"Menyebarluaskan Pengetahuan..."

PENDIDIKAN

Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema pendidikan. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

KELUARGA

Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema keluarga. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

PEMUDA

Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema pemuda. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

KEPEMIMPINAN

Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema kepemimpinan. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

PRIBADI ISLAMI

Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema pribadi Islami. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

PRAMUKA

Berbagai unggahan GiatEdukasi.com dengan tema Pramuka. Silakan kunjungi dan simak setiap video kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

VIDEO

Berbagai unggahan GiatEdukasi.com dalam bentuk video. Silakan kunjungi dan simak setiap video kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

Abu Ayyub Al-Anshari “Pejuang di Waktu Senang dan Susah”

Rasulullah memasuki kota Madinah, menandai perjalanan hijrah yang panjang dari Kota Makkah. Rasulullah mengendarai unta dan berjalan di tengah kerumunan orang yang berebutan memegang tali kekang untanya. Setiap orang berharap Rasulullah sudi menjadi tamunya.

Pertama kali dilewati rombongan Nabi adalah perkampungan bani Salim bin Auf. Kemudian perkampungan bani Sa’idah, perkampungan bani Harits bin Khazraj dan perkampungan bani ‘Adi bin Najjar. Setiap perkampungan tersebut, orang-orang berbondong-bondong meminta Rasulullah untuk tinggal diperkampungan mereka.

Sambil tersenyum bahagia, Rasulullah berkata, “Jangan halangi jalannya, karena ia menjalankan perintah.” Nabi telah menyerahkan pemilihan tempat tinggal kepada Allah, karena tempat tersebut sangat penting dan mulai. Di sana akan dibangun masjid yang akan menjadi sentral dakwah islam. Di samping masjid itu juga akan dibangun kamar-kamar sederhana yang akan menjadi tempat Rasulullah. 

Rasul melepaskan tali kekang untanya. Tidak pernah menepuk lehernya atau menarik tali kekangnya. Seluruh hati Rasul diarahkan kepada Allah dan berdoa, “Ya Allah, kuserahkan kepada-Mu, maka pilihkan untukku.”

Rasulullah kemudian melanjutkan perjalanan, tiba-tiba unta yang ditunggai Rasulullah bersimpuh, lalu bangkit dan mengitari tempat perkampungan bani Malik bin Najjar.

Kemudian Rasulullah turun dan seorang lelaki dengan wajah berseri mendekati Rasul, membawakan perbekalan beliau, dan mempersilahkan beliau masuk. Rasulullah pun mengikutinya. Tahukan Anda siapa orang yang berbahagia dan beruntung tersebut?

Dia adalah Abu Ayyub al-anshari yang nama aslinya Khalid bin Zaid, cucu Malik bin Najjar. Rumah Abu Ayyub ditempati Rasulullah dan akan tinggal disana sampai pembagunan masjid dan pembangunan sederhana beliau di samping masjid selesai.

Abu Ayyub tidak pernah absen dari medan perang jihad fi sabilillah seperti perang Badar, Uhud, Khandaq dan peperangan lainnya. Setelah Rasul wafat, ia juga tidak pernah ketinggalan dalam peperangan meskipun jaraknya jauh dan penuh rintangan.

Abu Ayyub selalu mengulang-ulang semboyannya dengan suara keras maupun perlahan, yaitu firman Allah, “Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan dan berat.”(Q.S At-Taubah: 41)

Ketika terjadi pertikaian antara Ali dan Mu’awiyah, Ia tanpa ragu-ragu berdiri dipihak Ali, dikarenakan Ali adalah seorang Khalifah yang pemimpin saat itu. 

Ketika Ali gugur sebagai syahid, dan jabatan berpindah ke Mu’awiyah, Abu Ayyub menyendiri dalam kezuhudan dan dia hanya berharap masih ada kesempatan berjuang di medan perang.

Ketika Abu Ayyub mengetahui pasukan Islam bergerak ke Konstantinopel (Istanbul), ia langsung menunggang kudanya dan menghunus pedang, bergabung dalam pasukan untuk mencari kesyahidan yang lama dirindukannya. 

Dalam peperangan ini, ia terluka parah. Lalu, panglima pasukan Islam, Yazid bin Mu’awyah menjenguk dan bertanya, “Apa keinginamu, wahai Abu Ayyub.” 

Diluar dugaan, permintaan Abu Ayyub sungguh luar biasa. Ia meminta Yazid , jika ia telah meninggal jasadnya dibawa dengan kudanya sejauh jarak yang dapat ditempuh ke arah musuh. Di sanalah ia akan dikebumikan.

Yazid memenuhi permintaan Abu Ayyub. Di jantung kota Istanbul sana jasad laki-laki agung ini dikebumikan. Ia sangat bahagia dan tenang, karena ia selalu ingat sabda Rasulullah kepadanya, “jika shalat, shalatlah seperti otang yang akan meninggal dunia. Jangan sekali-kali mengucapkan kata-kata yang menyebabkanmu harus meminta maaf setelah itu. Jangan mengharapkan apa yang ada ditangan orang lain.”

Maka, ketika ajalnya datang, tidak ada urusan dunia pun yang ia inginkan. Ia hanya ingin dikuburkan di Romawi, di mana dari dalam kuburannya, ia bisa mendengarkan sepak terjang pasukan Islam, mendengarkan kibaran bendera kemenangan, ringkikan kudanya, dan gemericik pedangnya. Ia yakin sepenuhnya kaum muslimun akan mendapatkan kemenangan.











Bagikan:

Abdullah bin Mas’ud “Yang Mengumandangkan Al-Qur’an Pertama Kali Dengan Suara Merdu”

Sebelum Rasulullah menjadikan rumah Arqam sebagai tempat pertemuannya dengan para sahabat, Abdullah bin Mas’ud sudah masuk Islam dan merupakan orang ke enam yang masuk Islam. Dengan demikian ia termasuk golongan As-sabiqunal Awwalun (orang-orang yang pertama kali memeluk Islam).

Dulu, ia adalah seorang pemuda lemah dan miskin yang menerima upah sebagai pengembala kambing milik ‘Uqbah bin Mu’ith. Namun lihatlah ketika cahaya Islam masuk ke dalam dadanya. 

Selama ini, setiap berjalan lewat di hadapan salah seorang pembesar Quraisy, ia selalu berjalan cepat dengan menundukkan kepala. Namun setelah menjadi muslim, dengan langkah tegap, ia mendatangi kumpulan para pemuka Quraisy yang berada di Ka’bah. Di hadapan mereka, ia kumandangkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suara merdunya. 

Mari kita dengar saksi mata menceritakan peristiwa menakjubkan ini. Zubair berkata, “yang pertama kali mengumandangkan Al-Qur’an di Mekah selain Rasulullah Saw. adalah Abdullah bin Mas’ud ra. 

Suatu hari, para sahabat Rasulullah berkumpul. Mereka berkata, ‘Demi Allah, orang-orang Quraisy belum pernah mendengar Al-Qur’an ini dikumandangkan dihadapan mereka. Siapa di antara kita yang bersedia memperdengarkannya kepada mereka?’”

Abdullah bin Mas’ud berkata, “aku.”

Para sahabat mengkhawatirkan akan keselamatannya, namun Abdullah bin Mas’ud berkata, “Berilah aku kesempatan. Allah yang akan membelaku.”

Saat waktu dhuha (pagi menjelang siang), ketika para pemuka Quraisy berada di balai pertemuan mereka, Abdullah bin Mas’ud mendatangi mereka. Dengan berani dan dengan suara merdunya, ia membaca firman Allah,

“(Tuhan) yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan Al-Qur’an” (QS. Ar-Rahman: 1-2)

Para pemuka Quraisy memperhatikannya sambil bertanya kepada sesamanya, “apa yang dibaca oleh anak ummu ‘Abdi itu?”. Yang lain menjawab, “sungguh, ia membaca apa yang diserukan Muhammad.” 

Ramai-ramai mereka mendekati Abdullah bin Mas’ud dan memukulinya. Namun Abdullah bin Mas’ud tetap melanjutkan bacaannya. Setelah itu, dengan muka dan tubuh yang babak belur ia kembali kepada para sahabat.

Dulu, ia sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa hal itu akan terjadi. Tidak ada tempat baginya di kalangan hartawan. Begitu pula di lingkungan ksatria gagah perkasa, atau dalam deretan orang-orang yang berpengaruh.

Dalam soal harta, ia tidak punya apa-apa. Tentang perawakan tubuhnya, ia kecil dan kurus. Akan tetapi, sebagai ganti dari kemiskinannya itu, Islam memberinya bagian yang melimpah.

Sebagai ganti dari tubuhnya yang kurus dan lemah, Islam memberinya kemauan kuat untuk menundukkan para penguasa zalim. Sebagai ganti dari nasibnya yang terkucilkan, Islam memberinya ilmu yang sangat luas, kemuliaan dan nama harum, sehingga ia berada di jajaran terdepan para tokoh sejarah.

Rasulullah pernah berpesan agar para sahabat meniru bacaan Qur’an Abdullah bin Mas’ud, “Barangsiapa yang ingin mendengar Al-Qur’an seperti saat diturunkan, hendaklah ia mendengarkannya dari Abdullah bin Mas’ud. 

Barangsiapa yang ingin membaca Al-Qur’an seperti saat diturunkan, hendaklah ia membacanya seperti bacaan Abdullah bin Mas’ud”

Keistimewaan Abdullah bin Mas’ud ini telah diakui oleh para sahabat. Yang pantas diacungi jempol bukan hanya keunggulannya dalam Al-Quran dan pemahaman agama, tetapi keshalihan dan ketakwaannya juga patut mendapat pujian.

Hudzaifah berkata, “tidak seorangpun yang lebih mirip dengan Rasulullah Saw baik dalam cara hidup, perilaku dan ketenangan jiwanya, daripada Abdullah bin Mas’ud.

Para sahabat terdepan juga sadar bahwa putra ummi ‘Abdi inilah yang paling dekat kepada Allah.”

Keistimewaan Abdullah bin Mas’ud lainnya adalah, ia lebih sering diberi izin menemui Rasulullah di rumahnya. Ia juga lebih sering bersama Rasulullah. Kesempatan yang jarang didapat oleh sahabat yang lain. Bahkan ia menjadi tumpuan rahasia Rasulullah, hingga dijuluki “Kotak Hitam”, tempat Rasulullah menumpahkan keluhan dan rahasia.

Rasulullah sangat sayang karena keshalihan, kecerdasan, dan kebesaran jiwanya. Allah telah menganugerahinya ketakwaan dan sifat bijaksana. Di antara pesannya yang singkat namun padat adalah, “sebaik-baik kekayaan adalah kekayaan hati, dan sebaik-baik bekal adalah takwa. Seburuk-buruk kebutaan ialah kebutaan hati. Sebesar-besar dosa adalah berdusta. Sejelek-jelek usaha ialah memungut riba. Seburuk-buruk makanan adalah memakan harta anak yatim. Barangsiapa memaafkan orang lain akan dimaafkan oleh Allah. Dan barangsiapa yang mengampuni orang lain akan diampuni oleh Allah.”

Itulah cerita singkat tentang suatu kehidupan yang dibaktikan untuk Allah, Rasul-Nya, dan agama-Nya.

Dialah laki-laki yang ukuran tubuhnya sebesar tubuh burung pipit. Tubuhnya kurus dan pendek hingga tinggi badannya tidak berbeda dengan orang yang sedang duduk.

Kedua betisnya kecil dan tidak berisi. Suatu hari, ia memanjat pohon arok dan kedua betisnya terlihat oleh para sahabat yang lain. Para sahabatpun menertawakan betisnya yang kecil itu. 

Namun Rasulullah bersabda, “Kalian menertawakan betis Abdullan bin Mas’ud. Ketahuilah, di sisi Allah kedua betis itu lebih berat timbangannya dibandingkan gunung uhud.”

Abdullah bin Mas’ud telah dikaruniai kemudahan dan nikmat dari Allah yang menyebabkannya termasuk “sepuluh orang yang dijamin masuk surga”.

Cita-citanya hanya satu. Bahkan ia sering mengutarakan cita-citanya itu dan sangat ingin mencapainya. Berikut ini tutur katanya tentang apa yang ia cita-citakan.

“Aku bangun tengah malam. Saat itu aku berada di perang Tabuk. Aku melihat nyala api di pinggir perkemahan. Aku mendekati nyala api itu, ternyata Rasulullah bersama Abu bakar dan Umar. Mereka hendak memakamkan Abdullah Dzulbijadain Al-Muzanni yang telah syahid. Rasulullah ada di dalam lubang kubur itu, sementara Abu Bakar dan Umar mengulurkan jenazah kepada beliau. 

Rasulullah bersabda, ’Ulurkanlah saudara kalian ini lebih dekat kepadaku.’ Lalu mereka mengulurkannya. Setelah diletakkan di dasar kubur, Rasulullah berdoa, ’Ya Allah, aku telah ridha kepadanya, maka ridhailah dia.’ Alangkah indahnya jika yang berada dalam kubur itu adalah aku.” Gumam Abdullah bin Mas’ud.

Itulah cita-cita yang sangat dirindukannya. Cita-cita yang jauh dari pangkat, jabatan yang biasa diperebutkan oleh banyak orang. Cita-cita orang yang berjiwa besar, berhati mulia, dan memiliki keyakinan yang kuat.

Dialah laki-laki yang dibimbing oleh Allah, dididik oleh Rasulullah dan diarahkan oleh Al-Qur’an.











Bagikan:

Salman Al-Farisi “Pencari Kebenaran

Salman Al-Farisi berasal dari wilayah Ishafan, dari desa “Ji”. Ayahnya seorang kepala wilayah. Salman membaktikan diri dalam agama Majusi, yang bertugas sebagai penjaga api peribadatan agar tetap menyala. 

Suatu hari Salman diminta ayahnya untuk pergi ke sebuah ladang milik ayahnya. Di perjalanan ke ladang, ia melihat sekumpulan orang yang sedang sembahyang disebuah gereja. Salman bertanya dari mana asal-usul agama pada mereka. Mereka menjawab, “Dari negeri Syam”. 

Salman tertarik untuk melihatnya sehingga ia tidak pergi ke ladang sampai matahari terbenam. Lalu, ayahnya mengirim orang untuk menjemput Salman. Ketika pulang dan bertemu ayahnya, Salman menceritakan yang ia alami dan menurutnya agama mereka lebih baik dari agama kita. Kemudian Ayahnya marah, lalu Salman dirantai dan dikurung.

Salman tak habis akal, ia kemudian mengirimkan kabar pada orang-orang Kristen bahwa dia telah memeluk agamanya. Lalu Salman berusaha membuka ikatan untuk bergabung bersama rombongan orang-orang kristen menuju ke Syam. 

Sesampainya disana, ia menanyakan tentang ahli agama mereka. Mereka menjawab “ Uskup pemilik gereja”. Maka ia menemuinya dan menceritakan keadaannya. Tidak lama kemudian, uskup tersebut meninggal dan digantikan oleh uskup yang baru. 

Saat uskupyang baru ini akan meninggal, Salman menyempatkan bertanya, jika kau meninggal kepada siapa aku harus berguru? Uskup tersebut menjawab, “temuilah pendeta di Mosul”. 

Terus menerus Salman mencari kebenaran, beberapa pendeta ia temui, di Mosul, Nasibin hingga daerah Romawi.

Saat di Romawi, Salman menemui seorang laki-laki dan tinggal bersamanya. Ketika dia akan meninggal dunia, Salman kembali menanyakan kemana lagi dia harus pergi untuk berguru? Laki-laki itu menjawab, “saya tidak akan menyuruhmu datang kesiapa pun. Saat ini sudah ada Nabi yang membawa risalah nabi Ibrahim. Dia akan hijrah ke satu tempat yang ditumbuhi kurma dan terletak di antara dua bebatuan hitam. Dia mempunyai tanda-tanda kenabian yang jelas. Dia tidak menerima sedekah, tapi menerima hadiah. Di pundaknya ada tanda kenabian.”

Salman kemudian melakukan perjalanan menuju tempat yang dimaksud laki-laki tersebut. Selama perjalanan tersebut Salman sempat dibohongi, dijual ke seorang yahudi hingga ia pun dibeli seorang Yahudi bani Quraidhah dan dibawa ke Madinah.

Suatu hari Salman di atas pohon kurma, dan majikannya berada di bawah pohon tersebut, tiba-tiba datanglah sepupu majikanku membawa kabar, “Celakalah bani Qailah, mereka mengelilingi seorang lelaki di Quba, yang mengaku sebagai Nabi”.

Salman kemudian diam-diam pergi ke Quba membawa sedikit makanan. Aku menemui Rasulullah yang saat itu bersama para sahabat. Salman berkata, “Tuan-tuan adalah perantau yang membutuhkan bantuan, saya mempunyai makanan yang saya siapkan untuk sedekah. Lalu Salman menaruh di dekat Rasullullah. 

Rasulullah berkata pada para sahabat, “makanlah dengan menyebut nama Allah”. Sedangkan beliau sendiri tidak ikut makan. Salman bergumam dalam hati, “ini satu tanda yang disebutkan tadi, tidak memakan sedekah”.

Keesokan harinya, aku kembali menemui Rasulullah dan memberikan hadiah berupa makanan. Rasulullah berkata pada para sahabat, “makanlah dengan menyebut nama Allah”. Beliau makan bersama mereka. Salman kembali berkata dihati, “demi Allah ini tanda kedua, mau memakan hadiah”.

Beberapa hari kemudian Salman kembali menemui Rasulullah yang sedang mengiringi Jenazah di pemakaman Baqi’. Salman mengucapkan salam pada beliau dan menoleh ke arah punggung. Rupanya beliau mengerti lalu menyingkapkan kain yang menutupinya dan terlihat tanda kenabian yang disebutkan pendeta tersebut. 

Melihat itu Salman langsung merangkulnya dan mencium beliau sambil menangis. Salman menceritakan kisahnya pada Rasulullah dan Salman masuk Islam.

Setelah masuk Islam Salman pun ikut dalam perang Khandaq, yang saat itu kaum Muslimin dikepung dari berbagai arah hingga Rasulullah kemudian meminta semua kaum muslim untuk bermusyawarah. 

Disaat yang genting tersebut, Salman memberikan strategi perang yang sangat cemerlang, yaitu menggali parit (Khandaq) dan atas izin Allah juga ide tersebut mengantarkan pada kemenangan kaum Muslimin.

Salman dikaruniai kehidupan panjang hingga ia bisa melihat Islam berkibar di seluruh penjuru dunia. Namun, Salman tetap dengan kesederhanaanya meskipun ia memliki kekuasaan dan kekayaan. Hingga di penghujung usianya, ia sakit. 

Salman meminta istrinya untuk membawakan satu-satunya barang kesayangannya. Barang tersebut adalah wewangi katsuri. Ia meminta segelas air, Katsuri itu dimasukkan ke dalam air lalu diaduk. 

Ia berkata pada istrinya, “percikkanlah kesekelilingku, aku akan didatangi makhluk Allah yang tidak makan, namun suka dengan wewangian.”

Selesai memercikkan kesturi, ia berkata pada istirnya, “tutuplah pintu dan keluarlah”.

Beberapa saat kemudian, sang istri kembali masuk ke tempat Salman dan dijumpai Salman telah meninggal dunia. Salman ikut serta dengan malaikat yang menjemputnya. 

Ia membawa kerinduan mendalam untuk memenuhi janjinya. Janji bertemu Rasulullah, dan dua rekannya Abu Bakar ra dan Umar ra, serta para syuhada' dan orang-orang sholeh.












Bagikan:

Thufail bin Amru Ad-Dausi “Fitrah yang Lurus”

Thufail bin Amr Ad-Dausi, seorang bangsawan yang mulia dan bijaksana. Ia juga dikaruniai bakat sebagai penyair hingga nama dan kemahirannya termasyhur di kalangan sukunya, bani Daus di Yaman.

Ia sering pergi ke Mekah. Pada suatu hari, saat ia berkunjung ke kota suci itu, Rasulullah sudah berdakwah secara terang-terangan. Orang-orang Quraisy takut kalau Thufail menemui Rasulullah dan masuk Islam, lalu menggunakan bakatnya sebagai penyair untuk membela Islam. 

Oleh karena itu, mereka terus mendampinginya, menjamunya dengan segala kesenangan, kemewahan dan kenikmatan. Mereka menakut-nakutinya agar tidak berjumpa dengan Rasulullah apalagi mendengarkan ucapannya. 

Thufail pun bertekad untuk tidak mendengar sesuatu pun dari Rasulullah dan tidak menemuinya. Ia menutup telinganya dengan kapas. Namun disana dia mendapati Rasulullah sedang shalat di dekat Ka’bah. Thufai berdiri di dekat Rasulullah. Lalu, Allah berkehendak memperdengarkan kepadanya apa yang sedang dibaca oleh Rasulullah. 

Thufail mendengarkan ucapan yang sangat indah keluar dari mulut Rasulullah. Ia tetap berdiri disana hingga Rasulullah pulang ke rumah. Ia mengikuti Rasulullah hingga masuk rumah. 

Ia berkata kepada Rasulullah, “Wahai Muhammad, kaummu telah bercerita kepadaku tentang dirimu begini dan begini. 

Demi Tuhan, mereka terus menakut-nakutiku tentang dirimu, hingga kututupi telingaku dengan kapas agar tidak mendengar perkataanmu. Akan tetapi, Allah menghendaki aku mendengarnya dan aku mendengar ucapan yang indah. Karena itu jelaskan kepadaku perkaramu.” 

Kemudian Rasulullah menjelaskan tentang Islam kepadanya dan membaca Al-Qur’an. “Demi Allah, aku tidak pernah mendengar ucapan yang lebih baik dari itu, dan perkara yang lebih benar dari itu.” kata Thufail.

Lalu iapun masuk Islam. Ia mengucapkan kalimat syahadat. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ini seorang yang ditaati oleh kaumku, dan sekarang aku akan kembali kepada mereka, mengajak mereka kepada Islam. Maka mohonkanlah kepada Allah agar aku diberi tanda yang dapat membantuku dalam menyeru mereka.” Maka Rasulullah berdoa, “Ya Allah, berilah kepadanya suatu tanda.”

***

Baru saja telinganya mendengar beberapa ayat mengenai petunjuk dan kebaikan yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, semua pendengaran dan hatinya terbuka, lalu tangannya terbentang untuk menyatakan keislaman. 

Tidak berhenti disana, ia langsung merasa bertanggung jawab untuk mengajak keluarga dan kaumnya kepada agama yang benar dan jalan yang lurus ini. Ia memaparkan kepada ayahnya, ibunya, lalu kepada istrinya tentang apa yang sekarang menjadi keyakinannya. 

Ia juga bercerita tentang Rasulullah yang mengajak ke jalan Allah, bagaimana keagungan, kesucian, kejujuran, keikhlasan dan ketaatan beliau kepada Allah, Tuhan semesta alam. Saat itu juga ayah, ibu dan istrinya memeluk Islam.

Setelah merasa puas karena seisi rumahnya telah masuk Islam, ia beralih mengajak kerabat dan kaumnya untuk masuk Islam. Ternyata tidak seorangpun dari mereka yang masuk Islam, kecuali Abu Hurairah.

Kaumnya menghinanya dan menjauh darinya. Akhirnya ia tidak sabar lagi menghadapi mereka. Ia mengendarai kudanya, menempuh perjalanan jauh untuk bertemu Rasulullah dan mengadukan permasalahanya, sekaligus meminta bekal dari ajarannya.

Setibanya di Mekah, ia bergegas menuju rumah Rasulullah. Ia berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, aku tidak mampu menghadapi perzinahan dan riba yang merajalela di desa Daus. Maka, mohonkanlah pada Allah agar Ia menghancurkan Daus.”

Thufai sangat terkejut ketika dilihatnya Rasulullah menegadahkan kedua tangannya ke langit dan berdoa, “Ya Allah, tujukilah orang-orang Daus, dan datangkanlah mereka ke sini sebagai orang-orang Islam.” 

Rasulullah menoleh kepada Thufail dan berkata, “kembalilah kepada kaummu. Ajaklah mereka dan bersikap lembutlah kepada mereka.”

Peristiwa ini benar-benar mempesona Thufail. Jiwanya penuh kedamaian. Ia tidak habis-habisnya memuji Allah yang telah menjadikan Rasulullah yang penyayang ini menjadi guru dan membimbingnya.

Dengan semangat ia kembali kepada kaumnya. Disana, ia terus mengajak mereka kepada Islam dengan penuh kehati-hatian dan lemah lembut seperti Rasulullah.

Selama masa yang dilaluinya di tengah-tengah kaumnya, di sisi lain Rasulullah telah berhijrah ke Madinah, telah melewati Perang Badar, Uhud dan Khandaq.

Ketika Rasulullah sedang berada di Khaibar, usai membebaskan daerah itu dari tangan orang-orang Yahudi, ada rombongan besar yang terdiri dari delapan puluh keluarga Daus datang menghadap Rasulullah sambil membaca tahlil dan takbir. Mereka duduk di hadapan Rasulullah berjanji setia (berbaiat) kepada Rasulullah secara bergantian.

Allah benar-benar telah memberi hidayah kepada penduduk Daus. Mereka datang sebagai orang-orang Islam, seperti yang dahulu pernah didoakan oleh Rasulullah.

***

Thufail melanjutkan perjalanan hidupnya bersama kaum muslimin yang lain. Pada peristiwa pembebasan kota Mekah, ia ikut memasuki kota Mekah bersama 10 ribu kaum muslimin lainnya, tanpa merasa sombong dan besar kepala, tetapi malah sebaliknya, menundukkan kepala dengan khusyu’ dan rasa hormat sebagai ucapan syukur kepada Allah yang telah memberikan pembebasan kota Mekah dan kemenangan besar.

***

Ketika Rasulullah wafat, Thufail melihat bahwa tanggung jawabnya sebagai Muslim tidak berhenti dengan wafatnya beliau. Ketika pertempuran dengan orang-orang murtad berkobar, Thufail menyingsing lengan bajunya, terjun mengalami pahit getirnya hal itu dengan semangat baja, mengharapkan syahid. Pertempuran demi pertempuran terus ia ikuti.

Pada pertempuran Yamamah, ia berangkat bersama kaum muslimin dengan menyertakan putranya, Amru bin Thufail. Sejak awal pertempuran, ia telah berpesan kepada putranya agar berperang dengan gagah berani.

Thufail berperang dengan gagah berani. Ia sama sekali tidak takut. Ia tidak menggunakan pedangnya untuk melindungi nyawanya. Bahkan sebaliknya, ia menjadikan nyawanya untuk melindungi pedangnya, sehingga jika ia gugur kelak, pedangnya tetap utuh dan bisa dipergunakan oleh rekan-rekannya.

Benar, dalam pertempuran itu Thufail gugur sebagai syahid. Ia roboh oleh sabetan pedang. Ia sempat melambai kepada anaknya yang samar-samar dilihatnya, seakan mengajak ikut serta.

Begitulah akhir kehidupan Thufail bin Amru Ad-Dausi. Ia menjemput mautnya dengan indah, gugur sebagai syuhada di medan perang yang membela agama Allah.











Bagikan:

Sa’id bin ‘Amir “Pemilik Kebesaran di Balik Kesederhanaan”

Adakah yang mengenal namanya? Siapakah di antara kita yang pernah mendengarnya sebelum ini?

Bisa jadi, kebanyakan dari kita belum pernah mendengarnya sama sekali. Maka sebentar lagi kita akan mengetahui siapakah Sa’id bin ‘Amir.

Sa’id adalah satu dari deretan sahabat Rasulullah yang ditokohkan, meskipun namanya tidak seterkenal sabahat yang lain. Ia merupakan teladan dalam ketakwaan yang tidak mau menonjolkan diri. Ia tidak pernah absen dalam semua perjuangan dan jihad yang dihadapi Rasulullah Saw.

Sa’id memeluk Islam tidak lama sebelum pembebasan Khaibar. Dan setelah ia memeluk Islam, seluruh kehidupannya ia baktikan untuk Islam. Ketaatan, kezuhudan, keshalihan, keluhuran dan semua sifat baik ada pada dirinya.

Ketika mata kita tertuju kepada Sa’id di tengah keramaian, kita tidak akan mendapati sesuatu yang menarik. Mata kita hanya akan mendapati seorang prajurit lusuh dengan rambut tidak terurus. Pakaian dan penampilannya tidak beda dengan orang-orang miskin lainnya. 

Jika ini yang kita jadikan pedoman, tentu kita tidak akan mendapati sesuatu. Kebesaran laki-laki ini lebih sejati dibandingkan hanya berupa penampilan luar dan kemewahan, tersembunyi di balik kesederhanaan dan kesahajaannya.

Suatu ketika khalifah Umar bin Khattab memecat Mu’awiyah dari jabatanya sebagai gubernur wilayah Syam dan mencari-cari penggantinya. Umar menunjuk Sa’id untuk menjadi gubernur Syam tetapi Sa’id menolak. 

Namun dengan tegas khalifah Umar menjawab, “Demi Allah, kau tidak boleh menolak. Kalian sudah meletakkan amanah dan tanggungjawab pemerintahan kepadaku, lalu apakah setelah itu kalian meninggalkanku sendiri?”. Akhirnya Sa’id menerima tanggungjawab untuk menjadi gubernur Syam.

Maka berangkatlah Sa’id dengan ditemani istrinya. Istrinya adalah wanita yang amat cantik. Mereka dibekali harta yang cukup oleh khalifah Umar. 

Suatu hari istrinya bermaksud untuk menggunakan harta yang diberikan khalifah Umar untuk membeli pakaian yang layak dan perlengkapan rumah tangga, lalu menyimpan sisanya. 

Sa’id berkata, “maukah kamu aku tunjukkan yang lebih baik dari rencanamu itu? kita sekarang berada di suatu negeri yang amat pesat perdaganganya, pasar sangat ramai. Harta ini lebih baik kita serahkan kepada seseorang untuk dijadikan modal dagang sehingga harta kita akan berkembang.” 

Dan akhirnya istrinya pun menyetujui. Hari-hari pun berlalu. Dari waktu ke waktu sang istri menanyakan perdagangan mereka dan sudah berapa keuntungannya. Sa’id menjawab, “bisnisnya lancar dan keuntungan terus meningkat.” 

Suatu hari sang istri mengajukan pertanyaan serupa di hadapan seorang kerabat yang mengetahui permasalahan sebenarnya. Laki-laki itu tersenyum lalu tertawa, sehingga sang istri pun curiga. 

Ia mendesak Sa’id untuk menceritakan yang sebenarnya. Sa’id berkata, “semua harta kita aku sedekahkan.”

Wanita itupun menangis. Ia menyesal karena tidak jadi membeli keperluannya dan harta itupun tak tersisa. Sa’id memandang istrinya yang sedang menangis. Tetes air mata yang membasahi pipi, menambah kecantikan wajah sang istri. Sebelum ia terlena oleh kecantikan istrinya yang mempesona, ia mengalihkan pandangannya ke surga. 

Ia berkata, “rekan-rekanku telah mendahuluiku menemui Allah. Aku tidak ingin menyimpang dari jalan mereka, walau ditukar dengan dunia dan segala isinya.” 

Dia berkata pada istrinya, “Kau tahu bahwa di surga terdapat bidadari-bidadari cantik yang bermata jeli. Andai saja satu dari mereka menampakkan wajahnya di muka bumi, maka akan terang benderang seluruh bumi. Cahayanya mengalahkan sinar matahari dan bulan. Mengorbankan dirimu demi untuk mendapatkan mereka tentu lebih utama daripada mengorbankan mereka demi untuk menuruti kemauanmu.”

Pembicaraan itupun berhenti dengan tenang, penuh senyum dan kerelaan. Sang istri sadar bahwa tiada yang lebih utama baginya kecuali mengikuti jalan yang ditempuh suaminya: zuhud dan ketakwaan.

***

Di bawah kepemimpinan Sa’id –dengan izin Allah- rakyatnya taat dan patuh. Meskipun demikian, adanya keluhan di masyarakat tidak bisa dihindari. 

Suatu ketika khalifah Umar berkunjung kesana, ia bertanya kepada warga bagaimana pendapat mereka tentang Sa’id. Beberapa orang mengemukaan beberapa keluhan. Rupanya keluhan itu berbalik menjadi sisi positif Sa’id. Ada sisi keagungan yang terungkap, SubhanAllah.

Maka seseorang mewakili dan menyampaikan keluhan mereka, “kami mengeluhkan empat perkara. Pertama, ia baru keluar menemui rakyatnya setelah hari sudah siang. Kedua, ia tidak melayani seorangpun di malam hari. Ketiga, setiap bulan ada dua hari dimana ia tidak melayani rakyatnya, dan kami tidak melihatnya sama sekali. Dan yang keempat, ini sebetulnya bukan kesalahannya tapi mengganggu kami, yaitu sewaktu-waktu ia jatuh pingsan.”

Khalifah Umar menunduk sebentar dan berbisik memohon kepada Allah, “Ya Allah, aku tahu bahwa ia adalah hamba-Mu yang terbaik, maka jangan Engkau belokkan firasatku.”

Lalu Sa’id dipersilakan untuk membela dirinya. Ia berkata, ”Mengenai keluhan mereka bahwa aku tidak keluar menemui mereka kecuali hari sudah siang, demi Allah, sebetulnya aku tidak ingin menyebutkannya. Kami tidak punya pembantu, maka akulah yang membuat roti, dari mengaduk tepung hingga roti itu siap dimakan. Setelah itu aku berwudhu dan shalat dhuha. Setelah itu aku keluar menemui mereka.”

Wajah khalifah Umar berseri-seri dan ia mengucapkan, “Alhamdulillah. Lalu yang kedua?”

Sa’id melanjutkan pembicaraannya, “Adapun yang keluhan mereka bahwa aku tidak melayani mereka di malam hari, maka demi Allah aku benci menyebutkan sebabya. Aku telah menyediakan siang hari untuk mereka, sedangkan malam hari untuk Allah.”

“Mengenai keluhan mereka bahwa dua hari setiap bulan dimana aku tidak menemui mereka, sebabnya adalah aku tidak mempunyai pembantu yang mencucikan pakaianku, dan pakaianku tidak banyak. Aku tidak bisa berganti pakaian dengan leluasa. Aku mencucinya lalu menunggu sampai kering, hingga baru bisa keluar menemui mereka di sore hari.”

“Tentang keluhan mereka bahwa aku sering jatuh pingsan, sebabnya adalah ketika di Mekah dulu, aku melihat langsung bagaimana Khubaib al-Anshari tewas. Tubuhnya disayat-sayat. Orang-orang kafir Quraisy itu bertanya, ‘maukah engkau jika Muhammad menggantikanmu, dan kamu bebas?’ Khubaib menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak ingin berada di rumah bersama anak dan istriku menikmati kesehatan dan kelezatan hidup sementara Rasulullah terkena musibah walau hanya tertusuk duri.’

Saat itu aku masih kafir. Aku menyaksikan dengan mata kepala, dan aku tidakbergerak sedikitpun utuk menolong Khubaib. Karena itu aku sangat takut akan siksa Allah kelak, hingga aku jatuh pingsan.”

Selesai sudah pembelaan Sa’id. Kedua pipinya basah oleh air matanya. Khalifah Umar tidak bisa menahan harunya. Ia berseru dengan gembira, ”Alhamdulillah, firasatku tidak meleset.” Lalu ia merangkul Sa’id dan mencium keningnya yang bercahaya.

***

Dan pada tahun 20 Hijriah, Sa’id menghadap Tuhannya dengan lembaran yang paling bersih, dengan hati yang paling suci dan dengan kehidupan yang paling cemerlang.

Telah lama rindunya terpendam untuk menyusul rekannya. Ia hanya membawa keshalihan, kezuhudan, ketakwaan dan akhlak mulia. Ia hanya membawa keutamaan-keutamaan yang memberatkan timbangan kebaikannya.











Bagikan:

Anas Bin Malik “Perawi Hadits”


Hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah, membuat orang-orang di Madinah berbahagia. Ketika itu, semua orang di Madinah lantas berlomba-lomba memberikan 
hadiah terbaik mereka kepada Rasulullah yang mulia. 

Di sisi lain, seorang wanita miskin dengan menggendong anaknya yang masih kecil juga tidak mau ketinggalan untuk melihat datangnya manusia paling mulia. Wanita tersebut tidak memiliki apa-apa untuk dihadiahkan pada Rasulullah.

Beberapa lama Rasul tinggal di Madinah, datanglah wanita tersebut bernama Ummu Sulaim dan anaknya yang masih kecil berumur 10 tahun bernama Anas bin Malik.

Ummu Sulaim berkata: “Wahai Rasul, tidak satu pun seorang laki-laki dan perempuan dari Anshar ini, kecuali telah memberi hadiah kepadamu, dan sesungguhnya Aku tidak memiliki apa yang dapat aku berikan kepadamu kecuali anakku ini…. maka ambillah anak ini agar dia dapat membantumu kapan Anda mau.”

Tergugahlah hati Rasul untuk menerimanya, beliau mengusap kepalan Anas bin Malik. Seketika itulah Rasulullah SAW memanjatkan doa-doa untukku, hingga tak tersisa satu pun dari kebikan dunia dan akhirat melainkan beliau doakan bagiku. ‘Ya Allah, karuniailah ia harta dan anak keturunan, serta berkahilah keduanya baginya,’ kata Rasulullah SAW dalam doanya.

Berkat doa inilah, aku menjadi orang Anshar yang paling banyak hartanya,” kata Anas. Anas sangat bahagia dapat menjadi pembantu Rasul, dan hidup terus bersama Rasulullah sampai Rasul kembali kepada Allah. Semasa hidupnya menjadi pembantu Rasul selama sepuluh tahun. 

Kondisi ini sangat dimanfaatkan oleh Anas untuk menimba langsung hidayah dari Rasul, memahami semua sabdanya, mengetahui sifat-sifatnya dan keutamaannya yang tidak dapat diketahui oleh selainnya.

Anas berkata: “Rasulullah SAW adalah orang yang paling baik akhlaqnya, lapang dadanya, dan banyak kasih sayangnya. 

Suatu saat beliau menyuruhku untuk suatu keperluan, ketika aku berangkat aku tidak menuju ke tempat yang Rasul inginkan, namun aku pergi ke tempat anak-anak yang sedang bermain di pasar ikut bermain bersama mereka. 

Ketika aku telah bersama mereka aku merasa ada seseorang berdiri di belakangku dan menarik bajuku, maka aku menoleh, ternyata dia adalah Rasulullah dengan senyum beliau menegurku: “Ya Unais (panggilan kesayangan) apakah kamu sudah pergi ke tempat yang aku perintahkan?” 

Aku gugup menjawabnya: “Ya, ya Rasul, sekarang aku akan berangkat.” Demi Allah aku telah menjadi pembantunya sepuluh tahun, tidak pernah aku mendengar ia menegurku.

Rasulullah SAW jika memanggilnya selalu memanggilnya dengan panggilan rasa sayang dan memanjakan yaitu dengan memanggilnya dengan kata Unais atau ya bunayya. Begitu juga Rasulullah banyak menasihatinya sampai memenuhi hati dan otaknya. 

Di antara nasihat-nasihatnya adalah “Ya bunayya jika engkau mampu setiap pagi dan sore hatimu bersih dari perasaan dengki kepada orang lain maka lakukanlah.”

“Ya bunayya sesungguhnya hal itu adalah sunnahku, barang siapa menghidupkan sunnahku maka mencintaiku, barangsiapa mencintaiku akan bersamaku di surga.”

“Ya bunayya jika engkau menemui keluargamu maka berilah salam niscaya akan menjadi keberkahan bagimu dan bagi keluargamu.”

Anas sepanjang hidupnya selalu mengenang kehidupan Rasulullah. Anas selalu riang setiap kali bertemu dengan Rasulullah, sangat sedih di saat perpisahan, banyak mengulang-ulang sabdanya, sangat perhatian mengikuti perkataan-perkataannya dan perbuatan-perbuatannya, menyenangi apa yang disenangi dan membenci apa yang dibenci. 

Hari yang paling berkesan baginya karena dua peristiwa: Hari yang pertama ia bertemu dengan Rasulullah dan hari saat berpisah dengan Beliau. Apabila terkenang hari yang pertama beliau berbahagia, dan apabila terkenang hari yang kedua terharu yang membuat orang-orang di sekelilingnya ikut menangis. 

Beliau sering berkata: “Sungguh saya melihat Nabi SAW pada hari pertama bersama kita, dan hari pada saat wafatnya, maka tidaklah aku melihat dua hari itu ada kemiripan. Maka pada hari saat masuk ke Madinah menyinari segala sesuatu. Dan pada hari hampir wafatnya, jadilah Madinah kota yang gelap.

Anas, sahabat yang sangat mengharapkan syafaat Rasulullah SAW pada hari kiamat, sering sekali ia mengatakan:“Aku berharap dapat bertemu Rasulullah pada hari kiamat dan mengatakan kepada Rasulullah SAW, ya Rasul inilah saya yang dulu menjadi pembantumu.”

Pada hari-hari terakhir masa kehidupannya, Anas pindah ke Basrah. Itulah sebabnya para Ulama mengatakan bahawa Anas bin Malik adalah sahabat terakhir yang meninggal di Basrah. Saat Anas wafat, Muwarriq berkata: “ Telah hilang separuh ilmu.

Jika ada orang suka memperturutkan kesenangannya bila berselisih dengan kami, kami berkata kepadanya, marilah menghadap kepada orang yang pernah mendengar dari Rasulullah SAW”.

Ketika Anas sakit menjelang kematiannya, dia berkata kepada keluarganya: “Tuntunlah aku untuk membaca laailaaha Illallah.” Begitulah ia mengulang-ulangnya sampai datang ajalnya. Beliau pernah berwasiat agar tongkat kecil milik Rasul dikuburkan bersamanya, maka diletakkanlah di antara lambungnya.

Anas merupakan salah satu periwayat hadits sanad paling sahih dan paling banyak, yang bersumber awalnya dari : Malik, dari az-Zuhri, dan dia (Anas bin Malik). Ia wafat pada tahun 93 H dalam usia melampaui seratus tahun.

Allahu a'lam...











Bagikan:

Makna yang Terkandung dalam Kalimat Laa Ilaha Illallah (2)

Melanjutkan materi sebelumnya yaitu pesan-pesan atau makna yang ada dalam kalimat syahadat kita, “La ilaha illallah” atau yang artinya Tiada tuhan selain Allah.

Sekurang-kurangnya masih ada 6 makna lagi yang terkandung dalam kalimat La ilaha illallah. Makna-maknanya adalah sebagai berikut:

10. La Nafia’a Dharra Illallah (Tidak Ada Yang Memberi Manfaat atau Madharat Kecuali Allah)

Ini adalah cerita sahabat Abdullah bin Abbas yang diriwayatkan oleh Tirmidzi. Silahkahkan dibaca. Suatu hari saya pernah dibonceng oleh Rasullah saw, naik unta. Kemudian beliau bersabda. “Hai anak muda, aku akan ajarkan engkau beberapa kalimat. Jagalah (agama) Allah, niscaya Allah bersamamu. Jika engkau minta, mintalah kepada Allah. Jika engkau minta, mintalah kepada Allah. Jika engkau minta tolong, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya jika umat manusia manusia bersatu untuk memberikan manfaat kepadamu dengan sesuatu maka tiadalah mereka dapat melakukanya kecuali dengan sesuatu maka tidaklah mereka dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu. Dan jika mereka berkumpul untuk memberikan madharat kepadamu, mereka tidak akan bisa memberikan madharat kepadamu, mereka tidak akan bisa memberikan madharat itu, kecuali yang telah ditetapkan Allah kepadamu. Pena telah diangkat dan lembarannya telah kering.”

Dari hadist tadi jelas bahwa segala sesuatu itu sangat tergantung dari kehendak Allah. Jika ada sekelompok orang yang ingin mecelakakan kita tapi Allah tidak berkendak memberikan kecelakaan buat kita, pasti niat mereka tidak akan terlaksana. 

Sebaliknya juga begitu, Jika ada orang yang ingin memberikan manfaat untuk kita, apa itu bantuan keuangan, bantuan sosial dan yang lainnya, kalau Allah tidak menghendaki itu semua, pasti niat baik ini tidak terlaksana, jadi, yang dapat memberi manfaat maupun madharat atau keburukan itu hanyalah Allah. Tidak ada satu mahluk pun yang punya kekuatan untuk mengahalangi kehendak Allah. 

Seorang muslim akan memiiiki sikap tenang dengan ketetapan Allah. Itulah kenapa tugas seorang muslim cuma 3 yaitu ikhtiar (usaha), doa, dan selanjutnya kalau sudah kejadian bertawakkal alias bersarah diri pada ketentuan Allah. 

Misalnya, kalau kalian sedang ujian, tugas kalian yaitu belajar yang giat dan doa. Apa pun hasilnya nanti, kalian harus menerimanya dengan ikhlas. Jika nilainya memuaskan maka harus bersyukur dengan mengucapkan alhamdulillah lalu meningkatkan ibadah, sedangkan jika nilainya kurang memuaskan maka beristighfar dan bersabar. 

Bisa jadi saat itu Allah ingin melihat seberapa ikhlas kamu dengan ketetapan yang Allah berikan. Tentu saja hal ini menjadi bahan intropeksi alias evaluasi bagi kita untuk meningkatkan belajar dan coba lagi, biar selanjutnya Allah memberi nilai yang memuaskan. Begitu.

Jadi, Laa Ilaha Illalah mengandung makna bahwa tidak ada yang bisa memberi manfaat maupun madharat kecuali Allah.

11. La Muhyiya Wala Mumita Illallah (Tidak Ada yang Dapat Menghidupkan dan Mematikan Kecuali Allah)

Tidak orang yang mengaku mampu menghidupkan dan mematikan seseorang. Namun Sadar atau tidak sadar, masih banyak orang yang meyakini ada yang bisa meghidupkan dan mematikan seseorang selain Allah. Kita sering mendengar komentator seperti ini, “ Orang hidup butuh uang. Jika tidak ada uang mau makan apa dia? Bisa mati kelaparan!” 

Atau komentar seperti ini, “Hei, jangan duduk-duduk dibawah pohon besar itu, berbahaya! Kalau salah ngomong dikit saja, bisa-bisa enggak menghirup udara lagi kamu!”

Komentar-komentar semacam itu menunjukkan bahwa mereka itu meyakini jika ada yang berkuasa menghidupkan dan mematikan seseorang selain Allah. Orang pertama meyakini kalau uanglah yang dapat menghidupkan dan mematikan seseorang, sedangkan orang yang kedua meyakini kalau jin di pohon besar berkuasa untuk mematikan seseorang.

Kita mungkin dapat mengingat pesan Nabi saw, kepada Ibnu Abbas. Jika Allah hendak menimpakan kemudharatan kepada seseorang, walaupun seluruh makhluk berkumpul untuk mencegahnya, pasti tidak ada yang dapat mencegah kehendak Allah. Sebaliknya, jika Allah menghendaki kebaikan, walaupun seluruh mahluk berhimpun untuk mecelakakan kita, pasti tidak ada yang dapat melakukan itu.

Contohnya, saat kalian dihadang perampok. Jika Allah menghendaki kamu masih hidup, pasti ada saja skenario Allah yang membuat kamu hidup. Misalnya, kalian bisa mengalahkan para perampok itu, atau tiba-tiba ada polisi datang dan kamu selamat. Tapi, jika Allah menghendaki kamu meninggal besok pagi, walaupun sekarang kamu segar-bugar sampai nanti malam, pasti besok pagi kamu bakalan dijemput sama malaikat maut.

Kita mungkin pernah mendengar kisah di zaman Nabi Sulaiman?. Pada suatu hari, malaikat maut datang kepada Nabi Sulaiman untuk menyampaikan bahwa salah satu pejabat kerajaannya sesaat lagi akan meninggal di tempat yang jauh sekali dari Palestina. 

Saat itu, pejabat yang dimaksudkan ada di ruangan tersebut dan malaikat maut masih bingung. Karena orang tersebut masih berada di kerajaan tersebut mesti ditempuh dengan perjalanan berhari-hari.

Setelah malaikat maut pamit, sang pejabat menghadap Nabi Sulaiman dan bertanya, “Wahai Nabiyullah, siapakah orang yang baru saja datang? Kenapa dia melihatku dengat tatapan yang sanagat aneh?” Nabi Sulaiman kemudian menjawab, “ketahulah, sesungguhnya dia adalah malaikat maut yang sebentar lagi hendak mencabut nyawamu”.

Mendengar jawaban itu, gemetarlah sekujur tubuh sang pejabat. Dengan serta merta, sang pejabat memohon kepada Nabi Sulaiman untuk membawanya pergi jauh dari negeri Palestina

“Wahai Nabiyullah, aku mohon, bawa aku pergi jauh dari negeri ini. Aku belum siap untuk menghadap Allah sekarang”

Karena dibujuk terus oleh sang pejabat, akhirnya Nabi Sulaiman memerintahkan prajuritnya (yang berupa angin) untuk membawa sang pejabat pergi. Dengan sekali hembusan, akhirnya sang pejabat tiba di tempat yang jauh dari negeri Palestina. 

Tapi apa yang terjadi? Ternyata disana sudah menunggu malaikat maut yang siap mencabut nyawa sang pejabat tersebut akhirnya, berakhirlah usia sang pejabat itu di tempat yang tidak seorang pun menduganya. 

Pertanyaan sang malaikat pun terjawab sudah. Sang pejabat yang inginnya menghindari maut, ternyata malah mendatangi maut.

Nah, dengan kisah ini kalian sudah faham kan bahwa menghidupkan dan mematikan itu mutlak kekuasaan Allah, tidak ada satu mahluk yang bisa mematikan apalagi menghidupkan. 

Kalau ada Sun Go Kong dan Dragon Ball yang bisa menghidupkan manusia. Ah itu kan Cuma di film. Mau-maunya kamu dibohongin. He..he.. Peace

12. La Mujiba Illalah (Tidak Ada Yang Dapat Mengabulkan Permohonan Kecuali Allah)

Sudah menjadi fitrah jika manusia itu membutuhkan orang lain. Mengapa seperti itu? Karena tidak ada manusia yang sempurna. Sehingga, manusia satu dengan yang lainnya itu saling membutuhkan.

Dengan keterbatasan itu maka wajar kalau manusia saling membutuhkan satu dengan yang lainnya atau pertolongan untuk menyelesaikan apa yang tidak dapat diselesaikan orang lain. Tapi tentu saja perlu diingat, bahwa pertolong dalam hal ini adalah terkait dengan hal-hal yang bersifat positif.

Namun terlalu sering meminta pertolongan kepada manusia juga ada kekurangannya. Sangat mungkin terjadi orang yang kita mintai tolong mengalami kebosanan. 

Mari kita pikirkan seandainya ada orang yang selalu meminta tolong kepada kita. Apa reaksi kita? Mungkin yang akan terucap adalah “Huh, dikit-dikit minta tolong, dikit-dikit minta tolong, emangnya gue apaan?”.

Ada satu hal yang harus kita ketahui apabila kita mencari pertolongan. Bahwa setiap manusia pasti cenderung memiliki kebosanan jika dimintai pertolongan secara terus menerus tetapi tidak dengan Allah karena Allah justru sebaliknya.

Allah akan semakin senang jika manusia diminta tolong secara terus-menerus, karena artinya, manusia itu benar-benar menggantungkan hidupnya kepada Allah.

Itulah kenapa ada yang namanya doa, dan doa dalam Islam memiliki kedudukan yang tinggi. Dalam surah Al-Baqarah ayat 186 Allah swt berfirman, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Doa juga menunjukkan bahwa manusia itu benar-benar butuh Allah dan meyakini kalau hanya Allah-lah yang bisa mengabulkan permohonannya. Jika sudah seperti itu, bagaimana Allah tidak senang? Lagi pula, Allah adalah tempat sangat tepat jika dimintai bantuan. Allah jika melihat manusia berdoa itu pasti senang. 

Oleh karena itu, Dia hanya akan memberi kebaikan untuk orang yang berdoa. Dan, kita harus ketahui bahwa tidak setiap yang kita anggap buruk itu buruk di mata Allah. Jadi, kita harus yakin, jika kita sudah berdoa, maka hal selanjutnya yang kita lakukan adalah tawakal kepada Allah. Yakinlah, pasti yang terbaik yang diberikan Allah pada kita.

13. La Mustajara Bihi Illallah (Tidak Ada yang Dapat Dimintai Perlindungan Kecuali Allah)

Dengan semangat membara, pemuda Quraisy it melaju kencang di atas kudanya. Dialah Suraqah, pemuda yang berambisi untuk mendapatkan 100 unta dari pemuka kafir quraisy. Tujuannya saat itu hanya satu: menangkap Nabi Muhammad dan Abu Bakar. 

Namun ketika sampai di dekat Rasulullah kudanya tersungkur dan diapun jatuh terpelanting. Kemudian dia bangun dan mengejar kembali. Berkali-kali Abu Bakar menoleh ke belakang sedangkan Rasullah berjalan terus dengan tenang. Tiba-tiba Suraqah terjatuh untuk yang kedua kalinya. Ia bangun lagi dari punggung kudanya dan jatuh terpelating. Ia bangun lagi dan berlumuran tanah kemudian berteriak memanggil-manggil minta diselamatkan.

Saat Rasullah dan Abu Bakar menghampirinya, ia minta maaf dan memohon agar dimaafkan. Ia menawarkan bekal perjalanan, namun Nabi menolaknya dan hanya meminta agar Suraqah tidak menyebarkan informasi jalur yang dilewati Rasulullah. Sejak saat itu, setiap kali bertemu dengan orang-orang yang ingin membunuh Nabi saw, dia selalu menyarankan untuk kembali saja.

Dari kisah diatas, kita semua jadi tahu bahwa Allah yang berkuasa melindungi hamba-Nya, ketika Allah berkehendak menyelamatkan hamba-Nya, tidak ada satu pun mahluk yang bisa mencelakakannya. 

Kalau kita kenang kisah hijrah Rasulullah (yang salah satunya adalah kisah di atas), akan kita jumpai kisah perjalanan yang penuh dengan keajaiban. Mulai dari lolosnya Nabi saw dari kepungan kafir Quraisy di rumahnya. Selamatnya Ali bin Abi Thalib saat menggantikan Rasullah di tempat tidurnya, peristiwa di Gua Tsur, dan juga kisah di atas sekali lagi, ini jadi bukti kalau tempat yang paling tepat adalah berlindung hanyalah Allah SWT. 

Tidak ada yang lain! Kalau ada yang mencari perlindungan pada jin, itu hanya akan menambah dosa dan peluang masuk neraka saja!

Tinggalkanlah para-tidak-normal, dukun, jampi-jampi, jimat, dan berbagai macam benda pelindung dari setan. Beralihlah kepada perlindungan yang sejati, Allah Swt.

14. La Wakila Illallah (Tidak ada Tempat Untuk Berserah Diri Kecuali Kepada Allah)

Syahadatain juga bermakna la wakila illallah, artinya tidak ada tempat untuk bertawakal selain kepada Allah swt. Apa itu tawakal?. Tawakal adalah berserah diri kepada Allah setelah kita melakukan ikhtiar atau usaha. 

Jadi, jika kita sudah berusaha dengan belajar mati-matian, kemudian sudah berdoa meminta kebaikan kepada Allah, langkah selanjutnya adalah bertawakal. Kita serahkan semua urusan kepada Allah. Kita tunggu hasil dari apa yang telah kita amalkan. Dari apa pun yang bakalan Allah berikan, kita terima dengan lapang dada. 

Jika ternyata hasil belajar kita mendapat nilai B. Maka kita harus menerima itu dengan lapang dada. Jika hasilnya A, kita juga harus menerimanya. Begitu juga jika ternyata nilainya C, kita mesti legowo. Sering kita menganggap kalau hasil yang jelek dari usaha kita itu pasti buruk. Padahal belum tentu. Bahkan bisa jadi hasil yang buruk itu justru yang baik bagi kita, karena mungkin bisa menimbulkan efek alias akibat yang baik untuk masa yang akan datang.

Allah swt, berfirman pada surat Al-Baqarah ayat ke 216, “Kamu diwajibkan berperang (untuk menentang pencerobohan), sedang peperangan itu ialah perkara yang kamu benci dan boleh jadi kamu benci kepada sesuatu padahal ia baik bagi kamu, dan boleh jadi kamu suka kepada sesuatu padahal ia buruk bagi kamu. Dan (ingatlah), Allah jualah Yang Mengetahui (semuanya itu), sedang kamu tidak mengetahuinya” (Al-Baqarah: 216)

Setelah sekian lama Nabi saw, di madinah, beliau ingin menunaikan umrah ke Baitullah. Agar diketahui kalau tujuan Nabi saw, ke Mekah bukan untuk berperang, Nabi membawa binatang-binatang kurban. Sampai di daerah Hudaibiyah, ternyata orag-orang Quraisy sudah mengerahkan bala tentaranya untuk menyerang kaum muslimin. Ketika utusan quraisy datang menghadap Nabi saw. 

Rasulllah bersabda, “Kami datang hanya menunaikan umrah. Sekalipun orang-orang Quraisy telah memutuskan berperang, tetapi jika mereka suka, aku minta untuk menagguhinya (menunda). Jika mereka enggan, demi Allah, aku siap memerangi mereka sampai orang-orang di belakangku tinggal sendirian. Dan Allah pasti akan meyelesaikan urusan-Nya.”

Mendengar pernyataan Nabi saw, utusan itu pun meyampaikan kepada para pemimpin mereka. Akhirnya terjadilah perjanjian yang dikenal dengan nama Perjanjian Hudaibiyah. Dalam perjanjian itu, ada butir perjanjian yang dirasa tidak adil terhadap kaum muslimin. 

Salah satu butir perjanjian itu menyebutkan kalau ada orang muslimin di mekah yang lari atau meninggalkan Mekah menuju Madinah maka kaum muslimin harus mengembalikan orang tersebut ke Mekah. Sedangkan jika ada orang kafir yang lari dari Madinah menuju Mekah, orang-orang Quraisy tidak wajib mengembalikannya. 

Kaum muslimin yang mendengar perjanjian itu merasa tidak puas, termasuk Umar bin Khatab. Bahkan, ia sampai gusar dan menghadap Rasullah. Namun ternyata, dengan adanya Perjanjian Hudaibiyah tersebut, Allah kemudian memberikan kemenangan yang gemilang dengan peristiwa Fathu Makkah.

Nah, dari peristiwa ini, kita bisa mengambil ibrah alias pelajarannya bahwa tidak setiap yang kita anggap buruk itu buruk di mata Allah. Ataupun sebaliknya. Lagi juga, Allah tidak menilai seseorang itu dari hasil usahanya kok, tetapi yang Allah lihat adalah amal usaha kita. 

Itulah kenapa ada yang bilang juga kalau sukses itu sama dengan proses. Selama proses tetap kita jalani, berarti kita terus menuju puncak kesuksesan. Allah berfirman, ”Berusahalah maka Allah akan melihat usahamu. Begitu juga denga Rasul dan orang-orang yang beriman.”

15. La Musta’ana Bihi Illallah (Tidak Ada Yang Dapat Dimintai Pertolongan Kecuali Allah)

Karena Allah Maha Kuat, Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha segalanya maka sangat  pantas jika kita hanya meminta pertolongan pada Allah saja. La musta’ana bihi illallah. Tidak ada yang dapat dimintai pertolongan selain Allah.

Gimana kita mau minta pertolongan kepada mahluk kalau sama-sama memiliki keterbatasan? Boleh saja sih minta pertolongan orang lain utnuk membantu kita. Tetapi jika sampai menggantungkan segalanya pada mahluk, sampai dia menganggap hanya makhluk itulah yang bisa memberinya pertolongan. Sikap ini jelas menyimpang dari syahadat.

Masih banyak orang yang minta pertolongan jin untuk mengatasi masalahnya. Coba saja lihat tempat-tempat yang dianggap keramat. Bahkan, ziarah-ziarah yang disitu bukannya mendoakan malah meminta berkah sama kuburan. Jelas itu sudah sebuah kesalahan, bahkan masuk ke dalam perbuatan syirik. 

Soalnya, saya pernah lihat juga, orang-orang yang ziarah ke makam para wali mash banyak yang malah kesana untuk mengambil tanahlah, batulah, atau benda apa saja yang ada di kuburan. Lalu benda-benda itu dibawa pulang yang nantinya digunakan sebagai jimat. 

Islam tidak melarang ziarah kubur. Justru islam menganjurkan untuk ziarah kubur. Tapi, tujuannya bukan untuk mencari berkah, melainkan mendoakan si mayit dan mengingat mati atau dzikrul maut. Jika kita dapat mengingat mati saat ziarah kubur, insya Allah pahala kebaikan akan mengalir ke kita.

Di dalam shalat kita selalu mengucapkan, “Hanya kepada Mulah kami menyembah dan hanya kepadaMu-lah kami memohon pertolongan" (Al-Fatihah: 5).

Jadi mintalah pertolongan kepada Allah, niscaya Dia akan memeberikan pertolongan-Nya. Semua itu adalah makna sekaligus contoh sikap dala kehidupan sehari-hari. 

Jadi, ternyata syahadat yang kita ucapkan itu memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan kita sebagai muslim. Ternyata banyak arti yang harus kita amalkan. Dengan memahami makna syahadat dan mengamalkannya, Tauhid kita akan semakin baik. Dan tentu saja, Allah akan lebih mencintai kita apabila kita berusaha mencintai dan mendekat kepada-Nya.

Allahu a'lam...









Bagikan: