"Menyebarluaskan Pengetahuan..."

PENDIDIKAN

Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema pendidikan. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

KELUARGA

Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema keluarga. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

PEMUDA

Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema pemuda. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

KEPEMIMPINAN

Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema kepemimpinan. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

PRIBADI ISLAMI

Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema pribadi Islami. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

PRAMUKA

Berbagai unggahan GiatEdukasi.com dengan tema Pramuka. Silakan kunjungi dan simak setiap video kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

VIDEO

Berbagai unggahan GiatEdukasi.com dalam bentuk video. Silakan kunjungi dan simak setiap video kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

WOW... Subsidi Pulsa Paket Internet untuk Wali Murid

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam untuk para pembaca sekalian yang berbahagia dimanapun anda berada. Senang sekali penulis dalam kesempatan kali ini bisa menghadirkan kembali tulisan kepada saudara semuanya.


Pada kesempatan kali ini penulis berusaha menghadirkan sebuah tema tentang maraknya orang tua yang meminta subsidi pulsa paket internet kepada pihak penyelenggara pendidikan. Penulis sengaja mengangkat tema ini karena dari beberapa diskusi yang masuk kepada penulis banyak yang membahas terkait tema ini, khususnya para wali murid/orang tua yang anaknya menjalani proses belajar jarak jauh atau belajar dari rumah (BDR). Mulai dari pembahasan dan diskusi dengan nada bercanda sampai tahap serius.



Kondisi pandemi seperti saat ini menuntut mengubah konsep proses belajar mengajar antara penyelenggara pendidikan terhadap para siswa mereka. Kondisi ini disikapi dengan metode belajar jarak jauh atau belajar dari rumah. Media yang digunakan sangat beragam, mulai dari group WA, youtube, Google Form, website, quizziz, video streaming, video/voice call, teleconference, dan lain-lain.


Perubahan kondisi belajar offline (di sekolah) menjadi online (di rumah), awalnya sangat menarik bagi siswa dan orang tua. Namun, setelah hari demi hari dilalui, ternyata mulailah muncul beberapa permasalahan. Salah satunya adalah pembelian pulsa paket internet untuk pembelajaran online mulai terasa.


Dengan jumlah anak yang beragam dan dengan jenjang pendidikan yang beragam pula, masing-masing keluarga orang tua/wali murid merasakan betul besaran pengeluaran pembelian pulsa paket internet untuk pembelajaran online.


Pada saat ada diskusi, usulan, dan saran yang disampaiakan para wali murid/orang tua kepada penulis, penulis merasa bahwa hal itu adalah wajar. Apakah ini berarti penulis sepakat dengan permintaan orang tua/wali murid tadi? Jawaban penulis adalah TIDAK. Lalu bagaimana dong?


Dengan tulisan ini, penulis berharap kita semuanya bisa bijak dalam menyikapi hal ini. Penyelenggara pendidikan yang mampu memahami kondisi orang tua/wali murid. Dan orang tua/wali murid yang juga mampu memahami penyelenggara pendidikan.


Mari sejenak kita melihat dari sudut pandang orang tua/wali murid yang anak-anaknya menjalani kegiatan belajar dari rumah (BDR).


Kita asumsikan orang tua/wali murid itu memiliki 1 anak. Dalam sehari anak tersebut mengikuti pembelajaran 2-3 mata pelajaran. Satu mapel bisa melakukan kegiatan dalam bentuk menonton video di YouTube, membuka website, mengirim tugas melalui Google form, membuat video call atau melakukan pembelajaran langsung tatap muka video streaming atau teleconference dengan aplikasi tertentu. Dimana tidak sedikit dalam sekali pemakaian untuk menyelesaikan tugas 1 mata pelajaran saja bisa menghabiskan kuota 1 sampai 2 Gigabyte. Tentu dari sini sudah terlihat biayanya berapa.


Kondisi itu jika untuk 1 mata pelajaran saja. Bagaimana jika itu menjadi 2-3 mapel dalam satu hari? Bagaimana jika keluarga itu memiliki 2-3 anak yang memiliki  jenjang pendidikan yang berbeda-beda?


Tentu kondisi pengeluaran untuk kuota paket internet keluarga ini menjadi membengkak. Jadi wajar jika orang tua/wali murid tersebut menyampaikan usulan adanya subsidi dari pihak penyelenggara pendidikan terhadap mereka.


Tetapi mari kita sejenak melihat dari sisi yang lain. Mari kita coba merenung dan kita analisa lebih detail.


Dalam kondisi belajar dari rumah memang di satu sisi pengeluaran untuk pembelian kuota paket menjadi bertambah. Tetapi apakah pengeluaran yang lain justru berkurang. Yang penulis maksud adalah memang di satu sisi pembelian kuota paket internet bertambah tetapi di sisi yang lain ternyata ada pengeluaran yang berkurang.


Mari sekarang kita bersama-sama mengevaluasi. Selama anak-anak berkegiatan belajar di rumah, orang tua/wali murid tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi, biaya ojek, dan bahan bakar untuk mengantar dan menjemput anak mereka ke sekolah.


Orang tua/wali murid juga tidak perlu memberikan uang saku harian kepada anak-anak mereka. Mereka juga tidak perlu memberikan atau membawakan bekal snack dan bekal makan siang atau pembelian di catering lembaga untuk anak-anak mereka. Serta penggunaan alat tulis yang jauh lebih terkontrol pada saat belajar di rumah sehingga tidak cepat rusak yang menjadikan anak-anak beli alat tulis kembali.


Nah, dari pengeluaran-pengeluaran harian itu tadi kalau kita coba kalkulasikan selama 5 hari pengeluaran maka sebenarnya tidak jauh berbeda dengan harga pembelian pulsa paket internet yang telah dibeli oleh orang tua/wali murid untuk proses belajar di rumah.


Sekarang mari kita coba melihat dari sudut pandang pengelola pendidikan. Pengelola pendidikan yang profesional tentu tidak akan pernah "menari di atas penderitaan orang lain". Mereka akan senantiasa mencari solusi, memberikan layanan yang terbaik, dan berusaha terbuka terhadap berbagai saran dan kritik yang masuk dari orang tua/wali murid.


Itulah kiranya yang penulis rasakan, temui, dan lakukan di sebuah lembaga penyelenggara pendidikan tempat penulis bekerja. Lembaga, melalui segenap sumber dayanya, berusaha memberikan solusi, memberikan layanan yang terbaik, dan terbuka terhadap berbagai saran dan kritik dari orang tua/wali murid.


Itu artinya kita harus bijak dalam melihat sebuah kebiasaan baru yang terjadi dalam kehidupan kita. Perubahan yang baru, penambahan dalam pengeluaran ternyata diikuti dengan pengurangan pengeluaran di sisi yang lain. Itu mengakibatkan kondisi keuangan kita yang sebenarnya tetap stabil. Hanya saja yang berubah adalah aktivitas kita dalam menghadapi situasi yang seperti ini. Terkecuali adanya pengeluaran lain yang menyebabkan keuangan keluarga menjadi tidak stabil.


Oleh sebab itu, penulis mengajak kepada para pembaca yang mungkin para pembaca adalah para orang tua/wali murid yang memiliki kondisi yang sama dalam menghadapi situasi pandemi dan mengharuskan anak-anak untuk belajar dari rumah. Mari bersama-sama mewujudkan situasi kondisi yang kondusif untuk keluarga dan anak-anak sehingga mereka memiliki semangat  belajar yang baik. Sehingga mereka mampu mencapai prestasi dan cita-cita yang kita harapkan semuanya.


Demikian sedikit sudut pandang yang bisa kami berikan. Semoga ini menjadi sebuah hasanah wawasan bagi kita semuanya agar lebih bijak dalam mengambil sebuah opini dan sikap terhadap kondisi yang kita alami.


Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh


"
Bagikan:

Guru Sekaligus Orang Tua

Guru Sekaligus Orang Tua
Penulis: Ragil Ramana Sunda, S.Or.
(Guru PJOK SDIT Robbani)


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Semangat belajar untuk para pembaca sekalian. Senang sekali rasanya bisa hadir kembali dengan tulisan ini untuk menyapa para pembaca.


Para pembaca sekalian, pada kesempatan kali ini penulis berusaha menghadirkan sebuah tema tentang orang tua siswa yang berprofesi sebagai guru atau juga seorang guru yang juga menjadi seorang orang tua. 



Kondisi ini tentu tidak dialami oleh semua orang, hanya orang-orang tertentu saja yang mengalami kondisi ini. Ada guru yang tidak menjadi atau belum menjadi seorang orang tua. Artinya mereka masih seorang bujang, masih single, belum menikah atau sudah menikah tetapi belum memiliki anak secara biologis. Ada orang tua yang mereka memiliki banyak profesi selain guru tentu cara berpikir dan pola kegiatan aktivitasnya berbeda dengan orang tua yang memiliki tugas sebagai seorang guru.


Dalam konteks kondisi saat ini di masa pandemi seperti saat ini seorang guru dituntut memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan sebuah pembelajaran yang menarik, mudah dipahami, mudah diaplikasikan, sehingga siswa yang mengikuti program belajar dari rumah (BDR) mampu menangkap, memahami, mengaplikasikan, dan melakukan apa yang dididikkan oleh para guru mereka.


Para guru harus berusaha membuat sebuah proses pembelajaran yang langsung bisa diterima dan diaplikasikan oleh para siswa tanpa wali murid harus menjelaskan kepada anak-anak. Guru berusaha membuat orang tua sebagai pendamping saja. Bukan sebagai guru pengganti di rumah. Sehingga guru betul-betul berusaha untuk menghadirkan sebuah proses pembelajaran online belajar jarak jauh (BJJ) yang kreatif, menarik, dan aplikatif sehingga sangat membantu peran orang tua dalam mendidik anak-anak mereka.


Di satu sisi yang lain, seorang orang tua harus mendampingi anak-anak biologis mereka untuk mampu  memahami, mempelajari, dan mengaplikasikan pembelajaran yang diberikan oleh guru-guru mereka dengan baik. Orang tua harus membagi waktu kegiatan mereka, mengatur rutinitas mereka agar mampu mendampingi anak-anak mereka dalam kegiatan belajar dari rumah.


Tentu ini menjadi sebuah aktivitas adaptasi bagi orang tua dalam kondisi seperti sekarang ini. Orang tua yang terbiasa bekerja di luar harus mendampingi anak-anak mereka belajar di rumah. Seorang ayah yang harus bekerja dinas di luar harus memikirkan bagaimana mendampingi anak-anaknya dalam belajar. Pun demikian dengan seorang ibu. Mereka harus mengelola rumah tangga mereka sekaligus harus menata waktu mereka untuk melaksanakan proses belajar  yang diberikan oleh guru melalui online.


Tentu ini tidak mudah dilaksanakan sehingga perlu adanya sebuah pemahaman yang baik bersama antara pihak guru mewakili sekolah dan orangtua sebagai pendamping di rumah.


Yang menjadi pertanyaan, mohon maaf, apakah guru-guru yang masih bujang mampu memahami kondisi orang tua yang demikian ini? Begitu pula, orang tua yang berprofesi selain sebagai guru mampu memahami kondisi guru yang berperan sebagai orang tua juga?


Untuk para guru yang sekaligus menjadi orang tua dan orang tua yang juga sekaligus menjadi seorang guru, mari jadikan sebuah kesempatan ini menjadi sebuah kesempatan untuk benar-benar menghadirkan sebuah pendidikan yang barokah untuk generasi mendatang. Barokah untuk diri pribadi, barokah untuk keluarga, dan untuk orang lain. 


Guru adalah profesi yang sangat mulia. Berusaha mendidik anak orang lain menjadi generasi yang terbaik nanti di masa depan. Pun saat mereka menjadi orang tua mulia yang berusaha mendidik anak-anaknya untuk menjadi lebih baik dari pribadinya dan suksesnya di di masa depan.


Sangat beruntung orang  tua yang memiliki profesi sebagai seorang guru. Pengorbanan yang tidak pernah terlihat oleh orang lain sebagai orang tua sekaligus dia membagi waktu untuk mendidik anak orang lain, itu sungguh sangat luar biasa dan hanya Allah SWT saja yang mampu untuk membalasnya.


Tentu balasan dari Allah SWT inilah yang jauh lebih baik daripada balasan dari manusia di dunia ini. Perjuangan yang dimiliki dan dilakukan oleh orang tua yang berprofesi sebagai guru adalah profesi perjuangan yang sangat mulia.


Mari bersama-sama menjalani aktivitas sebagai orang tua yang juga sebagai seorang guru ataupun sebaliknya seorang guru yang juga menjadi seorang orang tua dengan senyum penuh syukur kepada Allah SWT, bahwa ini adalah jalan kita untuk menuju surga-Nya Allah SWT.


Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.





Bagikan:

Keterampilan Dasar Mengajar di Sekolah Islam Terpadu

Profesionalisme adalah suatu bentuk komitmen para anggota suatu profesi untuk selalu meningkatkan dan mengembangkan kompetensinya yang bertujuan agar kualitas keprofesionalannya dapat tercapai secara berkesinambungan. Selain itu pengertian profesionalisme juga lebih mengarah pada spirit, jiwa, karakter, sikap, semangat, nilai yang dimiliki dari seseorang yang profesional.


Tiap profesi mempunyai spesifikasi tersendiri, mempunyai keahlian dalam bidangnya yang menunjang usaha untuk menunjukkan perannya, termasuk juga guru. Maka sikap profesional itu perlu ditumbuhkan dengan mengenal bagaimana cara menjunjung tinggi sikap tanggung jawab yang ada sehingga mempunyai standar, baik secara teknis maupun sesuai tuntunan peran profesinya. Dapat menguasai permasalahan dalam ruang lingkupnya, selalu berusaha meningkatkan kemampuan diri dan bersedia memperbaiki apa yang masih kurang setiap ada kesempatan.


Sebagai tenaga profesional seorang guru harus mempunyai kompetensi tertentu yang disyaratkan. Kompetensi yang dimaksud adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki dihayati dan dikuasai oleh seorang guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Empat kompetensi itu adalah pedagogis, kepribadian, sosial dan profesional.


Salah satu keterampilan yang harus dikuasai oleh guru adalah kemampuan dasar mengajar yang masuk di dalam ranah kompetensi pedagogis yaitu kemampuan seorang pendidik mengelola pembelajaran peserta didik . Kemampuan pedagogis yang dimaksud di sini antara lain terkait dengan metode pembelajaran, teknik mengelola kelas, menggunakan media, teknik mengevaluasi sampai melakukan refleksi proses pembelajaran.


Mengajar bukan hanya sekedar proses penyampaian atau penerusan pengetahuan, tetapi juga suatu proses yang kompleks menggunakan secara integratif sejumlah keterampilan untuk menyampaikan pesan. Pengintegrasian keterampilan yang dimaksud dilandasi oleh seperangkat teori dan diarahkan oleh suatu wawasan.


Sedangkan aplikasinya secara unik dalam arti secara simultan dipengaruhi oleh semua komponen belajar mengajar. Komponen yang dimaksud yaitu tujuan yang ingin dicapai, pesan yang ingin disampaikan, subjek didik, fasilitas dan lingkungan belajar, serta yang tidak kalah pentingnya keterampilan, kebiasaan serta wawasan tentang diri dan misi seorang guru.


Keterampilan dasar mengajar merupakan pengetahuan dasar pembelajaran yang perlu dipahami oleh seorang guru. Sebagai sebuah kemampuan minimal maka seorang guru harus mampu melakukan inovasi dan kreativitas dalam pembelajaran.



Keterampilan dasar mengajar (teaching skills) merupakan kemampuan atau keterampilan yang bersifat khusus (most specific instructional behaviors) yang harus dimiliki oleh guru. Keterampilan dasar mengajar adalah suatu keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh guru, keterampilan dasar ini melandasi bagi pengembangan kemampuan kemampuan profesional guru yang lainnya. Dengan demikian keterampilan dasar mengajar berkenaan dengan beberapa keterampilan atau kemampuan yang dasar dan harus dikuasai oleh guru dalam melaksanakan tugasnya.


Ada 10 komponen keterampilan dasar mengajar yaitu :

  1. Keterampilan bertanya
  2. Keterampilan memberikan penguatan
  3. Keterampilan mengadakan variasi
  4. Keterampilan menjelaskan
  5. Keterampilan membuka menutup pelajaran
  6. Keterampilan memimpin diskusi kelompok
  7. Keterampilan mengelola kelas
  8. Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan
  9. Keterampilan menanamkan nilai-nilai moral dan keagamaan
  10. Keterampilan menanamkan konsep Islam Terpadu


***
Tulisan ini disarikan dari buku Keterampilan Dasar Mengajar yang dikeluarkan oleh JSIT Jawa Timur.






Bagikan:

Bagaimana Adab Dalam Menjaga Rahasia?

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...


Hai sahabat Bono Edumedia dimana pun berada...

Bersyukur kita kepada Allah SWT pada kali ini kita dipertemukan dalam forum ini semoga ini menjadi sarana untuk bersilaturahim. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad SAW...


Dalam program Islam Membuat Kehidupan Lebih Baik kali ini kami mengangkat tema yaitu Adab Menjaga Rahasia. Tema ini kami ambilkan dari sebuah kitab yang berjudul Riyadhus Shalihin. Dalam kitab ini ada beberapa penjelasan terkait dengan bagaimana adab kita dalam menjaga rahasia.


Adab ini perlu kami sampaikan karena ini menjadi sebuah adab yang harus dimiliki oleh seorang mukmin, yang harus dimiliki oleh seseorang muslim. Sehingga ia menjadi sosok seorang mukmin, menjadi seorang menjadi sosok seorang muslim yang memiliki adab yang baik yang patut dicontoh oleh musim-musim yang lain, yang patut dicontoh oleh bahkan orang-orang non muslim yang lainnya.


Allah SWT berfirman di dalam Al Quran surat Al-isra ayat 34, "Penuhilah janji sesungguhnya Janji Allah itu pasti diminta pertanggungjawabannya."


Sudah sangat jelas di dalam ayat ini bahwa Allah SWT meminta hambanya untuk memegang teguh atas janji yang diucapkan oleh hamba-Nya, oleh manusia ini, yang akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah SWT.


Sahabat-sahabat semuanya, dalam hadis yang pertama dari Abu Sa'id al-khudri r.a., dia berkata Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya di antara manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah seorang laki-laki (suami) yang menggauli wanita (istrinya) dan wanita itupun bersetubuh dengannya, kemudian dia menyebarkan rahasianya." (HR. Muslim)


Sahabatku semuanya di mana berada, dari hadis yang pertama ini, menjaga rahasia yang harus kita terapkan, yang harus kita laksanakan, yang harus kita teladani dari diri Rasulullah SAW adalah manakala kita sebagai seorang suami, maaf, berhubungan badan dengan istri maka kita tidak boleh menyebar luaskan apa yang kita lakukan kepada istri kita. Kita tidak boleh membicarakan kepada orang lain.


Pun demikian bukan hanya dari pihak suami, dari pihak istri juga berlaku aturan yang sama. Istriku dilarang menyebar luaskan apa yang telah dia lakukan dengan suaminya. Tidak boleh membicarakan apa yang telah dilakukannya dengan suaminya kepada orang lain. Karena ini menjadi rahasia bagi suami dan istri tersebut.


Hal ini adalah adab dan akhlaq Rasulullah SAW yang harus kita contoh sebagai seorang suami dan sebagai seorang istri.


Simak selengapnya dalam video berikut ini (silakan klik gambar):


Jazakumullah khairan katsir telah menyimak video ini. Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE (Jempol), dan SHARE (Bagikan) video ini ya, agar semakin banyak yang mendapakan manfaat dari video ini.











Bagikan:

Keutamaan Malu dan Anjuran Mengamalkannya

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...


Hai sahabat Bono Edumedia dimana pun berada...

Bersyukur kita kepada Allah SWT pada kali ini kita dipertemukan dalam forum ini semoga ini menjadi sarana untuk bersilaturahim. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad SAW...


Dalam program Islam Membuat Kehidupan Lebih Baik kali ini kami mengangkat tema berjudul Keutamaan Malu dan Anjuran Mengamalkannya tema ini kami hasilkan dari sebuah kitab yang berjudul Riyadhus Shalihin. Dan insya Allah ini akan berlanjut pada tema-tema berikutnya yang berasal dari kitab ini.


Di dalam kitab Riyadhus Shalihin, disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah melewati seseorang dari kaum Anshar yang sedang menasehati saudaranya tentang rasa malu, maka Rasulullah SAW bersabda, "Biarkan dia nasehati saudaranya karena rasa malu adalah bagian dari iman." (HR. Bukhari-Muslim).


Para pemirsa sekalian dasarkan dari hadits ini bahwa salah satu cabang iman adalah rasa malu...


Simak selengapnya dalam video berikut ini (silakan klik gambar):


Jazakumullah khairan katsir telah menyimak video ini. Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE (Jempol), dan SHARE (Bagikan) video ini ya, agar semakin banyak yang mendapakan manfaat dari video ini.






Bagikan:

MENJADI ORANG TUA BAHAGIA DI MASA PANDEMI


Alhamdulillah kita memanjatkan rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala kita masih diperkenankan untuk bangun pagi dalam keadaan sehat walafiat. Bisa bersilaturahmi, mudah-mudahan silaturahim ini mendatangkan keberkahan buat kita di dunia dan di akhirat. Terimakasih kepada Yayasan maupun pihak sekolah Rabbani yang sudah mengundang saya pada kesempatan pagi ini. Yang saya muliakan para wali murid yang sudah bersedia hadir, ya sesuatu yang menurut saya luar biasa karena Berarti Bapak Ibu semuanya memiliki kepedulian terhadap pendidikan anak Ananda kita semuanya. Kita Alhamdulillah 2-3 bulan ini mendapatkan sebuah ujian sekaligus rizki dari Allah SWT yang disebut dengan wabah Covid-19.

Apakah kita sebagai hamba Allah Subhanahu Wa Ta'ala mampu untuk bisa tetap harus berbeda dalam menanggapi virus ini dengan orang-orang yang tidak beriman. Orang yang beriman itu tidak menganggap bahwa Allah itu jelek karena apapun yang dari Allah itu sudah ditulis.

Saya ingin sampingan dulu definisi bahagia yang saya maksud disini adalah... (Selengkapnya silakan simak video di bawah ini...)


Jazakumullah khairan katsir telah menyimak video ini. Jangan lupa SUBSCRIBE, LIKE (Jempol), dan SHARE (Bagikan) video ini ya, agar semakin banyak yang mendapakan manfaat dari video ini.











Bagikan:

Ketika Salman Al-Farisi Ditolak Lamarannya



Salman al Farisi adalah salah seorang sahabat Nabi saw yang berasal dari Persia. Salman sengaja meninggalkan kampung halamannya untuk mencari cahaya kebenaran. Kegigihannya berbuah hidayah Allah dan pertemuan dengan Nabi Muhammad saw di kota Madinah. Beliau terkenal dengan kecerdikannya dalam mengusulkan penggalian parit di sekeliling kota Madinah ketika kaum kafir Quraisy Mekah bersama pasukan sekutunya datang menyerbu dalam perang Khandaq.

Berikut ini adalah sebuah kisah yang sangat menyentuh hati dari seorang Salman Al Farisi: tentang pemahamannya atas hakikat cinta kepada perempuan dan kebesaran hati dalam persahabatan.

Salman Al Farisi sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mu’minah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai pacar. Tetapi sebagai sebuah pilihan untuk menambatkan cinta dan membangun rumah tangga dalam ikatan suci.

Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah, pelamaran.

Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang telah dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’.

”Subhanallaah. . wal hamdulillaah. .”, girang Abu Darda’ mendengarnya. Keduanya tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.

”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abu Darda’ berbicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.

”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.”

Abu Darda dan Salman menunggu dengan berdebar-debar. Hingga sang ibu muncul kembali setelah berbincang-bincang dengan puterinya.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Keterusterangan yang di luar kiraan kedua sahabat tersebut. Mengejutkan bahwa sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya. Bayangkan sebuah perasaan campur aduk dimana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran. Ya, bagaimanapun Salman memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya.

Namun mari kita simak apa reaksi Salman, sahabat yang mulia ini:

”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”

Betapa indahnya kebesaran hati Salman Al Farisi. Ia begitu faham bahwa cinta, betapapun besarnya, kepada seorang wanita tidaklah serta merta memberinya hak untuk memiliki. Sebelum lamaran diterima, sebelum ijab qabul diikrarkan, tidaklah cinta menghalalkan hubungan dua insan. Ia juga sangat faham akan arti persahabatan sejati. Apalagi Abu Darda’ telah dipersaudarakan oleh Rasulullaah saw dengannya. Bukanlah seorang saudara jika ia tidak turut bergembira atas kebahagiaan saudaranya. Bukanlah saudara jika ia merasa dengki atas kebahagiaan dan nikmat atas saudaranya.

“Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya.” [HR Bukhari]

Semoga bermanfaat dan dapat diambil hikmah dari kisah Salman ini. Allahu A'lam.





















Bagikan:

Kisah Salahnya Mendidik Anak



Dikisahkan, ada seorang ibu yang sangat menyayangi putra tunggalnya.Karena rasa kuatir yang sangat, ditambah maraknya berita penculikan di media massa, si ibu pun memberi nasihat kepada putranya, "Nak, kalau matahari sudah tidak bersinar lagi, jangan keluar rumah ya. Karena saat gelap seperti itulah roh jahat mulai bermunculan. Ada yang disebut kuntilanak, genderuwo, dan lain-lain. Pokoknya mahkluk jelek, hitam, dan jahat. Maka belajar baik-baik di dalam rumah saja ya, terutama malam hari, oke?" sang anak, yang sedikit penakut, dengan senang hati mematuhi nasehat ibunya. 

Setelah beranjak remaja, si anak tumbuh menjadi pemuda cilik yang penakut dan pengecut. Seringkali, ketakutannya yang berlebihan itu terbawa-bawa dalam mimpi. Tidak jarang, ketika tidur ia tiba-tiba terbangun dengan berteriak histeris serta bersimbah peluh ketakutan. Kedua orangtuanya pun menjadi khawatir melihat perkembangan jiwa si anak. Berbagai nasehat bernada menghibur yang disampaikan si orangtua kepada anaknya tidak bermanfaat sama sekali. Bahkan, kadang si anak justru merasa orangtuanya berusaha mencelakai dia.

Suatu hari, sang kakek mendengar kondisi cucunya tersebut. Maka, ia pun segera menyempatkan diri berkunjung ke rumah anaknya. Setelah memikirkan dengan seksama, suatu sore, si kakek mengajak cucunya berjalan-jalan ke pasar malam bersama-sama dengan beberapa orang tetangga dan teman si cucu. Sesampainya di pasar malam itu, mereka pun bersenang-senang. Sang cucu dan teman-temannya bermain dan melihat berbagai pertunjukkan hingga malam hari. Setelah puas dan lelah bermain, mereka pun berjalan kaki pulang ke rumah.

Tiba di rumah, si kakek meneruskan berbincang santai dengan cucunya. "Cucuku, terang dan gelap adalah sifat alam. Tidak ada hubungannya dengan roh gentayangan dan kejahatan. Sudah kita buktikan sendiri, kan? Bukankah sepanjang jalan dalam kegelapan tadi tidak ada satu pun roh jahat yang mengganggu? Ketahuilah, roh jahat hanya ada di pikiran kamu sendiri. Usir dia dari pikiranmu, maka tidak akan ada yang namanya roh jahat di muka bumi ini. Kakek yang sudah setua ini telah membuktikan sendiri. Ketakutan hanya ada di pikiran kita. Gunakan pikiranmu untuk hal-hal yang baik, maka engkau akan membuat segalanya menjadi baik, indah, dan membahagiakan. "

Demikianlah, berkat kata-kata bijak dari si kakek, lewat proses waktu, akhirnya si cucu mampu mengubah mindset dan memiliki kesehatan mentalitas yang positif. Ia pun tumbuh jadi pemuda yang pemberani.

RENUNGAN:
Mendidik anak dengan nada ancaman atau dengan menakutinya, walaupun untuk tujuan yang baik, bisa berdampak buruk dan merusak kesehatan mental, bila tidak disertai dengan pengertian benar!

Hukum pikiran bersifat universal dan berlaku untuk siapa saja, baik anak-anak atau orang dewasa, yakni you are what you think, Anda adalah apa yang Anda pikirkan! Maka, apa yang kita pikirkan, itulah yang akan terjadi. You are what you believe, Anda adalah apa yang Anda percayai!

Karena itu, kalau yang kita tanamkan ke dalam pikiran kita setiap hari adalah hal-hal yang negatif, dampaknya akan destruktif atau merusak. Sebaliknya, kalau baik dan positif sifatnya, tentu dampak dalam kehidupan kita akan menjadi positif dan konstruktif.

(Disarkan dari berbagai sumber/Admin)











Bagikan:

Show di Hadapan Allah SWT



Memperlihatkan amal shalih di hadapan manusia (riya’) adalah syirik ashghor (syirik kecil). Dampaknya, amal shalih yang didasari dan ditujukan untuk riya’i ini, tidak akan diterima Allah SWT. Repotnya, pada diri dan jiwa manusia, ada kecenderungan untuk diperhatikan, dilihat, dan ditonjolkan kepada orang lain, sebagaimana dikatakan oleh Imam Al Ghazali rahimahullah.

Pertanyaannya, adakah Allah SWT menuntut kita untuk melawan sesuatu yang sebenarnya ada di dalam jiwa kita? Atau lebih konkritnya: mungkinkah Allah SWT melarang kita dari perbuatan riya’, sementara kecenderungan itu ada dan include dengan ciptaan manusia?

Allah SWT -Yang Maha Pencipta (Al Khaliq)- adalah juga Yang Maha Mengetahui (Al ‘Aliim) dan juga Maha Bijaksana (Al Hakiim). Pada saat Dia menciptakan manusia dengan include di dalamnya kecenderungan untuk dilihat kerja-kerjanya oleh orang lain, dikagumi dan diceritakan, Dia juga memberikan jalan keluar yang menjadi tempat tumpahan perasaan itu (perasaan senang dilihat dan didengar ceritanya oleh orang lain).

Demi terpenuhinya perasaan tersebut, Allah SWT mengajarkan beberapa aqidah kepada kita, diantaranya:
1.  Kita diajari, agar senantiasa merasa bahwa setiap ucapan yang meluncur dari mulut kita (QS Qaf [50]: 18), segala gerak gerik kita, senantiasa dicatat oleh malaikat-malaikat yang ditugaskan Allah SWT untuk hal ini (QS Al Infithar [82]: 11). Karenanya, pertunjukkanlah kepada para malaikat itu hal-hal yang baik-baik, agar saat malaikat itu melaporkanya kepada Allah, Dia menjadi ridha kepada kita.
  
"Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat Pengawas yang selalu hadir." (QS Qaf [50]: 18).

"Yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu)." (QS Al Infithar [82]: 11)

2.  Kita diajari, bahwa pada setiap harinya, Allah SWT menurunkan malaikat-malaikat yang bertugas di siang hari, dan malaikat-malaikat yang bertugas di malam hari. Dan yang pernah bertugas, tidak akan turun lagi. Dua shift malaikat ini bertemu pada waktu Ashar dan Shubuh. Tugas mereka adalah melaporkan hamba-hamba Allah dari kalangan manusia kepada-Nya (meskipun Allah SWT telah mengetahui semuanya). Bila manusia-manusia itu didapatinya berada di masjid sedang melakukan shalat berjama’ah, maka saat para malaikat itu ditanya Allah: “Bagaimana keadaan hamba-hamba-Ku saat engkau datang, dan saat engkau tinggalkan?”. Para malaikat itu akan menjawab: “Waktu kami datang, mereka sedang dalam keadaan shalat, dan waktu kami tinggalkan, merekapun sedang dalam keadaan shalat. Ketahuilah bahwa para malaikat itu hanya mendatangi masjid (termasuk mushalla tempat berjama’ah lima waktu), tidak tempat lainnya. Oleh karena ini, berusahalah agar setiap pelaksanaan waktu shalat berjama’ah, kita melakukannya di masjid, khususnya, jama’ah Ashar dan jama’ah Shubuh. Sebab, pada dua waktu ini, dua shift malaikat sedang berkumpul, yang bertugas malam baru turun di waktu Ashar dan yang bertugas siang baru akan kembali kepada Allah, begitu juga sebaliknya.

3. Pada setiap Jum’at, Allah SWT juga menugaskan malaikat-malaikat-Nya untuk “mengabsen” atau “mendata” siapa-siapa yang datang di masjid untuk shalat Jum’at. Mereka semua berjaga di setiap pintu masjid. Siapa saja yang datang pada saat pertama, ia akan dicatat sebagai orang yang berkurban dengan unta. Yang datang pada saat kedua akan dicatat sebagai orang yang berkurban dengan sapi. Yang datang pada saat ketiga, akan dicatat sebagai seseorang yang berkurban dengan kambing. Yang datang pada saat kelima akan dicatat sebagai orang yang berkurban dengan ayam. Dan yang datang pada saat kelima akan dicatat sebagai seseorang yang berkurban dengan telur. Lalu, setelah khatib naik mimbar, para malaikat itu memasuki masjid dan mendengarkan khutbah sang khatib. Karenanya, siapa saja yang datang pada saat khatib telah naik mimbar, ia tidak akan tercatat oleh para malaikat yang bertugas itu.

4. Berkenaan dengan Ramadhan, kita diperintahkan untuk memperlihatkan kepada Allah SWT segala hal yang baik, dan kita akan dibangga-banggakan Allah SWT di hadapan para malaikat-Nya. Karenanya, kita harus berkompetisi untuk show di hadapan Allah SWT dengan amal-amal shalih kita. Rasulullah saw bersabda: “Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan keberkahan, Allah SWT memberikan kecukupan kepada kalian pada bulan ini, Dia menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan do’a, Allah SWT melihat kompetisi kalian, dan membanggakan kalian di hadapan para malaikat-Nya, karenanya, tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang terbaik dari kalian, sebab, orang yang sengsara adalah yang terhalang dari rahmat Allah SWT.” (Al Haitsami berkata: “diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam al mu’jam al kabiir, dan di dalamnya ada Muhammad bin Abi Qais, dan saya tidak menemukan siapapun yang menjelaskan biografinya).

Saudara-saudaraku yang dimulyakan Allah …
Dan tinggal satu hal lagi, dan ini yang paling penting, kita harus senantiasa memohon kepada Allah SWT agar Dia senantiasa melimpahkan taufiq, hidayah dan ‘inayah-Nya kepada kita, sehingga kita mampu mengisi Ramadhan tahun ini dengan yang terbaik daripada tahun-tahun sebelumnya, amiiin.

Ya Allah, tolonglah saya untuk mengingat-Mu, mensyukuri-Mu dan baik dalam beribadah kepada-Mu, amiiin.

(Disarikan dari berbagai sumber/Admin)











Bagikan:

Ketika Pasangan Mulai Mendua



Cinta bukan sekedar sekumpulan kata yang indah di lisan.
Cinta bukan hanya manis dilaku, dan sepintas lalu.
Namun cinta adalah perjuangan.
Perjuangan ketika ujian melanda, dan cinta tetap bertahan.
Bertahan karena-Nya.
 * * *

Dia masih di sudut pintu kamar menunggu jawabanku, dan aku tertunduk di sofa samping tempat tidur kami. Kamar ini sebelum satu jam yang lalu masih ruangan favoritku. Lampu temaram yang membuat ruangan ini selalu terasa cozy. Semua aktivitas favoritku berpusat disini. Menulis, membaca dan diskusi dengannya. Dan detik ini, ruangan kami begitu menyiksa hati.

Seperti sketsa di sebuah pertunjukkan. Rumah tangga yang selalu meredam emosi dengan diskusi panjang, dan kami yang mampu menahan ego satu sama lain karena rasa saling menghormati dan menyayangi. Jika sebelas tahun terasa singkat, itu karena kami selalu saling mengerti. Dan tibalah ketika lelaki ini bercerita bahwa ada sosok lain yang membutuhkannya. Membutuhkan tak sekedar perhatian antar sesama, namun lebih dari itu berbagi kasih sayang. Wanita itu sahabat suamiku. Dan aku mengenal dekat bahkan dengan keluarganya. Wanita baik, berasal dari keluarga baik-baik dan suaminya meninggalkannya ketika bertugas di Lhok Ngah Aceh dan tak pernah kembali ketika musibah Tsunami melanda di akhir tahun 2006. Meninggalkan seorang istri dan putri yang masih balita. 

Kami dekat, karena kami berkewajiban membantu keuarga yang baru saja dilanda musibah dan putri mereka yang kini yatim. Hubungan kami baik selama 7 tahun. Suamiku yang shalih, tak pernah marah berlebihan padaku, telaten mengajarkanku banyak hal dan yang selalu kuingat sifat amanahnya akan sebuah komitmen untuk selalu bermanfaat. Hingga aku pun akrab dengan sahabatnya.

Ketika kantorku membutuhkan pegawai, maka sahabat suamiku lah yang kuhubungi, karena memang ia single parent yang membutuhkan pekerjaan. Maka semakin akrablah kami.

Dan ketika lelaki itu meminta istrinya untuk rela berbagi rumah tangga dengan wanita lain, maka keluarlah sebuah kalimat meminta izin. Dan jika tidak diizinkan pun, lelaki itu tak memaksa. Dia akan tetap memilih istrinya. Di kehidupan kini maupun nanti.

Ah, lelaki itu suamiku dan wanita itu kini bukan hanya sahabat baikku, ia sudah seperti saudara.

Mendadak bibir kelu dan ujung lengan sweater ku basah dengan airmata yang tak berhenti meleleh.

Aku mencari alasan untuk tak sakit hati, atas permintaan dan pernyataan suamiku. Permintaan yang tak sanggup kukabulkan. Suamiku yang nyaris mengasihiku secara utuh, suamiku yang kukagumi nyaris penuh seluruh jiwaku, lalu dimana cintaku kini kuletakkan. Hingga hati tak terlalu sakit.
Sampai detik ini, aku tak pernah menanyakan apakah wanita itu memahami maksud suamiku. Sungguh telinga ini tak siap, mendengar sejauh apa hubungan mereka.

Yang ku tahu, kini suamiku menjaga jarak dengannya dan aku memilih resign. Meski begitu aku tetap bersahabat dengannya. Persahabatan kami tak terganti. Dia wanita yang menjaga keshalihatannya. Suamiku tak salah pilih, aku yang tak sanggup dengan pilihan hidupnya.
Rumah Kami, 2013

* * *

Kehidupan tak selalu berpihak pada kita. Kita belajar hal tersebut mulai dari kecil, dimana kita berusaha keras dengan belajar ketika ujian, namun hasil yang didapat tak sebanding dengan kerja keras kita. Dan ketika kita mencapai fase untuk membangun rumah tangga seperti yang kita inginkan, maka ujian pun menemani proses pencapaian terbaik kita. Namun Allah selalu ada di setiap langkah. Dimana Dia Maha Tahu yang terbaik untuk hamba-Nya. Termasuk ujian yang akan menaikkan derajat keimanan hambanya. Dan ketika ujian datang kepada muslimah, seharusnya kita siap. Kesiapan kita tergantung kadar keimanan dan ilmu kita.

Lalu apa yang kita lakukan ketika ujian datang, berikut tips yang semoga membawa inspirasi untuk muslimah agar lebih tegar disaat ujian melanda.

1. Allah sebaik-baik tempat mencurahkan isi hati.

Yakinlah segala permasalahan atas kehendak-Nya, maka jadikanlah yang Maha Berkendak adalah tempat pertama untuk mengadukan segala keluh kesah. Allah tempat untuk melapangkan hati sebelum kita berbagi beban ke sesama. Setelahnya agar Allah menunjukkan kita bertemu dengan keluarga dan sahabat-sahabat terbaik sebagai pemberi nasihat. Ingatlah, bahwa kita tidak sendirian mengahapi permasalahan rumah tangga kita. Ada Allah yang tak pernah lelah mendengar pinta kita. Selalu resapi isi Al Quran, karena segala permasalahan di muka bumi ini tertuang dalam Al Quran.

“Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu Kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya” (QS. Al-Mu’minuun : 62).

2. Moment muhasabah.

Koreksi diri. Tentulah tak ada asap kalau tak ada api. Dan hendaknya sebuah permasalahan adalah momen untuk mengevaluasi. Sejauh mana kebaikan kita dalam mengurus rumah tangga? Sudahkah kita ikhlas berbakti pada suami hingga tak ada keluh ketika suami berperilaku seperti yang kita harapkan? Lalu sejauh mana kebaikan kita dalam berumahtangga sehingga rumahtangga kita memberi manfaat pada sesama?

Momen koreksi diri juga langkah awal untuk berbesar hati. Bahwa di setiap kesalahan pasangan, ada tanggung jawab kita. Disinilah kita belajar berbesar hati mengambil hikmah atas sebuah ujian yang tengah melanda.

3. Saatnya me-recovery hati.

Ya, saatnya menyembuhkan hati, agar rutinitas kehidupan tetap berjalan. Permasalahan harus kita hadapi dan selesaikan dengan baik, terpuruk dan tidak keluar dari kamar bukanlah penyelesaian. Mulailah bangun komunikasi yang ‘lebih baik’ dengan pasangan. Sabar, ikhlas, ikhtiar, doa, ber-silaturrahim dan menempatkan porsi cinta yang sewajarnya mampu membuat lapang hati. Sakit memang ketika dihadapkan pada pasangan yang mulai mendua, namun dengarlah alasan pasangan. Selanjutnya berdiskusi dan maafkan. Apapun keputusan kita dan pasangan, yakinkan bahwa semua atas kehendak Allah.
Mudah bagi Allah menjadikan kesulitan berganti kemudahan dan menjadikan ujian berganti kebahagiaan. Permasalahan ada, agar kita lebih mendekat pada-Nya, dan Allah tak ingin diduakan oleh hamba-Nya. Semoga sebentuk hati pada pasangan yang mendua, dimampukan dalam pilihan kebaikan yang karena Allah semata. Aamiin. (Sumber: Fayza Sari)

Allahu a'lam...





Bagikan: