"Menyebarluaskan Pengetahuan..."

PENDIDIKAN

Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema pendidikan. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

KELUARGA

Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema keluarga. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

PEMUDA

Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema pemuda. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

KEPEMIMPINAN

Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema kepemimpinan. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

PRIBADI ISLAMI

Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema pribadi Islami. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

PRAMUKA

Berbagai unggahan GiatEdukasi.com dengan tema Pramuka. Silakan kunjungi dan simak setiap video kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

VIDEO

Berbagai unggahan GiatEdukasi.com dalam bentuk video. Silakan kunjungi dan simak setiap video kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

Makna Asmaul Husna: Al Ghafur


Dari Abu Sa'id (Sa'ad bin Malik bin Sinan) al-Khudry berkata: Rasulullah saw 
bersabda, "Pernah terjadi pada umat terdahulu seseorang yang telah membunuh 99 jiwa kemudian ingin bertaubat maka ia pun mencari seorang alim lalu ditunjukkan kepadanya seorang pendeta maka ia pun bertanya, "Sesungguhnya saya telah membunuh 99 jiwa apakah ada jalan bagiku untuk bertaubat?" 

Jawab pendeta, "Tidak ada" Seketika pendeta itupun dibunuhnya sehingga genaplah 100 orang yang telah dibunuhnya.

Kemudian ia mencari orang alim lainnya dan ketika telah ditunjukkan ia pun menerangkan bahwa ia telah membunuh 100 orang apakah ada jalan untuk bertaubat? 

Jawab si alim, "Ya, ada dan siapakah yang dapat menghalangimu untuk bertaubat? Pergilah ke dusun itu karena di sana banyak orang-orang yang taat kepada Allah. Maka berbuatlah sebagaimana perbuatan mereka dan jangan kembali ke negerimu ini karena negerimu ini adalah tempat penjahat."

Maka pergilah orang itu tetapi di tengah perjalanan mendadak ia mati. Maka bertengkarlah Malaikat rahmat dengan Malaikat siksa. Malaikat rahmat berkata, "Ia telah berjalan untuk bertaubat kepada Allah dengan sepenuh hatinya."

Malaikat siksa berkata, "Ia belum pernah berbuat kebaikan sama sekali." Maka datanglah seorang Malaikat berupa manusia yang menjadi juru penengah (hakim) di antara mereka. 

Ia berkata, "Ukur saja jarak antara dusun yang ditinggalkan dan yang dituju maka kemana ia lebih dekat, masukkanlah ia kepada golongan orang sana. Maka diukurlah kedua jarak itu dan ternyata lebih dekat kepada dusun orang-orang baik yang dituju, kira-kira terpaut sejengkal. Maka dipeganglah ruhnya oleh Malaikat rahmat." (HR Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan hadits ini kita pahami bahwasanya betapa besar karunia Allah kepada HambaNya. Hal ini terbukti bahwasanya Allah memiliki Sifat Maha Pengampun sebagaimana Allah Berfirman yang artinya; 

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mu'min yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan:

"Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS At Tahriim 8)

Allah memiliki kekuasaan atas segala sesuatu, apa yang dikehendaki-Nya itulah yang terjadi. Kita sebagai manusia biasa tidak luput salah dan dosa. Walau semua telah dikehendaki sang pencipta, namun kita sebagai manusia harus senantiasa berikhtiar untuk bertaubat nasuha atas dosa-dosa yang kita lakukan. 

Taubat yang semurni-murninya. Berjanji dengan lisan dan hati tuk tidak akan mengulanginya lagi, dibuktikan dengan perbuatan, dan diikuti dengan perbuatan kebajikan lainnya, itulah makna taubat yang sebenarnya.

Sesungguhnya pembunuh tersebut bisa masuk surga karena Allah yang Maha Kuasa lagi Maha Pengampun atas segala sesuatu (tentu dengan disertai ikhtiar pembunuh tersebut dalam mencari jalan untuk bertaubat kepada Allah SWT atas dosa-dosanya). 

Sekarang kita bahas masalah “jarak”. Mengapa “jarak” yang dijadikan ukuran malaikat memasukan pembunuh tersebut ke dalam surga (tentu saja atas izin Allah). 

“Jarak” dalam hal ini menggambarkan keadaan kecenderungan niat si pembunuh tersebut untuk bertobat dan meninggalkan kemaksiatan. Seseorang yang masuk kedalam surga itu adalah orang yang “lebih berat” timbangan pahala kebaikannya daripada keburukannya. Dalam hal ini pembunuh tersebut benar-benar bersungguh-sungguh bertobat sehingga Allah angkat pembunuh tersebut ke dalam surga-Nya.

Allah SWT berfirman dalam Surat Ibrahim ayat 18, yang artinya berbunyi: “Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh” (QS Ibrahim: 18)

Dari penjelasan ayat itu kita ketahui bahwa kebaikan yang dilakukan orang kafir tidak akan berarti bagi Allah SWT atau semuanya menjadi sia-sia. Seperti abu yang ditiup angin. 

Seperti itulah amalan kebaikan orang kafir semua lenyap dan akan sia-sia. Oleh sebab itu, Nabi Ibrahim a.s. dan nabi Ya'qub a.s. berwasiat kepada anak-anaknya, wasiatnya itu bisa kita baca di Surat Al-Baqarah ayat 132, yang berbunyi: 

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam" (QS Al Baqarah 132)

Dan Allah juga berfirman dalam Surat Ali Imran ayat 102, yang berbunyi: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” (QS Ali Imran 102)

Berdasarkan penjelasan diatas maka sesungguhnya orang kafir tidak akan masuk surga sampai kemudian dirinya bertaubat dan kembali ke jalan yang benar yaitu jalan Islam. Oleh sebab itu janganlah kemudian manusia mati atau meninggal kecuali dalam keadaan muslim agar bisa masuk ke dalam surga Allah SWT.

