"Menyebarluaskan Pengetahuan..."

PENDIDIKAN

Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema pendidikan. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

KELUARGA

Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema keluarga. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

PEMUDA

Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema pemuda. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

KEPEMIMPINAN

Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema kepemimpinan. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

PRIBADI ISLAMI

Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema pribadi Islami. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

PRAMUKA

Berbagai unggahan GiatEdukasi.com dengan tema Pramuka. Silakan kunjungi dan simak setiap video kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

VIDEO

Berbagai unggahan GiatEdukasi.com dalam bentuk video. Silakan kunjungi dan simak setiap video kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.

Mari Mengenal Puasa Sunnah

Standar Kompetensi
1. Mengenal Fiqih Islam

Kompetensi Dasar
1.1 Mengetahui puasa Sunah

Indikator :
1. Siswa dapat menyebutkan makna puasa sunah dengan benar
2. Siswa mampu menyebutkan macam-macam puasa sunah
3. Siswa mampu untuk menyebutkan hal-hal yang membatalkan puasa
4. Siswa mampu menyebutkan hari-hari yang diharamkan puasa

a. Pengertian puasa
Shaum atau puasa secara bahasa bermakna al-imsak atau menahan diri dari sesuatu seperti menahan diri dari makan atau berbicara. Makna shaum seperti ini dipakai dalam ayat ke-26 surat Maryam. “Maka makan dan minumlah kamu, wahai Maryam, dan tenangkanlah hatimu; dan jika kamu bertemu seseorang, maka katakanlah saya sedang berpuasa dan tidak mau berbicara dengan siapapun.”

Sedangkan secara istilah, shaum adalah menahan dari dari dua jalan syahwat, mulut dan kemaluan, dan hal-hal lain yang dapat membatalkan pahala puasa mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

b. Macam-macam puasa sunah 
1. Puasa Syawal
Puasa syawal adalah puasa sunah 6 hari yang dilakukan di bulan Syawal, dimulai pada hari ke-2 (setelah Idul Fitri) sampai hari ke-7. Cara pelaksanaan puasa syawal bisa berturut turut dan boleh juga tidak .

Artinya : "Barang siapa berpuasa dibulan Ramadhan, kemudian diikuti dengan enam hari di bulan syawal maka yang demikian itu seolah-olah berpuasa setahun penuh" (HR. Muslim)

2. Puasa Arafah
Di Arafah seluruh jama’ah haji berkumpul dalam waktu yang bersamaan. Pada saat itulah umat islam yang sedang melakukan haji (wukuf) di Arafah tidak disunahkan untuk berpuasa arafah. Tetapi bagi umat islam yang tidak sedang melakukan haji (wukuf) disunahkan untuk berpuasa arafah.

Puasa arafah adalah puasa sunah yang dikerjakan pada tanggal 9 Dzulhijah bagi umat islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji.

3. Puasa Senin-Kamis
Dinamakan puasa senin kamis karena puasa ini dikerjakan pada hari senin dan kamis di luar puasa wajib. Puasa senin kamis ini merupakan sunah Nabi Muhammad SAW.

4. Puasa Daud
Puasa daud adalah puasa dengan cara satu hari puasa, satu hari tidak, puasa daud bertujuan untuk meneladani puasanya Nabi Daud As.

5. Puasa 3 hari pada pertengahan bulan (menurut kalender islam)(Yaumil Bidh), tanggal 13, 14, dan 15

6. Puasa Sya’ban (Nisfu Sya’ban) pada awal pertengahan bulan Sya’ban

c. Sunah-sunah Ketika Menjalankan Ibadah Puasa
1. Bersahur walaupun sedikit makanan atau minuman
2. Melambatkan bersahur
3. Meninggalkan perkataan atau perbuatan keji
4. Segera berbuka setelah masuknya waktu berbuka
5. Mendahulukan berbuka daripada sembahyang Maghrib 
6. Berbuka dengan buah tamar/kurma, jika tidak ada dengan air
7. Membaca doa berbuka puasa

d. Hal-hal / Perkara Yang Membatalkan Puasa
1. Memasukkan sesuatu ke dalam rongga badan
2. Muntah dengan sengaja 
3. Bersetubuh atau mengeluarkan mani dengan sengaja
4. Kedatangan haid atau nifas
5. Melahirkan anak atau keguguran
6. Gila walaupun sekejap
7. Mabuk ataupun pengsan sepanjang hari
8. Murtad atau keluar daripada agama Islam

e. Perkara-perkara yang Makruh dilakukan saat Berpuasa
1. Selalu berkumur-kumur
2. Merasa makanan dengan lidah
3. Berbekam kecuali perlu
4. Mengulum sesuatu

f. Hikmah / Manfaat Puasa
Hikmah dari ibadah shaum itu sendiri adalah melatih manusia untuk sabar dalam menjalani hidup. Maksud dari sabar yang tertera dalam al-Quran adalah ‘gigih dan ulet’ seperti yang dimaksud dalam QS. Ali ‘Imran : 146

“Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar”

g. Waktu-waktu Di haramkan Puasa
1. Pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha
Di haramkan berpuasa pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, baik itu untuk mengqadha puasa yang ditinggalkan, membayar kafarat, maupun sebagai puasa sunah.

2. Pada Hari Tasyriq
Puasa pada hari-hari tasyriq yaitu puasa pada tanggan 10,11, 12, dan 13 Djulhizah juga diharamkan.

h. Waktu-waktu yang di makruhkan berpuasa
1. Mengkhususkan pada bulan Rajab saja
Berpuasa satu bulan penuh pada bulan rajab merupakan amalan yang dimakruhkan.

2. Puasa dhar
Puasa dhar adalah puasa yang dilakukan secara terus menerus setiap hari.

3. Mengkhususkan pada hari jum’at untuk berpuasa

Sebagai ilustrasi, silakan simak video berikut ini:

Allahu a'lam...




Bagikan:

Mengenal Asmaul Husna: Ar Rahman dan Ar Rahim

A. Standar Kompetensi
Mengerti tentang fakta-fakta yang berhubungan dengan aqidah yang benar yang digali dari Al Qur`an, As Sunah, dalil-dalil naqly dan aqly, menanamkannya dalam jiwa, dan membersihkannya dari bid`ah dan khurofat yang mungkin mengotorinya.

B. Kompetensi Dasar
Memahami pentingnya ma‟rifatullah untuk meningkatkan iman dan taqwa dalam kehidupan manusia melalui ayat-ayat dalam Al Qura‟an.

C. Indikator Pencapaian Hasil
1. Peserta mengetahui arti Ar Rahman & Ar Rahim
2. Peserta mengetahui ayat tentang Ar Rahman & Ar Rahim
3. Peserta memahami makna Ar Rahman & Ar Rahim melalui kisah dan nasihat

D. Uraian Materi
Asy-Syaikh Muhammad Khalil Al-Harras mengatakan, “Keduanya adalah nama yang mulia dari nama-nama Allah. Kedua nama ini menunjukkan bahwa Allah memiliki sifat rahmat, kasih sayang, yang merupakan sifat hakiki bagi Allah dan sesuai dengan kebesaran-Nya.” Kedua nama Allah ini disebutkan dalam banyak ayat dan hadits Nabi, diantaranya:

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Al-Fatihah: 1)

“Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Al-Fatihah: 3)

Maknanya, menurut Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, “Ar-Rahman artinya Yang memiliki rahmat, kasih sayang yang luas, karena wazan (bentuk kata) fa‟lan dalam bahasa Arab menunjukkan makna luas dan penuh. Semisal dengan kata „Seorang lelaki ghadhbaan,‟ artinya penuh kemarahan.

Sementara, Ar-Rahiim adalah nama Allah yang memiliki makna kata kerja dari rahmat (yakni Yang merahmati, Yang mengasihi), karena wazan fa‟iil bermakna faa‟il, sehingga kata tersebut menunjukkan perbuatan (merahmati, mengasihi).

Oleh karena itu, paduan antara nama Ar-Rahman dan Ar-Rahim bermakna rahmat Allah itu luas dan kasih sayang-Nya akan sampai kepada makhluk-Nya.”

Adakah perbedaan antara nama Allah Ar-Rahman dan Ar-Rahim? Tentu ada sisi perbedaannya, karena setiap nama punya makna yang khusus. 

Berikut ini penjelasan sebagian ulama tentang perbedaan diantara keduanya. Al-Arzami mengatakan: “Ar-Rahman artinya Yang Maha Pengasih terhadap seluruh makhluk, sedangkan Ar-Rahim artinya Yang Maha Pengasih terhadap kaum mukminin.” (Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabari, Tafsir Basmalah)

Dengan demikian, dikatakan bahwa yang dimaksud dengan Ar-Rahman adalah yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu di dunia, karena bentuk kata/wazan fa‟lan itu menunjukkan penuh dan banyak. Sedangkan Ar-Rahim, yang rahmat-Nya khusus terhadap kaum mukimin di akhirat.

Akan tetapi, ada pula yang mengatakan sebaliknya. Ibnul Qayyim memandang bahwa Ar-Rahman menunjukkan sifat kasih sayang pada Dzat Allah (yakni Allah memiliki sifat kasih sayang), sedangkan Ar-Rahim menunjukkan bahwa sifat kasih sayang-Nya terkait dengan makhluk yang dikasihi-Nya.

Sehingga seakan-akan nama Ar-Rahman adalah sifat bagi-Nya, sedangkan nama Ar-Rahim mengandung perbuatan-Nya, yakni menunjukkan bahwa Dia memberi kasih sayang kepada makhluk-Nya dengan rahmat-Nya, jadi ini sifat perbuatan bagi-Nya. Apabila Anda hendak memahami hal ini, perhatikanlah firman Allah:

“Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (Al-Ahzab: 43)

“Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.” (At-Taubah: 117)

Allah l tidak menyebutkan dengan nama Ar-Rahman sama sekali. Dengan itu, Anda tahu bahwa makna Ar-Rahman adalah Yang memiliki sifat kasih sayang dan makna Ar-Rahim adalah Yang mengasihi dengan kasih sayang-Nya. (Syarah Nuniyyah, Ahmad Isa) Al-Harras mengatakan, ini adalah pendapat yang terbaik dalam membedakan kedua nama tersebut.

Berikut ini kutipan penjelasan Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa‟di tentang keagungan dua nama Allah l tersebut.

Ar-Rahman dan Ar-Rahim, adalah dua nama yang menunjukkan bahwa Allah memiliki kasih sayang yang luas dan agung. Kedua nama ini meliputi segala sesuatu dan meliputi segala makhluk. Allah telah menetapkan kasih sayang yang sempurna bagi orang-orang bertakwa yang mengikuti para nabi dan rasul-Nya.

Oleh karena itu, mereka mendapatkan kasih sayang sempurna yang bersambung dengan kebahagiaan yang abadi.

Adapun orang-orang yang selain mereka terhalang dari kasih sayang yang sempurna ini, karena mereka sendiri yang menolaknya dengan cara tidak memercayai berita (Ilahi) dan berpaling dari perintah. Oleh karena itu, janganlah mereka mencela siapapun kecuali diri mereka sendiri.

Mereka (yang bertakwa) mengimani bahwa Allah Maha Rahman dan Maha Rahim, memiliki rahmat yang agung, dan rahmat-Nya terkait dengan makhluk-Nya yang dirahmati, sehingga nikmat seluruhnya adalah buah dari rahmat-Nya.

Orang yang memerhatikan nama Allah Ar-Rahman, dan bahwa Allah Maha luas rahmat-Nya, memiliki kasih sayang yang sempurna, dan kasih sayang-Nya telah memenuhi alam semesta baik yang atas maupun yang bawah, serta mengenai seluruh makhluk-Nya, serta mencakup dunia dan akhirat; juga mentadaburi ayat-ayat yang menunjukkan semacam makna ini:

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (Al-A‟raf: 156)

“Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (Al-Hajj: 65)

“Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya (Dzat yang berkuasa seperti) demikian benar-benar (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang telah mati. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Ar-Rum: 50)

“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin.” (Luqman: 20)

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (An-Nahl: 53)

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nahl: 18)

Juga ayat-ayat setelahnya yang menunjukkan pokok-pokok nikmat, dan cabangnya yang mengandung salah satu dari sekian banyak buah rahmat Allah.

Oleh karenanya, Allah berfirman di akhirnya: “Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya).” (An-Nahl: 81)

Lalu mentadaburi surat Ar-Rahman dari awal hingga akhirnya, karena surat itu adalah ungkapan dari penjabaran rahmat Allah l; maka semua ragam makna dan corak nikmat yang ada padanya adalah rahmat dan kasih sayang-Nya. 

Oleh karena itu, Allah mengakhiri surat itu dengan menyebutkan apa yang Allah siapkan untuk orang-orang yang taat di dalam surga, berupa kenikmatan abadi yang sempurna, yang merupakan buah dari rahmat-Nya. Oleh karenanya, Allah menamai surga dengan rahmat, sebagaimana dalam ayat-Nya:

“Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya.” (Ali „Imran: 107)

Dalam hadits shahih disebutkan: “Allah lebih penyayang terhadap hamba-Nya daripada seorang ibu terhadap anaknya.”

Dalam hadits lain disebutkan: “Sesungguhnya Allah telah menuliskan sebuah tulisan di sisi-Nya, di atas Arsy-Nya „Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului kemurkaan-Ku‟.” 

Ringkas kata, Allah telah menciptakan makhluk dengan rahmat-Nya dan mengutus para rasul kepada mereka karena rahmat-Nya pula. Allah l memerintah dan melarang mereka serta menetapkan syariat untuk mereka karena rahmat-Nya. 

Allah melingkupi mereka dengan kenikmatan lahir dan batin karen rahmat-Nya. Dia mengatur mereka dengan berbagai aturan dan melindungi mereka dengan berbagai perlindungan karena rahmat-Nya, serta memenuhi dunia dan akhirat dengan rahmat-Nya.

Oleh karena itu, urusan ini tidak akan menjadi baik dan mudah, begitu pula tujuan dan berbagai tuntutan tidak akan terwujud melainkan karena rahmat-Nya.

Bahkan, kasih sayang-Nya melebihi semua itu, lebih agung dan lebih tinggi. Apatah lagi, orang-orang baik dan bertakwa akan mendapatkan bagian terbesar dan kebaikan terbanyak dari rahmat-Nya.

“Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Al-A‟raf: 56)

Mengimani nama Allah tersebut akan menambah rasa syukur kita kepada Allah, karena berbagai nikmat yang dikaruniakan Allah kepada kita, baik yang ada dalam organ tubuh, kebutuhan keseharian, alam sekitar kita, maupun alam semesta ini semuanya, adalah semata-mata buah dari kasih sayang-Nya, yang mengharuskan kita untuk tunduk dan bersyukur kepada-Nya, serta membalasnya dengan ketaatan, bukan dengan kemaksiatan dan kerusakan.

Contoh Kisah

Kisah Ali dan Orang Miskin
Saat Ali sedang pergi ke masjid, datanglah seorang miskin yang meminta uang untuk membeli nasi sarapan pagi. Ali memberinya uang sejumlah yang diminta orang miskin tersebut. 

Keesokan harinya, peristiwa tersebut kembali terjadi dengan orang miskin yang sama. Esoknya lagi dan seterusnya orang miskin tersebut selalu datang meminta uang kepada orang kaya ini dan setiap kali datang selalu diberinya uang tanpa pamrih.

Sampai suatu saat, orang kaya ini berjalan-jalan ke pasar dan melihat orang miskin tersebut. Ali terkejut melihat apa yang dilakukan orang miskin tersebut di sudut pasar.

Ternyata orang miskin tersebut sedang berjudi bersama banyak orang. Betapa kecewa hatinya karena orang miskin tersebut rutin diberikan uang untuk sarapan tiap paginya.

Ingin ditegurnya tetapi berat hati pula. Ali sengaja mendekat dan orang miskin itu sebenarnya mengetahui kedatangannya namun pura-pura tidak mengenalnya.

Keesokan harinya, sebagaimana biasa orang kaya ini didatangi kembali orang miskin itu meminta uang untuk sarapan pagi. Tahukah apa yang terjadi? Apakah orang kaya ini rela memberikan uangnya kepada orang miskin itu sebagaimana hari-hari sebelumnya?

Kemungkinan besar bahkan hampir pasti orang kaya dermawan tidak lagi memberikan uangnya kepada orang miskin tersebut karena sudah mengetahui keburukan dan kedustaannya.

Maha Suci Allah dari segala sifat atau kelemahan manusia, karena itulah manusia dengan segala keterbatasannya. Berbeda dengan Allah, Yang Maha Pengasih. Disaat hamba-Nya datang kepada-Nya memohon diberikan harta, maka Allah berikan. Hamba-Nya tidak meminta pun tetap Allah berikan harta.

Sebagai ilustrasi silakan simak video berikut ini:

Allahu a'lam.



Bagikan:

Adab Belajar

A. Standar Kompetensi
Membiasakan perilaku terpuji

B. Kompetensi Dasar
1. Membiasakan melakukan adab-adab sebelum belajar
2. Menumbuhkan motivasi belajar

C. Indikator Pencapaian
1. Siswa dapat menyebutkan adab-adab belajar
2. Siswa dapat melafalkan doa sebelum belajar
3. Siswa dapat membiasakan berdoa sebelum belajar

D. Uraian Materi
Belajar merupakan salah satu ibadah yang diwajibkan oleh ALLAH, beberapa keutamaan belajar atau menuntut ilmu.

Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang menempuh sesuatu jalan untuk mencari ilmu pengetahuan disitu, maka Allah akan mempermudahkan baginya suatu jalan untuk menuju ke surga." (HR. Muslim).

Adab-adab belajar adalah:
1. Memiliki niat yang lurus.
Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya segala perbuatan tergantung dengan niat dan akan dibalas sesuai dengan niatnya,..

2. Memberi salam kepada guru dengan santun.
Mengucap salam adalah do‟a, maka harus diucapkan dengan santun dan lemah lembut. Terlebih kepada orang yang lebih tua atau guru yang mengajari kebaikan.

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Hendaklah salam itu diucapkan yang muda kepada yang tua, yang berjalan kepada yang duduk, dan yang sedikit kepada yang banyak." (Muttafaq Alaihi). Menurut riwayat Muslim: "Dan yang menaiki kendaraan kepada yang berjalan."

3. Membaca doa sebelum belajar.
Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Allah Taala berfirman: Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku pun akan mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam suatu jemaah manusia, maka Aku pun akan mengingatnya dalam suatu kumpulan makhluk yang lebih baik dari mereka. Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari. (Shahih Muslim)

Doa mau belajar adalah:

Artinya: “Wahai Allah Tuhanku tambahkanlah kepadaku ilmu yang bermanfaat dan berilah aku kefahaman yang luas.”

4. Tidak berbicara atau mengobrol ketika guru sedang menjelaskan.
5. Bersikaplah hormat dan patuh kepada bapak dan ibu guru.
6. Selesai belajar maka membaca doa sesudah belajar.

Doa setelah belajar adalah:

Artinya : “Ya Allah sesungguhnya aku menitipkan kepadamu apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku, maka kembalikanlah kepadaku pada waktu aku membutuhkannya, dan janganlah Engkau jadikan aku lupa padanya wahai Tuhan semesta alam.”

Sebagai ilustrasi silakan simak video berikut ini:

Allahu a'lam.


Bagikan:

Persahabatan yang Diberkahi

Standar Kompetensi:
Memperkuat ikatan dengan sunah Rasulullah Saw berlandaskan pemahaman dan cinta kepada ajarannya. Ikatan dengan petunjuknya dan mengamalkan hukum-hukumnya dengan pemahaman yang baik serta merumuskan sasaran-sasarannya yang memberikan petunjuk untuk setiap zaman dan tempat, dan kembali kepadanya dalam setiap keadaan.

Kompetensi Dasar:
Mengetahui makna persahabatan yang diberkahi seperti yang terdapat dalam hadits ini.

Indikator Pencapaian Hasil:
1. Peserta dapat memahami persahabatan yang diberkahi Allah SWT
2. Peserta dapat memilih sahabat yang baik

Sesungguhnya diri seorang mukmin pada awalnya seperti kertas putih yang suci dan ayahnyalah yang akan mewarnai dirinya, kemudian lingkungan tempat tinggalnya atau orang-orang disekelilingnya yang berpotensi mewarnai diri seseorang.

Oleh karena itu, Nabi SAW mengajarkan kita untuk berhati-hati dalam memilih teman setia.

“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101)

Isi dan Kandungan Hadits
Hadits ini mengajak kita untuk memilih teman. Tidak ada teman yang lebih baik daripada teman yang shaleh. Dialah yang menunjukkan semua bentuk kebaikan dan menjauhkannya dari segala bentuk kejahatan. 

Kebalikannya, teman yang jahat tidak bermanfaat selamanya dan tidak ada kebaikan berteman dengannya. Teman yang jahat bagaikan api yang dapat membakar orang yang bersamanya. 

Memilih teman sangat dianjurkan. Bergaul dengan orang-orang baik dan shaleh, sungguh diperintahkan. Orang-orang shaleh mempunyai sifat seperti seekor lebah, makan dari makanan yang baik dan menghasilkan madu yang baik pula. Bila hinggap pada setangkai bunga, ia tidak pernah merusaknya. 

Kelembutan tutur kata, senyuman tulus di bibir, dan sapaan-sapaan hangat yang terpuji saat berjumpa merupakan hiasan yang selalu dikenakan orang-orang mulia.

Persahabatan mempengaruhi hidup manusia. Memilih pergaulan sebagai cara memperbagus persahabatan. Sebaik-baik orang yang bersahabat ialah mereka yang berjumpa karena Allah dan apabila berpisah juga karena Allah. 

Jangan sampai sahabat kita akan menenggelamkan diri kita sendiri, karena harus mengikuti kemauannya tanpa mengetahui tujuan dan arah yang jelas serta bermanfaat.

Teman sejati adalah Teman yang mengajak kepada Allah
Kita hidup dalam dinamika masyarakat yang sangat beragam, ada kawan yang kesehariannya memiliki komitmen kehidupan yang baik, taat ibadah, tuturlakunya halus dan menjaga setiap yang masuk dalam tubuhnya. Namun, tidak dapat kita pungkiri kita temukan juga kawan yang berperangai buruk, kasar, urakan dan lemah komitmen dalam ibadah. 

Semua ini menutut kita untuk memiliki sikap bijak karena tidak mungkin kita hanya bergaul dengan sebagian kawan sementara tidak perhatian terhadap yang lain.

Nabi SAW mengajarkan kepada kita betapa cerdasnya beliau berinteraksi dengan masyarakat baik yang mukmin maupun yang kafir, tapi Nabi SAW tidak pernah memilih orang kafir sebagai kawan setia dalam perjalanan hidupnya. 

Beliau memilih sahabat berkarakter seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ali dan Utsman dan banyak sahabat lainnya yang memiliki karakter kesholehan, sehingga beliau dan para sahabat mampu istiqomah dalam kebaikan karena terjaga dengan lingkungan yang baik.

Pelajaran Yang Dapat Dipetik
1. Setiap muslim harus memilih teman yang baik, sholeh dan bertutur kata baik.

2. Sahabat yang baik menunjukkan semua bentuk kebaikan dan menjauhkan semua bentuk keburukan.

3. Jangan bersahabat dengan orang yang tidak membangkitkan semangat beribadah, serta ucapan yang tidak membawa kalian mendekati Allah. Jangan bersahabat karena kelebihannya,karena kemungkinan satu kekurangan darinya,kau mungkin akan menjauhinya.

Contoh kisah
Ali bin Abi Thalib merupakan saudara dekat Nabi SAW, sejak kecil beliau sudah hidup berdampingan dengan Nabi SAW. Seringkali juga mendapatkan hikmah kehidupan dari Nabi SAW. Walaupun saudara namun Ali dan Nabi SAW seperti sahabat yang akrab. 

Ketika risalah Islam turun maka Ali merupakan sahabat awalan yang masuk Islam perantara tangan Nabi SAW. Ali mendapatkan keberkahan tersebut karena merupakan mukmin yang komitmen untuk memilih lingkungan yang baik dan sahabat yang baik.

Sebagai ilustrasi silakan simak video berikut ini:

Allahu a'lam.



Bagikan:

Takut Kepada Allah SWT

Pernahkah kita tersadar bahwa lancangnya kita melakukan hal-hal yang dilarang agama, meninggalkan perintah agama, dan meremehkan ajaran-ajaran agama itu semua karena betapa minimnya rasa takut kita kepada Allah. Bahkan kita terkadang lebih takut kepada manusia daripada kepada Allah Ta‟ala. 

Padahal Allah SWT berfirman: “..Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku” (QS. Al Ma‟idah: 44).

Maka takut kepada Allah (al khauf minallah) adalah ibadah salah satu bentuk ibadah yang semestinya dicamkan oleh setiap mukmin.

Takut kepada Allah adalah sifat orang yang bertaqwa, dan ia juga merupakan bukti imannya kepada Allah. 

Lihatlah bagaimana Allah mensifati para Malaikat, Allah Ta‟ala berfirman: “Mereka takut kepada Rabb mereka yang berada di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)” (QS. An Nahl: 50).

Lihat juga bagaimana Allah Ta‟ala berfirman tentang hamba-hambanya yang paling mulia, yaitu para Nabi 'alahimus wassalam: “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan takut. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami” (QS. Al Anbiya: 90)

Oleh karenanya, seseorang semakin ia mengenal Rabb-nya dan semakin dekat ia kepada Allah Ta‟ala, akan semakin besar rasa takutnya kepada Allah. Nabi kita Shallallahu‟alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku yang paling mengenal Allah dan akulah yang paling takut kepada-Nya” (HR. Bukhari-Muslim).

Allah Ta‟ala juga berfirman: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28)

Ya, karena para ulama, yaitu memiliki ilmu tentang agama Allah ini dan mengamalkannya, merekalah orang-orang yang paling mengenal Allah. Sehingga betapa besar rasa takut mereka kepada Allah Ta‟ala.

Karena orang yang memiliki ilmu tentang agama Allah akan paham benar akan kebesaran Allah, keperkasaan-Nya, paham benar betapa pedih dan ngeri adzab- Nya. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu‟alahi Wasallam bersabda kepada para sahabat beliau: “Demi Allah, andai kalian tahu apa yang aku ketahui, sungguh kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. Kalian pun akan enggan berlezat-lezat dengan istri kalian di ranjang. Dan kalian akan keluar menuju tanah datang tinggi, mengiba-iba berdoa kepada Allah” (HR. Tirmidzi 2234, dihasankan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi)

Demikian, sehingga tidaklah heran jika sahabat Umar bin Khattab radhiallahu‟anhu, sahabat Nabi yang alim lagi mulia dan stempel surga sudah diraihnya, beliau tetap berkata: “Andai terdengar suara dari langit yang berkata: "Wahai manusia, kalian semua sudah dijamin pasti masuk surga kecuali satu orang saja‟. Sungguh aku khawatir satu orang itu adalah aku” (HR. Abu Nu‟aim dalam Al Hilyah, 138)

Orang yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Nabi Shallallahu‟alahi Wasallam, Abu Hurairah Radhiallahu‟anhu, beliau ulama di kalangan para sahabat, yang tidak perlu kita ragukan lagi keutamaannya, beliau pun menangis ketika sekarat menghadapi ajalnya dan berkata: “Aku tidak menangis karena urusan dunia kalian. Aku menangis karena telah jauh perjalananku, namun betapa sedikit bekalku. Sungguh kelak aku akan berakhir di surga atau neraka, dan aku tidak mengetahi mana yang diberikan padaku diantara keduanya” (HR Nu‟aim bin Hammad dalam Az Zuhd, 159)

Maka orang-orang yang lancang berbuat maksiat, yang mereka tidak memiliki rasa takut kepada Allah, adalah karena kurangnya ilmu mereka terhadap agama Allah serta kurangnya ma‟rifah mereka kepada Allah Ta‟ala.

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya, adalah bagaimana kita memupuk rasa takut kepada Allah Ta‟ala?
1. Mengingat betapa lemahnya kita, dan betapa Allah Maha Perkasa.

2. Sadarlah betapa kita ini kecil, lemah, hina di hadapan Allah. Sedangkan Allah adalah Al Aziz (Maha Perkasa), Al Qawiy (Maha Besar Kekuatannya), Al Matiin (Maha Perkasa), Al Khaliq (Maha Pencipta), Al Ghaniy (Maha Kaya dan tidak butuh kepada hamba).

3. Betapa lemahnya hamba sehingga ketika hamba tertimpa keburukan tidak ada yang bisa menghilangkannya kecuali Allah. Ia berfirman (yang artinya) : “Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri” (QS. Al An‟am: 17)

4. Betapa Maha Besarnya Allah, hingga andai kita durhaka kepada Allah, sama sekali tidak berkurang kemuliaan Allah. “Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir, maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (QS. An Nisa: 131)

Simak video ilustrasinya berikut ini:

Dengan semua kenyataan ini masihkah kita tidak takut kepada Allah?

Allahu a'lam.

Bagikan:

Mengenal Agama, Tempat Ibadah, dan Hari Besar Keagamaan di Indonesia

Pemerintah Republik Indonesia secara resmi hanya mengakui 6 (enam) agama, yaitu Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu.

1. Islam
Tempat ibadahnya Masjid (Mosque). Mayoritas penduduk Indonesia memeluk agama Islam. Saat ini ada lebih dari 207 juta muslim di Indonesia. Kitab suci agama Islam adalah Al-Qur’an. Jumlah penganutnya sekitar 87,2%. 

Hari Besar Keagamaan : Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Idul Adha, Tahun Baru Hijrah, Isra’ Mi’raj.

(Sumber: Indonesia.go.id)

2. Protestan
Tempat ibadahnya Gereja (Church). Agama Kristen Protestan adalah sebuah denominasi dalam agama Kristen, yang muncul setelah protes Marthin Luther pada 1517. Kitab suci Protestan adalah Al-Kitab (Injil). . Jumlah penganutnya sekitar 6,9%.

Hari Besar Keagamaan : Hari Natal, Hari Jumat Agung, Hari Paskah, Kenaikan Isa Almasih

(Sumber: Indonesia.go.id)

3. Katolik
Tempat ibadahnya Gereja (Church). Kristen Katolik di Indonesia berawal dari kedatangan bangsa Portugis ke kepulauan Maluku, dan orang Maluku adalah yang pertama menjadi Katolik di Indonesia. Kitab suci agama ini adalah Al-Kitab (Injil). Jumlah penganutnya sekitar 2,9%.

Hari Besar Keagamaan : Hari Natal, Hari Jumat Agung, Hari Paskah, Kenaikan Isa Almasih.

(Sumber: Indonesia.go.id)

4. Hindu
Tempat ibadahnya Pura (Hindu Temple). Hindu memiliki sejarah yang paling panjang dibanding agama resmi lain di Tanah Air. Bali memiliki penganut agama hindu terbesar. Kitab suci Hindu adalah Veda/Weda. Jumlah penganutnya sekitar 1,7%.

Hari Besar Keagamaan : Hari Nyepi, Hari Saraswati, Hari Pagerwesi.

(Sumber: Indonesia.go.id)

5. Buddha
Tempat ibadanya Vihara (Buddhist Temple). Agama Buddha merupakan agama tertua di dunia dan juga di Indonesia, yang berasal dari India. Buddha berkembang cukup baik di daerah Asia. Kitab suci agama Buddha adalah Tripitaka. Jumlah penganutnya sekitar 0,7%.

Hari Besar Keagamaan : Hari Waisak, Hari Asadha, Hari Kathina.

(Sumber: Indonesia.go.id)

6. Khonghucu
Tempat ibadahnya Klenteng/Litang (Confucian Temple). Penyebaran agama Khonghucu ke Tanah Air dilakukan oleh orang-orang Tionghoa yang merantau ke Indonesia. Shishu Wujing adalah nama kitab suci Khonghucu. Jumlah penganutnya sekitar 0,05%.

Hari Besar Keagamaan : Tahun Baru Imlek, Cap Go Meh.

(Sumber: Indonesia.go.id)

Demikian informasi tentang 
Mengenal Agama, Tempat Ibadah, dan Hari Besar Keagamaan di Indonesia. Tulisan ini diramu dari Indonesia.go.id dan ilmupengetahuanumum.com.


Baca juga:
Rekrutmen 49.549 Formasi PPPK Kementerian Agama (Kemenag) 2022

BARU: Rekrutmen Calon Guru Penggerak dan Calon Pengajar Praktik Angkatan 9 dan 10


Lokakarya Orientasi Program Pendidikan Guru Penggerak (PGP) Angkatan 7

Lokakarya 1 Program Pendidikan Guru Penggerak (PGP) Angkatan 7



Materi SKU Pramuka: Bendera dan Lambang Negara Republik Indonesia

Tanda Pengenal Gerakan Pramuka

Lambang Gerakan Pramuka

Kegiatan Sosial Kemasyarakatan Pramuka Siaga dan Penggalang

Aksi Nyata Menerapkan Kode Kehormatan Pramuka

Mengenal Agama, Tempat Ibadah, dan Hari Besar Keagamaan di Indonesia

Hari Besar Nasional, Internasional, dan Keagamaan

Mengenal Cara Mudah Menghafal dan Menggunakan Sandi Rumput

Lagu Indonesia Raya

Mengenal Cara Mudah Menghafal dan Menggunakan Sandi Morse

Mengenal Sandi Kotak Pramuka dan Cara Penggunaannya

Bagikan:

Hadits Menyingkirkan Rintangan

A. Standar Kompetensi
Memperkuat ikatan dengan sunah Rasulullah Saw berlandaskan pemahaman dan cinta kepada ajaran-ajarannya. Ikatan dengan petunjuk-petunjuknya dan mengamalkan hukum-hukumnya dengan pemahaman yang baik serta merumuskan sasaran-sasarannya yang memberikan petunjuk untuk setiap zaman dan tempat, dan kembali kepadanya dalam setiap keadaan lebih-lebih ketika terjadi pertentangan.

B. Kompetensi Dasar
Menerapkan perbuatan yang mempermudah urusan orang lain

C. Indikator Pencapaian
1. Peserta dapat mempermudah urusan orang lain
2. Peserta dapat melakukan perbuatan yang memudahkan urusan orang lain

D. Uraian Materi
Islam adalah agama yang lengkap yang mengatur aturan-aturan para penganutnya. Baik itu dari segi aqidah, akhlaq, ibadah, muamalah dll, bahkan tidak lepas juga dari dimensi sosial. Tentunya semua aturan itu dibuat untuk dijalankan dengan tujuan yang satu, yaitu menggapai rahmat Allah. Dengan rahmat Allah inilah kita bisa menggapai ridho-Nya dan juga sebagai “tiket” untuk masuk surga-Nya.

Dalam sebuah hadits, Rosululloh bersabda:

مَرَّ رَجُلٌ بِغُصْنِ شَجَرَةٍ عَلَى ظَهْرِ الطَّرِيْقِ، فَ قَالَ: وَ اللهَِ لأُنَحِّيَنَّ ىذَا عَنِ اْلمُسْلِمِيْنَ لاَ ي ؤُْذِ يْهِمْ، فَاُ خِْْلَ

اْلجَنَّة 

Pada suatu ketika ada seorang lelaki berjalan melalui sebuah cabang pohon yang melintang di tengah jalanan, kemudian ia berkata: “Demi Allah, niscaya pohon ini hendak kusingkirkan dari jalanan kaum Muslimin supaya ia tidak membuat kesukaran pada mereka itu.” Orang itu lalu dimasukkan ke dalam syurga. (HR. Muslim).

Hadits di atas dalam kutub tis'ah hanya terdapat satu hadits saja, yaitu dalam shahih Muslim hadits nomor 4744 , karena hadits ini diriwayatkan salah salah satu dari shohihain maka hadits ini berkedudukan shohih.

Dalam kisah di atas, Rasulullah SAW menceritakan seseorang yang sedang berjalan di suatu jalan, kemudian menjumpai sebuah pohon yang memiliki banyak duri dan menghalangi jalan kaum muslimin sehingga dapat mengganggu orang-orang yang melewatinya. Kemudian, ia bertekad kuat untuk memotong dan membuangnya dengan tujuan menghilangkan gangguan dari jalan kaum muslimin. 

Dengan sebab itu, Allah SWT mengampuni dosa-dosanya dan memasukkan ia ke dalam surga-Nya. Bahkan, Rasulullah SAW melihatnya sedang menikmati kenikmatan di surga disebabkan amalannya tersebut.

Sungguh, laki-laki tersebut telah beramal dengan amalan yang terlihat remeh tetapi ia diganjar dengan balasan yang teramat besar. Sungguh, rahmat Allah SWT Maha Luas dan keutamaan-Nya Maha Agung. 

Apa yang dilakukan laki-laki tersebut adalah salah satu bagian kecil dari petunjuk dan syariat yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW. Memang benar bahwa Rasulullah SAW telah memerintahkan kita untuk berbuat sebagaimana yang telah dilakukan oleh laki-laki tersebut. 

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari jalan Abu Barzah Al-Aslami, beliau bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang dapat bermanfaat bagiku.” Beliau menjawab, “Singkirkanlah gangguan dari jalan-jalan kaum muslimin.” (H.r. Muslim, 13:49; Ibnu Majah, 11:78)

Bahkan, Rasulullah SAW mencela dan memperingatkan dengan keras dari perilaku yang dapat mengganggu kaum muslimin di jalan-jalan mereka, dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa mengganggu kaum muslimin di jalan-jalan mereka, wajib atasnya laknat mereka.”

Untuk penjelasan hadits ini juga kami mengambil penjelasan dari hadits lain yang sudah populer, yang menerangkan bahwa iman ada 70 cabang lebih, yang paling tinggi yaitu kalimat laailaaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan sesuatu dari jalan. Redaksi haditsnya sebagai berikut:

Dari Abi Hurairah ra., dari Nabi saw. Beliau bersabda, ”Iman itu tujuh puluh cabang lebih atau enam puluh cabang lebih; yang paling utama adalah ucapan “lâ ilâha illallâhu” dan yang paling rendah adalah menyingkirkan rintangan (kotoran) dari tengah jalan, sedangkan rasa malu itu (juga) salah satu cabang dari iman.”

Penjelasan Hadits 
Dalam hadits di atas, dijelaskan bahwa cabang yang paling utama adalah tauhid, yang wajib bagi setiap orang, yang mana tidak satu pun cabang iman itu menjadi sah kecuali sesudah sahnya tauhid tersebut. 

Adapun cabang iman yang paling rendah adalah menghilangkan sesuatu yang mengganggu kaum muslimin, di antaranya dengan menyingkirkan duri atau batu dari jalan mereka.

Hadits di atas menunjukkan bahwa dalam Islam, sekecil apapun perbuatan baik akan mendapat balasan dan memiliki kedudukan sebagai salah satu pendukung akan kesempurnaan keimanan seseorang.

Duri dalam konotasi secara sekilas menunjukkan pada sebuah benda yang hina. Akan tetapi, jika dipahami lebih luas, yang dimaksud dengan duri di sini adalah segala sesuatu yang dapat membahayakan pejalan kaki, baik besar maupun kecil.

Hal ini semacam ini mendapat perhatian serius dari Nabi saw. sehingga dikategorikan sebagai salah satu cabang daripada iman, karena sikap semacam ini mengandung nilai kepedulian sosial, sedang dalam Islam ibadah itu tidak hanya terbatas kepada ibadah ritual saja, bahkan setiap ibadah ritual, pasti di dalamnya mengandung nilai-nilai sosial.

Di samping hal tersebut di atas, menghilangkan duri dari jalan mengandung pengertian bahwa setiap muslim hendaklah jangan mencari kemudlaratan, membuat atau membiarkan kemudlaratan. 

Hal ini sesuai dengan sabda Rasul saw. yang dijadikan sebuah kaidah dalam Ushul Fiqh:

لاضََرَارَ وَلاَ ضِرَارَ

Janganlah mencari kemudlaratan dan jangan pula membuat kemudlaratan.

Membiarkan duri di jalan atau sejenisnya berarti membiarkan kemudlaratan atau membuat kemudlaratan baru, jika adanya duri tersebut awalnya sengaja disimpan oleh orang lain.

Sebenarnya peristiwa yang tergambarkan dalam haidts tersebut masih banyak kita jumpai di zaman sekarang ini. Jadi, pengamalannya masih sama yaitu menyingkirkan sesuatu apapun yang menjadi penghalang di jalan yang mengganggu keamanan orang muslim (beribadah) dengan niat tulus karena Allah SWT, maka akan diganjar dengan Surga.

Pada saat konteks sekarang ini ada yang muncul antara keamanaan atau mengganggu yaitu polisi tidur. Polisi tidur bagi masyarkat (sekitar) yang membuatnya dianggap membuat nyaman, karena membantu mengendalikan laju kendaraan yang lalu-lalang dan demi keamanan juga. Tapi bagi orang atau pengguna jalan ini di anggap penghambat perjalanan. Olehnya itu boleh saja jika ingin membuat polisi tidur, asalkan jangan terlalu tinggi agar tidak membahayakan para pengguna jalan raya khusus nya yang menggunakan kendaraan.

Banyak sekali dalil-dalil dalam bidang ini yang menunjukkan akhlak luhur sebagai ciri khas kaum muslimin yang beramal dengan Islam. Mereka berusaha membersihkan jalan-jalan mereka, tidak mengotori dan membuatnya jorok, serta membuang sesuatu yang menganggu darinya. Mereka menjadikannya sebagai tuntunan hidup, berharap darinya pahala tanpa bersikap secara berlebih-lebihan.

Pelajaran-Pelajaran dan Faedah-Faedah Hadis
1. Penjelasan tentang keutamaan menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan kaum muslimin yang mengandung pahala besar dan agung.

2. Luasnya rahmat Allah dan besarnya pahala-Nya. Allah membalas laki-laki ini dengan balasan yang besar, dengan memasukkannya ke surga lantaran amal yang sedikit, yaitu membuang sesuatu yang mengganggu dari jalan.

3. Sejauh mana kaum muslimin menyelisihi ajaran-ajaran agama mereka. Sebagian tidak hanya tidak bersedia membuang sesuatu yang mengganggu dari jalan kaum muslimin, bahkan membuang sampah rumahnya dan sisa makanannya di jalan kaum muslimin.

4. Pohon yang boleh ditebang adalah yang mengganggu kaum muslimin. Pohon yang berguna bagi kaum muslimin, seperti pohon yang dipakai untuk berteduh, tidak boleh ditebang. Rasulullah SAW mengancam penebangnya dengan api neraka. Dalam hadis, “Penebang bidara akan dibenamkan kepalanya oleh Allah di neraka.” (Dinisbatkan oleh Al-Bani dalam Silsilah Shahihah (2/175), no. 615, kepada Baihaqi dan lain-lainnya).

Sebagai sebuah ilustrasi, silakan simak video berikut ini:

Allahu a'lam...

Bagikan:

Reading: My Uncle's Farm

 Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...


SEMANGAT PAGI SEMUANYA...

Bagaimana kabarnya hari ini? Semoga semuanya selalu dalam kondisi sehat dan semangat ya.

Tujuan pembelajaran ini adalah:
1. Siswa mampu membaca teks sederhana
2. Siswa mampu memahami isi teks sederhana

Kegiatannya adalah:
1. Simak gambar di bawah ini:


 
2. Simak audio cara membaca teks di atas.



Jazakumullah khairan katsir
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh



Bagikan:

Mengenal Nama dan Fungsi Bagian Rumah dalam Bahasa Inggris (The Parts of a House)

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

SEMANGAT PAGI SEMUANYA...
Bagaimana kabarnya hari ini? Semoga semuanya selalu dalam kondisi sehat dan semangat.

Tujuan pembelajaran hari ini adalah:
1. Siswa mampu menyebutkan nama-nama bagian rumah.
2. Siswa mampu menceritakan fungsi bagian rumah.

VOCABULARY CORNER
(POJOK KOSA KATA)

Bathroom (kamar mandi)
Bedroom (kamar tidur)
Dining room (ruang makan)
Kitchen (dapur)
Living room (ruang tamu)
Sidewalk (trotoar)
Terrace (teras)

CONTOH KALIMAT:

1. Anna is watching TV in the living room.
(Anna sedang menonton TV di ruang tamu)

2. Arman is taking a bath in the bathroom.
(Arman sedang mandi di kamar mandi)

3. David is sleeping in the bedroom.
(David sedang tidur di kamar tidur)

4. Mother is cooking in the kitchen.
(Ibu sedang memasak di dapur)

5. Jojo is playing on the sidewalk.
(Jojo sedang bermain di trotoar)

6. Carlo is eating in the dining room.
(Carlo sedang makang di ruang makan)

Sebagai ilustrasi materi pembelajaran hari ini, silakan simak video berikut ini:



Untuk latihan soal hari ini, silakan kerjakan soal pada halaman 67 (E) dan 68 (F) pada form berikut ini!


Sumber bahan belajar:
Sulaiman, SB dan Ament, Kenneth W. 2016. Basic English 2. Jakarta: Yudhistira


Bagikan:

Tak Ada Waktu Menunda Amal - Kisah tentang Syekh Muhammad Jamil Jambek

Kisah ini tentang Syekh Muhammad Jamil Jambek.

Siapa dia? Bagaimana kisahnya?

 

Pada saat itu tahun 1940, HAMKA bercerita tentang pengalamannya tatkala berkunjung pada ulama tua yang sangat dicintai orang seantero Minangkabau. Kepada HAMKA, orang ini bercerita sambil berlinang air mata. Dialah Syekh Muhammad Jamil Jambek.

 

Pada masa mudanya, orang tua itu adalah seorang pemuda yang nakal. Berbagai kejahatan anak muda hampir semua telah dilakukannya.  Beliau berkata,  sudah tua begini dan sudah lebih dari 40 tahun berlalu, namun kalau ada orang yang menghisap candu sejauh 100 meter dari masjidku, ini hidungku masih dapat mengetahui bahwa yang dihisapnya adalah candu.

 

Beliau mengkisahkan bahwa pada suatu malam dia berjalan atau berpetualang melepaskan hati risau sebagai anak muda,  dalam kegelapan malam yang gelap gulita.  


Tiba-tiba,  terjadilah hal yang tidak disangka-sangka.  Ternyata,  ada seorang maling di kampung itu yang terpergok oleh masyarakat yang sedang meronda.  maling itupun dikejar-kejar massa yang berlarian sambil meneriakkan, Maling… Maling… Maling…! 


Maka serentak semua penduduk kampung turut pula keluar mengejar maling.  Padahal pada saat itu beliau ada di sana.  Rasa takut tiba-tiba membuncah dalam hatinya.  


Khawatir kalau penduduk kampung salah sasaran dan dia yang disangka maling.  Apalagi suara warga dan gedebuk kaki berlari semakin dekat menuju ke arahnya. 

 

Maka diputuskannya untuk lari dan bersembunyi. Dia melemparkan dirinya pada rerimbunan rumput semak belukar,  lantas dimiringkan tubuhnya dengan merapat ke tanah.  Sementara orang-orang terus berteriak,  Maling… Maling… Maling…! 

 

Sebenarnya,  dia menyadari bahwa malam itu dirinya memang juga hendak mencuri,  tetapi bukan mencuri harta melainkan mencuri hati gadis impiannya.  


Ternyata,  malam itu nasibnya memang sungguh apes.  Sebab penduduk kampung itu pun memasuki rerumputan tempatnya bersembunyi. 

 

Dalam gelap itu itu penduduk kampung melemparkan batu ke sembarang sudut semak.  Dia yang bersembunyi, tertimpa pula beberapa lemparan keras batu-batu besar yang mendarat di tubuhnya. 


Dia diam tak bergerak sambil menahan sakit.  Bahkan bekas luka lemparan batu tersebut masih membekas di tubuhnya hingga hari tuanya.

 

Entah berapa jam jam dia bersembunyi di semak ladang itu.  Sementara itu sakit yang menyiksanya hanya dia rasakan sendirian.  Dia tetap di tempat itu sambil menunggu dan meyakinkan diri bahwa penduduk kampung telah menjauh dari tempatnya. Hingga hari pun sampai pada waktu subuh. 

 

Ternyata tempat dia bersembunyi itu adalah sebuah kebun rerumputan di dekat masjid. Seorang muadzin telah melantunkan panggilan subuhnya dengan adzan. 


Selama adzan berkumandang, mengalirlah jalan hidup yang pernah dijalaninya dalam alam ingatannya.  Dia Pun Menangis.  Bukan karena sakit luka terkena lemparan batu, tetapi ingat akan irama hidupnya dalam lantunan adzan subuh itu.  


Baru ia menyadari sampai seusia itu hanya diisi dengan perbuatan sia-sia bahkan aniaya.  Mencuri, merampok, berjudi, main perempuan, dan seluruh kenangan gelapnya menari-nari dalam alunan adzan subuh.

 

Bangkitlah ia dari sembunyi. Diyakinkannya bahwa suasana benar-benar sepi. Maka sebelum para penduduk datang ke masjid itu dia segera pergi. 

 

Sementara itu, air matanya mengalir seperti sungai. Air mata penyesalan. Dia akhirnya pulang. Tetapi pagi itu ia tak hanya hendak pulang ke rumah, namun hendak pulang ke jalan Allah.  Masih ada waktu.  Dia bertekad hendak merubah jalan hidupnya. 

 

Dia teringat ayahnya.  Yaitu sebagai seorang kepala penghulu di Gurun Panjang. Betapa ia telah lama menahan malu atas tingkahnya yang berandalan itu. Maka setelah hari siang, dia menyusul ayahnya.  Di depan ayahnya itu,  itu sambil tetap berurai air mata dia minta agar dikirim ke Mekkah. 

 

Ayahnya kaget bercampur haru.  Sekarang air mata ayahnya yang tumpah karena gembira.  Dipeluklah anaknya yang telah lama hilang itu.  Dia sendiri, Engku Kepala Negeri Gurun Panjang yang akhirnya mengantarkan anaknya itu belajar ke Mekkah. 

 

Bertahun-tahun dia tinggal di sana. Berguru dengan beberapa ulama. Hingga akhirnya waktu mengajaknya pulang kembali ke Minangkabau. Dulu dia yang menjadi penjahat, kini menjadi ulama pembaharu di Minangkabau.  


Dia adalah ahli Falaq yang terkenal pada masanya.  Syekh Muhammad Jamil Jambek.  Masjidnya berada di tengah sawah,  di Bukittinggi.  Masyarakat daerah Jam Gadang Padang pun selalu ramai, banyak para murid yang semangat menimba ilmu kepadanya.

Kisah ini dikutip dari buku berjudul "Teladan Tarbiyah". Allahi a'lam.


Bagikan: