Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema pendidikan. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.
Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema keluarga. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.
Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema pemuda. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.
Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema kepemimpinan. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.
Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema pribadi Islami. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.
Berbagai unggahan GiatEdukasi.com dengan tema Pramuka. Silakan kunjungi dan simak setiap video kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.
Berbagai unggahan GiatEdukasi.com dalam bentuk video. Silakan kunjungi dan simak setiap video kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.
2. Menceritakan bagaimana keislaman Umar bin Khatab
3. Mengetahui ayat Al Qur’an menyentuh hati Umar bin Khatab.
4. Menyebutkan pengaruh atas masuk islamnya hamzah dan Umar bin
Khatab
Penjelasan materi:
Pada bulan Dzul Hijjah tahun ke 6 dari masa kenabian, Hamzah bin Abdul
Muthalib memeluk Islam. Berawal dari laporan seorang budak wanita yang
menyaksikan penyiksaan Abu Jahal kepada Rasulullah Saw.
Abu Jahal memukul Rasulullah saw hingga berdarah. Hamzah tidak terima
atas perlakuan Abu jahal terhadap keponakannya, kemudian segera mendatangi
Abu Jahal, lalu berkata,” Hai lelaki hina, engkau berani mencaci
keponakanku, padahal aku telah memeluk agamanya!”.
Keislaman Hamzah berlangsung dengan singkat. Tidak butuh waktu lama untuk
memilih islam dan membela Rasulullah Saw. Hamzah menjadi orang terdepan
dalam melindungi Rasulullah Saw hingga dia syahid di perang uhud setelah
hijrah ke kota Madinah.
Menyusul setelah keislaman Hamzah bin Abdul Muthalib, keislaman Umar bin
Khatab. Berawal dari doa Rasulullah Saw “ Ya Allah muliakanlah Islam ini
dengan salah satu dari dua orang yang lebih engkau cintai, Umar bin Khatab
atau Amru bin Hisyam (Abu Jahal)”.
Pada masa kekafirannya sebenarnya hati Umar bin Khatab tersentuh dengan
ayat-ayat yang dibaca oleh Nabi Muhammad Saw. Yaitu ketika Umar keluar
mengintai Rasulullah dia mendapati Rasulullah Saw sedang membaca Al
Qur’an.
Umar ta’jub dengan keindahan bahasa Al Qur’an. Yang dibaca Rasulullah
Saw adalah beberapa ayat dari surat al Haaqoh:
Artinya: “Sesungguhnya Al Quran itu adalah benar-benar wahyu (Allah
yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia,dan Al Quran itu bukanlah
perkataan seorang penyair. sedikit sekali kamu beriman kepadanya.”
Umar berbisik dalam hati jangan-jangan perkataan dukun. Rasulullah
melanjutkan bacaannya:
Artinya: “dan bukan pula perkataan tukang tenun. sedikit sekali kamu
mengambil pelajaran daripadanya. ia adalah wahyu yang diturunkan dari
Tuhan semesta alam.”
Sejak itulah sebenarnya hati Umar tertarik dengan Islam, hanya saja
masih belum ditampakkan.
Menyaksikan pertengkaran yang marak antara pengikut Rasulullah Saw
dengan kaum Quraisy. Pertengkaran antara anak dengan bapak, anak dengan
paman, dengan saudara dan kerabat karena sebagian masuk Islam dan
sebagian yang lain tetap kafir.
Umar marah dan ingin membunuh Rasulullah Saw, dia beranggapan Muhammad
pemicu dari pertengkaran tersebut. Umar bin Khatab keluar sambil
menghunuskan pedang, bergegas mencari Rasulullah Saw.
Pada saat bersemangat mencari Rasul dia berjalan menuju baitul Arqom
dia berjumpa seorang sahabat bernama Nu’aim bin Abdullah. Karena Nu’aim
mengetahui Umar marah dan hendak membunuh Rasulullah Saw maka dia
berkata: “Bagaimana engkau hendak membunuh Muhammad sedangkan adikmu
sediri telah masuk Islam."
Umar bin Khatab berbalik arah dan menuju rumah saudaranya Fatimah binti
Khatab. Saat itu Khabab bin Al Art sedang mengajarkan Al Qur’an kepada
Fatimah dan suaminya Said bin Zaid.
Mendengar suara Umar di luar rumah mereka semua ketakutan, Fatimah
menyembunyikan lembaran Al Qur’an. Umar masuk marah-marah dan menghajar
adik iparnya.
Fatimah mencoba membela suaminya kemudian Umar menamparnya
hingga keluar darah dari mulutnya. Terjatuhlah lembaran yang disembunyikan
Fatimah. Saat melihat adiknya berdarah Umar menyesal, dia hendak
mengambil lembaran Al Qur’an. Fatimah melarangnya dan memintanya untuk
mandi dan bersuci terlebih dahulu.
Setelah mandi Umar mengambil lembaran yang bertuliskan Al Qur’an
surat Thoha ayat 1 sampai 14. Hatinya bergetar tersentuh dengan
ayat-ayat Allah Swt. Kemudian dia meminta untuk diantar bertemu
Rasulullah Saw.
Diantarlah Umar menuju Rasulullah yang berada di rumah Arqam bin Abil
Arqam sedang mengajarkan Islam. Para sahabat terkejut dengan datangnya
Umar.
Kemudian Hamzah meminta izin untuk menghadapi Umar jikalau dia datang
untuk membuat kekacauan. Rasulullah Saw meminta sahabat tetap tenang
kemudian berdiri dan menyambut Umar bertanya: “Apa yang membawamu
datang kemari wahai putra Khattab?” Umar kemudian bersyahadat dan
menyatakan keIslamannya. Rasulullah bertakbir dan diikuti oleh seluruh
sahabat yang menyaksikan.
Kaum muslimin bersyukur dan bergembira, karena masuknya Umar bin
Khatab ke dalam agama Islam. Mereka lebih merasa nyaman dan bebas
beribadah, karena orang kafir Quraisy tidak lagi berani berbuat aniaya
kepada mereka dengan semena-mena. Kaum muslimin merasa bangga (izzah)
atas keislamannya setelah masuk islam Hamzah dan Umar bin
Khatab.
Sebagai ilustrasi, silakan simak video berikut ini: 1. Keislaman Hamzah bin Abdul Muthalib
2. Keislaman Umar bin Khattab
Untuk tugas hari ini silakan kerjakan latihan soal di buku paket halaman
41 (1-10) atau pada form berikut ini:
Indikator : 1. Siswa dapat menyebutkan makna puasa sunah dengan benar 2. Siswa mampu menyebutkan macam-macam puasa sunah 3. Siswa mampu untuk menyebutkan hal-hal yang membatalkan puasa 4. Siswa mampu menyebutkan hari-hari yang diharamkan puasa
a. Pengertian puasa Shaum atau puasa secara bahasa bermakna al-imsak atau menahan diri
dari sesuatu seperti menahan diri dari makan atau berbicara. Makna shaum seperti
ini dipakai dalam ayat ke-26 surat Maryam. “Maka makan dan minumlah kamu,
wahai Maryam, dan tenangkanlah hatimu; dan jika kamu bertemu seseorang,
maka katakanlah saya sedang berpuasa dan tidak mau berbicara dengan
siapapun.”
Sedangkan secara istilah, shaum adalah menahan dari dari dua jalan
syahwat, mulut dan kemaluan, dan hal-hal lain yang dapat membatalkan pahala puasa
mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.
b. Macam-macam puasa sunah 1. Puasa Syawal Puasa syawal adalah puasa sunah 6 hari yang dilakukan di bulan
Syawal, dimulai pada hari ke-2 (setelah Idul Fitri) sampai hari ke-7. Cara
pelaksanaan puasa syawal bisa berturut turut dan boleh juga tidak .
Artinya :
"Barang siapa berpuasa dibulan Ramadhan, kemudian diikuti dengan enam hari di bulan syawal maka yang demikian itu seolah-olah
berpuasa setahun penuh" (HR. Muslim)
2. Puasa Arafah Di Arafah seluruh jama’ah haji berkumpul dalam waktu yang
bersamaan. Pada saat itulah umat islam yang sedang melakukan haji (wukuf) di
Arafah tidak disunahkan untuk berpuasa arafah. Tetapi bagi umat islam yang
tidak sedang melakukan haji (wukuf) disunahkan untuk berpuasa arafah.
Puasa arafah adalah puasa sunah yang dikerjakan pada tanggal 9
Dzulhijah bagi umat islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji.
3. Puasa Senin-Kamis Dinamakan puasa senin kamis karena puasa ini dikerjakan pada hari senin
dan kamis di luar puasa wajib. Puasa senin kamis ini merupakan sunah
Nabi Muhammad SAW.
4. Puasa Daud Puasa daud adalah puasa dengan cara satu hari puasa, satu hari tidak,
puasa daud bertujuan untuk meneladani puasanya Nabi Daud As.
5. Puasa 3 hari pada pertengahan bulan (menurut kalender
islam)(Yaumil Bidh), tanggal 13, 14, dan 15
6. Puasa Sya’ban (Nisfu Sya’ban) pada awal pertengahan bulan
Sya’ban
c. Sunah-sunah Ketika Menjalankan Ibadah Puasa 1. Bersahur walaupun sedikit makanan atau minuman 2. Melambatkan bersahur 3. Meninggalkan perkataan atau perbuatan keji 4. Segera berbuka setelah masuknya waktu berbuka 5. Mendahulukan berbuka daripada sembahyang Maghrib 6. Berbuka dengan buah tamar/kurma, jika tidak ada dengan air 7. Membaca doa berbuka puasa
d. Hal-hal / Perkara Yang Membatalkan Puasa 1. Memasukkan sesuatu ke dalam rongga badan 2. Muntah dengan sengaja 3. Bersetubuh atau mengeluarkan mani dengan sengaja 4. Kedatangan haid atau nifas 5. Melahirkan anak atau keguguran 6. Gila walaupun sekejap 7. Mabuk ataupun pengsan sepanjang hari 8. Murtad atau keluar daripada agama Islam
e. Perkara-perkara yang Makruh dilakukan saat Berpuasa 1. Selalu berkumur-kumur 2. Merasa makanan dengan lidah 3. Berbekam kecuali perlu 4. Mengulum sesuatu
f. Hikmah / Manfaat Puasa Hikmah dari ibadah shaum itu sendiri adalah melatih manusia untuk
sabar dalam menjalani hidup. Maksud dari sabar yang tertera dalam al-Quran adalah
‘gigih dan ulet’ seperti yang dimaksud dalam QS. Ali ‘Imran : 146
“Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah
besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. mereka tidak menjadi lemah karena
bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah
(kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar”
g. Waktu-waktu Di haramkan Puasa 1. Pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha Di haramkan berpuasa pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, baik itu
untuk mengqadha puasa yang ditinggalkan, membayar kafarat, maupun sebagai
puasa sunah.
2. Pada Hari Tasyriq Puasa pada hari-hari tasyriq yaitu puasa pada tanggan 10,11, 12, dan 13
Djulhizah juga diharamkan.
h. Waktu-waktu yang di makruhkan berpuasa 1. Mengkhususkan pada bulan Rajab saja Berpuasa satu bulan penuh pada bulan rajab merupakan amalan yang
dimakruhkan.
2. Puasa dhar Puasa dhar adalah puasa yang dilakukan secara terus menerus setiap
hari.
3. Mengkhususkan pada hari jum’at untuk berpuasa
Sebagai ilustrasi, silakan simak video berikut ini:
A. Standar Kompetensi Mengerti tentang fakta-fakta yang berhubungan dengan aqidah yang benar
yang digali dari Al Qur`an, As Sunah, dalil-dalil naqly dan aqly,
menanamkannya dalam jiwa, dan membersihkannya dari bid`ah dan khurofat yang
mungkin mengotorinya.
B. Kompetensi Dasar Memahami pentingnya ma‟rifatullah untuk meningkatkan iman dan taqwa
dalam kehidupan manusia melalui ayat-ayat dalam Al Qura‟an.
C. Indikator Pencapaian Hasil 1. Peserta mengetahui arti Ar Rahman & Ar Rahim 2. Peserta mengetahui ayat tentang Ar Rahman & Ar Rahim 3. Peserta memahami makna Ar Rahman & Ar Rahim melalui kisah dan
nasihat
D. Uraian Materi Asy-Syaikh Muhammad Khalil Al-Harras mengatakan, “Keduanya adalah
nama yang mulia dari nama-nama Allah. Kedua nama ini menunjukkan bahwa
Allah memiliki sifat rahmat, kasih sayang, yang merupakan sifat hakiki bagi Allah
dan sesuai dengan kebesaran-Nya.” Kedua nama Allah ini disebutkan dalam
banyak ayat dan hadits Nabi, diantaranya:
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”
(Al-Fatihah: 1)
“Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Al-Fatihah: 3)
Maknanya, menurut Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin,
“Ar-Rahman artinya Yang memiliki rahmat, kasih sayang yang luas, karena wazan
(bentuk kata) fa‟lan dalam bahasa Arab menunjukkan makna luas dan penuh.
Semisal dengan kata „Seorang lelaki ghadhbaan,‟ artinya penuh kemarahan.
Sementara, Ar-Rahiim adalah nama Allah yang memiliki makna kata kerja
dari rahmat (yakni Yang merahmati, Yang mengasihi), karena wazan fa‟iil
bermakna faa‟il, sehingga kata tersebut menunjukkan perbuatan (merahmati,
mengasihi).
Oleh karena itu, paduan antara nama Ar-Rahman dan Ar-Rahim
bermakna rahmat Allah itu luas dan kasih sayang-Nya akan sampai kepada
makhluk-Nya.”
Adakah perbedaan antara nama Allah Ar-Rahman dan Ar-Rahim? Tentu ada
sisi perbedaannya, karena setiap nama punya makna yang khusus.
Berikut ini penjelasan sebagian ulama tentang perbedaan diantara keduanya.
Al-Arzami mengatakan: “Ar-Rahman artinya Yang Maha Pengasih terhadap seluruh
makhluk, sedangkan Ar-Rahim artinya Yang Maha Pengasih terhadap kaum
mukminin.” (Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabari, Tafsir Basmalah)
Dengan demikian, dikatakan bahwa yang dimaksud dengan Ar-Rahman
adalah yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu di dunia, karena bentuk
kata/wazan fa‟lan itu menunjukkan penuh dan banyak. Sedangkan Ar-Rahim, yang
rahmat-Nya khusus terhadap kaum mukimin di akhirat.
Akan tetapi, ada pula yang mengatakan sebaliknya. Ibnul Qayyim
memandang bahwa Ar-Rahman menunjukkan sifat kasih sayang pada Dzat Allah (yakni
Allah memiliki sifat kasih sayang), sedangkan Ar-Rahim menunjukkan bahwa sifat
kasih sayang-Nya terkait dengan makhluk yang dikasihi-Nya.
Sehingga seakan-akan nama Ar-Rahman adalah sifat bagi-Nya, sedangkan
nama Ar-Rahim mengandung perbuatan-Nya, yakni menunjukkan bahwa Dia
memberi kasih sayang kepada makhluk-Nya dengan rahmat-Nya, jadi ini sifat
perbuatan bagi-Nya. Apabila Anda hendak memahami hal ini, perhatikanlah firman
Allah:
“Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (Al-Ahzab: 43)
“Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.”
(At-Taubah: 117)
Allah l tidak menyebutkan dengan nama Ar-Rahman sama sekali. Dengan
itu, Anda tahu bahwa makna Ar-Rahman adalah Yang memiliki sifat kasih sayang
dan makna Ar-Rahim adalah Yang mengasihi dengan kasih sayang-Nya.
(Syarah Nuniyyah, Ahmad Isa) Al-Harras mengatakan, ini adalah pendapat yang
terbaik dalam membedakan kedua nama tersebut.
Berikut ini kutipan penjelasan Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa‟di
tentang keagungan dua nama Allah l tersebut.
Ar-Rahman dan Ar-Rahim, adalah dua nama yang menunjukkan bahwa
Allah memiliki kasih sayang yang luas dan agung. Kedua nama ini meliputi
segala sesuatu dan meliputi segala makhluk. Allah telah menetapkan kasih sayang
yang sempurna bagi orang-orang bertakwa yang mengikuti para nabi dan
rasul-Nya.
Oleh karena itu, mereka mendapatkan kasih sayang sempurna yang
bersambung dengan kebahagiaan yang abadi.
Adapun orang-orang yang selain mereka terhalang dari kasih sayang
yang sempurna ini, karena mereka sendiri yang menolaknya dengan cara
tidak memercayai berita (Ilahi) dan berpaling dari perintah. Oleh karena itu,
janganlah mereka mencela siapapun kecuali diri mereka sendiri.
Mereka (yang bertakwa) mengimani bahwa Allah Maha Rahman dan
Maha Rahim, memiliki rahmat yang agung, dan rahmat-Nya terkait dengan
makhluk-Nya yang dirahmati, sehingga nikmat seluruhnya adalah buah dari
rahmat-Nya.
Orang yang memerhatikan nama Allah Ar-Rahman, dan bahwa Allah Maha
luas rahmat-Nya, memiliki kasih sayang yang sempurna, dan kasih sayang-Nya
telah memenuhi alam semesta baik yang atas maupun yang bawah, serta
mengenai seluruh makhluk-Nya, serta mencakup dunia dan akhirat; juga mentadaburi
ayat-ayat yang menunjukkan semacam makna ini:
“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (Al-A‟raf: 156)
“Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
kepada manusia.” (Al-Hajj: 65)
“Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah
menghidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya (Dzat yang berkuasa seperti)
demikian benar-benar (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang telah mati. Dan
Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Ar-Rum: 50)
“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan
untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan
menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin.” (Luqman: 20)
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya),
dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah
kamu meminta pertolongan.” (An-Nahl: 53)
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak
dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang.” (An-Nahl: 18)
Juga ayat-ayat setelahnya yang menunjukkan pokok-pokok nikmat,
dan cabangnya yang mengandung salah satu dari sekian banyak buah rahmat
Allah.
Oleh karenanya, Allah berfirman di akhirnya: “Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri
(kepada-Nya).” (An-Nahl: 81)
Lalu mentadaburi surat Ar-Rahman dari awal hingga akhirnya, karena surat
itu adalah ungkapan dari penjabaran rahmat Allah l; maka semua ragam makna
dan corak nikmat yang ada padanya adalah rahmat dan kasih
sayang-Nya.
Oleh karena itu, Allah mengakhiri surat itu dengan menyebutkan apa yang
Allah siapkan untuk orang-orang yang taat di dalam surga, berupa kenikmatan
abadi yang sempurna, yang merupakan buah dari rahmat-Nya. Oleh karenanya,
Allah menamai surga dengan rahmat, sebagaimana dalam ayat-Nya:
“Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada
dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya.” (Ali „Imran: 107)
Dalam hadits shahih disebutkan: “Allah lebih penyayang terhadap hamba-Nya daripada seorang ibu
terhadap anaknya.”
Dalam hadits lain disebutkan: “Sesungguhnya Allah telah menuliskan sebuah tulisan di sisi-Nya, di atas
Arsy-Nya „Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului kemurkaan-Ku‟.”
Ringkas kata, Allah telah menciptakan makhluk dengan rahmat-Nya dan mengutus para rasul
kepada mereka karena rahmat-Nya pula. Allah l memerintah dan melarang mereka
serta menetapkan syariat untuk mereka karena rahmat-Nya.
Allah melingkupi mereka dengan kenikmatan lahir dan batin karen rahmat-Nya. Dia mengatur
mereka dengan berbagai aturan dan melindungi mereka dengan berbagai
perlindungan karena rahmat-Nya, serta memenuhi dunia dan akhirat dengan
rahmat-Nya.
Oleh karena itu, urusan ini tidak akan menjadi baik dan mudah, begitu
pula tujuan dan berbagai tuntutan tidak akan terwujud melainkan karena
rahmat-Nya.
Bahkan, kasih sayang-Nya melebihi semua itu, lebih agung dan lebih
tinggi. Apatah lagi, orang-orang baik dan bertakwa akan mendapatkan bagian
terbesar dan kebaikan terbanyak dari rahmat-Nya.
“Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat
baik.” (Al-A‟raf: 56)
Mengimani nama Allah tersebut akan menambah rasa syukur kita kepada
Allah, karena berbagai nikmat yang dikaruniakan Allah kepada kita, baik yang
ada dalam organ tubuh, kebutuhan keseharian, alam sekitar kita, maupun
alam semesta ini semuanya, adalah semata-mata buah dari kasih sayang-Nya,
yang mengharuskan kita untuk tunduk dan bersyukur kepada-Nya, serta
membalasnya dengan ketaatan, bukan dengan kemaksiatan dan kerusakan.
Contoh Kisah
Kisah Ali dan Orang Miskin Saat Ali sedang pergi ke masjid, datanglah seorang miskin yang meminta
uang untuk membeli nasi sarapan pagi. Ali memberinya uang sejumlah yang
diminta orang miskin tersebut.
Keesokan harinya, peristiwa tersebut kembali terjadi dengan orang miskin yang sama. Esoknya lagi dan seterusnya orang miskin tersebut selalu datang meminta
uang kepada orang kaya ini dan setiap kali datang selalu diberinya uang tanpa
pamrih.
Sampai suatu saat, orang kaya ini berjalan-jalan ke pasar dan melihat orang
miskin tersebut. Ali terkejut melihat apa yang dilakukan orang miskin tersebut di sudut
pasar.
Ternyata orang miskin tersebut sedang berjudi bersama banyak orang.
Betapa kecewa hatinya karena orang miskin tersebut rutin diberikan uang untuk
sarapan tiap paginya.
Ingin ditegurnya tetapi berat hati pula. Ali sengaja mendekat dan orang
miskin itu sebenarnya mengetahui kedatangannya namun pura-pura tidak
mengenalnya.
Keesokan harinya, sebagaimana biasa orang kaya ini didatangi kembali
orang miskin itu meminta uang untuk sarapan pagi. Tahukah apa yang terjadi?
Apakah orang kaya ini rela memberikan uangnya kepada orang miskin itu
sebagaimana hari-hari sebelumnya?
Kemungkinan besar bahkan hampir pasti orang kaya dermawan tidak
lagi memberikan uangnya kepada orang miskin tersebut karena sudah
mengetahui keburukan dan kedustaannya.
Maha Suci Allah dari segala sifat atau kelemahan manusia, karena itulah
manusia dengan segala keterbatasannya. Berbeda dengan Allah, Yang Maha Pengasih. Disaat hamba-Nya datang
kepada-Nya memohon diberikan harta, maka Allah berikan. Hamba-Nya tidak
meminta pun tetap Allah berikan harta.
Sebagai ilustrasi silakan simak video berikut ini:
A. Standar Kompetensi Membiasakan perilaku terpuji
B. Kompetensi Dasar 1. Membiasakan melakukan adab-adab sebelum belajar 2. Menumbuhkan motivasi belajar
C. Indikator Pencapaian 1. Siswa dapat menyebutkan adab-adab belajar 2. Siswa dapat melafalkan doa sebelum belajar 3. Siswa dapat membiasakan berdoa sebelum belajar
D. Uraian Materi Belajar merupakan salah satu ibadah yang diwajibkan oleh ALLAH,
beberapa keutamaan belajar atau menuntut ilmu.
Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Barangsiapa yang menempuh sesuatu jalan untuk mencari ilmu pengetahuan disitu, maka Allah
akan mempermudahkan baginya suatu jalan untuk menuju ke surga."
(HR. Muslim).
Adab-adab belajar adalah: 1. Memiliki niat yang lurus. Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya segala perbuatan tergantung
dengan niat dan akan dibalas sesuai dengan niatnya,..
2. Memberi salam kepada guru dengan santun. Mengucap salam adalah do‟a, maka harus diucapkan dengan santun dan
lemah lembut. Terlebih kepada orang yang lebih tua atau guru yang
mengajari kebaikan.
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi
wa Sallam bersabda:
"Hendaklah salam itu diucapkan yang muda kepada yang tua, yang berjalan kepada yang duduk, dan yang sedikit kepada yang banyak."
(Muttafaq Alaihi). Menurut riwayat Muslim:
"Dan yang menaiki kendaraan kepada yang berjalan."
3. Membaca doa sebelum belajar. Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Allah Taala berfirman:
Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika
dia mengingat-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku pun
akan mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam suatu
jemaah manusia, maka Aku pun akan mengingatnya dalam suatu kumpulan
makhluk yang lebih baik dari mereka. Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, maka
Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati-Ku sehasta, maka Aku
akan mendekatinya sedepa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dengan
berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari. (Shahih Muslim)
Doa mau belajar adalah:
Artinya: “Wahai Allah Tuhanku tambahkanlah kepadaku ilmu yang
bermanfaat dan berilah aku kefahaman yang luas.”
4. Tidak berbicara atau mengobrol ketika guru sedang menjelaskan. 5. Bersikaplah hormat dan patuh kepada bapak dan ibu guru. 6. Selesai belajar maka membaca doa sesudah belajar.
Doa setelah belajar adalah:
Artinya : “Ya Allah sesungguhnya aku menitipkan kepadamu apa yang
telah Engkau ajarkan kepadaku, maka kembalikanlah kepadaku pada waktu
aku membutuhkannya, dan janganlah Engkau jadikan aku lupa padanya
wahai Tuhan semesta alam.”
Sebagai ilustrasi silakan simak video berikut ini:
Standar Kompetensi: Memperkuat ikatan dengan sunah Rasulullah Saw berlandaskan pemahaman dan
cinta kepada ajarannya. Ikatan dengan petunjuknya dan mengamalkan hukum-hukumnya
dengan pemahaman yang baik serta merumuskan sasaran-sasarannya yang memberikan
petunjuk untuk setiap zaman dan tempat, dan kembali kepadanya dalam setiap
keadaan.
Kompetensi Dasar: Mengetahui makna persahabatan yang diberkahi seperti yang terdapat dalam
hadits ini.
Indikator Pencapaian Hasil: 1. Peserta dapat memahami persahabatan yang diberkahi Allah SWT 2. Peserta dapat memilih sahabat yang baik
Sesungguhnya diri seorang mukmin pada awalnya seperti kertas putih yang
suci dan ayahnyalah yang akan mewarnai dirinya, kemudian lingkungan
tempat tinggalnya atau orang-orang disekelilingnya yang berpotensi mewarnai diri
seseorang.
Oleh karena itu, Nabi SAW mengajarkan kita untuk berhati-hati dalam memilih
teman setia.
“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek
bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik
minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi)
darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai
besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar,
minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.”
(HR. Bukhari, no. 2101)
Isi dan Kandungan Hadits Hadits ini mengajak kita untuk memilih teman. Tidak ada teman yang
lebih baik daripada teman yang shaleh. Dialah yang menunjukkan semua bentuk
kebaikan dan menjauhkannya dari segala bentuk kejahatan.
Kebalikannya, teman yang jahat tidak bermanfaat selamanya dan tidak ada kebaikan berteman dengannya.
Teman yang jahat bagaikan api yang dapat membakar orang yang
bersamanya.
Memilih teman sangat dianjurkan. Bergaul dengan orang-orang baik
dan shaleh, sungguh diperintahkan. Orang-orang shaleh mempunyai sifat seperti
seekor lebah, makan dari makanan yang baik dan menghasilkan madu yang baik pula.
Bila hinggap pada setangkai bunga, ia tidak pernah merusaknya.
Kelembutan tutur kata, senyuman tulus di bibir, dan sapaan-sapaan hangat yang terpuji saat
berjumpa merupakan hiasan yang selalu dikenakan orang-orang mulia.
Persahabatan mempengaruhi hidup manusia. Memilih pergaulan sebagai
cara memperbagus persahabatan. Sebaik-baik orang yang bersahabat ialah mereka
yang berjumpa karena Allah dan apabila berpisah juga karena Allah.
Jangan sampai sahabat kita akan menenggelamkan diri kita sendiri, karena harus mengikuti
kemauannya tanpa mengetahui tujuan dan arah yang jelas serta bermanfaat.
Teman sejati adalah Teman yang mengajak kepada Allah Kita hidup dalam dinamika masyarakat yang sangat beragam, ada kawan
yang kesehariannya memiliki komitmen kehidupan yang baik, taat ibadah,
tuturlakunya halus dan menjaga setiap yang masuk dalam tubuhnya. Namun, tidak dapat
kita pungkiri kita temukan juga kawan yang berperangai buruk, kasar, urakan dan
lemah komitmen dalam ibadah.
Semua ini menutut kita untuk memiliki sikap bijak karena tidak mungkin kita hanya bergaul dengan sebagian kawan sementara tidak
perhatian terhadap yang lain.
Nabi SAW mengajarkan kepada kita betapa cerdasnya beliau
berinteraksi dengan masyarakat baik yang mukmin maupun yang kafir, tapi Nabi SAW
tidak pernah memilih orang kafir sebagai kawan setia dalam perjalanan
hidupnya.
Beliau memilih sahabat berkarakter seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ali dan
Utsman dan banyak sahabat lainnya yang memiliki karakter kesholehan, sehingga
beliau dan para sahabat mampu istiqomah dalam kebaikan karena terjaga dengan
lingkungan yang baik.
Pelajaran Yang Dapat Dipetik 1. Setiap muslim harus memilih teman yang baik, sholeh dan bertutur kata
baik.
2. Sahabat yang baik menunjukkan semua bentuk kebaikan dan
menjauhkan semua bentuk keburukan.
3. Jangan bersahabat dengan orang yang tidak membangkitkan
semangat beribadah, serta ucapan yang tidak membawa kalian mendekati
Allah. Jangan bersahabat karena kelebihannya,karena kemungkinan satu
kekurangan darinya,kau mungkin akan menjauhinya.
Contoh kisah Ali bin Abi Thalib merupakan saudara dekat Nabi SAW, sejak kecil
beliau sudah hidup berdampingan dengan Nabi SAW. Seringkali juga mendapatkan
hikmah kehidupan dari Nabi SAW. Walaupun saudara namun Ali dan Nabi SAW
seperti sahabat yang akrab.
Ketika risalah Islam turun maka Ali merupakan sahabat awalan yang masuk Islam perantara tangan Nabi SAW. Ali mendapatkan keberkahan
tersebut karena merupakan mukmin yang komitmen untuk memilih lingkungan yang baik
dan sahabat yang baik.
Sebagai ilustrasi silakan simak video berikut ini:
Pernahkah kita tersadar bahwa lancangnya kita melakukan hal-hal yang
dilarang agama, meninggalkan perintah agama, dan meremehkan ajaran-ajaran agama
itu semua karena betapa minimnya rasa takut kita kepada Allah. Bahkan
kita terkadang lebih takut kepada manusia daripada kepada Allah
Ta‟ala.
Padahal Allah SWT berfirman: “..Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah
kepada-Ku”(QS. Al Ma‟idah: 44).
Maka takut kepada Allah (al khauf minallah) adalah ibadah salah satu
bentuk ibadah yang semestinya dicamkan oleh setiap mukmin.
Takut kepada Allah adalah sifat orang yang bertaqwa, dan ia juga
merupakan bukti imannya kepada Allah.
Lihatlah bagaimana Allah mensifati para Malaikat, Allah Ta‟ala berfirman: “Mereka takut kepada Rabb mereka yang berada di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)” (QS. An Nahl:
50).
Lihat juga bagaimana Allah Ta‟ala berfirman tentang hamba-hambanya
yang paling mulia, yaitu para Nabi 'alahimus wassalam: “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera
dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada
Kami dengan harap dan takut. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk
kepada Kami” (QS. Al Anbiya: 90)
Oleh karenanya, seseorang semakin ia mengenal Rabb-nya dan semakin dekat
ia kepada Allah Ta‟ala, akan semakin besar rasa takutnya kepada Allah. Nabi
kita Shallallahu‟alaihi Wasallam bersabda:
“Sesungguhnya aku yang paling mengenal Allah dan akulah yang paling takut kepada-Nya” (HR.
Bukhari-Muslim).
Allah Ta‟ala juga berfirman: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya,
hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28)
Ya, karena para ulama, yaitu memiliki ilmu tentang agama Allah ini
dan mengamalkannya, merekalah orang-orang yang paling mengenal Allah.
Sehingga betapa besar rasa takut mereka kepada Allah Ta‟ala.
Karena orang yang memiliki ilmu tentang agama Allah akan paham benar
akan kebesaran Allah, keperkasaan-Nya, paham benar betapa pedih dan ngeri
adzab- Nya. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu‟alahi Wasallam bersabda kepada
para sahabat beliau:
“Demi Allah, andai kalian tahu apa yang aku ketahui, sungguh kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. Kalian pun akan
enggan berlezat-lezat dengan istri kalian di ranjang. Dan kalian akan keluar menuju tanah datang tinggi, mengiba-iba berdoa kepada Allah” (HR. Tirmidzi 2234,
dihasankan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi)
Demikian, sehingga tidaklah heran jika sahabat Umar bin Khattab radhiallahu‟anhu, sahabat Nabi yang alim lagi mulia dan stempel surga
sudah diraihnya, beliau tetap berkata: “Andai terdengar suara dari langit yang
berkata: "Wahai manusia, kalian semua sudah dijamin pasti masuk surga kecuali satu
orang saja‟. Sungguh aku khawatir satu orang itu adalah aku” (HR. Abu
Nu‟aim dalam Al Hilyah, 138)
Orang yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Nabi
Shallallahu‟alahi Wasallam, Abu Hurairah Radhiallahu‟anhu, beliau ulama di kalangan para
sahabat, yang tidak perlu kita ragukan lagi keutamaannya, beliau pun menangis
ketika sekarat menghadapi ajalnya dan berkata:
“Aku tidak menangis karena urusan dunia kalian. Aku menangis karena telah jauh perjalananku, namun betapa
sedikit bekalku. Sungguh kelak aku akan berakhir di surga atau neraka, dan aku
tidak mengetahi mana yang diberikan padaku diantara keduanya” (HR Nu‟aim
bin Hammad dalam Az Zuhd, 159)
Maka orang-orang yang lancang berbuat maksiat, yang mereka tidak memiliki
rasa takut kepada Allah, adalah karena kurangnya ilmu mereka terhadap agama
Allah serta kurangnya ma‟rifah mereka kepada Allah Ta‟ala.
Yang menjadi pertanyaan selanjutnya, adalah bagaimana kita memupuk rasa
takut kepada Allah Ta‟ala? 1. Mengingat betapa lemahnya kita, dan betapa Allah Maha Perkasa.
2. Sadarlah betapa kita ini kecil, lemah, hina di hadapan Allah. Sedangkan
Allah adalah Al Aziz (Maha Perkasa), Al Qawiy (Maha Besar Kekuatannya), Al
Matiin (Maha Perkasa), Al Khaliq (Maha Pencipta), Al Ghaniy (Maha Kaya dan
tidak butuh kepada hamba).
3. Betapa lemahnya hamba sehingga ketika hamba tertimpa keburukan tidak
ada yang bisa menghilangkannya kecuali Allah. Ia berfirman (yang artinya) :
“Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada
yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri” (QS. Al An‟am: 17)
4. Betapa Maha Besarnya Allah, hingga andai kita durhaka kepada Allah,
sama sekali tidak berkurang kemuliaan Allah. “Dan kepunyaan Allah-lah apa yang
di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan
kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada
kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir, maka
(ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah
kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (QS. An Nisa: 131)
Simak video ilustrasinya berikut ini:
Dengan semua kenyataan ini masihkah kita tidak takut kepada Allah?
Pemerintah Republik Indonesia secara resmi hanya mengakui 6 (enam) agama, yaitu Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu.
1. Islam
Tempat ibadahnya Masjid (Mosque). Mayoritas penduduk
Indonesia memeluk agama Islam. Saat ini ada lebih dari 207 juta muslim di
Indonesia. Kitab suci agama Islam adalah Al-Qur’an. Jumlah penganutnya sekitar 87,2%.
Hari Besar Keagamaan : Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Idul Adha, Tahun Baru Hijrah, Isra’ Mi’raj.
Tempat ibadahnya Gereja (Church). Agama Kristen Protestan
adalah sebuah denominasi dalam agama Kristen, yang muncul setelah protes
Marthin Luther pada 1517. Kitab suci Protestan adalah Al-Kitab (Injil). .
Jumlah penganutnya sekitar 6,9%.
Hari Besar Keagamaan : Hari Natal, Hari Jumat Agung, Hari Paskah, Kenaikan Isa Almasih
Tempat ibadahnya Gereja (Church). Kristen Katolik di
Indonesia berawal dari kedatangan bangsa Portugis ke kepulauan Maluku, dan
orang Maluku adalah yang pertama menjadi Katolik di Indonesia. Kitab suci agama
ini adalah Al-Kitab (Injil). Jumlah penganutnya sekitar 2,9%.
Hari Besar Keagamaan : Hari Natal, Hari Jumat Agung, Hari Paskah, Kenaikan Isa Almasih.
Tempat ibadahnya Pura (Hindu Temple). Hindu memiliki sejarah
yang paling panjang dibanding agama resmi lain di Tanah Air. Bali memiliki
penganut agama hindu terbesar. Kitab suci Hindu adalah Veda/Weda. Jumlah
penganutnya sekitar 1,7%.
Hari Besar Keagamaan : Hari Nyepi, Hari Saraswati, Hari Pagerwesi.
Tempat ibadanya Vihara (Buddhist Temple). Agama Buddha
merupakan agama tertua di dunia dan juga di Indonesia, yang berasal dari India.
Buddha berkembang cukup baik di daerah Asia. Kitab suci agama Buddha adalah
Tripitaka. Jumlah penganutnya sekitar 0,7%.
Hari Besar Keagamaan : Hari Waisak, Hari Asadha, Hari Kathina.
Tempat ibadahnya Klenteng/Litang (Confucian Temple). Penyebaran
agama Khonghucu ke Tanah Air dilakukan oleh orang-orang Tionghoa yang merantau
ke Indonesia. Shishu Wujing adalah nama kitab suci Khonghucu. Jumlah penganutnya
sekitar 0,05%.
Hari Besar Keagamaan : Tahun Baru Imlek, Cap Go Meh.
Demikian informasi tentang Mengenal Agama, Tempat Ibadah, dan Hari Besar Keagamaan di Indonesia. Tulisan ini diramu dari Indonesia.go.id dan ilmupengetahuanumum.com.
A. Standar Kompetensi Memperkuat ikatan dengan sunah Rasulullah Saw berlandaskan pemahaman
dan cinta kepada ajaran-ajarannya. Ikatan dengan petunjuk-petunjuknya
dan mengamalkan hukum-hukumnya dengan pemahaman yang baik serta
merumuskan sasaran-sasarannya yang memberikan petunjuk untuk setiap zaman dan
tempat, dan kembali kepadanya dalam setiap keadaan lebih-lebih ketika
terjadi pertentangan.
B. Kompetensi Dasar Menerapkan perbuatan yang mempermudah urusan orang lain
C. Indikator Pencapaian 1. Peserta dapat mempermudah urusan orang lain 2. Peserta dapat melakukan perbuatan yang memudahkan urusan orang
lain
D. Uraian Materi Islam adalah agama yang lengkap yang mengatur aturan-aturan para
penganutnya. Baik itu dari segi aqidah, akhlaq, ibadah, muamalah dll, bahkan tidak lepas
juga dari dimensi sosial. Tentunya semua aturan itu dibuat untuk dijalankan
dengan tujuan yang satu, yaitu menggapai rahmat Allah. Dengan rahmat Allah inilah
kita bisa menggapai ridho-Nya dan juga sebagai “tiket” untuk masuk
surga-Nya.
Pada suatu ketika ada seorang lelaki berjalan melalui sebuah cabang pohon
yang melintang di tengah jalanan, kemudian ia berkata: “Demi Allah, niscaya
pohon ini hendak kusingkirkan dari jalanan kaum Muslimin supaya ia tidak
membuat kesukaran pada mereka itu.” Orang itu lalu dimasukkan ke dalam syurga.(HR. Muslim).
Hadits di atas dalam kutub tis'ah hanya terdapat satu hadits saja, yaitu
dalam shahih Muslim hadits nomor 4744 , karena hadits ini diriwayatkan salah
salah satu dari shohihain maka hadits ini berkedudukan shohih.
Dalam kisah di atas, Rasulullah SAW menceritakan seseorang yang sedang berjalan di suatu jalan, kemudian menjumpai
sebuah pohon yang memiliki banyak duri dan menghalangi jalan kaum muslimin
sehingga dapat mengganggu orang-orang yang melewatinya. Kemudian, ia bertekad
kuat untuk memotong dan membuangnya dengan tujuan menghilangkan
gangguan dari jalan kaum muslimin.
Dengan sebab itu, Allah SWT mengampuni dosa-dosanya dan memasukkan ia ke dalam surga-Nya.
Bahkan, Rasulullah SAW melihatnya sedang menikmati kenikmatan di surga disebabkan amalannya tersebut.
Sungguh, laki-laki tersebut telah beramal dengan amalan yang terlihat
remeh tetapi ia diganjar dengan balasan yang teramat besar. Sungguh, rahmat
Allah SWT Maha Luas dan keutamaan-Nya Maha Agung.
Apa yang dilakukan laki-laki tersebut adalah salah satu bagian kecil dari petunjuk
dan syariat yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW. Memang benar bahwa Rasulullah SAW telah memerintahkan kita untuk berbuat sebagaimana yang telah dilakukan oleh laki-laki
tersebut.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari jalan Abu Barzah Al-Aslami, beliau bertanya
kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang dapat
bermanfaat bagiku.” Beliau menjawab, “Singkirkanlah gangguan dari jalan-jalan
kaum muslimin.” (H.r. Muslim, 13:49; Ibnu Majah, 11:78)
Bahkan, Rasulullah SAW mencela dan memperingatkan dengan keras dari perilaku yang dapat mengganggu kaum muslimin di
jalan-jalan mereka, dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa mengganggu kaum muslimin di jalan-jalan mereka, wajib
atasnya laknat mereka.”
Untuk penjelasan hadits ini juga kami mengambil penjelasan dari hadits lain
yang sudah populer, yang menerangkan bahwa iman ada 70 cabang lebih, yang
paling tinggi yaitu kalimat laailaaha illallah dan yang paling rendah
adalah menyingkirkan sesuatu dari jalan. Redaksi haditsnya sebagai berikut:
Dari Abi Hurairah ra., dari Nabi saw. Beliau bersabda,
”Iman itu tujuh puluh cabang lebih atau enam puluh cabang lebih; yang paling utama adalah
ucapan “lâ ilâha illallâhu” dan yang paling rendah adalah menyingkirkan rintangan
(kotoran) dari tengah jalan, sedangkan rasa malu itu (juga) salah satu cabang dari
iman.”
Penjelasan Hadits Dalam hadits di atas, dijelaskan bahwa cabang yang paling utama adalah
tauhid, yang wajib bagi setiap orang, yang mana tidak satu pun cabang iman itu
menjadi sah kecuali sesudah sahnya tauhid tersebut.
Adapun cabang iman yang paling rendah adalah menghilangkan sesuatu yang mengganggu kaum muslimin,
di antaranya dengan menyingkirkan duri atau batu dari jalan mereka.
Hadits di atas menunjukkan bahwa dalam Islam, sekecil apapun perbuatan
baik akan mendapat balasan dan memiliki kedudukan sebagai salah satu
pendukung akan kesempurnaan keimanan seseorang.
Duri dalam konotasi secara sekilas menunjukkan pada sebuah benda yang
hina. Akan tetapi, jika dipahami lebih luas, yang dimaksud dengan duri di sini
adalah segala sesuatu yang dapat membahayakan pejalan kaki, baik besar maupun
kecil.
Hal ini semacam ini mendapat perhatian serius dari Nabi saw.
sehingga dikategorikan sebagai salah satu cabang daripada iman, karena sikap semacam
ini mengandung nilai kepedulian sosial, sedang dalam Islam ibadah itu tidak
hanya terbatas kepada ibadah ritual saja, bahkan setiap ibadah ritual, pasti di
dalamnya mengandung nilai-nilai sosial.
Di samping hal tersebut di atas, menghilangkan duri dari jalan
mengandung pengertian bahwa setiap muslim hendaklah jangan mencari
kemudlaratan, membuat atau membiarkan kemudlaratan.
Hal ini sesuai dengan sabda Rasul saw. yang dijadikan sebuah kaidah dalam Ushul Fiqh:
لاضََرَارَ وَلاَ ضِرَارَ
Janganlah mencari kemudlaratan dan jangan pula membuat kemudlaratan.
Membiarkan duri di jalan atau sejenisnya berarti membiarkan kemudlaratan
atau membuat kemudlaratan baru, jika adanya duri tersebut awalnya sengaja
disimpan oleh orang lain.
Sebenarnya peristiwa yang tergambarkan dalam haidts tersebut masih banyak
kita jumpai di zaman sekarang ini. Jadi, pengamalannya masih sama
yaitu menyingkirkan sesuatu apapun yang menjadi penghalang di jalan
yang mengganggu keamanan orang muslim (beribadah) dengan niat tulus karena
Allah SWT, maka akan diganjar dengan Surga.
Pada saat konteks sekarang ini ada yang muncul antara keamanaan
atau mengganggu yaitu polisi tidur. Polisi tidur bagi masyarkat (sekitar)
yang membuatnya dianggap membuat nyaman, karena membantu mengendalikan
laju kendaraan yang lalu-lalang dan demi keamanan juga. Tapi bagi orang atau pengguna jalan ini di anggap penghambat perjalanan. Olehnya itu boleh saja
jika ingin membuat polisi tidur, asalkan jangan terlalu tinggi agar tidak
membahayakan para pengguna jalan raya khusus nya yang menggunakan kendaraan.
Banyak sekali dalil-dalil dalam bidang ini yang menunjukkan akhlak luhur
sebagai ciri khas kaum muslimin yang beramal dengan Islam. Mereka
berusaha membersihkan jalan-jalan mereka, tidak mengotori dan membuatnya jorok,
serta membuang sesuatu yang menganggu darinya. Mereka menjadikannya
sebagai tuntunan hidup, berharap darinya pahala tanpa bersikap secara
berlebih-lebihan.
Pelajaran-Pelajaran dan Faedah-Faedah Hadis 1. Penjelasan tentang keutamaan menyingkirkan sesuatu yang mengganggu
dari jalan kaum muslimin yang mengandung pahala besar dan agung.
2. Luasnya rahmat Allah dan besarnya pahala-Nya. Allah membalas laki-laki
ini dengan balasan yang besar, dengan memasukkannya ke surga lantaran
amal yang sedikit, yaitu membuang sesuatu yang mengganggu dari jalan.
3. Sejauh mana kaum muslimin menyelisihi ajaran-ajaran agama mereka.
Sebagian tidak hanya tidak bersedia membuang sesuatu yang mengganggu dari
jalan kaum muslimin, bahkan membuang sampah rumahnya dan sisa makanannya
di jalan kaum muslimin.
4. Pohon yang boleh ditebang adalah yang mengganggu kaum muslimin.
Pohon yang berguna bagi kaum muslimin, seperti pohon yang dipakai
untuk berteduh, tidak boleh ditebang. Rasulullah SAW mengancam penebangnya dengan api neraka. Dalam hadis, “Penebang
bidara akan dibenamkan kepalanya oleh Allah di neraka.” (Dinisbatkan oleh
Al-Bani dalam Silsilah Shahihah (2/175), no. 615, kepada Baihaqi dan
lain-lainnya).
Sebagai sebuah ilustrasi, silakan simak video berikut ini: