Terbersit begitu saja dalam benak. Entah kenapa kok
tiba-tiba teringat dengan kisahnya orang yahudi tua yang meminta keadilan
kepada Umar bin Khattab karena rumahnya di Mesir terkena pelebaran masjid
besar. Tak ingin pikiran ini hilang begitu saja, saya berusaha menuliskannya
disini. Semoga mencerahkan.
Saat itu Gubernur Mesir (Amr bin Ash) sedang melakukan mega
proyek pelebaran masjid. Ternyata dalam pelebaran itu mengenai rumah seorang
yahudi tua ini.
Dengan berbagai macam cara negosiasi, rumah orang yahudi tua
tersebut akan dibeli oleh negara. Mulai dari penawaran harga standard sampai
paling mahal. Namun orang yahudi tua tersebut tetap menolak.
Akhirnya dengan berbagai pertimbangan (kepentingan umum dan
tata kota), pemerintahan Mesir saat itu yang dipimpin Amr bin Ash menggusur
paksa rumah orang yahudi tua tersebut.
Orang yahudi tua tersebut merasa bahwa pemerintahan di Mesir
saat itu sangat tidak bijak. Dia merasa terdzolimi. Akhirnya, dia memutuskan
untuk mengadukan permasalahannya kepada pimpinan gubernur Mesir, yaitu Sang
Khalifah saat itu, Umar bin Khattab.
Dia melakukan perjalanan yang sangat jauh, melewati gurun
pasir, dan perjalanan yang melelahkan dari Mesir menuju Madinah. Demi
mendapatkan suatu keadilan dari permasalahan yang dihadapinya.
Ada yang tahu jarak Mesir dan Madinah? Nanti kita kupas ya.
Sesampainya di Madinah, dia sangat terkejut saat melihat
kondisi Sang Khalifah Umar bin Khattab. Sangat jauh dari prediksi dan
bayangannya selama ini.
Dia bertemu Umar bin Khattab di masjid. Dengan pakaian yang
sangat sederhana. Tanpa pengawalan yang ketat. Mudah mengaksesnya.
Oleh Umar bin Khattab diajaklah orang yahudi tua ini duduk
di bawah pohon yang rindang. Ditanyalah maksud dan tujuannya menemuinya.
Orang yahudi tua tersebut menjelaskan dengan sangat detail
permasalahan yang dihadapinya. Berharap dia mendapatkan keadilan yang
seadil-adilnya.
Sontak Umar bin Khattab emosi. Berubah mimik wajahnya.
Mengisyaratkan kekecewaan atas pemerintahan Amr bin Ash di Mesir.
Umar bin Khattab akhirnya meminta orang yahudi tua itu untuk
mengambil sebuah sampah tulang yang berserakan di dekatnya dan memberikan
kepadanya.
Diambilah sebuah pedang lalu digoreskan ujung pedang
tersebut di atas tulang. Goresan itu seperti huruf Alif yang lurus dari atas ke
barah, lalu dicoret di tengahnya.
Diberikanlah tulang itu kepada orang yahudi tua tersebut.
Dengan berpesan agar menyampaikan tulang ini kepada Gubernur Mesir, Amr bin
Ash.
Orang yahudi tua ini bertambah keheranan. Bukan solusi yang
diberikan atas permasalahannya, malah tulang yang dia dapat.
Selama perjalan pulang, tak henti-hentinya dia mengomel.
Sudah jauh-jauh melakukan perjalanan, hanya tulang yang didapatkan.
Sesampainya di Mesir, dia langsung menemui Amr bin Ash. Dia
serahkan tulang itu kepadanya. Dia menyampaikan bahwa telah mengadu kepada Umar
bin Khattab dan diberi pesan menyampaikan tulang itu.
Sewaktu Amr bin Ash menerima tulang itu, dia sangat
terkejut. Mukanya menunjukkan rasa takut yang sangat. Tubuhnya gemetar.
Keringan dingin keluar dari sekujur tubuhnya.
Tanpa banyak bicara, Amr bin Ash langsung memanggil seluruh
staff pemerintahannya untuk membongkar kembali masjid yang sudah hampir jadi
tersebut. Tak hanya itu, dia meminta agar membangunkan lagi rumah milik orang
yahudi tua itu dan mengembalikan padanya.
Amr bin Ash turun tangan langsung memimpin penghancuran
bagian masjid yang melewati rumah orang yahudi tua tersebut. Namun, sebelum Amr
bin Ash melakukannya, dengan segera orang yahudi tua itu menghampirinya dan
mencegahnya.
Dia mengajukan beberapa pertanyaan kepada Amr bin Ash atas
apa yang sebenarnya yang terjadi. Banyak pikiran berkecamuk dalam kepala orang yahudi
tua itu.
Amr bin Ash menjelaskan bahwa tulang yang dia terima itu ada
pesan dari Umar bin Khattab kepadanya untuk berlaku adil kepada siapa pun. Jika
tidak, maka Umar bin Khattab akan memeranginya.
Mendengar penjelasan dari Amr bin Ash, orang yahudi tua ini
sangat terpukau, terpana, dan heran. Ternyata begitu aturan Islam dalam
menegakkan keadilan dan begitu juga ternyata ketaatan seorang gubernur kepada
khalifah (pemimpinnya).
Akhirnya orang yahudi tua ini bergembira dengan Islam dan
memantapkan hati untuk masuk Islam. Dia selanjtnya mewakafkan tanahnya untuk
dibuat masjid.
Sungguh kisah yang sangat diharapkan terjadi saat ini. Allahu a'lam.
*****
Mari kita kupas satu persatu.
1. Kurang shalih seperti apa Amr bin Ash dan orang-orang di pemerintahannya
saat itu. Selain shalih, mereka juga berilmu, berpegalaman, dan juga Allah SWT karuniakan
kekayaan dunia. Tetapi mereka masih bisa saja membuat kebijakan yang tidak
berpihak kepada orang kecil. Meskipun menurut mereka apa yang dilakukan
tersebut untuk kepentingan umum dan keindahan tata kota. Tentu kebijakan itu sudah
pasti ditetapkan melalui mekanisme musyawarah gubernur dan para staff-nya.
2. Orang yahudi tua itu saat ini bisa menjadi potret kondisi
orang kecil, bawahan, karyawan, atau rakyat jelata. Terkadang kebijakan yang
diberikan oleh pemerintah atasannya tidak berpihak pada dirinya. Dia dipaksa
mengikuti kebijakan atasannya. Tetapi dia tak berputus asa untuk mencari sebuah
keadilan. Hingga akhirnya dia mendapatkan keadilan seadil-adilnya. Bahkan
hidayah masuk kedalam dirinya hingga dia masuk Islam.
3. Dalam mencari sebuah keadilan, dia harus melakukan
perjalanan dari Mesir ke Madinah (PP). Adakah yang tahu berapa jarak Mesir ke
Madinah? Coba cek di google! Bahwa disebutkan jarak Mesir ke Madinah (jika
ditarik garis lurus) adalah 914 Km. Berarti total perjalanan dari berangkat
hingga pulang, orang yahudi tua ini telah menembuh jarak 1.828 km. Melebihi
jarak perjalanan Jakarta-Surabaya (PP). Lalu, berapa hari perjalanan yang telah
dia tempuh? Bagaimana kondisi perjalanannya, bekal, dan kelelahan yang dia alami
selama perjalanan? Dia orang yahudi, tak memiliki kenalan di Madinah yang mayoritas
Islam. Bagaimana kondisi psikologisnya?
4. Saat ini bisa jadi masih ada pemimpin (pada semua
levelnya), yang dikaruniai kesholihan, ilmu, pengalaman, dan kekayaan. Tetapi
kebijakan yang dibuatnya (menurutnya benar) untuk kepentingan bersama. Namun di
satu sisi apakah tidak menyadari bahwa kebijakannya itu telah mendzalimi orang
lain.
5. Saat ini, Sang khalifah sudah tidak ada. Sang Khalifah
yang hanya dengan goresan pada tulang mampu mengingatkan dan menegur gubernur
sekaliber Amr bin Ash. Sudah tak ada lagi, manusia tempat mengadukan
permasalahan untuk mencari keadilan dari para pemimpin di daerahnya. Tetapi,
jangan lupa, Allah SWT (tuhannya Umar bin Khattab) terus selalu ada. Yang
Selalu Mendengar aduan dari para manusia.
6. Kalau Amr bin Ash saja luluh hatinya diingatkan dengan
tulang bergoreskan ujung pedang, apakah para pemimpin yang saat ini merasa dikaruniai
kesholihan, ilmu, pengalaman, dan kekayaan tetap merasa benar dengan
kebijakannya, meskipun telah mendzalimi orang lain? Amr bin Ash saja mampu mengubah kebijakannya
ketika dinasehati dan bahkan tidak beradu argumen untuk mempertahankan
kebijakannya. Anda ingin dinasehati dengan cara apa? Apakah menunggu Allah SWT mencabut semua
kesholihan, ilmu, pengalaman, dan kekayaanmu? Sekeras itukah hatimu? Ataukah malah bangga memiliki hati keras?
7. Sebagai orang kecil yang tak memiliki pengalaman, ilmu,
dan kekayaan, bisa jadi merasa kedzoliman dari kebijakan yang mengatasnamakan
kepentingan bersama, tak mampu dia lawan. Namun, curahan hati, aduan, keluh
kesah, dan ratapan hatinya yang disampaikan kepada Rabbul ‘alamin tak ada yang
mampu menahannya. Kepasrahan atas ketidakmampuan dalam mendapatkan haknya akan
menjadi wasilah pertolongan Allah SWT kepadanya dan balasan sepadan kepada orang-orang
yang membuat kebijakan dzalim kepadanya.
Demikian ulasan tentang kisah apakah pemimpin itu selalu benar. Semoga ini menginspirasi pembaca semuanya. Membacanya tidak boleh sambil baper. Kalu sudah kadung baper, ayo baca istighfar 100 kali. :)