

Seketika itu pula mereka merasa iri, menginginkan tuhan yang terlihat sehingga dapat mereka sembah layaknya Fir’aun dahulu. Itulah rasa rindu yang membuat mereka menuhankan selain Allah swt. Dan sudah semestinya rindu tersebut hanya diberikan kepada Allah swt saja.

Keempat sifat di atas, yakni penenteram jiwa, pelindung, rindu, dan cinta adalah sifat-sifat yang dapat menyebabkan seseorang menghambakan diri kepada-Nya.

Ketika kita salah menempatkan keempat sifat tadi yaitu tidak merasakan keempat sifat tersebut dari Allah swt, bisa-bisa kita menuhankan selain Allah. Surga pun menjadi taruhannya.

Bila orang sudah terlalu cintanya kepada seseorang atau sesuatu, maka ia akan rela berkorban apa saja agar yang dicintainya senang. Seorang suami rela korupsi demi istri tercintanya yang meminta perhiasan dan harta yang sangat banyak.

Jadi agar kita tidak menuhankan selain Allah, keempat hal tersebut harus kita berikan secara penuh kepada Allah swt saja. Kecintaan yang teramat sangat, merendahkan diri, dan tunduk penuh dengan kepatuhan harus kita tujukan hanya kepada Allah semata. Kalau sudah diberikan ke orang lain atau sesuatu yang lain, berarti kita sudah menuhankan selain Allah swt. Apalagi minimal kita bersyahadat 5 x dalam sehari. Jelas saja Allah tidak senang kepada kita kalau kita hanya sekadar berbicara. Kita saja marah kalau ada orang yang hanya janji-janji saja tetapi selalu dilanggar.

Sekarang karena sudah tahu makna syahadat, maka setiap mengucapkan syahadat pahamilah bahwa kita hanya ada kewajiban untuk menghamba kepada Allah saja. Bukan kepada uang, pacar, mode, dan lainnya. Sebagai hamba, kita harus tunduk, patuh, cinta, dan merendahkan diri hanya kepada-Nya saja.

Allahu a'lam

 

 

 








Bagikan:

Makna Syahadatain (Dua Kalimah Syahadat)

Salah satu syarat masuk kedalam islam adalah membaca dua kalimat syahahadat. Kalimat tersebut sering kita ucapkan saat kita sedang sholat, tepatnya saat kita melakukan tahiyyat baik awal maupun akhir.

Syahadatain berarti dua kalimat syahadah. Syahadah itu sama dengan persaksian. Yang dimaksud dengan perksaksian adalah, kita mengakui bahwa Tuhan kita adalah Allah (syahadah uluhiyyah) serta mengakui bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah (syahadah risalah).

Jadi syahadah uluhiyyah berarti menolak semua ilah (sesembahan) dan hanya mengakui, menyembah, serta memohon hanya kepada Allah sebagai satu-satunya ilah.

Allah berfirman: “Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwasannya tidak ada tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS. Al-Anbiya:25)

Laa Ilaha Illallah juga berarti Laa Ma’buda Illallah. Tiada yang disembah melainkan Allah. Setiap kita sholat kita selalu mengatakan “hanya kepadaMu-lah kami menyembah dan kepadaMu-lah kami memohon pertolongan”. Sehingga paling tidak kita mengatakan kalimat ini sebanyak 17 kali dalam sehari. 

Allah berfirman dalam surat Adz-dzariyat ayat 56: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu.” (QS. Adz-dzariyat ayat 56)

Selain itu syahadah uluhiyyah memiliki makna Laa Ghoyatu Illallah, tidak ada tujuan melainkan hanya pada Allah. 

Allah menjelaskan hal ini dalam Al-Qur’an surat ke 94 ayat 8: “Dan hanya kepada Allahlah hendaknya kamu berharap (menempatkan tujuan)” (QS. Al-Insyirah :8)

Adapun syahadah risalah adalah bentuk pengakuan, persaksian bahwa Nabi Muhammad adalah seorang rasul yang membawa risalah kebenaran bagi seluruh alam. 

Bentuk pengakuan ini akhirnya menggiring kita untuk loyal dan ittiba’ (mengikuti) setiap sunnah Rasul, serta menjadikan Rasulullah sebagai uswatun hasanah (suri tauladan yang baik) bagi kita semua. Ittibaur Rasul (mengikuti Rasulullah) merupakan pembuktian bahwa kita benar-benar mencintai Rasulullah.

Dalam Islam syahadat adalah bagian yang sangat penting. Mari kita simak pentingnya syahadat bagi kita.

1. Syarat Masuknya Seseorang Ke Dalam Islam (Al-Madkhol Ilal Islam)

Seperti yang sudah dibahas di awal, syahadatain merupakan pintu untuk masuk Islam. Jika ada teman kita yang beragama nashrani ingin masuk islam, pasti dia harus mengucapkan dua kalimat syahadat.

Dua kalimat syahadat ini merupakan pembeda antara orang muslim dan orang kafir. Setiap perbuatan baik umat manusia akan dinilai oleh Allah hanya jika ia telah mengucapkan dua kalimat syahadat.

Jadi, meskipun dia telah berbuat baik, suka menolong, suka berbagi kepada tetangga, atau bahkan menyumbangkan seluruh hartanya kepada yang membutuhkan, itu semua tidak ada nilainya di sisi Allah jika ia tidak mengucapkan dua kalimat syahadat. 

Allah berfirman, “Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan (amal baik orang-orang kafir), lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. Al-Furqon:23)

2. Syahadat Merupakan Pokok Ajaran Islam (Khulashatu Ta’alimil Islam)

Dengan mengucapkan dua kalimat syahadat berarti seseorang telah rela menerima Allah sebagai Ilah, dan berkewajiban beribadah kepadaNya. Ibadah yang dimaksud disini sudah tentu segala hal yang ada dalam Al-Qur’an dan As-sunnah.

Dengan mengucapkan dua kalimat syahadat kita juga mengakui dan rela bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Jadi dalam beribadah kepada Allah kita harus mengikuti Rasulullah sebagai panutan. Segala hal yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah, maka itu tidak terhitung sebagai ibadah maka berhati-hatilah.

3. Syahadat Adalah Sistem Perubahan (Asasul Inqilab)

Ketika seseorang mengikrarkan dua kalimat syahadat dengan sungguh-sungguh, maka ia akan merasakan perubahan besar dalam hidupnya.

Contonya adalah khalifah ke-dua umat Islam. Umar bin Khattab. Sebelum masuk ke dalam islam Umar merupakan seseorang yang sangat menentang islam. Namun, ketika Umar diberi hidayah oleh Allah untuk masuk Islam, Umar berubah menjadi sosok pembela Islam. Ia pun mendapat julukan Al-Faruq, sang pembeda. Umar mendapat julukan ini karena merupakan sosok pembeda antara al-haq dengan albathil.

Oleh karena itu, saat seseorang mengucapkan dua kalimat syahadat dengan benar, maka ia akan termotivasi dalam menjadikan hari-harinya penuh dengan kebaikan.

4. Syahadat Adalah Hakikat Dakwah Para Rasul (Haqiqatu Da’watir Rasul)

Tugas para Rasul yaitu menegakkan kalimatullah. Laa Ilaaha Illallah. Dari nabi Adam hingga Nabi Muhammad, semua memiliki misi yang sama, yaitu mengesakan Allah.

Allah berfirman: “Nuh berkata, ‘Hai Kaumku, sesungguhnya Aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu, (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertaqwalah kepadaNya, dan taatlah kepadaku” (QS. Nuh: 2-3)

5. Syahadat Adalah Keutamaan Yang Besar (Fadhail ‘Adzimah)

Ada banyak ganjaran bagi setiap manusia yang mengikrarkan dua kalimat syahadat. Rasulullah bersabda, “Man Qaala Laa Ilaha Illaha Dakhalal Jannah” artinya, siapa yang mengucapkan dua kalimat syahadat akan masuk syurga. Namun ada syarat lain yang harus terpenuhi, yakni selama ia tidak menyekutukan Allah.

Lalu bagaimana seandainya kita banyak dosa? Jika seorang manusia yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat lalu ia berbuat dosa, maka ia akan “dicuci” dulu dalam neraka.

Jika diibaratkan, syahadat adalah kuncinya syurga. Akan tetapi setiap kunci kan punya gigi. Maka gigi-gigi itu merupakan pengalaman dari syahadat. Jadi, jika ingin masuk syurga tidak cukup hanya dengan syahadat, kita juga perlu mengamalkan kandungan syahadatnya, yakni mengamalkan semua perintah Allah dan menjauhi larangannya. 

Allahu a'lam.










 

Bagikan:

Makna Hari Santri

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Hari santri diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Hari Santri merupakan wujud agar kita selalu ingat bahwa semenjak lahirnya negeri ini, kita telah menjadi bagian dari perjuangan para pahlawan, para kiai, para santri, dan pendahulu kita. 

Oleh sebab itu, kita berperan dalam menjaga semangat perjuangan mereka dengan melakukan sinergi positif yang dapat membangun negeri ini ke arah yang lebih baik, terutama dalam merawat keberagaman, menjaga kerukunan serta rasa aman antar sesama. Hal itulah yang menjadi modal penting bangsa kita agar menjadi bangsa yang besar.

Allah Swt sendiri mengingatkan di dalam QS. Ali Imran ayat 103:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ ه اللَِّ جَمِيعًا وَلََ تَفَ ه رقُوا

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.

وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ ه اللَّ عَلَيْكُمْ إِذ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَألَهفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأصَْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu karena nikmat Allah, menjadilah kamu orang yang bersaudara;

Ayat tersebut menegaskan betapa pentingnya kita menjaga tali kerukunan, supaya tidak terjadi gejolak dan perang saudara (berpecah belah) di antara kita.

Tema hari santri tahun ini adalah “Santri Sehat Indonesia Kuat”. Kita semua berjuang bersama untuk menjaga kesehatan agar kita terhindar dari Covid-19 sehingga menjadikan para santri, para kiai, dan kita semua menjadi kuat baik lahir maupun batin.

Simak video berikut ini:


Allahu a'lam.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh









Bagikan:

Penggunaan Kata There is dan There are


Berikut ini penjelasan terkait penggunaan Kata There is dan There are.

Kata There is dan There are memiliki arti disana ada. 

Kata There is diikuti dengan kata benda tunggal/satu (singular nouns).

Kata There are diikuti dengan kata benda jamak/lebih dari satu (plural nouns).

 

A. CONTOH PENGGUNAAN THERE IS

1. KALIMAT POSITIF

POLA KALIMAT:

There is + kata benda tunggal/satu (singular nouns)

 

Contoh kalimat:

- There is a car.

- There is a book.

- There is an apple.

 

2. KALIMAT NEGATIF

POLA KALIMAT:

There is + not + kata benda tunggal/satu (singular nouns)

 

Contoh kalimat:

- There is not a car.

- There is not a book.

- There is not an apple.

 

3, KALIMAT TANYA

POLA KALIMAT:

Is + there  + kata benda tunggal/satu (singular nouns) ?

 

Contoh kalimat:

- Is there a car?

- Is there a book?

- Is there an apple?


***


B. CONTOH PENGGUNAAN THERE ARE

1. KALIMAT POSITIF

POLA KALIMAT:

There are + kata benda jamak/lebih dari satu (plural nouns)

 

Contoh kalimat:

- There are two cars.

- There are some books.

- There are many apples.

 

2. KALIMAT NEGATIF

POLA KALIMAT:

There are + not + kata benda jamak/lebih dari satu (plural nouns)

 

Contoh kalimat:

- There are not two cars.

- There are not some books.

- There are not many apples.

 

3, KALIMAT TANYA

POLA KALIMAT:

Are + there  + kata benda jamak/lebih dari satu (plural nouns) ?

 

Contoh kalimat:

- Are there two cars?

- Are there some books?

- Are there many apples?

 

Sumber:

Azar, Betty Schrampfer. Understanding and Using English Grammar. 1989. New Jersey: Prentice Hall Regents

Thomson, AJ and Martinet, AV. A Practical English Grammar. 1960. Oxford: Oxford University Press


Bagikan:

Meneladani Akhlaq Nabi Muhammad SAW

Siapakah manusia yang berakhlak paling mulia? Ya, dialah Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam. Beliau adalah Nabi dan Rasul Allah paling akhir, yang di utus bagi seluruh umat. 

Sejak kecil hingga dewasa, Nabi Muhammad SAW sudah memiliki akhlak yang baik. Beliau tidak menyukai perbuatan orang-orang Makkah yang gemar menyembah berhala dan sering berbuat jahat. Karena kebaikan akhlaknya, beliau mendapat julukan “Al Amin”, artinya “orang yang dapat dipercaya”. 

Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai orang yang jujur dan adil. Beliau sering dimintai tolong untuk menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi di kalangan orang-orang Makkah. 

Nabi Muhammad SAW adalah orang yang memiliki akhlak paling baik. Beliau sangat jujur. Tidak pernah sekalipun beliau berdusta atau berkhianat. Perkataan beliau pasti benar, dan janji beliau pasti ditepati. 

Beliau juga sangat amanah. Karena sifat amanahnya, beliau sangat disukai pedagang. Barang dagangan yang dipercayakan kepada beliau, pasti mendatangkan untung. 

Nabi Muhammad sangat penyayang pada orang tua maupun yang lebih muda. Beliau tak pernah menyakiti orang lain, melalui perkataan maupun perbuatan. Bahkan kepada orang-orang yang memusuhinya pun, beliau mau memberikan maaf dan mendoakan kebaikan.

Nabi Muhammad SAW juga sangat dermawan. Beliau tak pernah menumpuk harta. Semua hartanya disumbangkannya untuk menegakkan Agama Allah. Kedermawanan beliau banyak di contoh para sahabat dan orang-orang shalih terdahulu. Mereka tak segan-segan menyumbangkan harta kekayaannya demi memperjuangkan agama Islam.

Rasulullah SAW juga orang yang sangat tegas. Beliau benar-benar membedakan mana yang baik dan yang buruk, yang halal dan yang haram. Beliau juga tegas membedakan mana kawan dan mana lawan. Orang-orang beriman adalah kawan dan saudara, sedangkan orang-orang yang menentang dakwah beliau dianggapnya musuh.

Meneladani akhlak Nabi sama dengan berakhlak Al-Quran. Banyak ayat dalam Al-Quran tentang anjuran berakhlak mulia. Dan contoh paling baik dalam berakhlak mulia adalah Nabi Muhammad SAW.

Mengapa kita harus meneladani Nabi? Kita harus meneladani akhlak Nabi karena hanya beliau yang pantas untuk kita teladani. Beliau adalah nabi dan rasul Allah yang terakhir. Beliaulah manusia yang paling sempurna. Hidup beliau selalu mendapat bimbingan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sehingga setiap perbuatan beliau tak ada yang salah atau buruk. Semuanya benar dan baik.

Allah telah memberikan pujian atas akhlak yang di miliki Rasulullah. Dalam Al-Quran disebutkan: “Sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)

Memiliki Akhlak mulia sangat banyak manfaatnya. Orang yang akhlaknya baik, pasti disenangi orang lain di dunia. Dan di akhirat kelak, mereka mendapat ganjaran surga. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba dengan akhlak baiknya dapat mencapai derajat yang agung di akhirat dan tempat tinggal yang mulia, kendati amal ibadahnya ringan.” (HR. At-Thabrani)

Karenanya, mari kita meneladani akhlak Nabi yang mulia. Dengan memiliki akhlak yang baik, kita akan mendapat kebaikan di dunia, dan juga keuntungan di akhirat. Allahu a'lam












Bagikan:

TILAWAH AL QURAN SURAT AL QARI'AH

 Berikut ini lantunan merdu tilawah Al Quran Surat Al Qari'ah














Bagikan:

TILAWAH AL QURAN SURAT AL BAYYINAH

Berikut ini lantunan merdu Tilawah Al Quran Surat Al Bayyinah













Bagikan: