Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema pendidikan. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.
Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema keluarga. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.
Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema pemuda. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.
Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema kepemimpinan. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.
Berbagai tulisan GiatEdukasi.com dengan tema pribadi Islami. Silakan kunjungi dan simak setiap tulisan kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.
Berbagai unggahan GiatEdukasi.com dengan tema Pramuka. Silakan kunjungi dan simak setiap video kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.
Berbagai unggahan GiatEdukasi.com dalam bentuk video. Silakan kunjungi dan simak setiap video kami. Dapatkan khasanah pengetahuan bermakna untuk hidup Anda.
Kode Kehormatan Pramuka merupakan serangkaian ketentuan dasar (janji,
nilai, dan norma) yang harus dilaksanakan oleh seorang pramuka dalam
kehidupan sehari-hari dan menjadi ukuran atau standar Tingkah laku
Pramuka.
Sehingga bisa dikatakan bahwa kode kehormatan merupakan kode etik anggota
Gerakan Pramuka baik dalam kehidupan pribadi maupun di dalam
masyarakat.
kode Kehormatan Pramuka ini telah diatur dalam Undang-Undang no. 12 tahun
2010 tentang Gerakan Pramuka pasal 6. pun tercantum dalam Anggaran
Dasar (AD) Gerakan Pramuka pasal 12 dan Anggaran Rumah Tangga (ART) Gerakan
Pramuka pasal 14.
Kode Kehormatan Pramuka terdiri atas janji (satya pramuka) dan
ketentuan moral (darma pramuka).
Satya Pramuka sebagaimana tersebut dalam ART Gerakan Pramuka dinyatakan
sebagai:
1. Diucapkan secara sukarela oleh seorang calon anggota atau calon pengurus
Gerakan Pramuka pada saat pelantikan menjadi anggota atau pengurus.
2. Dipergunakan sebagai pengikat diri pribadi demi kehormatannya untuk
diamalkan.
3. Dipakai sebagai dasar pengembangan spiritual, emosional, sosial,
intelektual, dan fisik, baik sebagai individu maupun sebagai anggota
masyarakat.
Sedangkan Darma Pramuka, sebagaimana tercantum dalam ART Gerakan Pramuka,
merupakan:
1. Nilai dasar untuk membina dan mengembangkan akhlak mulia.
2. Sistem nilai yang harus dihayati, dimiliki, dan diamalkan dalam
kehidupan anggota gerakan pramuka di masyarakat.
3. Landasan gerak bagi gp untuk mencapai tujuan pendidikan kepramukaan yang
diwujudkan dalam kegiatan untuk mendorong peserta didik manunggal dengan
masyarakat, bersikap demokratis, saling menghormati, serta memiliki rasa
kebersamaan dan gotong royong.
4. Kode etik bagi organisasi dan anggota gerakan pramuka.
Dalam Gerakan Pramuka, kode kehormatan ditetapkan dan diterapkan sesuai
dengan golongan usia dan perkembangan rohani dan jasmani anggota Gerakan
Pramuka.
Kode Kehormatan bagi Pramuka Siaga adalah Dwi Satya dan Dwi
Darma.
DWI (DUA) – SATYA (JANJI DAN KOMITMEN DIRI)
DWI (DUA) – DARMA (KETENTUAN MORAL)
Kode Kehormatan bagi Pramuka Penggalang adalah Tri Satya dan
Dasa Darma.
TRI (TIGA) – SATYA (JANJI DAN KOMITMEN DIRI)
DASA (SEPULUH) -- DARMA (KETENTUAN MORAL)
DWISATYA Demi kehormatanku aku berjanji akan bersunguh-sungguh: - Menjalankan kewajibanku terhadap tuhan, Negara Kesatuan Republik
Indonesia, dan menurut aturan keluarga. - Setiap hari berbuat kebaikan.
DWIDARMA 1. Siaga itu patuh pada ayah dan ibundanya 2. Siaga itu berani dan tidak putus asa
TRISATYA Demi kehormatanku aku berjanji akan bersunguh-sungguh: 1. Menjalankan kewajibanku terhadap tuhan, Negara Kesatuan Republik
Indonesia dan mengamalkan Pancasila. 2. Menolong sesama hidup dan memersiapkan diri membangun masyarakat. 3. Menepati Dasa Darma.
DASADARMA 1. Takwa kepada tuhan yang maha esa 2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia 3. Patriot yang sopan dan ksatria 4. Patuh dan suka bermusyawarah 5. Rela menolong dan tabah 6. Rajin, terampil dan gembira 7. Hemat, cermat, dan bersahaja 8. Disiplin, berani, dan setia 9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya 10. Suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan
KODE KEHORMATAN TERSEBUT BUKAN SEBUAH HAFALAN YANG CUKUP DIHAFALKAN SAJA
NAMUN SEORANG PRAMUKA SEHARUSNYA MENEPATI SATYA PRAMUKA DAN MENGAMALKAN
DARMA PRAMUKA.
AKSI NYATA PENERAPAN DWISATYA MENJALANKAN KEWAJIBANKU TERHADAP TUHAN - Menjalankan rukun iman dan Islam - Melakukan ibadah sunnah - Mengajak dan melakukan kebaikan kepada teman - Empati kepada kondisi lingkungan sekitar - Mengikuti perintah Nabi Muhammad SAW
NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA - Belajar dengan sungguh-sungguh - Mengikuti kegiatan sekolah dengan semangat - Mengikuti upacara bendera - Berusaha menjadi anak berprestasi - Menyanyikan Lagu Kebangsaan
MENURUT ATURAN KELUARGA - Taat kepada kedua orang tua - Menjaga kebersihan dan kerapian rumah dan kamar - Santun berbicara kepada orang tua dan saudara - Menjalankan piket yang ada di keluarga - Saling membantu dan menolong anggota keluarga
SETIAP HARI BERBUAT KEBAIKAN - Shalat ke masjid, bersedekah / berinfaq, membantu teman / tetangga,
mengaji / menambah hafalan, dll
- Mencuci alat makan sendiri, menyapu / mengepel lantai rumah, menaruh
sepatu / sandal dengan rapi, dll
- Merapikan kamar tidur (bantal, selimut, guling, dll), menjemur cucian,
melipat jemuran yang sudah kering, dll
- Taat / nurut terhadap perintah orang tua, membantu ibu memasak,
berbelanja ke toko, dll
- Menutup aurat ketika keluar rumah, menjenguk saudara / tetangga yang
sakit, dll
AKSI NYATA PENERAPAN DWIDARMA 1. SIAGA ITU PATUH PADA AYAH DAN IBUNDANYA - Taat kepada kedua orang tua - Menjaga kebersihan dan kerapian rumah dan kamar - Santun berbicara kepada orang tua dan saudara - Menjalankan piket yang ada di keluarga - Saling membantu dan menolong anggota keluarga
2. SIAGA ITU BERANI DAN TIDAK PUTUS ASA - Percaya diri, tidak malu ketika ditanya orang lain - Tidak mengeluh, tidak menyerah, selalu bersemangat - Tidak takut gelap, berani ketika sendirian - Jujur mengakui kesalahan dan mau meminta maaf - Rajin dan tekun belajar, terus berlatih sampai bisa
AKSI NYATA PENERAPAN TRISATYA MENJALANKAN KEWAJIBANKU TERHADAP TUHAN - Menjalankan rukun iman dan Islam - Melakukan ibadah sunnah - Mengajak dan melakukan kebaikan kepada teman - Empati kepada kondisi lingkungan sekitar - Mengikuti perintah Nabi Muhammad SAW
NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA - Belajar dengan sungguh-sungguh - Mengikuti kegiatan sekolah dengan semangat - Mengikuti upacara bendera - Berusaha menjadi anak berprestasi - Menyanyikan Lagu Kebangsaan
MENGAMALKAN PANCASILA - Ketuhanan Yang Maha Esa - Kemanusiaan yang adil dan beradab - Persatuan Indonesia - Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyarawatan
/ perwalikan - Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
MENOLONG SESAMA HIDUP - Taat kepada kedua orang tua - Saling membantu dan menolong anggota keluarga - Empati kepada kondisi lingkungan sekitar - Mengajak dan melakukan kebaikan kepada teman - Memiliki perhatian kepada semua makhluk hidup
MEMPERSIAPKAN DIRI MEMBANGUN MASYARAKAT - Ikut kegiatan sosial kemasyarakat di lingkungan sekolah - Ikut program baksti soaial / berbagi dengan semasa - Jujur mengakui kesalahan dan mau meminta maaf - Rajin dan tekun belajar, terus berlatih sampai bisa - Tidak mengeluh, tidak menyerah, selalu bersemangat
MENEPATI DASADARMA - Menjalankan Dasa Darma dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab
AKSI NYATA PENERAPAN DASADARMA 1. TAKWA KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA Menjalankan perintah, menjauhi larangan, berdoa saat memulai dan mengakhiri
kegiatan, selalu memperbaiki niat, patuh dan berbakti kepada orang tua,
sayang kepada semua makhluk Allah, menghormati agama orang lain
(toleransi).
2. CINTA ALAM DAN KASIH SAYANG SESAMA MANUSIA Selalu menjaga kebersihan lingkungan (baik di rumah / sekolah), menjaga
kelestarian alam (flora/fauna), membantu faqir miskin, yatim piatu, duafa
dengan uang kita sendiri.
3. PATRIOT YANG SOPAN DAN KSATRIA Belajar di sekolah dengan baik, gunakan fasilitas yang ada untuk menambah
ilmu, menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, membiasakan
diri mengakui kesalahan dan membenarkan yang benar, peran serta dalam bela
negara (memasang bendera, upacara, berdoa, menghormati lambang negara,
memahami nilai luhur bangsa).
4. PATUH DAN SUKA BERMUSYAWARAH Taat kepada orang tua, guru, dan pembina, menerima segala keputusan yang
sudah disepakati, tidak mengambil keputusan dengan tergesa-gesa, selalu
menepati janji, mematuhi peraturan, menghargai pendapat orang lain.
5. RELA MENOLONG DAN TABAH Selalu menolong orang yang terkena musibah, tidak mengeluh, menolong tanpa
diminta, empati terhadap lingkungan, pantang mundur menghadapi
tantangan.
6. RAJIN, TERAMPIL DAN GEMBIRA Membiasakan menyusun jadwal dalam kegiatan sehari-hari, mampu membuat
kerajinan/hasta karya, selalu riang gembira dalam melakukan
kegiatan/pekerjaan, membaca buku bermanfaat, tidak terlalu cepat
menegur/menyalahkan, tidak menunda-nunda pekerjaan sampai besuk.
7. HEMAT, CERMAT, DAN BERSAHAJA Tidak boros, hemat, sikap sederhana, tidak berlebihan, tepat waktu dalam
hal shalat, tidak ceroboh, hemat air dan listrik, mengatur uang sendiri
(menabung, menahan tidak menghabiskan).
8. DISIPLIN, BERANI, DAN SETIA Mendahulukan kewajiban, berani mengambil keputusan, menjalani ibadah,
belajar menilai keadaan, menaati peraturan, patuh dan membela.
9. BERTANGGUNG JAWAB DAN DAPAT DIPERCAYA Tidak mengelakan amanat, jujur tidak mengada-ada, mengerjakan semua yang
diperintahkan dengan tanggung jawab penuh, bertanggung jawab atas semua
tindakan yang dilakukan, apa yang dikatakan bukan suatu karangan yang
dibuat-buat.
10. SUCI DALAM PIKIRAN, PERKATAAN, DAN PERBUATAN Selalu berfikir positif menghargai sikap dan pendapat orang lain, bisa
menyumbangkan saran yang baik, berhati-hati mengendalikan diri mengucapkan
kata/kalimat yang tidak pantas/perbuatan yang tidak baik, berupaya tidak
melanggar norma agama/hukum, melihat dan memikirkan sesuatu dari sisi
baiknya (hikmah).
Demikianlah penjelasan tentang Aksi Nyata Menerapkan Kode Kehormatan
Pramuka. Semoga Bermanfaat. SALAM PRAMUKA.
Bapak dan Ibu calon guru penggerak, sebagai pamong untuk menuntun murid dalam belajar, Anda diharapkan dapat
menjadi inisiator dalam mewujudkan budaya positif di sekolah yang berpihak
pada murid. Mengapa budaya positif di sekolah perlu diwujudkan? Anda
tentunya perlu menjawab pertanyaan ini sebagai awalan dalam memahami konsep
budaya positif di sekolah. Untuk memahami urgensi dari budaya positif di
sekolah, mari kita awali dengan menyimak video mengenai potret budaya
sekolah.
Setelah menyimak video mengenai potret budaya sekolah, jawablah
pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
Apa perbedaan yang Anda lihat pada kedua cara guru tersebut dalam
melibatkan murid?
Menurut Anda, bagaimana perasaan murid dalam kelas pertama?
Menurut Anda, bagaimana perasaan murid dalam kelas kedua?
Dari kedua kelas tersebut, kelas manakah yang menciptakan budaya
positif? Mengapa?
UMPAN BALIK Dari video mengenai potret budaya sekolah, kita dapat mempelajari
budaya sekolah yang berdampak baik pada pengembangan karakter murid.
Aktivitas guru mengajak murid berkeliling sekolah untuk mengamati
lingkungan sekolah dapat membuat murid menganalisis permasalahan yang
terjadi di sekolah dan mendiskusikan solusinya.
Aktivitas tersebut menumbuhkan karakter bernilai kritis pada murid.
Nah, dengan demikian kita memahami bahwa sekolah merupakan institusi
pembentukan karakter. Oleh karena itu, budaya positif perlu diciptakan
agar dapat mendukung pembentukan karakter murid yang diharapkan.
1. PERAN SEKOLAH SEBAGAI INSTITUSI PEMBENTUKAN KARAKTER Bapak dan Ibu calon guru penggerak, Agar lebih memahami urgensi budaya positif di sekolah, kita perlu
memahami peran sekolah sebagai institusi pembentukan karakter.
Ketika kita berbicara sekolah sebagai institusi pembentukan karakter.
Mari kita ingat kembali makna pendidikan sendiri dari Bapak Pendidikan
kita, Ki Hajar Dewantara:
“Adapun maksud pendidikan yaitu: menuntun segala kekuatan kodrat yang
ada pada anak-anak itu agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota
masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan
setinggi-tingginya”
(dikutip dari buku Ki Hajar Dewantara seri 1 pendidikan halaman
20)
Kutipan tersebut mengisyaratkan kita sebagai guru untuk membangun
komunitas di sekolah untuk menyiapkan murid di masa depan agar menjadi
manusia berdaya tidak hanya untuk pribadi tapi berdampak pada
masyarakat.
Pertanyaannya sekarang adalah karakter seperti apa yang bisa menyiapkan
murid menjadi manusia dan anggota masyarakat untuk mencapai keselamatan
dan kebahagiaan seperti tujuan pendidikan sendiri.
Jika kita mengacu pada Profil Pelajar Pancasila, “Pelajar Indonesia merupakan pelajar sepanjang hayat yang memiliki
kompetensi global dan berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila.”
Pelajar yang memiliki profil yang demikian itu adalah pelajar yang
terbangun utuh keenam dimensi pembentuknya, yaitu: 1) beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, 2) mandiri, 3) bergotong-royong, 4) berkebinekaan global, 5) bernalar kritis, 6) kreatif.
2. PELAJAR INDONESIA Pelajar Indonesia adalah pelajar yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa. Keimanan dan ketakwaannya termanifestasi dalam akhlak
yang mulia terhadap diri sendiri, sesama manusia, alam, dan
negaranya.
Ia berpikir dan bersikap sesuai dengan nilai-nilai ketuhanan sebagai
panduan untuk memilah dan memilih yang baik dan benar, bersikap welas
asih pada ciptaan-Nya, serta menjaga integritas dan menegakkan
keadilan.
Pelajar Indonesia senantiasa berpikir dan bersikap terbuka terhadap
kemajemukan dan perbedaan, serta secara aktif berkontribusi pada
peningkatan kualitas kehidupan manusia sebagai bagian dari warga
Indonesia dan dunia. Sebagai bagian dari bangsa Indonesia.
Pelajar Indonesia memiliki identitas diri merepresentasikan budaya
luhur bangsanya. Ia menghargai dan melestarikan budayanya sembari
berinteraksi dengan berbagai budaya lainnya. Ia peduli pada
lingkungannya dan menjadikan kemajemukan yang ada sebagai kekuatan untuk
hidup bergotong royong.
Pelajar Indonesia merupakan pelajar yang mandiri. Ia berinisiatif dan
siap mempelajari hal-hal baru, serta gigih dalam mencapai tujuannya.
Pelajar Indonesia gemar dan mampu bernalar secara kritis dan
kreatif.
Ia menganalisis masalah menggunakan kaidah berpikir saintifik dan
mengaplikasikan alternatif solusi secara inovatif. Ia aktif mencari cara
untuk senantiasa meningkatkan kapasitas diri dan bersikap reflektif agar
dapat terus mengembangkan diri dan berkontribusi kepada bangsa, negara,
dan dunia.
Tujuan utama dari pendidikan karakter juga bukan hanya mendorong murid
untuk sukses secara moral maupun akademik di lingkungan sekolah, tetapi
juga untuk menumbuhkan moral yang baik pada diri murid ketika sudah
terlibat di dalam masyarakat.
3. PANDUAN DALAM PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN KARAKTER DI
SEKOLAH Apa yang bisa Anda lakukan sebagai guru penggerak untuk membangun
sekolah sebagai institusi pembentukan karakter? Menurut Character
Education Partnership (2010) ada beberapa panduan dalam pelaksanaan
program pendidikan karakter di sekolah agar program yang dibentuk dapat
berjalan dengan efektif :
Membangun karakteristik seseorang bukanlah hal yang mudah, bahkan
sangat sulit. Akan tetapi, sebagai pendidik, kita diberikan tugas untuk
dapat membentuk calon-calon penerus bangsa yang memiliki karakter jujur,
berkeadilan, bertanggung jawab, peduli dan saling menghormati.
4. LANDASAN BUDAYA POSITIF YANG BERPIHAK PADA MURID Bapak dan Ibu calon guru penggerak, Setelah memahami urgensi dari budaya positif di sekolah, sekarang Anda
akan mempelajari lebih mendalam mengenai budaya positif di sekolah yang
berpihak pada murid. Untuk membahas konsep budaya positif, kita perlu
mengetahui definisi budaya sekolah.
Budaya sekolah menurut Fullan (2007) adalah keyakinan-keyakinan dan
nilai-nilai yang terlihat dari bagaimana sekolah menjalankan aktivitas
sehari-hari. Sedangkan Deal dan Peterson (1999) mendefinisikan budaya
sekolah sebagai berbagai tradisi dan kebiasaan keseharian yang dibangun
dalam jangka waktu yang lama oleh guru, murid, orang tua, dan staf
administrasi yang bekerjasama dalam menghadapi berbagai krisis dan
pencapaian.
Dari kedua pengertian tersebut kita melihat bahwa budaya sekolah
merupakan nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan yang dibangun dalam jangka
waktu lama yang tercermin pada sikap keseharian seluruh komponen
sekolah. Dalam kebanyakan sekolah di Indonesia, contoh budaya sekolah
yang sudah berjalan dengan baik adalah budaya senyum, salam, dan sapa.
Tentunya, budaya sekolah tersebut masih perlu dilaksanakan mengingat
perannya yang dapat membuat sekolah menjadi lingkungan yang
nyaman.
Dalam modul ini, yang dimaksud dengan budaya positif di sekolah
ialahnilai-nilai,
keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang berpihak
pada murid agar murid dapat berkembang menjadi pribadi yang kritis,
penuh hormat dan bertanggung jawab. Dalam mewujudkan budaya positif ini,
guru memegang peranan sentral. Guru perlu memahami posisi apa yang tepat
untuk dapat mewujudkan budaya positif baik lingkup kelas maupun sekolah.
Selain itu, pemahaman akan disiplin positif juga diperlukan karena
sebagai pamong, guru diharapkan dapat menuntun murid untuk menjadi
pribadi yang bertanggung jawab. Oleh karena itu, selanjutnya, Anda akan
mempelajari dua konsep yaitu posisi kontrol guru dan disiplin positif
yang menjadi landasan dari budaya positif.
5. POSISI KONTROL GURU Penting bagi guru untuk memahami bagaimana guru harus memposisikan diri
saat berhadapan dengan murid. Oleh karena itu, dalam sesi ini Anda akan
mempelajari lebih dalam dengan melakukan refleksi “Guru seperti apakah
kita selama ini?”. Dalam komponen kelas, posisi guru dapat dikatakan
sebagai penggerak utama. Hal ini mewujudkan juga adanya kontrol guru
dalam proses belajar mengajar.
Renungkanlah pertanyaan berikut ini: Posisi kontrol guru seperti apa yang
dapat mewujudkan budaya positif di sekolah? Selama menjadi guru, sudahkah
kita memposisikan diri kita secara tepat? Mari simak video berikut ini
untuk lebih memahami Posisi Kontrol Guru.
Setelah menyimak video mengenai posisi kontrol guru, jawablah
pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
1. Bagaimana perasaan Anda setelah menonton video?
2.Manakah kejadian yang menggambarkan Anda ketika berinteraksi dengan
murid di kelas?
Bapak dan Ibu calon guru penggerak, dalam hal ini kita tidak sedang menyalahkan salah satu situasi. Coba kita
ingat ketika kita menjadi murid dulu. Pernahkah kita merasakan perasaan
yang sama seperti Anton? Merasa kesal karena dihukum, merasa malu karena
dipermalukan di depan kelas, merasa diawasi terus. Bedakan dengan guru
pada kejadian 5. Apa yang dirasakan Anton? Betul! Merasa
didengarkan.
Untuk mengetahui lebih jelas hubungan guru dan murid berikut penjelasan
posisi kontrol guru dalam video yang kita tonton sebelumnya.
Setelah mempelajari konsep mengenai posisi kontrol guru, silakan
melakukan refleksi dengan pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Sebagai guru, posisi apa yang akan Anda perankan? Mengapa?
2. Rencana apa saja yang akan Anda lakukan untuk memerankan posisi
tersebut?
6. POSISI KONTROL MANAJER Bapak dan Ibu calon guru penggerak, dalam menumbuhkan disiplin pada diri murid secara intrinstik, guru perlu
berperan pada posisi kontrol manajer yang bertanya dan membuat kesepakatan
kelas bila murid melakukan kesalahan atau pelanggaran, bukan menuduh,
memberi hukuman atau sebagai teman yang membiarkan murid melakukan
kesalahan atau pelanggaran.
Hal ini dilakukan karena pendidik sebagai pamong yaitu “menuntun” atau
memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam
belajar. Anak diberi kebebasan, namun perludiberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan
membahayakan dirinya.
Oleh karena itu, pada kesehariannya, pamong juga berperan sebagai
pengontrol untuk mengingatkan murid jika berada dalam bahaya. Pada
kesempatan lain, guru juga dapat berperan sebagai teman ketika
berinteraksi agar dapat memahami murid dan membangun kedekatan.
7. DISIPLIN POSITIF SEBAGAI LANDASAN UNTUK MEMBANGUN BUDAYA POSITIF DI
SEKOLAH Bapak dan Ibu calon guru penggerak, setelah mempelajari dan melakukan refleksi mengenai posisi kontrol guru,
pada bagian ini Anda akan mempelajari konsep disiplin positif yang
merupakan landasan untuk membangun budaya positif di sekolah. Sebelum
konsep ini dikupas tuntas, kita perlu mengetahui perbedaan antara disiplin
dan hukuman.
7.1. DISIPLIN DAN HUKUMAN Masih ingatkahdengan video pada sesi Posisi Kontrol Guru? Ingatkah Anda terhadap guru
Anton pada situasi pertama? Apa yang dilakukan guru tersebut ketika
mengetahui Anton tidak mengerjakan tugas? Betul! Guru tersebut menghukum
Anton.
Kita seringkali memandang bahwa hukuman adalah bentuk yang sama dengan
proses pen-disiplin-an dan memberikan hukuman sebagai salah satu langkah
dalam proses disiplin murid. Padahal, disiplin dan hukuman memiliki arti
yang berbeda dan memberikan efek yang sangat berbeda dalam pembentukan
diri murid.
Bapak dan Ibu calon guru penggerak, Pada umumnya orang sering melihat 'disiplin' sebagai hal yang sama dengan
'hukuman', namun disiplin dan hukuman adalah dua hal yang
berbeda.
Disiplin merujuk pada praktik mengajar atau melatih seseorang untuk
mematuhi peraturan atau perilaku dalam jangka pendek dan jangka
panjang. Sementara hukuman dimaksudkan untuk mengendalikan perilakumurid.
Disiplin dimaksudkan untuk mengembangkan perilaku para murid tersebut
serta mengajarkan murid tentang kontrol dan kepercayaan diri dengan
berfokus pada apa yang mampu mereka pelajari.
Tujuan akhir dari disiplin adalah agar murid memahami perilaku mereka
sendiri, mengambil inisiatif, menjadi bertanggung jawab atas pilihan
mereka, dan menghargai diri mereka sendiri dan orang lain.
Untuk lebih memahami perbedaan hukuman dan disiplin, perhatikanlah tabel
berikut ini:
Tabel 2 Perbedaan Disiplin dan Hukuman(CJCP, 2012) (Download file pdf-nya DI SINI)
7.2. HUKUMAN DAN KONSEKUENSI Anda mungkin menyimpan pertanyaan,“jika tidak ada hukuman, makabagaimana menghadapi murid yang melakukan pelanggaran atau
kesalahan?”Mari kita menyamakan persepsi bahwa pelanggaran atau kesalahan adalah
kesempatan anak untuk belajar.
Jika ditangani dengan tepat, kesalahan dapat menjadi momen yang baik agar
anak mengetahui hal tersebut sebaiknya tidak dilakukan lagi di masa
mendatang. Anak juga akan lebih bertanggung jawab serta mengetahui
bagaimana memperbaiki situasi yang dihadapinya.
Menurut Nelsen (2021), berikut adalah cara kita merespon kesalahan agar
menjadi pembelajaran yang baik bagi anak.
Merespon kesalahan dengan kasih sayang dan kebaikan dibanding
menyalahkan, menuduh dan menceramahi.
Berikan pertanyaan yang bisa menimbulkan diskusi tentang konsekuensi
yang mungkin terjadi dari tindakannya.
Melihat kesempatan terjadinya kesalahan untuk didiskusikan bersama
anak atau dengan teman-teman lain.
Jika diperhatikan dengan seksama, ketiga cara diatas lebih mengedepankan
konsekuensi daripada hukuman. Mengapa konsekuensi lebih dipilih untuk
mewujudkan budaya positif dibanding hukuman?
Hukuman bersifat satu arah dari guru ke murid dan seringkali tidak
berhubungan dengan kesalahan murid. Sedangkan menurut Nelsen (2021),
prinsip konsekuensi fokus pada masalah dan solusi sehingga konsekuensi
berhubungan dengan perilaku, penuh hormat kepada murid, bersifat masuk
akal dan bertujuan untuk membantu murid belajar.
8. DISIPLIN POSITIF Disiplin positif adalah sebuah model disiplin yang difokuskan pada
perilaku positif murid agar menjadi pribadi yang penuh hormat dan
bertanggung (Nelsen, Lott & Glenn, 2000).
Disiplin positif mengajarkan keterampilan sosial dan emosional dan
keterampilan kehidupan yang penting dengan cara penuh hormatdan membesarkan hati tidak hanya bagi murid tetapi juga bagi orang dewasa
(termasuk orangtua, guru, staf administrasi dan lainnya).
Kebalikan dari disiplin positif adalah disiplin negatif yang berfokus
pada hukuman. Disiplin negatif cenderung menghambat perkembangan sosial,
emosional dan keterampilan hidup murid. Dengan disiplin positif, guru
diharapkan dapat mewujudkan budaya positif baik di kelas maupun
sekolah.
8. 1. KRITERIA UTAMA DISIPLIN POSITIF Untuk melakukan pendekatan disiplin positif, Bapak/Ibu Calon Guru
Penggerak perlu menjadikan kriteria disiplin positif yang dikembangkan
oleh Nelsen (2021) ini sebagai panduan dalam membangun hubungan dengan
murid.
1. Bersikap baik dan tegas di saat yang bersamaan (menunjukkan sikap hormat
dan memberi semangat).
2. Membantu murid merasa dihargai dan memiliki keterikatan antara
dirinya dengan guru dan teman di kelasnya, sehingga ia merasa menjadi
bagian dari kelas.
3. Memiliki komitmen untuk mempertimbangkan efektivitas dan dampak jangka
panjang bagi proses belajar murid dari tindakan yang diambil (misalnya;
pemberian hukuman bersifat dapat menyelesaikan masalah dalam jangka
pendek, tetapi berpotensi memberikan dampak negatif dalam proses belajar
pada anak yang bersifat jangka panjang). Dengan begitu, pendidik fokus
pada perubahan dan peningkatan perilaku yang menetap, bukan hanya pada
perilaku yang berhasil ditampakkan pada saat itu.
4. Menerapkan disiplin positif berarti membekali murid dengan keterampilan
sosial dan mendukung pertumbuhan karakter yang baik seperti rasa hormat,
kepedulian terhadap orang lain, komunikasi yang efektif, pemecahan
masalah, tanggung jawab kontribusi, kerja sama.
5.Mengajak murid untuk menemukan bagaimana mereka mampu dan dapat
menggunakan kekuatan diri mereka dengan cara yang membangun.
8.2. PENERAPAN DISIPLIN POSITIF DI SEKOLAH DENGAN PENDEKATAN
HOLISTIK Menerapkan pendekatan disiplin positif dapat membantu sekolah memainkan
peran penting dalam menciptakan masyarakat yang lebih adil dan manusiawi.
Murid cenderung menjadikan orang dewasa sebagai model; jikamurid melihat orang dewasa menggunakan kekerasan fisik atau psikologis,
mereka akan belajar bahwa kekerasan dapat diterima sehingga ada
kemungkinan mereka akan menggunakan kekerasan terhadap orang
lain.
Sekolah memiliki peran penting dalam membimbing, memperbaiki, dan
mensosialisasikan kepadamurid mengenai perilaku yang sesuai. Agar perubahan berhasil, diperlukan
pendekatan terkoordinasi yang melibatkan semua peran di komunitas
sekolah.
Sekolah perlu bekerja dengan orangtua untuk memastikan konsistensi antara
rumah dan sekolah, serta membekali mereka dengan informasi dan alat untuk
mempraktekkan disiplin positif di rumah.
Dengan pemahaman yang komprehensif akan konsep budaya positif berikut
konsep mengenai posisi kontrol guru dan disiplin positif yang merupakan
landasan dalam membangun budaya positif di sekolah, Anda sudah memiliki
bekal yang memadai dalam menjalankan peran anda untuk membangun budaya
positif di sekolah.
8.3. UPAYA MEMBANGUN BUDAYA POSITIF YANG BERPIHAK PADA MURID Bapak dan Ibu calon guru penggerak, setelah mempelajari urgensi budaya positif di sekolah dan konsep budaya
positif beserta hal-hal yang melandasinya, Anda diharapkan dapat membangun
budaya positif di sekolah Anda.
Nah, pertanyaannya, “Apakah dalam membangun budaya positif hanya Anda,
sebagai guru, yang berperan mewujudkannya?” Tentunya semua komponen
sekolah berperan penting dalam membangun budaya positif di sekolah. Pada
bagian ini, Anda akan mendalami bagaimana semua komponen sekolah berperan
dalam membangun budaya positif di sekolah.
8.3.1 Membuat Kesepakatan Kelas sebagai Langkah Awal dalam
Membangun Budaya Positif yang Berpihak pada Murid Upaya dalam membangun budaya positif di sekolah yang berpihak pada
murid diawali dengan membentuk lingkungan kelas yang mendukung
terciptanya budaya positif, yaitu dengan menyusun kesepakatan
kelas.
Kesepakatan kelas yang efektif dapat membantu dalam pembentukan budaya
disiplin positifdi kelas. Hal ini juga dapat membantu proses belajar mengajar yang lebih
mudah dan tidak menekan.
Seringkali permasalahan dengan murid berkaitan dengan komunikasi antara
murid dengan guru, terutama ketika murid melanggar suatu aturan dengan
alasan tidak mengetahui adanya aturan tersebut. Kurang adanya komunikasi
ini menyebabkan relasi murid dan guru menjadi kurang baik.
Sebelum Anda mempelajari lebih mendalam mengenai kesepakatan kelas,
renungkanlah dua pertanyaan berikut ini: Apakah selama ini Anda sudah
menerapkan pemberian kesepakatan kelas di sekolah Anda? Siapa saja
yang turut berperan dalam menentukan kesepakatan kelas?
Kesepakatan kelas berisi beberapa aturan untuk membantu guru dan murid
bekerja bersama membentuk kegiatan belajar mengajar yang efektif.
Kesepakatan kelas tidak hanya berisi
harapan guru terhadap murid, tapi juga harapan murid terhadap guru.
Kesepakatan disusun dan dikembangkan bersama-sama antara guru dan
murid.
Dalam menyusun kesepakatan kelas, guru perlu mempertimbangkan hal yang
penting dan hal yang bisa dikesampingkan. Murid dapat mengalami kesulitan
dalam mengingat banyak informasi, jadi susunlah
4 - 8 aturan untuk setiap kelas. Jika berlebihan, murid akan merasa
kesulitan dan tidak mendapatkan makna dari kesepakatan kelas tersebut.
Kesepakatan harus disusun dengan jelas sehingga murid dapat memahami
perilaku apa yang diharapkan dari mereka.
Kesepakatan yang disusun sebaiknya mudah dipahami dan dapat langsung
dilakukan. Oleh karena itu, dalam kesepakatan kelas gunakan kalimat
positif seperti,
“Saling menghormati” ,“Berjalan jika berada di lorong kelas”.
Kalimat positif lebih mudah dipahami murid dibandingkan kalimat negatif
yang mengandung kata seperti, “dilarang” atau “tidak”.
Kesepakatan perlu dapat diperbaiki dan dikembangkan secara berkala,
seperti setiap awal semester. Untuk mempermudah pemahaman murid,
kesepakatan dapat ditulis, digambar, atau disusun sedemikian rupa sehingga
dapat dipahami dan disadari oleh murid.
Strategi lain adalah dengan mencetaknya di setiap buku laporan kegiatan
murid. Hal ini menjadi strategi yang baik untuk meningkatkan komunikasi
antara orang tua dan pihak sekolah.
Untuk memahami kesepakatan kelas secara lebih mendalam, mari kita
saksikan video berikut ini :
Setelah menyimak video mengenai kesepakatan kelas ini, Anda diharapkan
dapat menerapkan hal-hal tersebut dalam kelas Anda.
8.3.2 Menciptakan Visi Sekolah untuk Membangun Budaya Positif yang
Berpihak pada Murid Upaya berikutnya dalam membangun budaya positif yang berpihak pada murid
adalah mengembangkan visi bersama tentang apa yang ingin dicapai
sekolah.
Daripada berfokus pada masalah dan perilaku buruk, ada baiknya Anda mulai
dengan melihat hal-hal positif yang sudah berhasil di sekolah. Ini
memberikan landasan untuk membangun visi bersama bagi komunitas sekolah
yang berpusat pada diri murid dan pemberdayaannya.
Langkah untuk mendukung pemikiran dasar ini adalah memutuskan pihak yang
dapat Anda ajak diskusi mengenai cara bagaimana sekolah dapat membawa visi
tersebut menjadi kenyataan.
Ingatlah kembali visi mengenai sekolah impian yang Anda ceritakan pada
tahap Mulai dari Diri dalam modul 1.3. Di sana Anda sudah memiliki
cita-cita mengenai kondisi sekolah ideal.
Visi yang dikembangkan harus mendukung hal-hal berikut ini:
Penciptaan lingkungan belajar yang ramah murid yaitu tempat yang
di dalamnya baik murid, pendidik, maupun orang tua merasa dihargai
dan didukung; serta tempat yang dapat membuat murid merasa bebas
untuk mengekspresikan pandangan mereka dan didorong penuh untuk
mencapai potensi yang mereka miliki.
Pengajaran dan penguatan positif yang bertujuan untuk membangun
hubungan yang saling peduli dan menghormati.
Kebijakan dan strategi untuk mengurangi perilaku yang tidak dapat
diterima yang melibatkan semua pemangku kepentingan yaitu,
pendidik, orang tua, murid dan manajemen sekolah.
Hal-hal di atas jelas memperlihatkan bahwa untuk membangun budaya
positif, keterlibatan guru, murid, manajemen sekolah dan orang tua
sangat diperlukan. Semuanya harus bahu membahu dalam membangun budaya
positif di sekolah.
PENUTUP Demikianlah upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam membangun budaya
positif di sekolah. Tentunya, untuk mewujudkan hal ini membutuhkan proses
yang yang tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Selain itu, proses ini
juga membutuhkan keterlibatan semua pemangku kepentingan di sekolah.
Terima kasih sudah dengan antusias mengikuti perjalanan berproses menuju
pendidikan Indonesia yang lebih baik. Membentuk budaya sekolah dengan
berfokus pada kebutuhan murid dan pertumbuhan karakter positif bukanlah
hal yang mudah, tetapi Anda berhasil melaluinya dan merencanakan yang
terbaik untuk murid dan sekolah.
Buah dari kerja keras inidapat terlihat ketika kita menyadari bahwa murid kita telah bertumbuh
menjadi seorang dewasa yang sukses di pekerjaan, kehidupan, dan
relasinya dengan orang lain dengan karakter yang memiliki integritas
tinggi, bertanggung jawab, dapat diandalkan, berbudi pekerti luhur, dan
bermanfaat bagi lingkungan dan negara.
Materi terkait budaya positif adalah akhir dari paket modul satu, akan
tetapi perjalanan Anda menjadi Guru Penggerak baru dimulai. Setelah
memahami dan mendalami pondasi yang diperlukan dalam menyusun budaya di
sekolah, Anda akan bertemu dengan paket modul lain yang dapat diterapkan
secara teknis dalam proses belajar mengajar. Anda akan belajar dan
mencoba banyak hal baru yang menarik dan menjadi bekal dalam
mengembangkan pendidikan Indonesia yang semakin baik lagi. Selamat
berproses!
Salam semangat dan salam Guru Penggerak!
*****
DAFTAR PUSTAKA
Learning Management System (LMS) Guru Penggerak
Center for Curriculum Redesign. (2015). Character Education for the
21st Century: What Should Students Learn?. Boston,
Massachusetts.
Centre for Justice and Crime Prevention and the Department of Basic
Education. (2012). Positive Discipline and Classroom Management-Course
Reader. Cape Town.
Deal, T. E. & Peterson, K. D. (1999). Shaping school culture: The
heart of leadership. San Francisco, CA: Jossey-Bass
Durrant, Joan,. (2010). Positive Discipline in Everyday Teaching: A
guide for educators. Save the Children, Sweden.
Fullan, M., (2007) The new meaning of educational change, Routledge,
New York.
Graff, C. E. (2012). The effectiveness of Character Education Programs in
Middle and High Schools. Counselor Education Master’s Theses, 127.
Lickona Ph.D, Tom; Schapsa, Eric; Lewis, Catherine. (2002). Eleven
Principles of Effective Character Education. Character Education
Partnership (www.character.org)
Nelsen, J, Lott, L., and Glennn, H.S. (2000). Positive discipline in
the classroom: Developing Mutual Respect, Cooperation, and
Responsibility in Your Classroom. New York: Three Rivers Press.
Nofijantie, Lilik. (2012). Peran Lembaga Pendidikan Formal Sebagai
Modal Utama Membangun Karakter Siswa. Conference Proceedings: Annual
International Conference on Islamic Studies (AICIS XII). 2947 -
2970
Stolp, Stephen, and Stuart C. Smith. (1994). School Culture and
Climate: The Role of the Leader. OSSC Bulletin. Eugene: Oregon School
Study Council, January 1994.
“Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri.
Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnyakodrat
itu.” Ki Hajar Dewantara
Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak, selamat datang di pembelajaran ketiga! Kali
ini, kita akan mengeksplorasi mengapa lingkungan belajar yang bermakna dan
berpihak pada murid itu harus ditumbuhkan.
Nah, kali ini kita akan membahas lanjutan mengenai visi, bagaimana
mewujudkannya dengan sebuah pendekatan perubahan. Mari menyimak bacaan
berikut ini.
Visi: Mengelola Perubahan yang Positif Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak sekalian, menjadikan sekolah sebagai rumah
yang aman, nyaman dan bermakna bagi murid sepertinya sudah menjadi hal
yang umum diinginkan semua pihak.
Mungkin saja, sebagian dari Bapak/Ibu juga menuliskan mimpi itu pada
gambaran visinya. Namun, dalam prakteknya, kalimat tersebut bukan kalimat
yang mudah untuk diwujudkan. Perlu perubahan yang mendasar dan upaya
yang konsisten. Inilah salah satu tujuan visi, yaitu untuk mencapai
perubahan yang lebih baik dari kondisi saat ini.
Visi membantu kita untuk melihat kondisi saat ini sebagai garis “start”
dan membayangkan garis “finish” seperti apa yang ingin dicapai. Ini
bagaikan seorang pelari yang perlu mengetahui garis “start” dan garis
“finish” bahkan sebelum ia benar-benar berlari melintasi jalur lari
tersebut.
Menurut Evans (2001), untuk memastikan bahwa perubahan terjadi secara
mendasar dalam operasional sekolah, maka para pemimpin sekolah hendaknya
mulai dengan memahami dan mendorong perubahan budaya sekolah.
Budaya sekolah berarti merujuk pada kebiasaan-kebiasaan yang selama ini
dilakukan di sekolah. Kebiasaan ini dapat berupa sikap, perbuatan, dan
segala bentuk kegiatan yang dilakukan warga sekolah.
Walaupun sulit, reformasi budaya sekolah bukanlah hal yang tidak mungkin.
Untuk melakukannya diperlukan orang-orang yang bersedia melawan arus naif
tentang inovasi dan terbuka terhadap kenyataan yang bersifat manusiawi.
Hal ini berarti butuh partisipasi dari semua warga sekolah.
Perubahan yang positif dan konstruktif di sekolah biasanya membutuhkan
waktu dan bersifat bertahap. Oleh karena itu, sebagai pemimpin, Bapak/Ibu
CGP hendaknya terus berlatih mengelola diri sendiri sambil terus berupaya
menggerakkan orang lain yang berada di dalam pengaruh Anda untuk menjalani
proses perubahan ini bersama-sama. Hal ini perlu dilakukan dengan niatan
belajar yang tulus demi mewujudkan visi sekolah.
Visi: Mengelola Perubahan yang Positif Untuk dapat mewujudkan visi sekolah dan melakukan proses perubahan, maka
perlu sebuah pendekatan atau paradigma. Pendekatan ini dipakai sebagai alat
untuk mencapai tujuan. Jika diibaratkan seperti seorang pelari yang memiliki
tujuan mencapai garis “finish”, maka ia butuh peralatan yang mendukung
selama berlatih seperti alat olahraga.
Dalam pembelajaran kali ini, kita akan mengeksplorasi paradigma yang
disebut Inkuiri Apresiatif (IA). IA dikenal sebagai pendekatan manajemen
perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan.
Konsep IA ini pertama kali dikembangkan oleh David Cooperrider (Noble &
McGrath, 2016). Kita akan memakai pendekatan IA sebagai ‘alat olahraga’
untuk kita berlari mencapai garis “finish” kita yaitu visi yang kita
impikan.
Dalam sebuah video di Youtube, Cooperrider, yang adalah tokoh yang
mengembangkan IA, menyatakan bahwa pendekatan IA dapat membantu membebaskan
potensi inovatif dan kreativitas, serta menyatukan orang dengan cara yang
tidak dapat dilakukan oleh proses manajemen perubahan yang
biasa.
Manajemen perubahan yang biasa dilakukan lebih menitikberatkan pada
masalah apa yang terjadi dan apa yang salah dari proses tersebut untuk
diperbaiki. Hal ini berbeda dengan IA yang berusaha fokus pada kekuatan
yang dimiliki setiap anggota dan menyatukannya untuk menghasilkan kekuatan
tertinggi.
IA menggunakan prinsip-prinsip utama psikologi positif dan pendidikan
positif. Pendekatan IA percaya bahwa setiap orang memiliki inti positif yang
dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan. Inti positif ini merupakan
potensi dan aset organisasi.
Dengan demikian, dalam implementasinya, IA dimulai dengan menggali hal-hal
positif, keberhasilan yang telah dicapai dan kekuatan yang dimiliki
organisasi, sebelum organisasi menapak pada tahap selanjutnya dalam
melakukan perencanaan perubahan.
Menurut Cooperrider, saat ini kita hidup pada zaman yang membutuhkan mata
yang dapat melihat dan mengungkap hal yang benar dan baik. Mata yang mampu
membukakan kemungkinan perbaikan dan memberikan penghargaan.
Bila organisasi lebih banyak membangun sisi positif yang dimilikinya,
maka kekuatan sumber daya manusia dalam organisasi tersebut dipastikan
akan meningkat dan kemudian organisasi akan berkembang secara
berkelanjutan.
Dalam video di Youtube tersebut, Cooperider juga menceritakan bahwa
pendapatnya ini sejalan dengan pendapat Peter Drucker, seorang Begawan dalam
dunia kepemimpinan dan manajemen. Menurut Drucker, kepemimpinan dan
manajemen adalah keabadian.
Oleh sebab itu, seorang pemimpin bertugas menyelaraskan kekuatan yang
dimiliki organisasi. Caranya adalah dengan mengupayakan agar kelemahan suatu
sistem dalam organisasi menjadi tidak relevan, karena semua aspek dalam
organisasi fokus pada penyelarasan kekuatan.
Di sekolah, pendekatan IA dapat dimulai dengan mengidentifikasi hal baik
apa yang telah ada di sekolah, mencari cara bagaimana hal tersebut dapat
dipertahankan, dan memunculkan strategi untuk mewujudkan perubahan ke arah
lebih baik.
Nantinya, kelemahan, kekurangan, dan ketiadaan menjadi tidak relevan.
Berpijak dari hal positif yang telah ada, sekolah kemudian menyelaraskan
kekuatan tersebut dengan visi sekolah dan visi setiap warga
sekolah.
Perubahan yang positif di sekolah tidak akan terjadi jika pertanyaan yang
diajukan mengenai kondisi sekolah saat ini diawali dengan permasalahan yang
terjadi atau mencari aktor sekolah yang melakukan kesalahan.
Pertanyaan yang sering diajukan adalah, “Mengapa capaian hasil belajar
siswa rendah?”, “Apa yang membuat rencana kegiatan sekolah tidak berjalan
lancar?”, dan lain sebagainya.
Motivasi untuk melakukan perubahan tentu akan berangsur menurun jika
diskusi diarahkan pada permasalahan. Suasana psikologis yang terbangun tentu
akan berbeda jika pertanyaan diawali dengan pertanyaan positif seperti ini
:
Hal-hal baik apa yang pernah dicapai murid di kelas?
Apa hal menarik yang dapat dipetik pelajarannya dari setiap guru di
kelas?
Bagaimana mengembangkan praktik baik setiap guru untuk dipertahankan
sebagai budaya sekolah?
Dalam modul 1.3 ini, kita mempelajari IA lebih dalam sebagai salah satu
model manajemen perubahan di sekolah dan mencoba menerapkannya melalui
tahapan dalam IA yang di dalam bahasa Indonesia disebut dengan BAGJA (Buat
Pertanyaan, Ambil Pelajaran, Gali Mimpi, Jabarkan Rencana, Atur
Eksekusi).
Silakan simak dan pelajari videonya terlebih dahulu melalui tautan berikut
ini.
Inilah langkah-langkah yang perlu Anda ikuti dalam menerapkan perubahan
sesuai dengan visi yang Anda telah impikan berdasarkan tahapan
BAGJA.
Tahap pertama, Buat Pertanyaan Utama. Di tahap ini, Anda merumuskan pertanyaan sebagai penentu arah penelusuran
terkait perubahan apa yang diinginkan atau diimpikan.
Tahap kedua, Ambil Pelajaran. Pada tahapan ini, Anda mengumpulkan berbagai pengalaman positif yang
telah dicapai di sekolah dan pelajaran apa yang dapat diambil dari hal-hal
positif tersebut.
Tahap ketiga, Gali Mimpi. Pada tahapan ini, Anda dapat menyusun narasi tentang kondisi ideal apa
yang diimpikan dan diharapkan terjadi di sekolah. Disinilah visi benar-benar
dirumuskan dengan jelas.
Tahap ketiga, Jabarkan Rencana. Di tahapan ini, Anda dapat merumuskan rencana tindakan tentang hal-hal
penting apa yang perlu dilakukan untuk mewujudkan visi.
Tahapan terakhir, Atur Eksekusi. Di bagian ini, Anda memutuskan langkah-langkah yang akan diambil, siapa
yang akan terlibat, bagaimana strateginya, dan aksi lainnya demi mewujudkan
visi perlahan-lahan.
Semoga semua yang telah Anda pelajari memperkaya “persenjataan” Anda dalam
meniti langkah-langkah kecil hingga terwujudnya visi Anda mengenai murid
yang telah Anda jabarkan di Pembelajaran 1.
Pada awal penerapannya, mungkin Anda akan merasakan kejanggalan atau
meragukan keberhasilannya. Namun, kami mengajak Anda untuk mencobanya dan
menikmati kurva belajarnya.
Kurva belajar yang Anda akan alami mirip seperti seekor anak burung yang
belajar terbang. Pada saat pertama kali terbang, jalur terbang anak
burung tidak akan langsung ke atas, tapi akan ke bawah dahulu kemudian
meliuk ke atas sebagaimana terlihat pada gambar berikut.
Dengan merujuk pada kurva belajar ini, maka marilah terus percaya bahwa
pendekatan positif akan membuahkan hasil yang lebih luar biasa. Ini adalah
kebiasaan baru.
Refleksi Mandiri Berdasarkan penjelasan mengenai Inkuiri Apresiatif dan video BAGJA
sebelumnya, mari Bapak/Ibu CGP refleksikan kepada pengalaman pribadi.
Pertanyaan utama untuk refleksi kali ini adalah:
“Pernahkah Anda bermimpi tinggi dan memulai mewujudkannya dari kekuatan pribadi yang Anda miliki?”
Pengalaman pribadi tersebut mungkin terjadi bertahun-tahun yang lalu.
Pengalaman tersebut bisa saja terjadi di masa bersekolah dahulu.
Sesederhana bermimpi mendapatkan prestasi yang bagus pada mata pelajaran
yang disukai saat bersekolah dulu. Pengalaman ini akan menjadi pengingat
bagi Anda dalam mencapai visi Anda mengenai murid yang telah dijabarkan di
Pembelajaran 1.
Penutup Setelah melakukan refleksi mandiri, hal itu berarti Anda telah menyelesaikan kegiatan eksplorasi konsep mengenai visi
guru penggerak dengan baik.
Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak. Selamat! Anda telah menyelesaikan Modul 1.3
ini. Terimakasih atas semangat dan upaya Anda yang maksimal dalam
menyelesaikan semua tantangan yang diberikan. Semoga segala proses yang Anda
jalani dalam Modul 1.3 ini dapat membawa manfaat bagi mimpi Anda pada
murid-murid Anda di masa depan kelak.
Anda tetap harus memperhatikan bahwa sama dengan Modul 1.2, status
penyelesaian Modul 1.3 juga sangat bergantung pada bagaimana Anda
menyelesaikan Pembelajaran 8 Aksi Nyata masing-masing.
Semoga modul ini berhasil membuat Anda memberanikan diri untuk bermimpi dan
terlebih penting lagi mewujudkan mimpi untuk menyediakan lingkungan belajar
terbaik bagi bertumbuhnya murid-murid Anda secara maksimal. Selamat
menemukan, menumbuhkan dan menguatkan jati diri Anda sebagai Guru Penggerak.
Salam belajar!
Daftar Pustaka
Learning Management System (LMS) Pendidikan Guru Penggerak
AITSL. (n.d.). Spotlight: Reframing feedback to improve teaching and learning. Australian Institute for Teaching and School Leadership. Retrieve
from https://bit.ly/3dQnMsg
Evans, R. (2001). The human side of school change: Reform, resistance, and the real-life
problems of innovation. San Francisco: Jossey-Bass.
Noble, T. & H. McGrath. (2016). The PROSPER school pathways for student
wellbeing: Policy and practices. SpringerBriefs in well-being and quality of life research. Springer, Australia.