Semoga kita semua terhindar dalam keadaan mati atau meninggal dalam kekafiran. Semoga Allah senantiasa memberika kepada diri kita untuk bisa bertaubat dalam setiap keadaan, baik dalam keadaan sempit maupun dalam keadaan lapang.

Allahu a'lam...

Bagikan:

Tawazun (Seimbang dalam Beragama)


Akar kata tawazun dari Al Waznu. 
Tawazun, berasal dari kata tawazana: seimbang. Tawazun bermakna memberi sesuatu akan haknya, tanpa ada penambahan dan pengurangan. 

Secara terminologi fardy: kemampuan seorang individu untuk menyeimbangkan kehidupanya dalam berbagai dimensi, sehingga tercipta kondisi yang stabil, sehat, aman dan nyaman.

Secara terminologi da'awy tawazun bisa diartikan bagaimana seorang aktifis dakwah bisa mengatur dirinya, menyeru dan membina orang lain untuk memenuhi aspek-aspek kebutuhannya secara seimbang.

Sebagaimana Allah telah menjadikan alam beserta isinya berada dalam sebuah keseimbangan yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu Lihat sesuatu yang tidak seimbang? (Al-Mulk: 3).

Manusia dan agama lslam kedua-duanya merupakan ciptaan Allah yang sesuai dengan fitrah Allah. Mustahil Allah menciptakan agama lslam untuk manusia yang tidak sesuai Allah.

Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,(Ar-rum: 30).

Ayat ini menjelaskan pada kita bahwa manusia itu diciptakan sesuai dengan fitrah Allah yaitu memiliki naluri beragama (agama tauhid: Al-Islam) dan Allah menghendaki manusia untuk tetap dalam fitrah itu. Kalau ada manusia yang tidak beragama tauhid, itu hanyalah karena pengaruh lingkungan (Hadits: Setiap bayi terlahir daIam keadaan fitrah (Islam) orang tuanyalah yang menjadikan ia sebagai Yahudi, Nasrani atau Majusi).

Fitrah yang sudah diberikan Allah kepada manusia itu harus didukung dengan kemampuan manusia yang seimbang, baik dari segi jasad/jasmani, aql/akal, dan arruh/ruh.

1. Al- jasad (jasmani) 
Teman-teman, jasmani atau fisik adalah amanah dari Allah yang harus kita jaga. Karena dalam menjalankan aktivitas sehari-hari seperti belajar, bermain, bekerja hingga beribadah, kita memerlukan jasmani yang baik. Sebagaimana Allah lebih suka terhadap mukmin yang kuat daripada yang lemah. Maka, jasmani pun harus dipenuhi kebutuhannya agar menjadi kuat. Diantara kebutuhan-kebutuhan jasmani adalah makanan yang halal dan thoyyib, beristirahat, berolah raga, hingga menjaga kebersihan jasmani.

2. Al-aql (akal)
Salah satu hal yang membedakan binatang dengan manusia adalah adanya akal pada manusia. Dengan akal, manusia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk; mampu memanfaatkan sumber daya alam yang Allah sediakan dimuka bumi; dan akal pulalah yang membuat manusia lebih mulia dari makhluk Allah yang lainnya. Adapun kebutuhan dari akal adalah ilmu. 

Yup, ilmu yang bermanfaat untuk kebaikan umat islam. Jadi bukan ilmu sembarangan yang dibutuhkan oleh akal kita. Dengan ilmu, kita bisa mengetahui peristiwa gerhana bulan dan kenampakan alam lainnya. Dengan ilmu, teknologi seperti handphone, pesawat, komputer, motor dan mobil kini dapat kita nikmati dengan mudah. Dan dengan ilmu, Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu.

“Dan apabila dikatakan, “berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscahya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan bebrapa derajat.” (Q.S Al-Mujadilah : 11)

3. Ar-ruh (ruh)
Yang terakhir adalah Ruh, Ruh seorang manusia sangat memengaruhi akhlaknya. Jika ruh orang tersebut sehat, pasti dia memiliki kepribadian yang baik dan terjauh dari hal-hal yang dilarang oleh Allah. Kebutuhan jiwa adalah dzikrullah (mengingat Allah) dan mendekatkan diri kepada Allah. Jalan mengingat dan mendekat kepada Allah ada bermacam-macam, diantaranya yaitu rajin membaca al-qur‟an, mengerjakan shalat sunah, shaun sunah, membaca dzikir al-ma‟tsurat, membaca buku penguat jiwa, dan ikut menghadiri kajian-kajian agama islam.

Kekuatan jiwa yang selalu ingat dan dekat kepada Allah akan mendatangkan pertolongan Allah. Sebagaimana peperangan yang dahulu dimenangkan kaum muslimin, itu adalah buah dari kuatnya ruh kepada Allah.

Orang-orang yang ingin menghancurkan umat islam mulai gencar menyerang anak muda, terutama lewat fisik. Agar apa? Agar anak-anak muda islam hanya memerhatikan penampilan fisik aja. Sehingga sekarang banyak beredar gaya nyentrik mulai dari potongan rambut, pakaian, body, facial, dll.

Pertanyaannya adalah apakah tidak boleh memerhatikan penampilan? Jawabannya boleh, asalkan tidak kebablasan samapi-sampai melupakan hal-hal yang lebih penting, yaitu perhatian terhadap apa yang ada di otak dan hati kita.

Dengan ketawazunan inilah manusia akan merasakan nikmat yang sebenarnya alias nikmat lahir batin. Nikmat yang gak Cuma bakal kita rasain di dunia, tapi juga bakal kita nikmati di surganya Allah.

Allahu a'lam...

Bagikan:

Memahami Penggunaan Kata Prepositions of Place


Berikut ini penjelasan tentang penggunaan kata Prepositions of Place. Kata ini digunakan untuk menunjukkan posisi suatu benda. Kata ini biasanya ditempatkan sebelum kata benda (Noun).

Contohnya:

1. Across (melewati / menyeberangi)







The ball rolls across the street. 
(Bola itu menggelinding melewati jalan)


2. Behind (di belakang)

The ball is behind the box.
(Bola itu di belakang kotak)


3. In front of (di depan)






The ball is in fron of the box.
(Bola itu di depan kotak)


4. Near (dekat)






The ball is near the box.
(Bola itu di dekat kotak)


5. Between (di antara)





The ball is between the boxes.
(Bola itu di antara kotak-kotak)


Demikian penjelasan terkait penggunaan kata Prepositions of Place. Semoga bermanfaat. Allahu a'lam.

Bagikan:

Generasi Rabbani Abad Ini


Para pembaca sekalian, bagaimana kabar Anda hari ini? MasyaAllah, saya yakin pasti hari ini Allah SWT masih sangat sayang sama kita semua. Dan Allah SWT akan terus menyayangi kita selama kita juga 'menyayangi' agama-Nya yang mulia ini, Islam.

Di saat ini bangsa dan umat Islam membutuhkan sosok generasi yang mampu menjawab tantangan dan memberikan solusi dari berbagai permasalah yang dihadapi oleh umat, bangsa, atau bahkan dunia ini.

Sosok inilah yang nanti akan menjadi public figure bagi generasi pada masanya atau bahkan setelahnya. Adapun generasi yang diinginkan itu adalah sesosok generasi yang berkarakter rabbani. Ya. Generasi yang berkarakter rabbani-lah jawabannya.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan generasi rabbani itu? Adakah contohnya di zaman sekarang ini? Untuk menjawab semua pertanyaan itu marilah kita tengok sebentar sebuah ayat yang ada di dalam Al-Quran surat Ali 'Imran ayat 79. "… Tetapi hendaklah kalian menjadi orang-orang Rabbani, disebabkan kalian terus mengajarkan Al Kitab, dan kalian senantiasa mempelajarinya."

Dari ayat tersebut kita sebenarnya sudah bisa menarik kesimpulan siapa aja yang sebenarnya dimaksud sebagi sosok genrerasi yang berkarakter rabbani itu. Adalah generasi yang senantiasa belajar Al-Quran. Tak hanya sekedar mempelajarinya. Namun, mereka juga mengajarkannya kepada sesamanya atau generasi yang lain. Itulah sosok generasi yang akan mampu menjawab tantangan, memberikan solusi dari permasalahan yang dihadapi umat, dan menjadi public figure bagi generasi pada masanya dan bahkan setelahnya.

Terkait generasi yang berkarakter rabbani ini, ada sebuah penafsiran yang menarik dari sesorang tokoh yang bernama Al Imam Ibnu Jarir Ath Thabari. Beliau menafsirkan bahwa generasi yang berkarakter rabbani itu memiliki 5 (lima) karakter yang sangat khas. Kelima karakter itu terhimpun dalam satu tubuh. Mereka saling mendukung satu sama lain.

1. ‘Alim dan Mutsaqqaf (Berilmu dan berwawasan)
Mereka mempunya motivasi belajar yang membara. Belajar dan belajar. Ada semangat belajar yang kuat di dalam dirinya. Sehingga mereka mampu menguasi ilmu-ilmu tertentu.

Ilmu yang dimaksudkan disini tentunya adalah ilmu Allah dalam konteks luas dan bermacam-macam. Namun secara umum, ilmu disini dibagi menjadi dua, yaitu ilmu khusus dan ilmu umum. Ilmu khusus adalah ilmu yang diturunkan melalui jalur wahyu Allah SWT. Sementara ilmu umum adalah ilmu yang diilhamkan oleh Allah SWT kepada manusia. Dengan kemampuan yang dimiliki manusia, ilmu itu dapat dirumuskan/dilahirkan.

Jadi, yang dimaksud ilmu disini adalah sebuah keahlian (spesialisasi) dalam bidang tertentu. Contohnya; ilmu kedokteran, teknik, bahasa, sastra, pertanian, dan sebagainya.

Alhamdulillah, dalam hal ini sudah dapat dicapai oleh para mahasiswa. Karena, kalangan mahasiswa memiliki sebuah kesempatan yang sangat luas untuk menguasai keahlian khusus tersebut. Sedangkan, untuk kalangan di luar mahasiswa, hal ini dapat diwujudkan dengan cara belajar dan belajar terus. Sampai spesialisasi itu dicapai. 

2. Faqih (memahami Islam dengan baik)
Adapun yang harus difahami adalah berbagai prinsip dasar dalam Islam. Setidaknya mereka memahami aqidah, fiqih ibadah, akhlak, muamalah, halal dan haram serta hal-hal yang wajib dikuasai. Sehingga, mereka mampu menjadi seorang yang faqih sya’bi (faqih ditengah-tengah masyarakatnya).

Sederhanya, sebagai contoh sederhana, jangan sampai ketika ditanya apa hukumnya memakan katak, mereka tidak dapat menjawabnya. Jika generasi ini selalu meningkatkan atau meng-up grade pemahaman ilmu-ilmu dinullah yang mulia ini, maka generasi ini tidak akan pernah keluar dari “relnya”. Yaitu Islam. 

Seorang yang robbani, mencoba untuk melihat apa yang ada di balik sesuatu, mendengarkan yang tidak terucapkan, dan menilai dari berbagai sisi yang tidak selalu linier. Seorang ‘Alim mungkin saja lahir dari ruang berisi buku-buku, tetapi seorang Faqih muncul di tengah orang ramai yang menghadapi banyak permasalahan.

3. Al Bashirah bis Siyasah (mempunyai pengetahuan dan faham tentang politik)
Mereka tidaklah cukup hanya berbekal dengan kafaah syar’I dan ilmiyah-nya saja. Mereka harus faham akan siyasah (politik). Mungkin para pembaca ada yang sedikit trauma dengan istilah 'politik'. Hal ini karena politik selalu diidentikkan dengan kecurangan dan kekotoran.

Namun, yang dimaksud politik disini bukanlah politik dalam arti sempit (baca: politik praktis). Namun, politik dalam arti luas. Yaitu, segala sesuatu yang berurusan dengan rakyat dan negara.

Politik Islam adalah seni mengelola urusan publik agar manusia merasa indah beribadah dan mampu menjadikan setiap aktivitas mereka sebagai ibadah.

Mereka adalah generasi yang peka terhadap kondisi masyarakat dan negaranya. Sehingga mereka mampu berkontribusi dengan maksimal untuk bangsa dan umat ini.

4. Al Bashirah bit Tadbir (memahami aspek manajemen dengan baik)
Generasi ini memiliki tabiat teratur dalam segala urusannya. Aktifitas ataupun program apapun akan hancur berantakan jika tanpa pengaturan/manajemen yang baik.

Jangankan aktifitas yang berhubungan dengan program kelembagaan, diri sendiri saja jika tanpa memiliki manajemen yang baik, maka seluruh hidupnya pun juga berjalan dengan tidak baik. Kesuksesan akan semakin sulit dicapai.

Dia tahu bagaimana menempatkan suatu sumberdaya pada posisi yang tepat. Sehingga ilmu manajemen mutlak harus dikuasai oleh generasi ini. Karena dengan penguasaan manajemen yang baik sejak dini, niscaya generasi ini ke depan akan semakin meraih kesuksesan dan tentunya insya Allah membawa keberkahan.

5. Al Qiyam bis Su-unir Ra’iyah li Mashlahatid Dunyaa wad Diin (mampu menjalankan semua urusan umat)
Tentunya yang mendatangkan kemashlahatan bagi umat, baik dalam urusan dunia atau akhirat. Generasi ini memiliki kepedulian yang besar terhadap kepentingan-kepentingan umum. 

Mereka memiliki kepedulian pada kepentingan publik. Mereka memiliki peran menegakkan kepentingan masyarakat banyak dalam kerangka kebaikan dunia dan agama.

Demikianlah gambaran generasi yang berkarakter rabbani. Tulisan ini disarikan dari buku berjudul Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim (Salim A. Fillah, 2007). Allahu a’lam…

Bagikan:

Ternyata Begini Akhlak Rasulullah SAW terhadap Anak-anak

Memang Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang dipilih oleh Allah SWT untuk menjadi nabi dan rasul terakhir. Beliaulah yang mendapatkan amanah membawa risalah ajaran agama Islam ini untuk disampaikan kepada umat terakhir. Setelah beliau tidak ada nabi dan rasul lagi. 

Namun sebagai nabi dan rasul terakhir, beliau tetaplah manusia biasa seperti kita. Beliau juga makan dan minum seperti kita. Beliau juga bekerja dan istirahat serta tidur. Beliau juga menikah, berkeluarga, memiliki anak, dan bersosialisasi dengan masyarakat.

Tak terkecuali interaksi beliau kepada anak-anak yang ada di sekelilingnya. Bagaimanakah interaksi Rasulullah SAW terhadap anak-anak?  Berikut ini beberapa penjelasan terkait dengan sikap atau akhlak Rasulullah kepada anak-anak.

Ternyata begini akhlak Rasulullah SAW terhadap anak-anak. Dalam buku berjudul Islamic Montessori (Zahira, 2019) disebutkan bahwa  contoh teladan yang paling baik dalam menghadapi anak-anak dapat kita ambil dari sosok Rasulullah SAW.

Sesungguhnya, perkataan dan perbuatan Rasulullah SAW merupakan contoh terbaik manusia di dunia. Ketika menghadapi dan berinteraksi dengan anak-anak, Rasulullah SAW adalah panutan yang utama.

Terkadang kita tidak sabar menghadapi tingkah pola anak-anak, padahal Rasulullah SAW telah mencontohkan teladan sabar dan tidak mudah marah terhadap mereka.

"Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad." (HR. Bukhari)

1. Rasa kasih sayang
Rasulullah SAW sangat menyayangi anak kecil dan menghargainya sebagai individu yang memiliki hati.  Di zaman Rasulullah SAW, para ayah cenderung kaku dan enggan mencium anak-anak mereka.

Ketika itu, Rasulullah SAW pernah didatangi seorang Arab Badui, kemudian mengatakan, "Kalian terbiasa mencium anak-anak, sedangkan kami tidak biasa mencium mereka. Kemudian Rasulullah SAW pun berkata, "Aku tidak bisa berbuat apa-apa apa apabila Allah mencabut rahmat dari hatimu." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari kisah tersebut menyatakan bahwa mencium anak adalah iman dalam bentuk kasih sayang.  Apabila orang tua enggan bahkan mungkin jarang mencium dan memberikan kasih sayang terhadap anak-anaknya, dia tidak pernah merasakan rahmat Allah di dalam hatinya.

2. Bermain dengan anak-anak
Di zaman sekarang ini, orang tua disibukkan dengan gadget dan pekerjaan yang sering dijadikan alasan mereka ketika tidak dapat bermain dengan anak-anaknya.

Bermain merupakan dunia yang tidak terpisahkan dari kehidupan anak-anak. Apabila kita tidak menyempatkan waktu untuk bermain dengan mereka berarti kita sedang menjauhkan diri terhadap kehidupan anak.

Rasulullah SAW senang sekali meluangkan waktu dan bermain dengan anak-anak. Dikisahkan Rasulullah menyuruh Abdullah, Ubaidillah, dan anak lain dari putra-putra pamannya, Al-Abbas r.a. untuk berbaris dan berlomba mendapatkan hadiah.

Rasulullah SAW berkata, "Siapa yang terlebih dahulu sampai kepadaku aku akan aku beri sesuatu (hadiah)." 

Dan mereka pun berlomba-lomba menuju beliau, kemudian duduk di pangkuannya, lalu Rasulullah SAW memeluk dan menciumi mereka. Betapa mulianya Rasulullah SAW menghargai anak-anak dengan senantiasa bermain bersama mereka.

3. Bersifat lemah lembut
Sikap sabar dan lemah lembut adalah pondasi utama saat mendampingi anak-anak. Rasulullah selalu bersikap lemah lembut dan mampu menahan amarah.

Di dalam proses mendidik anak, kita tentu saja memahami bahwa karakteristik, pola pikir, dan keunikan setiap anak berbeda. Namun terkadang tingkah pola mereka sering menguji dan menguras emosi serta energi kita.

Padahal, Rasulullah SAW telah mencontohkan kepada kita untuk memahami anak dan kepolosan mereka dalam memandang dunia.

Dikisahkan, seorang anak kecil diantar kepada Rasulullah SAW untuk didoakan dan dimohonkan berkah serta diberi nama. Anak tersebut dipangku oleh Beliau.

Tiba-tiba sang anak buang air kecil di pangkuan beliau. Orang-orang disekitar yang melihatnya terkejut dan berteriak. Namun, Rasulullah SAW berkata, "jangan diputuskan anak yang sedang buang air kecil, biarkan dia sampai selesai dahulu."

Kemudian, beliau pun berdoa dan memberikan nama anak itu. Ketika mereka telah pergi, beliau mencuci sendiri pakaian yang terkena kotoran tersebut.

Demikian tadi teladan dari Rasulullah SAW terkait dengan interaksi beliau terhadap anak-anak. Semoga tulisan yang sedikit ini bisa menginspirasi para pembaca yang bijak untuk menjadi seorang ayah/bunda yang lebih baik lagi. Dan semoga putra dan putri ayah/bunda sekalian menjadi anak yang sholeh dan sholihah. Aamiin. Allahu a'lam...





Bagikan:

Proses Kehidupan Menuju Hari Akhirat


Sesungguhnya proses kehidupan merupakan proses panjang untuk menuju fase 
selanjutnya. Setiap mukmin wajib mengetahui setiap proses tersebut agar dapat mempersipakan diri pada setiap fase dan mampu melewati dengan baik.

Ini lah Proses Kehidupan Menuju Hari Akhirat:

1. Alam Arwah
Manusia merupakan makhluk terakhir yang diciptakan Allah swt. setelah sebelumnya Allah telah menciptakan makhluk lain seperti malaikat, jin, bumi, langit dan seisinya. 

Allah menciptakan manusia dengan dipersiapkan untuk menjadi makhluk yang paling sempurna. Karena, manusia diciptakan untuk menjadi khalifah (pemimpin) di muka bumi dan memakmurkannya.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)". (Al A’raf: 172).


2. Alam Rahim

Inilah perjalanan pertama yang akan dilalui manusia yaitu kehidupan di alam rahim: 40 hari berupa nutfah, 40 hari berupa ‘alaqah (gumpalan darah), dan 40 hari berupa mudghah (gumpalan daging), kemudian ditiupkan ruh dan jadilah janin yang sempurna. 

Setelah kurang lebih sembilan bulan, maka lahirlah manusia ke dunia. Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya seseorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya 40 hari nutfah, kemudian ‘alaqoh selama hari yang sama, kemudian mudghoh selama hari yang sama. Kemudian diutus baginya malaikat untuk meniupkan ruh dan ditetapkan 4 kalimat; ketetapan rizki, ajal, amal, dan sengsara atau bahagia.” (HR Bukhari dan Muslim)


3. Alam Dunia
Di dunia perjalanan manusia melalui proses panjang. Dari mulai bayi yang hanya minum air susu ibu lalu tubuh menjadi anak-anak, remaja dan baligh. Selanjutnya menjadi dewasa, tua dan diakhiri dengan meninggal. Proses ini tidak berjalan sama antara satu orang dengan yang lainnya. Kematian akan datang kapan saja menjemput manusia dan tidak mengenal usia. Sebagian meninggal saat masih bayi, sebagian lagi saat masa anak-anak, sebagian yang lain ketika sudah remaja dan dewasa, sebagian lainnya ketika sudah tua bahkan pikun.

Dunia dengan segala kesenangannya merupakan tempat ujian bagi manusia. Apakah yang dimakan, dipakai, dan dinikmati sesuai dengan aturan Allah swt. atau menyimpang dari ajaran-Nya? 

Apakah segala fasilitas yang diperoleh manusia dimanfaatkan sesuai perintah Allah atau tidak? Dunia merupakan medan ujian bagi manusia, bukan medan untuk pemuas kesenangan sesaat. 

Rasulullah saw. memberikan contoh bagaimana hidup di dunia. Ibnu Mas’ud menceritakan bahwa Rasulullah saw. tidur diatas tikar, ketika bangun ada bekasnya. Maka kami bertanya: “Wahai Rasulullah saw., bagaimana kalau kami sediakan untukmu kasur.” Rasululah saw. bersabda: “Untuk apa (kesenangan) dunia itu? Hidup saya di dunia seperti seorang pengendara yang berteduh di bawah pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya.” (HR At-Tirmidzi)


4. Alam Akhirat (Hari Akhir)
Yaumul Barzakh : yaitu masa penantian sebelum terjadinya hari kiamat besar (kiamat kubra)

Yaumul Ba’ats (Hari kebangitan dari Alam Kubur) : yaitu masa dibangkitkannya semua manusia yang telah mati.

Yaumul Hasyr (Hari Berkumpul di padang Mahsyar) : yaitu masa dikumpulkannya semua manusia didalam satu tempat 

Yaumul Hisab (Hari Perhitungan/Pemeriksaan) : yaitu masa dihisabnya segala amal yang telah diperbuat selama hidup didunia.

Yaumul Mîzan (Hari Pertimbangan Amal)َ : yaitu masa ditimbangnya seluruh amal yang ada.

Yaumul Jaza (Hari Pembalasan) : yaitu hari yang menentukan seseorang itu masuk surga atau neraka.




5. Surga dan Neraka
Inilah fase terakhir, sebagian mereka masuk surga dan sebagian masuk neraka. Surga tempat orang-orang bertakwa dan neraka tempat orang-orang kafir. Kedua tempat tersebut sekarang sudah ada dan disediakan. Bahkan, surga sudah rindu pada penghuninya untuk siap menyambut dengan sebaik-baiknya sambutan.

Neraka pun sudah rindu dengan penghuninya dan siap menyambut dengan hidangan neraka. Al-Qur’an dan Sunnah telah menceritakan surga dan neraka secara detail. Penyebutan ini agar menjadi pelajaran bagi kehidupan manusia tentang persinggahan akhir yang akan mereka diami.




Demikianlah penjelasan tentang Proses Kehidupan Menuju Hari Akhirat. Allahu a'lam...







Bagikan:

Tahapan Pemberian Hukuman terhadap Peserta Didik

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh... 
Ba’da tahmid wa shalawat... Bismillahirrahmanirrahiim…

Mendidik generasi adalah tanggungjawab banyak pihak. Keluarga, lingkungan, masyarakat, lembaga, dan negara memiliki tanggung jawab dalam mendidik generasi. 

Tentunya masing-masing memiliki porsi yang berbeda-beda. Namun semuanya memiliki tujuan yang berupaya menjadikan generasi ini menjadi generasi yang terdidik dengan baik.

Setiap orang adalah pendidik. Tak melihat pangkat, jabatan, pekerjaan, jenis kelamin, suku, agama, dan kewarganegaraan, semua orang memiliki peran sebagai seorang pendidik. 

Sebagai seorang pendidik selayaknya harus memahami kaidah-kaidah dalam mendidik agar mampu membimbing dan menghasilkan generasi yang lebih baik di masa depan.

Salah satu kaidah dalam mendidik adalah memberikan sanksi atau hukuman kepada peserta didik. Sanksi atau hukuman ini menjadi salah satu kaidah yang selayaknya dijalankan oleh para pendidik manakala peserta didiknya melakukan kesalahan. 

Namun, yang menjadi permasalahan adalah bagaimana cara memberikan sanksi atau hukuman yang pantas? Terkait pertanyaan ini, jawabannya harus kita kembalikan lagi kepada pedoman utama kita sebagai pendidik muslim yaitu Al-Quran dan Sunnah. 

Bagaimana pandangan Al-Quran dalam konteks memberikan sanksi atau hukuman?

Berikut ini ada beberapa tahapan hukuman atau sanksi yang layak diberikan kepada setiap peserta didik sesuai dengan jenis pelanggaran, karakter, dan komitmen mereka.

1. Ada seseorang yang merasa cukup bila ditegur melalui isyarat.
Allah SWT berfirman, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hadid: 16)

2. Juga ada orang yang takkan merasa bersalah, kecuali bila ia dimarahi.
Firman Allah SWT dalam peristiwa Ifk (ketika Aisyah dituduh melakukan perzinaan), “Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu.” (QS. An-Nur: 14)

3. Ada juga yang harus diancam dengan siksa pedih yang kelak mereka rasakan.
Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS. Al-Baqarah: 278-279)

4. Selain itu, ada juga yang harus menyaksikan tongkat pemukul dalam genggaman tangan yang siap melayang pada salah satu anggota tubuhnya.
Allah SWT berfirman, “Katakanlah kepada orang-orang Badui yang tertinggal: "Kamu akan diajak untuk (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar, kamu akan memerangi mereka atau mereka menyerah (masuk Islam). Maka jika kamu patuhi (ajakan itu) niscaya Allah akan memberikan kepadamu pahala yang baik dan jika kamu berpaling sebagaimana kamu telah berpaling sebelumnya, niscaya Dia akan mengazab kamu dengan azab yang pedih.” (QS. Al-Fath: 16)

5. Dan yang terakhir adalah orang yang memang harus merasakan sakitnya hukuman yang menimpa dirinya.
Allah SWT berfirman, “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Maidah: 38)

Dengan memahami kaidah-kaidah yang tersebut di atas, harapannya kita semuanya bisa semakin bijak dalam menerapakan pemberian sanksi atau hukuman kepada peserta didik yang melakukan kesalahan. 

Seorang guru semakin bijak dalam memberikan hukuman kepada siswanya. Orang tua semakin bijak memberikan hukuman kepada anaknya. Seorang pimpinan semakin bijak memberikan hukuman kepada bawahannya. Dan seterusnya.

Pun demikian dari sudut pandang orang yang menerima hukuman selayaknya juga semakin bijak dalam menerima hukuman karena kesalahan yang telah diperbuatnya. 

Sehingga keduanya, baik yang bersalah dan yang memberikan hukuman bisa saling memberikan kelapangan hati. Maka in syaa Allah akan indah akhir dari proses pendidikan ini.

Allahu a’lam.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Artikel ini disarikan dari buku berjudul Kekuatan Sang Murabbi karya Prof. Dr. Taufik Yusuf al-Wa-iy (2003) 

*****






Bagikan:

Penggunaan Kata Either-Or dalam Bahasa Inggris


Berikut ini penjelasan terkait penggunaan Kata Either-Or dalam Bahasa Inggris.

Kedua kata ini (either-or) digunakan untuk mengungkapkan tentang sebuah keputusan pilihan di antara dua kemungkinan atau lebih. Biasanya pembicara menggunakan either-or untuk menyatakan bahwa dia memilih salah satu dari 2 atau lebih kemungkinan tersebut. 

CONTOH PENGGUNAAN

I like pizza. (Saya suka piza)
I like spaghetti. (Saya suka spageti)

Digabungkan menjadi: 
I like either pizza or spaghetti. (Saya suka piza ataupun spageti)

 

You buy a T-shirt. (Kamu membeli kaos)
You buy  a hat. (Kamu membeli topi)

Digabungkan menjadi:
You buy either a T-shirt or a hat. (Kamu membeli kaos ataupun topi)

 

My father prefers a car. (Ayahku menyukai sebuah mobil)
My father prefers a motor cycle. (Ayahku menyukai sepeda motor)

Digabungkan menjadi:
My father prefers either a car or a motor cycle. (Ayahku menyukai sebuah mobil ataupun sepeda motor)


Sumber:
Azar, Betty Schrampfer. Understanding and Using English Grammar. 1989. New Jersey: Prentice Hall Regents

Swan, Michael. Practical English Usage. 1980. Oxford: Oxford University Press

 

BACA JUGA:
Penggunaan Kata There Is dan There Are
Penggunaan Kata Both-And dalam Bahasa Inggris
Penggunaan Kata Either-Or dalam Bahasa Inggris
Penggunaan Kata Neither-Nor dalam Bahasa Inggris


Bagikan:

Tokoh Pahlawan Islam (Ilmuan Muslim): Ar-Razi

Berikut ini sekilas tentang Tokoh Pahlawan Islam (Ilmuan Muslim): Ar-Razi.

Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi (Persia:أبوبكر الرازي) atau dikenali sebagai Rhazes di dunia barat merupakan salah seorang pakar sains Iran yang hidup antara tahun 864 - 930.

Ia lahir di Rayy, Teheran pada tahun 251 H/865 dan wafat pada tahun 313 H/925. Ar-Razi sejak muda telah mempelajari filsafat, kimia, matematika dan kesastraan.

Dalam bidang kedokteran, ia berguru kepada Hunayn bin Ishaq di Baghdad. Sekembalinya ke Teheran, ia dipercaya untuk memimpin sebuah rumah sakit di Rayy. Selanjutnya ia juga memimpin Rumah Sakit Muqtadari di Baghdad.

Ar-Razi juga diketahui sebagai ilmuwan serbabisa dan dianggap sebagai salah satu ilmuwan terbesar dalam Islam.

Simak video tentang beliau berikut ini: Video 1


Video 2


Video 3


Allahu a'lam...






Bagikan:

Ilustrasi Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah

Berikut ini video Ilustrasi Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah.

Selamat menyimak...


Allahu a'lam...






Bagikan:

Mengenal Nama-Nama Bagian Rumah dalam Bahasa Inggris (The Parts of House)

Semangat pagi semuanya... Semoga masih tetap sehat, semangat, dan memberi manfaat bagi semuanya ya...

Hari ini kita akan belajar dan mengenal nama-nama bagian rumah dalam Bahasa Inggris (The Parts of House).

1. Pagar >>> FENCE

2. Gerbang >>> GATE

3. Atap>>> ROOF 

4. Genteng >>> ROOF TILE

5. Tembok >>> WALL

6. Tiang >>> PILLAR

7. Jendela >>> WINDOW

8. Pintu >>> DOOR

9. Lantai >>> FLOOR

10. Tangga >>> STAIR


Simak videonya berikut ini:


Demikian nama-nama bagian rumah dalam Bahasa Inggris (The Parts of House). Semoga meskipun singkat ini bisa memberikan manfaat bagi kita semuanya. 

Allahu a'lam...









Bagikan:

Membiasakan Istighfar


Bismillahirrahmanirrahim

Istighfar merupakah salah satu kelebihan Islam yang selalu memberi jalan keluar bagi suatu permasalahan. 

Islam tak pernah membiarkan lubang problematika manusia terlebih lagi pada aspek yang terkait dengan karakter kemanusiaannya, di mana manusia memang memiliki kekurangan lalu lubang kekurangan tersebut dibiarkan menganga dan tidak ada upaya untuk menutupnya. 

Jika karakter manusia adalah melakukan kesalahan, maka istighfar adalah jalan pertaubatan sekaligus jalan keluar bagi manusia yang memang sudah pasti melakukan kesalahan dan dosa itu.

Allah subhaanahu wa ta’aala memuji orang-orang yang beristighfar :
(yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami telah beriman, Maka ampunilah segala dosa Kami dan peliharalah Kami dari siksa neraka," (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur. (QS. Ali Imran : 16-17)

Karena itulah, istighfar menjadi karakter dan jati diri para Nabi alaihimussalam. Mereka adalah para pejuang dakwah dan ternyata mereka tak pernah lepas memohon ampunan kepada Allah subhaanahu wa ta’aala dan mengajak umatnya untuk beristighfar.

Nabiyullah Nuh alaihissalam memerintahkan kaumnya untuk beristighfar:
Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. (QS. Nuh : 10)

Nabiyullah Hud alaihissalam berkata kepada kaumnya:
Dan (dia berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa." (QS. Hud : 52)

Allah subhaanahu wa ta’aala juga menguraikan perkataan Ibrahim Al Khalil alaihissalam yang berseru kepada kaumnya untuk beristighfar:
“Dan yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat". (QS. Asy Syu’ara : 82)

Musa alihissalam juga beristighfar: 
Musa mendoa: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku telah Menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku". Maka Allah mengampuninya, Sesungguhnya Allah Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Qashash : 16)

Dalam hari-hari pemenangan pemilu ini, tentu kita semakin dituntut banyak istighfar bukan hanya dikarenakan salah dan khilaf yang telah dilakukan, namun kita berharap dengan banyak beristighfar Allah subhaanahu wa ta’aala berikan ampunan atas segala dosa, bertambahnya kekuatan dan datangnya karunia Allah yang besar.

Semoga Allah subhaanahu wa ta’aala menerima amal-amal shalih yang kita lakukan dan menjadikannya sebagai bagian dari turunnya pertolongan dan bantuan Allah terhadap dakwah yang kita perjuangkan.

Allahu a'lam...





Bagikan:

Student Center Learning dalam Konteks Scientific Approach

Menurut Permendikbud Nomor 81 A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum lampiran IV dinyatakan bahwa metode pembelajaran yang direkomendasikan untuk diterapkan adalah metode yang termasuk dalam pendekatan saintifik yang diperkaya dengan pendekatan berbasis masalah dan pendekatan berbasis projek.

Pendekatan Saintifik dengan atau tanpa diperkaya dengan salah satu atau lebih di antara pendekatan-pendekatan pembelajaran berikut: Pembelajaran Berbasis Projek, Pembelajaran Berbasis Masalah, Pembelajaran Kooperatif, dan Pendekatan Komunikatif. 

Semua metode yang digunakan dalam pendekatan saintifik termasuk ke dalam Student Center Learning (pembelajaran berpusat pada siswa). Pembelajaran berpusat pada siswa atau Student Centered Learning (SCL). 

Pendekatan SCL menuntut partisipasi yang tinggi dari peserta didik, karena peserta didik menjadi pusat perhatian selama kegiatan belajar berlangsung. Pembelajaran SCL menuntut peran guru yang bersifat kaku instruksi menjadi memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menyesuaikan dengan kemampuannya dan berperilaku secara langsung dalam menerima pengalaman belajarnya. 

Landasan teori SCL adalah teori konstruksivistik yang berasal dari teori belajar menurut Piaget, Jhon Dewei, dan Burner (1961) yang menekankan proses pembelajaran pada perubahan tingkah laku peserta didik itu sendiri dan mengalami langsung bagaimana membentuk konsep belajar dan memahami.

SCL adalah merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang mempunyai karakteristik: 

(1) Peserta didik belajar secara individu maupun kelompok untuk membangun pengetahuan dengan cara mencari dan menggali sendiri informasi dan teknologi yang dibutuhkan secara aktif tidak hanya asal menerima pengetahuan secara pasif, 

(2) Pendidik atau guru membantu peserta didik mengakses informasi, menata dan mentransfernya guna menemukan solusi terhadap permasalahan yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, 

(3) Peserta didik tidak hanya kompeten dalam bidang ilmu yang diterimanya tetapi juga kompeten dalam belajar. Dengan kata lain peserta didik tidak hanya menguasai mata pelajaran tetapi mereka juga mampu untuk belajar bagaimana belajar (how to learn), 

(4) Belajar di maknai sebagai belajar sepanjang hayat, suatu ketrampilan dalam dunia kerja, dan (5) Belajar termasuk di dalamnya adalah memanfaatkan teknologi yang tersedia, baik berfungsi sebagai sumber informasi pembelajaran maupaun sebagai alat memberdayakan peserta didik dalam mencapai ketrampilan yang utuh secara intelektual, emosional dan psikomotorik yang dibutuhkan.

Disarikan dari buku SINTAKS 45 Metode Pembelajaran Dalam Student Centered Learning (SCL). Allahu a'lam... 






Bagikan:

Tata Cara Mandi Wajib (Junub) yang Benar

Berikut ini tata cara mandi wajib (junub) yang benar

Simak videonya berikut ini:

Video 1:


Video 2:


Allahu a'lam...






Bagikan: